Friday, December 13, 2019

USKUP AGUNG DARI VATIKAN BERKATA...



Archbishop Vincenzo Paglia,
Presiden Akademi Kepausan untuk Kehidupan


SEORANG USKUP AGUNG DARI VATIKAN BERKATA:
MEREKA YANG MENGATAKAN BAHWA JUDAS BERADA DI DALAM NERAKA ADALAH 'SESAT’ DAN JUGA : IMAM SEBAIKNYA MENDAMPINGI ORANG YANG MELAKUKAN BUNUH DIRI DENGAN BANTUAN (MEDIS)


by Diane Montagna

ROMA, 11 Desember 2019 (LifeSiteNews) - Dalam sebuah pernyataan yang sulit didamaikan dengan Kitab Suci dan Tradisi, Uskup Agung Vincenzo Paglia, Presiden Akademi Kepausan untuk Kehidupan, telah mengklaim atas nama Gereja Katolik, bahwa siapa pun yang mengatakan bahwa Yudas Iscariot ada di dalam neraka adalah sesat.

Dalam sebuah pernyataan yang bahkan lebih mengganggu, uskup agung Italia itu juga menegaskan bahwa seorang imam boleh secara sah tetap berada di samping tempat tidur seseorang yang sedang melakukan bunuh diri dengan bantuan (medis) untuk ‘memegang tangan mereka’ dan ‘menemani’ mereka.

Komentar Uskup Agung Paglia ini muncul pada 10 Desember 2019, pada presentasi Simposium Internasional multi-agama berjudul ‘Agama dan Etika Medis: Perawatan Paliatif dan Kesehatan Mental Lansia,’ diadakan di Roma 11-12 Desember 2019. Simposium, yang disponsori bersama oleh Akademi Kepausan untuk Kehidupan dan KTT Inovasi Dunia untuk Kesehatan (WISH), sebuah inisiatif dari Qatar Foundation, terutama berfokus pada perspektif Kristen dan Muslim tentang masalah-masalah akhir kehidupan.

Setelah presentasi formal di kantor pers Takhta Suci pada hari Selasa, seorang wartawan meminta pendapat Uskup Agung Paglia tentang pernyataan 5 Desember 2019 yang dikeluarkan oleh para Uskup Swiss, yang mewajibkan para pastor dan pengasuh pastoral Katolik untuk meninggalkan ruangan sebelum suntikan mematikan atau sarana bunuh diri lainnya diberikan.

Dokumen setebal 30 halaman dari uskup-uskup Swiss itu berjudul "Perilaku pastoral sehubungan dengan praktik bunuh diri dengan bantuan (medis)," muncul sebagai tanggapan atas meningkatnya tingkat bunuh diri dengan bantuan, di Swiss. Ini menyatakan bahwa bunuh diri dengan batuan itu ‘secara radikal bertentangan dengan pesan Injil’ dan praktik seperti itu ‘merupakan serangan serius pada pelestarian kehidupan manusia yang harus dilindungi dari sejak saat konsepsi sampai kematian alami.’

Uskup Agung Paglia, yang bertugas di Institut John Paul II tentang Pernikahan dan Keluarga di Roma (dan memimpin pembubaran bekas institut itu), mengatakan bahwa dia belum membaca pernyataan yang dikeluarkan oleh para uskup Swiss ‘secara rinci’ tetapi dia tidak percaya bahwa ‘siapa pun boleh ditinggalkan.’

"Kami menentang bunuh diri dengan bantuan, karena kami tidak ingin melakukan pekerjaan kotor kematian seperti itu dan karena kami semua sangat sadar bahwa, bagi umat beriman, kehidupan adalah terus berjalan," lanjutnya. "Untuk menemani dan memegang tangan mereka yang sekarat" karena itu adalah "tugas besar" setiap umat beriman, katanya, bersama dengan memerangi budaya bunuh diri dengan bantuan, yang menunjukkan sebuah “kekalahan besar bagi masyarakat.”

"Kita tidak bisa mengubah (bunuh diri dengan bantuan) menjadi pilihan yang bijak," katanya.

Uskup Agung Paglia kemudian mengklarifikasi: “Saya selalu merayakan pemakaman bagi mereka yang bunuh diri, karena bunuh diri selalu merupakan masalah cinta yang tidak terpenuhi. Kita juga harus ingat bahwa, bagi Gereja Katolik, jika seseorang mengatakan bahwa Yudas berada di dalam neraka, maka orang itu adalah sesat.”

Pernyataan yang mengatakan bahwa Yudas berada di dalam neraka adalah sama dengan bid'ah, adalah sangat mengejutkan, mengingat pengajaran yang jelas dari Kitab Suci, dari para Bapa dan Doktor Gereja dan liturgi. Seperti yang pernah dijelaskan Kardinal Avery Dulles dalam sebuah artikel berjudul 'Populasi Neraka':

“Perjanjian Baru tidak memberi tahu kita dalam berbagai kalimatnya bahwa orang tertentu berada di dalam neraka. Tetapi beberapa pernyataan tentang Yudas sulit ditafsirkan sebaliknya. Yesus berkata bahwa Dia telah memelihara semua yang diberikan Bapa kecuali dia yang telah ditentukan untuk binasa. (Yoh. 17:12). Pada titik yang lain Yesus menyebut Yudas sebagai iblis (Yoh. 6:70), dan sekali lagi mengatakan tentang dia: "Akan lebih baik bagi orang itu jika dia tidak dilahirkan" (Mat. 26:24; Mar. 14:21). Jika Yudas termasuk di antara orang yang diselamatkan, maka pernyataan-pernyataan Kitab Injil ini tidak mungkin benar. Banyak orang kudus dan doktor Gereja, termasuk Santo Agustinus dan St. Thomas Aquinas, menganggapnya sebagai kebenaran yang terungkap bahwa Yudas memang dikutuk. Beberapa Bapa Gereja menempatkan nama Nero pada daftar yang sama, tetapi mereka tidak memberikan daftar nama yang panjang, seperti yang dilakukan oleh Dante.

Jadi, Kitab Suci, Paus St. Leo Agung, St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, St. Catherine dari Siena, Katekismus Kinsili Trente serta liturgi Gereja semuanya sepakat tentang nasib Yudas Iskariot.

Lebih jauh lagi, ketika kanon 750 dan 751 mengkonfirmasi (serta motu proprio Ad tuendam fidem 1998 dari Paus Yohanes Paulus II), bahwa suatu pernyataan bisa dikatakan sebagai bidaah maka dia haruslah bertentangan dengan Wahyu Ilahi. Menurut apa yang diusulkan Gereja sebagai hal yang diungkapkan secara ilahi, tidak ada di dalam Kitab Suci atau Tradisi yang mengatakan bahwa Yudas tidak berada di neraka.

Ketika ditanya apakah seorang imam dapat "mendampingi seseorang yang menjalani bunuh diri dengan bantuan," Uskup Agung Paglia mengatakan bahwa masalah itu “melampaui hukum” dan bahwa dia “tidak ingin memberikan aturan yang bertentangan dan seterusnya...”

Dalam komentarnya kepada LifeSite, seorang imam yang dekat dengan Vatikan, yang mau berbicara dengan syarat anonim, mengatakan: “Terus terang, pengabaian pertama yang harus dikhawatirkan oleh seorang Katolik dan seorang imam adalah kemungkinan ditinggalkannya jiwa orang seperti itu untuk berjalan ke neraka, yaitu secara supranatural memprovokasi tindakan pengabaian dan tindakan bunuh diri karena telah secara sukarela meninggalkan hukum Allah, rencana-Nya dan kasih-Nya ... agar kita dapat berbicara tentang hal-hal lain .... "

“Pendampingan sejati dalam kasus seperti ini berarti berusaha untuk menjadi dekat, ya, tapi itu tidak berarti memegang tangan mereka secara serampangan saat mereka melakukan dosa besar (bunuh diri), seolah kita mengijinkan tindakan itu atau tetap acuh tak acuh terhadapnya. Seorang imam harus berusaha, yang pertama dan terutama, untuk menyelamatkan jiwa, dengan memberi tahu orang itu apa yang dipertaruhkannya melalui tindakan bunuh diri itu, yaitu jiwanya, dan tidak membiarkannya mati dengan membawa pemikiran yang salah itu. Kita adalah makhluk dari kerajaan surga yang ingin mencapai rumah sejati kita.”

No comments:

Post a Comment