Tuesday, December 10, 2019

Di dalam Lemari Vatikan – 11. Bab 9 – Kolese Suci


  

 

DI DALAM LEMARI VATIKAN
Frếdếric Martel




KEKUASAAN

HOMOSEXUALITAS

KEMUNAFIKAN

 

 

 DAFTAR ISI


CATATAN DARI PENULIS DAN PENERBIT


Bab 1. Domus Sanctae Marthae
Bab 2. Teori Gender
Bab 3. Siapakah Saya Hingga Berhak Menilai?
Bab 4. Buenos Aires
Bab 5. Sinode
Bab 6. Roma Termini
BAGIAN II - PAULUS
Bab 7. Kode Maritain
Bab 8. Persahabatan Yang Penuh Cinta
BAGIAN III – YOHANES PAULUS
Bab 9. Kolese Suci




  
BAGIAN III

Yohanes Paulus



Bab 9

Kolese Suci


“Di bawah Paulus VI, kami masih berada di zaman homofilia dan zaman ‘kecenderungan.’ Dengan Yohanes Paulus II segala sesuatu berubah sepenuhnya dalam sifat dan luasnya masalah itu. Dalam rombongan Yohanes Paulus II ada lebih banyak praktisi – dengan tingkat kejahatan, kebusukan perilaku dan korupsi yang tak terbayangkan. Bahkan di sekitar Bapa Suci ada lingkaran nafsu yang sangat kuat.”

Adalah seorang pastor Kuria yang berbicara kepada saya seperti ini, salah satu saksi kepausan. Ketika dia menggunakan ungkapan 'cincin nafsu,' monsignore ini hanya menggunakan ide yang telah disampaikan oleh Benediktus XVI dan Francis. Jika mereka berhati-hati untuk tidak mengutip nama kardinal tertentu atau mengkritik pendahulu Polandia mereka (John Paul II), tetapi terpaksa kedua paus penerus itu dikejutkan oleh rombongan hibrida dari Yohanes Paulus II.

Francis tidak pernah berbicara secara acak. Dan ketika dia meluncurkan serangan pedasnya, yang sering diulang-ulang sejak itu, terhadap 'arus kobusukan’ di dalam Kuria, dia jelas-jelas memiliki nama-nama pelakunya di dalam pikirannya. Saat itu Juni 2013, awal masa pemerintahannya - paus berbicara dalam bahasa Spanyol kepada sekelompok perwakilan Katolik Amerika Latin. Diskusi berubah, sekali ini saja, kepada masalah lobi gay. Dan jika paus baru ini berbicara tentang ‘lingkaran kebusukan,’ itu karena dia punya buktinya: dia memiliki kardinal-kardinal tertentu dalam pandangannya. Dia memikirkan orang Italia, Jerman, dan juga para kardinal dan nuncio Latin.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kepausan Yohanes Paulus II dipenuhi dengan skandal, dan bahwa beberapa kardinal dalam lingkaran dekatnya adalah homoseksual dan korup. Tetapi sampai penyelidikan ini dilakukan, saya belum mengetahui sepenuhnya tingkat kemunafikan Kuria Romawi di bawah Karol Wojtyła. Mungkinkah kepausannya telah 'secara intrinsik terganggu'?

Yohanes Paulus II adalah paus masa muda saya, dan banyak teman dan relasi saya selalu menghormatinya. Di antara para editor Esprit, jurnal Katolik anti-totaliter dimana saya ikut mengelola, Wojtyla umumnya dianggap sebagai salah satu tokoh utama yang terkait dengan berakhirnya komunisme. Saya telah membaca beberapa buku dan biografi sosok terkenal abad ke-20 ini, seorang tokoh global. Ketika saya bertemu para kardinal, uskup, dan pastor yang bekerja dengannya, saya menemukan sisi tersembunyi - sisi gelap - dari kepausannya yang sangat lama. Seorang paus yang dikelilingi oleh para komplotan, preman, mayoritas homoseksual yang tertutup, yang pura-pura homofobia (tidak suka homo) di depan umum, dan belum lagi semua orang yang melindungi para pastor pedofil.

“Paul VI mengutuk homoseksualitas, tetapi hanya dengan kedatangan John Paul II perang yang benar-benar dilancarkan terhadap kaum gay dilaksanakan," saya diberitahu oleh seorang pastor Kuria yang bekerja di kementerian Luar Negeri John Paul II. “Ironi sejarah: sebagian besar pemain dalam kampanye tanpa batas melawan homoseksual ini adalah pelaku homoseksual. Dalam membuat pilihan homofobia (menolak homosex) resmi ini, Yohanes Paulus II dan rombongannya tidak menyadari sejauh mana jebakan yang mereka buat untuk diri mereka sendiri, dan risiko yang mereka hadapi untuk mengekspos Gereja dengan merusaknya dari dalam. Mereka melemparkan diri ke dalam perang moral bunuh diri yang pasti akan kalah, karena hal itu berarti mereka harus mencela dan menolak apa yang mereka sendiri lakukan. Jatuhnya Benediktus XVI menjadi konsekuensi akhir dari perang ini."

Untuk mencoba memahami salah satu rahasia tertutup rapat dari kepausan ini, saya telah mewawancarai banyak kardinal di Roma. Di antara mereka adalah 'menteri' utama paus: Giovanni Battista Re, Achille Silvestrini, Leonardo Sandri, Jean-Louis Tauran dan Paul Poupard, yang pada waktu itu, berada di jantung Kuria Romawi. Saya mengunjungi sekretaris pribadi Paus, Stanisław Dziwisz, di Kraków. Saya juga bertemu sekitar sepuluh nuncio yang bekerja sebagai diplomatnya, beberapa penasihat persnya, asisten dan pengarah upacara dan sekretaris, anggota Sekretariat Negara antara tahun 1978 dan 2005, serta banyak uskup atau monsignori biasa. Selain itu, saya memperoleh banyak informasi dan kepercayaan dari para kardinal, uskup atau pastor biasa ketika saya bepergian ke luar negeri, memburu penyelidikan saya di Amerika Latin dan, tentu saja, di Polandia. Terakhir, arsip kediktatoran Chili, yang baru dibuka, sangatlah penting.

Satu misteri masih bertahan bagi saya hingga hari ini, ketika saya mulai menyampaikan kisah tentang perjalanan orang-orang ini ke neraka. Apa yang diketahui Yohanes Paulus II tentang apa yang akan saya sampaikan? Apa yang dia ketahui tentang kehidupan ganda dari sebagian besar rombongannya? Apakah dia secara naif tidak menyadarinya; apakah dia diam-diam menikmati atau memvalidasi skandal keuangan dan kejahatan seksual rekan-rekan dekatnya - karena ada dua ekses, uang dan kenikmatan daging, yang ditambahkan dalam perjalanan kepausannya? Karena ingin mendapat jawaban untuk teka-teki ini, saya mau percaya bahwa paus, yang sakit-sakitan, dan menjadi pikun, memang tidak tahu apa-apa tentang kebobrokan itu dan tidak menutup-nutupi ekses yang akan saya gambarkan.

Dua pemain utama dalam tahun kepausan John Paul II adalah kardinal Agostino Casaroli dan Angelo Sodano. Kedua orang Italia ini, keduanya dari keluarga sederhana di Piedmont, mereka adalah kepala kolaborator Bapa Suci, yang menduduki, pada gilirannya, jabatan sekretaris negara kardinal - fungsi paling penting dalam Tahta Suci: 'perdana menteri' paus.

Kardinal Casaroli, yang meninggal pada 1998, sudah lama menjadi diplomat yang licik dan licin, terutama ketika dia harus berhubungan dengan negara-negara komunis di bawah John XXIII dan Paul VI, sebelum kemudian menjadi tangan kanan John Paul. Diplomasi yang hebat dan tidak rewel, yang terdiri dari dialog, kompromi, dan langkah-langkah kecil, sangat dikagumi hingga hari ini oleh sebagian besar diplomat yang telah berbicara dengan saya tentang dia; misalnya, nuncio François Bacqué, Mgr. Fabrice Rivet atau nuncio Gabriele Caccia, yang saya wawancarai di Beirut.

Saya sudah sering mendengar dikatakan di Sekretariat Negara bahwa satu nuncio atau lainnya adalah 'sejalan dengan diplomasi Casaroli yang hebat.' Bahkan hari ini nama ajaib itu tampaknya menjadi patokan, seperti yang dikatakan oleh seorang diplomat Amerika bahwa dia adalah 'Kissingerian' atau yang dikatakan seorang diplomat Prancis bahwa dia adalah 'neo-Gaullist.' Secara tersirat, ini juga merupakan cara halus untuk memahami versi yang sama ini dari diplomasi penggantinya, Angelo Sodano, yang diberlakukan setelah 1991.

Diplomasi Casaroli masih didasarkan pada 'kesabaran,' sesuai dengan judul memoar setelah kematiannya. Diplomat 'klasik,' jika kata itu memiliki makna di Vatikan, ia adalah seorang pragmatis yang lebih menyukai politik riil daripada moralitas dan jangka panjang dari efek langsung. Hak asasi manusia itu penting, tetapi Gereja memiliki tradisinya sendiri, yang juga harus dihormati. Realisme yang diharapkan ini tidak mengesampingkan mediasi atau diplomasi paralel seperti yang dipraktikkan oleh organisasi seperti komunitas Sant'Egidio atau 'duta besar terbang' seperti Kardinal Roger Etchegaray dalam misi rahasia untuk John Paul II ke Iran, Cina atau Kuba.

Menurut Etchegaray, yang saya wawancarai, Agostino Casaroli adalah ‘seorang intelektual yang hebat' yang banyak membaca, terutama karya penulis Perancis,, Jacques Maritain, dan temannya Jean Guitton (yang juga menulis kata pengantar untuk salah satu bukunya). Yang lebih penting: Casaroli adalah seorang diplomat yang berani dan cekatan; dia kadang-kadang melakukan perjalanan penyamaran melalui sisi lain dari Tirai Besi, dan mampu membuat jaringan informan lokal yang terbukti berharga setelah perubahan di Uni Soviet dan negara-negara satelitnya.

Kardinal Paul Poupard, yang bekerja dengannya, memberi tahu saya: “Dia adalah orang yang sangat bernuansa. Dia menyatakan ketidaksetujuan dengan bahasa yang jelas dan sopan. Dia adalah intisari dari diplomat Vatikan. Dan dia adalah orang Italia! Sekretaris negara sebelumnya, Jean Villot, seorang Prancis, telah bekerja dengan baik dengan Paul VI, yang adalah orang Italia. Tetapi dengan seorang paus Polandia, John Paul II, Villot merekomendasikan agar John Paul II menggunakan seorang Italia. Dia mengatakan kepadanya: "Anda butuh orang Italia." Pada akhirnya nama Casaroli yang dicentang dari semua kotak pilihan yang ada.

Ketika dia menjadi 'perdana menteri' Paus dan dijadikan kardinal, bakat Casaroli digunakan pada urusan dengan komunis. Mengikuti John Paul II, yang menjadikan anti-komunisme sebagai prioritasnya dalam semua pidato dan perjalanan, sekretaris negara ini (Casaroli) melakukan tindakan yang halus atau rahasia yang cukup terkenal saat ini. Sejumlah besar uang dibayarkan, dengan sangat tidak jelas manfaatnya, kepada serikat buruh Polandia Solidarność; kantor-kantor swasta didirikan di Eropa Timur; Bank Vatikan dijalankan oleh uskup agung terkenal Paul Marcinkus, untuk mengorganisasikan propaganda balasan. (Ketika saya menanyai Kardinal Giovanni Battista Re dan Jean-Louis Tauran, mereka menyangkal bahwa Tahta Suci pernah secara langsung membiayai Solidarność.)

Pertempuran ini adalah pilihan pribadi John Paul II. Paus menyusun strateginya sendiri, dan hanya sejumlah kecil kolaborator yang dapat mendekripsi ketika hal itu dilaksanakan (terutama Stanisław Dziwisz, sekretaris pribadinya, sekretaris negara kardinal Casaroli dan kemudian Sodano, dan pada awalnya) dari pihak kepausan, Uskup Agung Warsawa, kardinal Stefan Wyszynski).

Peran Stanisław Dziwisz, khususnya, sangat penting, dan di sini perlu untuk diperinci - itu sangat penting bagi pembahasan kita. Prelatus Polandia ini mengenal dunia komunis dari dalam: ia adalah kolaborator utama John Paul II di Warsawa dan kemudian di Roma. Para saksi mata mengkonfirmasi bahwa dia adalah orang kunci dalam semua misi rahasia anti-komunis; dia tahu semua file sensitif dan pembiayaan ganda. Kita tahu bahwa hubungan Dziwisz dengan Kardinal Ratzinger sangat baik, tetapi Ratzinger, yang pernah terpilih menjadi paus, mungkin sebagai tanggapan atas janji yang dibuat kepada John Paul II yang sedang sekarat, dan berapa pun biayanya untuk dirinya sendiri, mengangkatnya menjadi Uskup Agung Kraków dan kemudian mengangkatnya sebagai kardinal.

“Mgr. Dziwisz adalah sekretaris pribadi yang sangat hebat, sangat setia, seorang pelayan yang hebat. Dia terus-menerus bersama John Paul II dan menceritakan segalanya kepada Bapa Suci," kata Kardinal Giovanni Battista Re kepada saya, untuk menyimpulkan situasinya.

Mantan kepala protokol John Paul II, yang sering menemani paus dalam perjalanannya, Renato Boccardo, mengkonfirmasi pengaruh Dziwisz yang sama pentingnya, selama percakapan di Spoleto, 130 kilometer dari Roma, di mana ia sekarang menjadi uskup agung. “Tidak ada cara untuk menghindari sekretaris pribadi Dziwisz. Dia sangat aktif dalam semua perjalanan paus dan, tentu saja, ketika mereka pergi ke Polandia, dia mengambil lebih banyak hal di tangannya sendiri. Kemudian, adalah tugas dari ‘geng Polandia’ yang mengatur semua perjalanan: Kardinal Grocholewski, Kardinal Deskur dan Dziwisz. Saya ingat perjalanan tahun 2002 dan kami semua menduga itu akan menjadi perjalanan terakhir paus ke negara kelahirannya. Dziwisz, yang datang bersama kami, mengenal semua orang. Kami diterima dengan sangat baik."

Tanpa banyak bicara, Renato Boccardo memberi kami pemahaman bahwa Dziwisz, yang tinggal dalam ketersembunyian untuk waktu yang lama, terungkap pada akhir masa kepausan John Paul II bahwa dia menjadi penguasa Vatikan yang sebenarnya.

Ada banyak pembicaraan tentang ‘mafia’ Polandia di sekitar Kardinal Stanisław Dziwisz, Andrzej Deskur, Zenon Grocholewski, Stefan Wyszynski atau bahkan uskup di Polandia, Mgr. Józef Glemp. Bahkan ada pembicaraan tentang adanya sebuah geng! Saya pikir itu sebagian besar adalah mitos. “Satu-satunya yang benar-benar berpengaruh di mana John Paul II merasa sangat prihatin adalah sekretaris pribadinya: Stanisław Dziwisz," kata pakar Vatikan Polandia, Jacek Moskwa, dengan cara meletakkan segala sesuatu ke dalam perspektif, ketika saya mewawancarainya di Warsawa.

Sekarang tinggal dalam masa pensiunnya di Kraków, Kardinal Dziwisz telah meninggalkan reputasi yang ambigu di Roma. Loyalitasnya kepada paus dikagumi, tetapi kemunafikannya juga banyak dikritik. Sulit untuk menguraikan kode referensi-dirinya, perubahan suasana hati dan kemewahannya, yang muncul ke permukaan pada masa-masa yang sering dia habiskan sendiri di dekat Villa Medici, seolah-olah berkata, seperti si Penyair, "Aku tersembunyi dan Aku tidak." Dan sejak kepergiannya dari Kuria, rumor tentang dirinya membanjir.

Salah satu orang paling tertutup dalam sejarah Vatikan (Dziwisz hampir tidak pernah memberikan wawancara dalam hampir tiga puluh tahun di samping Karol Wojtyła) secara bertahap muncul ke permukaan. Jadi, misalnya, seorang kolega Casaroli yang masih bekerja di Vatikan menunjukkan kepada saya bahwa banyak kehidupan Dziwisz adalah salah satu rahasia besar Katolik Roma.

“Dziwisz diberi julukan: ‘Paus Telah Mengatakan.’ Dia adalah sekretaris John Paul II, tidak ada yang bisa menggesernya, dan semuanya harus melalui dia. Jelas dia sering ‘menyaring’ informasi, yang berarti dia menyampaikan kepada Paus apa yang dia ingin sampaikan. Berangsur-angsur, dan ketika penyakit John Paul II semakin memburuk, dia mulai berbicara demi paus, dan jauh dari kejelasan itu pendapat siapa, pendapat paus atau pendapat Dziwisz, yang kemudian memberikan perintah. Hal ini berlaku pada arsip-arsip tentang kasus pedofilia atau skandal keuangan: pada masalah-masalah inilah ketegangan muncul dengan Kardinal Ratzinger. Dziwisz sangat tangguh. Dia dikatakan membuat Ratzinger menangis pada beberapa kesempatan."

Seorang pastor Kuria membenarkan informasi ini: “Dziwisz sangat tidak terduga, sangat agresif. Dia sangat giat, dan melanjutkan urusannya dengan lebih tenang karena menjadi kolaborator dekat Bapa Suci. Dia tahu bahwa dirinya dilindungi dan dia berada di luar jangkauan."

‘Wdowa’. Julukan Polandia bagi Mgr. Stanisław Dziwisz, secara harfiah berarti 'janda,' sekarang menjadi salah satu lelucon paling sering diulang di Polandia - dan ini bukan lelucon yang sangat membahagiakan. Selama penyelidikan saya di Warsawa dan Kraków, saya sering mendengar nama hewan peliharaan ini, apakah ia digunakan karena ironi atau kedengkian, sehingga sulit untuk mengabaikannya.

“Saya sendiri tidak akan menggunakan ekspresi itu. Orang-orang yang memanggilnya ‘janda’ sepertinya sedang memfitnah dia. Yang benar, di sisi lain, adalah bahwa Dziwisz hanya berbicara tentang John Paul II. Paus itulah satu-satunya hal yang penting dalam hidupnya. Satu-satunya tujuannya adalah John Paul II; semua kisahnya dan ingatannya. Dia selalu berada di bawah bayang-bayang lelaki berwibawa itu. Dia sekarang adalah pelaksana surat wasiatnya," demikian saya diberitahu oleh ahli Vatikan Polandia, Jacek Moskwa, yang sudah lama menjadi koresponden di Roma, dan yang merupakan penulis biografi Paus setebal empat volume.

Saya mewawancarai lusinan pastor, uskup, dan kardinal tentang karier Mgr.Stanisław Dziwisz, dan gambaran yang sangat kontras muncul dari wawancara ini. Di Warsawa, di markas besar konferensi para uskup Polandia, di mana saya diterima, mereka menekankan peran Dziwisz yang 'utama' dan 'menentukan' di sisi John Paul II. Saya mendengar pujian yang sama ketika saya mengunjungi yayasan kepausan Papieskie Dzieła Misyjne, yang juga berbasis di ibukota Polandia.

“Di sini kita semua adalah anak-anak yatim dari Wojtyła,” demikian saya diberitahu oleh Pawel Bielinski, seorang jurnalis agen informasi Katolik KAI.

Pole Wlodzimierz Redzioch, yang mengenal Mgr. Stanisław Dziwisz dengan baik, dan bekerja dengan Osservatore Romano di Roma selama 32 tahun, melukiskan gambaran pujian dari asisten John Paul II ketika saya bertemu dengannya. Jika dia dapat dipercaya, 'Yang Mulia Dziwisz yang mulia' adalah 'salah satu orang paling jujur ​​dan berbudi luhur di zaman kita,’ 'hatinya yang mulia,’ 'kemurnian' dan 'kesalehannya' dikatakan luar biasa. Sangat dekat dengan ‘orang kudus’ ...

Sebagai seorang anak miskin, lahir di sebuah desa kecil di Polandia, Stanisław Dziwisz secara efektif berhutang karir kepada seorang pria lajang: Karol Wojtyła. Dialah yang menahbiskan seminaris muda itu sebagai seorang imam pada tahun 1963, dan yang juga telah membuatnya terpilih menjadi uskup pada tahun 1998. Mereka tidak pernah terpisahkan selama beberapa dekade: Dziwisz akan menjadi sekretaris pribadi Uskup Agung Kraków, yang kemudian menjadi John Paul II di Roma. Dia ada di sisinya, dan melindunginya dengan tubuhnya, dikatakan seperti itu, dalam upaya menyelamatkan hidupnya pada tahun 1981. Dia tahu semua rahasia paus; dan dia menyimpan buku-buku catatan pribadinya. Setelah penyakit yang panjang dan kematian yang menyakitkan dari paus, simbol universal penderitaan manusia, Dziwisz juga menyimpan sebagai peninggalan, sampel darah Bapa Suci, sebuah ‘tugu peringatan’ aneh yang memicu komentar mengerikan yang tak terhitung jumlahnya.

“Kardinal Stanisław Dziwisz adalah tokoh yang sangat dihormati di Gereja Polandia. Ingatlah: dia adalah tangan kanan Paus John Paul II," saya diberitahu dalam wawancara di Warsawa oleh Krzysztof Olendski, seorang duta besar yang sekarang mengelola Institut Polandia, sebuah badan kebudayaan negara yang dekat dengan kelompok ultra-konservatif dan Gereja Katolik.

Saksi-saksi lainnya agak kurang royal dalam memberikan info. Beberapa berbicara kepada saya tentang Dziwisz sebagai 'benih ilalang’ yang tidak mengesankan, atau sebagai 'pria sederhana yang menjadi rumit.’ Beberapa memberikan penilaian yang keras: ‘idiot’, ‘jenius jahat John Paul II’. Saya diberitahu bahwa di Kraków mereka harus mengawasi kardinal itu agar dia tidak melakukan kecerobohan atau berjalan menyimpang dari rel jika melakukan wawancara.

"Dia jelas bukan seorang intelektual, tetapi dia membuat kemajuan besar selama bertahun-tahun," kata jurnalis Adam Szostkiewicz, seorang spesialis berpengaruh dalam agama Katolik di media Polityka yang mengenalnya dengan baik.

Untuk memahami hubungan yang tidak khas ini, antara paus dan sekretaris pribadinya, beberapa orang mengajukan penjelasan lain: kesetiaan.

"Itu benar, dia bukan kepribadian yang besar; dia pada dasarnya hidup di bawah bayang-bayang John Paul II,” demikian kata ahli Vatikan, Jacek Moskwa, yang menjadi anggota Solidarność, mengakui.

Dan dia segera menambahkan: “Tapi dia adalah sekretaris yang ideal. Saya mengenalnya ketika dia adalah seorang imam muda di samping John Paul II di Vatikan. Dia dapat diandalkan dan setia: itu adalah sifat-sifat yang hebat. Untuk waktu yang lama Dziwisz cukup pendiam, cukup bijaksana. Dia tidak pernah menerima wartawan, meskipun dia sering berbicara dengan mereka di telepon, tanpa direkam. Pada akhirnya, untuk seorang pastor, dia memiliki karier yang luar biasa di dalam Gereja. Kunci hubungannya dengan paus adalah kesetiaan."

Dikirim ke Kraków sebagai uskup agung oleh Benediktus XVI, dan kemudian menjadi kardinal, Dziwisz hari ini tinggal di sebuah rumah kota tua di Jalan Kanonicza, tempat dia memberi saya audiensi.

"Kardinal," saya diberitahu oleh asisten Italia-nya, Andrea Nardotto, "nyaris tidak memberikan wawancara kepada jurnalis, tetapi dia bersedia bertemu denganmu."

Saya menunggu di teras yang diterangi matahari, di tengah-tengah oleander merah muda dan konifer kerdil muda, menunggu sang 'janda.' Di aula: ada lambang kepausan John Paul II berwarna perunggu, cokelat yang meresahkan; di teras: ada patung kapur John Paul II. Di kejauhan, saya mendengar para biarawati bergumam. Saya melihat pria pengantar yang membawa hidangan siap untuk disantap.

Tiba-tiba Stanisław Dziwisz membuka kunci pintu kayu besar di kantornya, dan berdiri dengan kaku di ambang pintu, menatap saya, dikelilingi oleh pria-pria muda tampan dengan kerah anjing dan wanita-wanita tua yang lemah. Asistennya, Nardotto, memperkenalkan saya sebagai penulis dan jurnalis Perancis; dan tanpa formalitas lebih lanjut, Stanisław Dziwisz mengantar saya ke ruang tamunya.

Kamar yang sangat luas dengan tiga meja kayu. Sebuah meja persegi panjang kecil tertutup oleh kertas-kertas; meja makan persegi kosong tampaknya itu adalah tempat dia mengadakan pertemuannya; meja kayu yang terlihat seperti sesuatu dari ruang kelas sekolah, dibingkai oleh kursi merah tua. Setelah menenangkan diri, Mgr. Dziwisz memberi isyarat kepada saya untuk duduk.

Kardinal bertanya kepada saya tentang 'putri tertua Gereja' (Perancis) tanpa benar-benar mendengarkan jawaban saya. Giliran saya untuk menanyainya, tetapi dia juga tidak mendengarkan pertanyaan saya. Kemudian kami berbicara tentang para intelektual Katolik Perancis, tentang Jacques Maritain, Jean Guitton, François Mauriac….

“Dan André Frossard dan Jean Daniélou!” kata sang kardinal bersikeras, mengutip nama-nama intelektual yang telah dia baca, atau setidaknya bertemu.

Pertukaran info atau daftar nama ini, serta penghilangan nama ini, seperti sebuah pengakuan: Saya tidak berhadapan dengan seorang intelektual. Kardinal emeritus ini tampaknya hampir tidak tertarik pada ide-ide.

Saya menerima konfirmasi tentang hal ini saat sarapan bersama Olga Brzezinska, seorang akademisi terkenal yang menjalankan beberapa yayasan budaya dan festival sastra utama di Kraków: “Dziwisz terkenal di sini, dan agak kontroversial, tetapi dia tidak dianggap sebagai tokoh intelektual utama di kota ini. Sebagian besar legitimasinya berasal dari fakta bahwa dia dekat dengan John Paul II. Dia menyimpan buku-buku catatannya, rahasianya, dan bahkan darahnya! Agak menyeramkan ... “

Di dinding kantor Dziwisz, saya melihat tiga lukisan yang menunjukkan John Paul II dan potret Dziwisz sendiri dalam jubah kardinalnya. Di salah satu dari tiga meja, topi kardinal terletak terbalik tanpa ada perhatian dari protokol. Jam ‘grandfather,’ pendulumnya masih ada, sudah berhenti memberi tahu waktu. Kardinal yang sangat ceria itu menyambut saya.

"Saya mengetahui bahwa Anda sangat disukai," kata kardinal itu kepada saya tiba-tiba, menandai saat jeda, riang dan akrab. Seorang pria dari selatan Polandia, dia sendiri sangat disukai.

Mgr. Dziwisz meminta maaf karena tidak dapat berbicara dengan saya lebih lama. Dia harus menemui seorang perwakilan Ordo Malta, seorang lelaki kusut kecil yang sudah menunggu di ruang depan. "Sungguh membosankan," katanya padaku hampir dengan nada rahasia. Tapi dia menyarankan kembali untuk menemuinya pada hari berikutnya.

Kami mengambil foto selfie. Dziwisz, dengan penuh perhatian, tampaknya tidak terburu-buru, dan dengan gerakan feminin yang tidak mengurangi dominasi kehadirannya, dia menggandeng tangan saya sehingga kami dapat melihat dengan benar ke dalam lensa. Suatu ‘jiwa penjaga', mengekang kebodohannya, impulsnya, kebahagiaannya, dia melakukan guyonan terhadap saya dan saya bermain mengimbanginya. Dengan bangga, dia mundur dan saya berpikir tentang si Penyair yang berkata, "Apakah Anda ingin melihat meteor bersinar?" Tetapi pada usia delapan puluh tahun, kebahagiaan itu sedang melayang menjauh.

Saya telah mempelajari karakter ini sedemikian dalam sehingga, sekarang dihadapkan dengan subjek saya, berdiri di depan saya dalam pakaian imam dan dengan bau belerang, saya kagum. Saya tidak akan pernah mengagumi makhluk surga dan lilin-lilin ini karena 'kebebasannya yang keras', kebaikannya, pesonanya. Saya suka sosok dirinya yang - dalam kata-kata Rimbaud – bagaikan ‘gelas yang mudah pecah, pengemis, artis, bandit – pastor!’ Seorang pesulap, pejalan kaki, pengembara yang tak terhitung jumlah pengalamannya. Sementara keraguan terakhir saya memudar, saya mengagumi, terpesona, atas 'kesabaran yang luar biasa' dari pangeran besar Gereja yang duduk di depan saya ini. Di luar jangkauan. Tidak dibatasi. Dia belum berubah. Tak tersembuhkan. Hidup yang luar biasa! Pria yang luar biasa!

Di Kraków, cara hidup kardinal Dziwisz membangkitkan keheranan yang luar biasa. Saya diberitahu tentang tindakan dermawannya; kerinduannya yang terkadang berlebihan; hadiah filantropinya yang berulang kepada desa Mszana Dolna, tempat dia dilahirkan. Perut gendut dan gemar menyenangkan bawahannya, dia menikmati makanan enak dan berbagai kejutan - itu adalah manusiawi. Pada malam pertemuan pertama kami, ketika saya berada di kota, saya melihatnya sedang makan di Fiorentina, sebuah restoran berbintang tempat dia menghabiskan waktu hampir tiga jam, dan tentang hal itu, Iga, manajer, memberi tahu saya: “Kami adalah sebuah restoran terbaik di kota. Kardinal Dziwisz adalah teman dari manajer kami.”

Dari mana uangnya berasal? Bagaimana uskup ini, dengan uang pensiun seorang pastor, dapat menjalani kehidupan duniawi seperti itu? Itulah salah satu misteri buku ini.

Misteri lain terletak pada dukungan tak putus-putusnya yang diperlihatkan oleh Stanisław Dziwisz ketika dia menjadi sekretaris pribadi Paus John Paul II, kepada beberapa tokoh yang lebih gelap di dalam Gereja. Ketika saya mengejar pertanyaan saya ini di Polandia, saya bekerja dengan 'peneliti' saya Jerzy Sczesny, serta tim wartawan investigasi dari harian Polandia Gazeta Wyborcza (terutama Mirosław Wlekły, Marcin Kacki dan Marcin Wójci). Beberapa aspek keras dari sisi gelap sekretaris pribadi John Paul II terungkap dan fakta yang lebih memusingkan akan segera menyusul. (Keberhasilan besar, pada musim gugur 2018, dari film Kler, tentang pedofilia para imam di Polandia, menegaskan bahwa perdebatan tentang kemunafikan Gereja telah dimulai di negara paling Katolik di Eropa itu.)

Nama Stanisław Dziwisz berulang-ulang muncul dalam lusinan buku dan artikel tentang kasus pelecehan seksual; bukan karena dia sendiri dituduh melakukan tindakan seperti itu, tetapi karena dia dicurigai menutupi para pastor busuk di dalam Vatikan. Koneksinya dengan Marcial Maciel dari Mexico, Fernando Karadima dari Chili, Alfonso López Trujillo dari Kolombia, serta Bernard Law dan Theodore McCarrick dari Amerika, sudah terbentuk dengan sangat mapan. Nama Stanisław Dziwisz juga sering muncul sehubungan dengan beberapa skandal seksual di Polandia, terutama dalam kasus Juliusz Paetz yang terkenal: uskup ini membujuk para seminaris dengan memberi mereka pakaian dalam 'ROMA,' yang jika dibaca terbalik, katanya kepada mereka, sebagai 'AMOR' – cinta (kemudian dia terpaksa mengundurkan diri). Demikian pula, Dziwisz secara pribadi berkenalan dengan pastor Józef Wesolowski, ditahbiskan di Kraków: ditunjuk menjadi nuncio untuk Republik Dominika, uskup agung ini berada di jantung skandal besar pelecehan homoseksual sebelum ditangkap di Roma oleh polisi Vatikan, atas permintaan Paus Francis. Apa tepatnya yang diketahui Stanisław Dziwisz tentang apa yang ada di semua file ini? Apakah dia memberikan informasi yang memadai kepada Paus John Paul II, atau apakah dia 'menyaring' semua informasi itu dan menyembunyikannya dari paus? Apakah dia, bersama dengan Kardinal Angelo Sodano, bersalah karena gagal mengambil tindakan yang sesuai dalam beberapa kasus ini?

Beberapa uskup Katolik Polandia yang saya tanyai mengatakan bahwa Dziwisz tidak mungkin terhubung dengan skandal-skandal ini, karena dia tidak tahu apa-apa tentang mereka. Beberapa uskup yang lain, sebaliknya, berpikir bahwa Dziwisz 'seharusnya sudah berada di dalam penjara hari ini' karena keterlibatannya. Terlepas dari pendapat yang sangat bertentangan ini, beberapa orang bahkan melangkah lebih jauh untuk mengklaim, tanpa bukti, bahwa Dziwisz mungkin telah 'direkrut' oleh dinas rahasia Polandia, Bulgaria atau Jerman Timur karena 'kerentanannya' - tetapi tidak ada sedikit pun bukti atas 'infiltrasi' kedalam Vatikan ini. Ketika saya mewawancarainya di Warsawa, ahli Vatikan Polandia, Jacek Moskwa, memberi saya penjelasan yang masuk akal untuk ini: dia menyarankan bahwa jika John Paul II dan Dziwisz melakukan kesalahan penilaian tentang beberapa imam yang diduga melakukan pelecehan seksual, itu adalah tidak disengaja, dan itu adalah hasil dari propaganda komunis:

“Jangan lupa konteksnya: sebelum 1989, desas-desus tentang homoseksualitas dan pedofilia terus digunakan oleh dinas rahasia (komunis) Polandia untuk mendiskreditkan lawan-lawan rezim. Karena terbiasa dengan pemerasan dan manipulasi politik, John Paul II dan asistennya, Dziwisz, tidak pernah ingin mempercayai rumor itu. Mentalitas mereka adalah bagaikan benteng yang dikepung: musuh-musuh Gereja berusaha untuk mengkompromikan para imam. Jadi mereka harus menunjukkan solidaritas, berapa pun biayanya."

Adam Szostkiewicz dari surat kabar Polityka sepenuhnya setuju, tetapi dengan satu syarat: “John ​​Paul II memiliki tujuan dan agenda politiknya yang tepat sehubungan dengan Polandia dan komunisme. Dia tidak pernah menyimpang dari lintasan itu. Dan dia nyaris tidak peduli dengan rombongannya, atau dengan moralitas para pendukungnya."

Sangat mungkin bahwa kekuatan hukum dan ketertiban nasional yang sedang menyelidiki pelecehan seksual di dalam Gereja di lusinan negara, suatu hari nanti akan memberi sedikit terang pada misteri ini. Untuk saat ini, Stanisław Dziwisz tidak bermasalah dengan hukum, tidak ada keluhan atau tuntutan yang pernah diajukan terhadapnya, dan dia menikmati masa pensiun yang sangat aktif di Kraków. Tetapi jika suatu hari nanti dia terlibat dalam penyelidikan, citra kepausan John Paul II akan dinodai sedalam-dalamnya.

Hari berikutnya saya kembali ke Kanonicza Street, dan Kardinal Dziwisz menerima saya untuk wawancara informal kedua. Dia lebih berhati-hati, kurang terkontrol daripada teman-temannya yang lain, Cardinals Sodano, Sandri atau Re. Mereka lebih spontan.

Saya telah membawa 'buku putih kecil', dan dia membuka bungkus kertas kadonya dengan gembira.

"Apakah ini bukumu?" dia bertanya pada saya, penuh kelembutan, saat ini dia mengingat bahwa saya adalah seorang jurnalis dan penulis.

"Tidak, ini hadiah: sebuah buku putih kecil yang sangat saya sukai," jawab saya.

Dia menatap saya dengan sedikit terkejut, merasa geli karena seorang asing harus datang jauh-jauh dari Paris untuk memberinya sebuah buku. Saya terkejut oleh tatap matanya, karena dia identik dengan yang sering saya lihat di foto: mata serakah dan penyembah berhala lebih fasih daripada lidah. Ini adalah tampilan yang sangat tercela.

KAMI MERINGKAS PERMAINAN KAMI. CARDINAL MEMINTA SAYA UNTUK MEMBUAT TULISAN YANG ISINYA MENDEDIKASIKAN BUKU ITU KEPADA DIA, DAN DIA MEMINJAMI SAYA FOUNTAIN PEN. SEMENTARA ITU DIA MENGHILANG KE KAMAR DEPAN DAN SAYA MENDENGAR LACI DIBUKA DAN JUGA LEMARI. DIA DATANG KEMBALI DENGAN EMPAT HADIAH BUAT SAYA: SEBUAH FOTO, SEBUAH BUKU YANG INDAH DAN dua rosario, satu dengan manik-manik hitam, satu dengan manik-manik putih, dengan wadah kotak verdigris berwarna lembut dengan lambang patung dirinya sampai sebatas lengan. Semboyan episkopalnya sederhana: 'Sursum Corda' ('Angkatlah hatimu'). Di atas kereta, kembali ke Warsawa, saya memberikan salah satu rosario itu kepada seorang penumpang di kursi roda. Pria itu, seorang Katolik yang taat yang menderita Parkinson, memberi tahu saya bahwa dia belajar di Universitas John Paul II di Kraków, dan dia tahu nama Dziwisz, yang dia hormati.

Foto yang diberikan kepada saya menunjukkan John Paul II memegang seekor binatang di lengannya.

"Ini seekor domba," Dziwisz memberitahu saya, dirinya selembut domba.

Sekarang sang kardinal mempersembahkan buku berisi foto-foto itu kepada saya dengan pena indahnya, dengan tulisan tangan kecil dan tinta hitam pangeran.

"Kamu seorang penulis, Frédéric: bagaimana kamu mengeja namamu dalam bahasa Prancis?" dia bertanya pada saya.

"Frédéric, seperti Frédéric Chopin."

Dia memberi saya hadiah dan saya berterima kasih padanya, meskipun buku itu mengerikan, tidak berguna dan sia-sia bagi saya.

“Anda sangat disukai sebagai seorang jurnalis. Sangat disukai," Dziwisz menegaskan.

Karena dia dilarang 'berteman dengan wanita,’ saya bisa merasakan ‘kepanikan Cracovian’nya, keletihannya, yang pernah menjadi sorotan, di sebelah kanan pria yang memandu jalan dunia. Di Roma, dia mengenal semua seminaris dan semua Pengawal Swiss dengan nama depan mereka. Waktu telah berlalu, dan bujangan tua itu sudah berhenti menghitung jandanya. Di Kraków, lelaki tua berjubah imam itu berduka, menjadi seorang pensiunan muda, menanyai saya. Meski saya bukan termasuk seorang temannya.

“Tidak, saya tidak merasa bosan di sini. Saya lebih suka Kraków daripada Roma," kata Dziwisz kepada saya, tampaknya bukan orang yang terbiasa memerah mukanya.

Kami tidak lagi sendirian sekarang. Seorang uskup lain masuk. Dia membungkuk dalam-dalam, berbicara kepada Dziwisz dengan menyebut ‘Yang Mulia’ dengan sangat hormat.

Saya memberi tahu kardinal, dengan ironi dan sedikit rasa malu, bahwa saya tidak pernah menggunakan istilah 'Eminence.' Dia tertawa terbahak-bahak, memegang tangan saya seolah-olah menjadikan saya sebagai orang kepercayaannya, seolah-olah mengatakan bahwa sebutan itu tidak serius, bahwa gelar tidak ada gunanya, bahwa dia benar-benar tidak peduli. Seolah-olah, setelah kembali dari ‘pengalamannya’ di neraka: “Saya bukan yang terkemuka! Saya hanya seorang duda!”

Untuk memahami kepausan John Paul II kita harus meninggalkan lingkaran konsentris yang mengelilingi paus. Lingkaran pertama adalah orang-orang yang paling dekat dengannya, di antaranya Stanisław Dziwisz adalah penghubung yang utama. Sekretaris negara, Agostino Casaroli, bukan bagian dari grup ini. Pada kenyataannya dia tidak benar-benar bekerja dengan baik sebagai tim dengan paus. Hubungan antara kedua pria itu segera mengalami ketegangan, kadang-kadang dengan debat keras, dan Casaroli, yang tidak suka konflik, menyampaikan pengunduran diri beberapa kali, demikian menurut sejumlah sumber, yang semuanya setuju. Ketegangan-ketegangan ini tidak sampai bocor ke dunia luar: hubungan antara kedua pria itu selalu berubah-ubah karena Casaroli selalu menyerah pada tuntutan paus. Sebagai seorang diplomat yang baik, dia bermain dari skor yang diberikan kepadanya, bahkan meski dia tidak menyetujuinya. Namun secara pribadi hubungan mereka memburuk, tentang prinsip-prinsip dasar dan tentang pilihan personil.

Tentang komunisme, pertama-tama: Kardinal Casaroli adalah orang dari era Perang Dingin, dan nyaris tidak mengantisipasi jatuhnya komunisme, meskipun itu yang diinginkannya. Dalam sebuah buku wawancara, Paus Benediktus XVI mengkonfirmasi hal ini: “Jelas bahwa terlepas dari semua niat baiknya, kebijakan Casaroli pada dasarnya gagal ... Jelas bahwa daripada mencoba menenangkan (rezim komunis) dengan kompromi, kami harus berdiri menghadapinya. Itulah sudut pandang John Paul II dan saya menyetujuinya. Mengenai hal ini, cukup jelas bahwa sejarah membuktikan bahwa paus Polandia itu benar, karena dia sekarang dianggap sebagai salah satu arsitek utama kejatuhan komunisme.

Ketegangan lain antara Bapa Suci dan 'perdana menteri' (Stanisław Dziwisz) muncul di sekitar pemilihan orang-orang. Apakah ini adalah tragedi suksesi Casaroli, seperti yang dikatakan beberapa orang kepada saya? Bagaimanapun, kardinal tua dan kuat, dikutuk untuk pensiun setelah mencapai batas usia, pada bulan Desember 1990 (meskipun paus dapat memperpanjang jabatan itu), dan paus ingin melihat seorang kolega dekat dan wakilnya ditunjuk untuk jabatan itu: Achille Silvestrini. Hubungan antara kedua pria ini bersifat magnetis dan tahan lama. Mereka sering bekerja bersama-sama: Achille Silvestrini adalah sekretaris pribadinya sebelum menjadi wakilnya; dia menulis kata pengantar untuk memoar anumerta- nya. Pers Italia bahkan menyebut-nyebut dokumen hukum tentang dugaan 'asosiasi keuangan': kedua wali gereja itu dikatakan terlibat dalam transaksi keuangan di bawah meja, yang mereka beritakan. Tetapi hal ini tidak pernah terbukti. (Saya bertemu Mgr. Achille Silvestrini di apartemen pribadinya di dalam Vatikan, dekat Piazza del Forno: kami bertukar beberapa kata, beberapa lirikan, dan para stafnya ingin kami mengambil selfie, tetapi dia agak sakit dan, pada usia 95, juga terlalu tua agar kesaksiannya bermanfaat.)

Namun, yang diketahui adalah seberapa dekat Casaroli dan Silvestrini satu sama lain; dan ketika saya mewawancarai para kardinal dan uskup tentang hubungan yang aneh ini, pertanyaan saya biasanya memancing apa yang kita sebut ‘senyuman yang penuh pengertian.' Beberapa uskup mulai membuka fakta di atas meja; beberapa akan menyebut sekop sebagai sekop. Jawaban mereka bersifat metaforis, terkadang puitis, dan saya mengerti bahwa tersembunyi di balik senyum itu ada rahasia yang tidak ingin diungkapkan oleh siapa pun. Kemudian mereka menggunakan gambaran yang sangat tersamar. Apakah mereka memang 'dari paroki'? Sudahkah mereka 'makan roti terkutuk'? Apakah mereka membentuk 'rumah tangga yang tidak biasa'?

Beberapa orang akan mengatakan bahwa saya terlalu berani dengan hipotesis saya. Sejujurnya, saya hampir tidak cukup berani. Sederhananya, saya terkadang harus mengaitkan dengan desas-desus tentang apa yang bisa ditulis sebagai fakta! Dan inilah yang bisa saya nyatakan sekarang, lebih berani:

Bertentangan dengan rumor yang tak terhitung jumlahnya, Casaroli tampaknya bukan kekasih Silvestrini. Mari kita dengarkan mantan pastor Curia, Francesco Lepore, yang adalah asisten dari beberapa kardinal, dan yang untuk pertama kalinya di depan umum mengungkapkan apa yang dia ketahui tentang ‘rumah tangga’ kardinal Casaroli – Mgr.Silvestrini (homosex): “Pertama-tama, kardinal Casaroli adalah seorang homosex dan semua orang di Vatikan tahu itu. Dia menyukai para pria muda, bukan anak di bawah umur, tidak, tapi dewasa muda. Hampir pasti bahwa Silvestrini adalah salah satu ‘makhluk’-nya. Tetapi mereka mungkin tidak pernah menjadi kekasih sejati, karena Casaroli menyukai pria yang lebih muda.” (Lebih dari selusin pastor telah mengkonfirmasi kecenderungan Casaroli ini, bahkan beberapa pastor memberi tahu saya bahwa mereka telah melakukan hubungan intim dengannya).

Pastor Federico Lombardi, mantan juru bicara tiga paus terakhir, bahkan tidak ingin membahas hipotesis homoseksualitas Casaroli ketika saya menanyai dia tentang masalah itu dalam salah satu dari lima wawancara kami: “Semua tuduhan homoseksualitas ini sedikit berlebihan,” katanya memberitahu saya. “Tentu saja ada homoseksual (di Gereja), itu sudah jelas. Bahkan ada beberapa yang lebih jelas daripada yang lain. Tetapi saya menolak untuk membaca kasus-kasus ini dengan cara seperti itu, dan saya percaya bahwa homoseksualitas adalah faktor yang mempenjelas."

Apa yang pasti adalah bahwa kedua pria ini hidup di dalam rumah tangga yang aneh ini, kardinal Casaroli dan Mgr.Silvestrini, yang selalu saling membantu, berbagi persahabatan dan kebencian. Jadi, misalnya, mereka selalu curiga dengan 'menteri' baru luar negeri John Paul II, Angelo Sodano, yang selalu mengawasi pos Casaroli sejak 1989, ketika dia kembali dari Chili.

Apakah komplotan ini menginginkan jabatan yang dijanjikan kepada Mgr.Silvestrini? Mereka meyakinkan diri mereka sebaik mungkin, mengingat bahwa John Paul II baru saja menunjuk Silvestrini sebagai prefek Mahkamah Agung Signatura Apostolik, dan menjadikannya sebagai kardinal, sebagai tanda dukungannya sebelum promosi yang dia impikan.

"Saya bertemu Mgr.Silvestrini tepat sebelum hari yang menentukan itu, dan dia sudah bersikap seolah-olah dia adalah menteri luar negeri," kata kardinal dari Slovenia, Franco Rodé, kepada saya saat wawancara di kantornya di Vatikan.

Kardinal Franco Rodé berasal dari blok komunis, dan menganalisis pilihan antara Silvestrini dan Sodano sebagai pilihan yang rasional dan politis: “Saya berada di Slovenia, dan, seperti John Paul II, saya merasakan bahwa komunisme berada dalam pergolakan kematiannya. Kita dapat mengatakan bahwa kardinal Casaroli mewakili sayap kiri. Beberapa bahkan akan mengatakan bahwa Casaroli adalah garis lunak dan Mgr.Silvestrini adalah ‘garis lunak dari garis lunak.’ John Paul II menyukai seseorang di pihak kanan. Sodano adalah orang yang jujur, orang yang bijaksana dan loyal."

Semua orang mengerti mengapa John Paul II ragu-ragu. Dan apa yang seharusnya hanya formalitas, ternyata berlangsung selamanya. Tetapi Paus meyakinkan Casaroli, membenarkan bahwa, karena dirinya tidak terbiasa dengan intrik-intrik Romawi dan tidak terlalu tertarik dengan urusan Italia, maka dia ingin menjadikan orang Italia sebagai wakilnya.

Kardinal Casaroli menunjukkan keberanian yang cukup besar dalam membela anak didik mudanya. Beberapa saksi langsung dari kampanyenya memberi kesaksian tentang ini: mereka menggambarkannya dalam bentuk epos Shakespeare, yang dipersiapkan seperti Pertempuran Agincourt oleh Henri V: yang lain - lebih bernuansa Perancis - lebih suka menggambarkannya sebagai penaklukan Napoleon, yang dimulai dengan peristiwa Austerlitz, tetapi berakhir di Waterloo; yang lain-lainnya, mungkin lebih adil, berbicara tentang kampanye licik di mana semua jenis pukulan rendah adalah dimungkinkan, belum lagi luka untuk harga diri. Akhirnya, seorang imam mengutip ucapan Plato dan pujiannya kepada sepasang prajurit yang selalu berperang bersama, dan yang, berdasarkan fakta ini, yang paling berani dan paling tak terkalahkan, bahkan sampai mati.

“Untuk mengatakan bahwa kardinal Casaroli ‘menginginkan’ Mgr.Silvestrini adalah hampir tidak sesuai dengan kenyataan,” kata Kardinal Paul Poupard dengan cara puitis. “Casaroli punya pilihan, tetapi dia tahu bahwa pilihannya adalah pilihan paus. Yang tidak menghentikannya mencoba untuk mendorong pencalonan Silvestrini dan mengeluarkan senjata-senjata hebatnya."

Terlepas dari tekanan mendesak Casaroli, John Paul II akhirnya menyisihkan Silvestrini dan mendukung Angelo Sodano. Dan karena Vatikan adalah sebuah sistem teokrasi yang sengit di mana, seperti halnya di Lembah Silikon, 'pemenang boleh mengambil semuanya,' maka Casaroli segera pensiun setelah itu, dan mengabdikan dirinya guna membantu mengasuh anak-anak nakal di sebuah penjara di Roma. Mgr.Silvestrini, dalam keadaan terluka dan tertekan, segera bergabung dengan oposisi liberal untuk melawan Sodano dan Ratzinger (yang disebut kelompok atau ‘Mafia St. Gallen’), dan mengalihkan perhatiannya ke sebuah sekolah untuk anak yatim di distrik Cornelia di Roma (tempat saya pergi mewawancarai kolega dekatnya, terutama Uskup Agung Claudio Maria Celli).

Dua orang pria dari Vatikan yang menghabiskan waktu bersama kardinal Casaroli selama tahun-tahun terakhir hidupnya, telah memberi tahu saya tentang pertukaran mereka. Kesaksian ini datang dari tangan pertama. Mantan 'perdana menteri' paus itu tidak menyembunyikan dari mereka tentang nafsu dan kesukaannya terhadap para pemuda, atau sikap bencinya terhadap John Paul II, atau pun semua kritiknya terhadap Sodano. Para saksi ini, yang memberi tahu saya tentang perkataannya dan luka-lukanya, juga terkejut ketika mereka mengunjunginya di apartemen pribadinya di Vatikan, karena menemukan foto-foto pria muda telanjang yang tergantung di dinding.

“Orang mungkin mengatakan bahwa itu adalah foto-foto artistik, tetapi jelas saya tidak jatuh cinta pada foto itu,” salah satu teman Casaroli menceritakan kepada saya.

Seorang uskup agung dari Kuria juga memberi tahu saya bahwa kardinal Casaroli memiliki karya seni yang memperlihatkan St. Sebastian di apartemen pribadi itu. "Ada banyak lelucon tentang lukisan itu, dan seseorang bahkan menyarankan mantan menteri luar negeri itu untuk menyembunyikannya di kamarnya."

Dan uskup agung, yang takut dia bergerak terlalu jauh, menambahkan, untuk mengurangi ketegangan: "Anda harus ingat bahwa Casaroli adalah seorang esthetikus (suka artistik)..."

Menurut sebuah sumber diplomatik Vatikan yang andal, kecenderungan artistik Casaroli dan hubungan serta seleranya dengan para pemuda, digunakan untuk melawannya oleh para pendukung pencalonan Angelo Sodano. Data dari Silvestrini ini sangat diperhatikan ketika paus diberitahu bahwa dia telah diperiksa oleh polisi, dua kali, dekat Valle Giulia di Roma, di mana disana ada beberapa museum seni kontemporer.

"Rumor tak berdasar itu, gosip kecil itu, adalah laksana ciuman Yudas," komentar seseorang yang akrab dengan arsip itu.

Kerasnya konfrontasinya dan desas-desus ini tidak ada hubungannya dengan pengusiran Silvestrini, demikian menurut kardinal dan ahli Vatikan lainnya yang saya wawancarai. Salah satu dari mereka bahkan meyakinkan saya: "Itu bukan pertanyaan interpersonal untuk John Paul II. Anda harus memikirkan pilihan-pilihan ini dalam kaitan dengan sebuah garis politik. Segera setelah Tembok Berlin runtuh, John Paul II memilih untuk menyingkirkan Casaroli. Itu hampir otomatis. Dan, menurut definisi, paus tidak berniat untuk membiarkan garis keturunannya bertahan, yang akan menjadi masalah jika dia menunjuk Silvestrini sebagai gantinya. Faktanya, sejak awal, Silvestrini tidak punya kesempatan. Dan Sodano yang terpilih."

Angelo Sodano sama sekali berbeda. Dia adalah 'penjahat' dari zaman kepausan John Paul II - dan dia adalah 'penjahat' dari buku ini. Kita akan mengenalnya dengan lebih jelas. Seorang diplomat seperti Casaroli, dengan kecerdasan kering, lebih bijaksana daripada kebanyakan kardinal, dengan tatapan ‘metalik.’ Dan Sodano disajikan oleh semua orang yang mengenalnya sebagai kardinal Machiavellian yang akhirnya selalu dibenarkan dalam hal cara-caranya. Dia adalah ‘éminence noire’, bukan hanya ‘grise,’ dalam semua kegelapan dan ketidakjelasan istilah tersebut. Untuk waktu yang lama dia juga memiliki bau belerang (orang-orang yang busuk) di sekitarnya.

Kampanyenya untuk menjadi 'perdana menteri' John Paul II adalah kampanye yang efektif. Sikap snti-komunisme Sodano menang atas sikap moderat Casaroli dan, orang yang menjadi ganjalannya: Silvestrini. Runtuhnya Tembok Berlin, yang telah terjadi beberapa bulan sebelumnya, mungkin telah membujuk paus bahwa garis 'keras' (seperti Sodano) lebih disukai daripada garis 'lunak' (seperti jalur Casaroli atau Silvestrini).

Dalam hal ideologi kita harus menambahkan beberapa perbedaan kepribadian.

“Dari perjalanan paus ke Chili, di mana dia menjadi nuncio, Sodano menampilkan diri sebagai kepribadian yang kuat, meskipun dia tampak sangat banci. Dia tinggi, sangat besar. Dia tampak seperti gunung. Dia memiliki banyak otoritas. Ini juga menjadi kekuatannya: dia sangat setia dan patuh. Dia bertolak belakang dengan Casaroli," kata Francesco Lepore kepada saya.

Federico Lombardi, yang menjalankan Radio Vatikan pada saat itu, dan yang kemudian menjadi juru bicara untuk John Paul II dan Benedict XVI, melengkapi potret karakternya ini. “Angelo Sodano adalah seorang yang efisien. Dia memiliki pemikiran yang sistematis. Dia adalah organisator yang baik. Namun, tentu saja, dia kurang kreativitas, tidak ada kejutan di lengan bajunya, tapi itulah yang diinginkan oleh paus."

Tampaknya sekretaris pribadi John Paul II, Stanisław Dziwisz, berperan dalam pencalonan ini, yang mendukung pencalonan Sodano. Menurut kesaksian seorang awam berpengaruh di Vatikan: “Casaroli adalah sekretaris negara yang sangat kuat. Dia tahu bagaimana mengatakan ‘tidak’ kepada paus. Dziwisz menginginkan orang yang tidak ofensif di jabatan itu, fungsionaris yang baik yang mampu melakukan pekerjaan itu, tetapi harus orang yang akan mengatakan ‘ya.’ Dan setiap orang yang, seperti saya, tinggal di dalam Vatikan selama masa kepausan John Paul II tahu betul bahwa Dziwisz yang bertanggung jawab dalam segala hal."

Rombongan personil yang dibentuk oleh Dziwisz dan Sodano di sekitar paus ini jauh dari bermanfaat. Sebuah ‘duet’ yang aneh sekali! Dua karakter ini akan banyak menjadi perhatian kita dalam buku ini.

Saat ini Angelo Sodano tinggal di penthouse yang sangat mewah di lantai atas, di tempat yang disebut 'Kolese Ethiopia' di jantung Vatikan. Dia dikurung di menara gading Afrika-nya, dengan semua rahasianya. Jika Taman Eden pernah ada, maka itu pasti seperti surga duniawi kecil milik Angelo Sodano ini. Ketika saya pergi ke sana, melintasi sebuah jembatan, saya menemukan diri saya berada di antara halaman rumput yang sangat rapi dan bunga magnolia yang harum. Ini adalah sebuah taman Mediterania, dengan pohon pinus dan cemara, dan tentu saja, pohon zaitun. Pada pohon-pohon aras di sekitarnya, saya melihat burung beo berkepala ungu dan berkumis, elegan dan multi-warna, yang suaranya merdu, tentu saja membangunkan Kardinal Sodano dari tidurnya.

Masih merenungkan tentang burung-burung berekor panjang yang indah di ‘Kolese Ethiopia,’ tiba-tiba saya didekati oleh seorang uskup Afrika yang lewat yang tinggal di sana, Musie Ghebreghiorghis, seorang Fransiskan yang datang dari kota kecil Emdibir, 180 kilometer dari Addis Ababa. Uskup itu menunjukkan kepada saya suasana di sekitar kolesenya, bersama Antonio Martínez Velásquez, seorang jurnalis Meksiko dan salah satu peneliti utama saya, dan dia berbicara panjang lebar kepada kami tentang Angelo Sodano dan sisi gelapnya. Karena uskup Musie ini nampak sangat tidak bahagia: “Ini adalah sebuah penyalahgunaan. Sodano seharusnya tidak tinggal di sana. Ini adalah Kolese atau Sekolah Tinggi Ethiopia; jadi itu untuk orang Ethiopia ... “

Alasan ketidakpuasannya, dan alasan para imam Ethiopia lainnya yang tinggal di kolese ini: kehadiran Angelo Sodano telah menjadikan lantai atas bangunan itu sebagai miliknya pribadi. Bagi uskup Musie Ghebreghiorghis, Sodano seharusnya tidak pernah diberi izin untuk tinggal di sana. (Paus Benediktus XVI dan Kardinal Bertone juga mengkritik privatisasi ini.)

Kami harus menambahkan bahwa penthouse itu telah disesuaikan untuk kenyamanan pribadi kardinal. Adanya sebuah lift, berarti bahwa Sodano, yang telah membuat bekal yang baik untuk hari tuanya, tidak harus naik tangga. Di koridor saya melihat foto-foto kardinal bersama Benediktus XVI – padahal semua orang tahu bahwa mereka adalah musuh yang keras kepala. Perabotannya mengerikan, seperti yang sering ada di Vatikan. Betapa mewah dan terisolir dari siapapun! Seperti yang bisa saya konfirmasi, hanya ada satu kardinal Italia lain yang tinggal di lantai atas seperti itu, di sebelahnya: Giovanni Lajolo. Seorang anak didik dan teman dekat Sodano. Lajolo adalah sekretaris urusan luar negerinya, wakil langsungnya di Sekretariat Negara. Sebuah kisah sukses dari Silvestrini.

Ada beberapa sumber untuk membuka legenda kelam ini, reputasi buruk Angelo Sodano. Orang dari Italia utara ini, imam yang ditahbiskan pada usia 23 tahun, yang ayahnya sudah lama menjadi anggota parlemen Demokrat Kristen, sangat kuat dan berkemauan keras dan telah menggunakan kekuasaannya untuk membuat dan menciptakan berbagai karier yang tidak kesampaian. Ambisinya adalah dewasa sebelum waktunya. Dia ditemukan oleh Paul VI ketika dia berurusan dengan Hongaria sebagai sekretaris negara, dan ditunjuk sebagai nuncio untuk Chili pada tahun 1977. Nomor 2 di Vatikan selama 14 tahun di bawah John Paul II dan menjadi kepala para kardinal, dia mengumpulkan beberapa peranan dan jabatan seperti yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang saja sebelum dia. Prestasinya pada umumnya telah diakui dalam kaitannya dengan konflik Yugoslavia, Perang Teluk pertama, konflik di Kosovo dan Afghanistan, dan tentu saja, berbagai ketegangan di Tanah Suci selama masa jabatannya.

Sodano sering dibandingkan dengan Kardinal Mazarin, wali gereja di Italia yang melayani baik paus dan raja-raja Perancis, dan yang penyalahgunaan kekuasaan, jumlah musuh, dan hubungan asmara rahasianya, sangat legendaris. Selama masa ketika John Paul II, seorang paus muda dan atletis, besar dan kuat, dirubah menjadi 'paus yang menderita,’ yang segera lumpuh karena penyakit Parkinson, tidak mampu menjalankan Kuria, lambat laun kehilangan mobilitas dan bahkan kekuatan dan kelancaran bicaranya - menurut semua saksi - Sodano yang menjadi ‘paus sementara’ yang sebenarnya.

Secara teoritis, seperti yang telah saya katakan, dia membentuk pasangan duet dengan Mgr. Stanisław Dziwisz, sekretaris pribadi John Paul II, dan bahkan trio dengan Kardinal Ratzinger, prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman. Tetapi yang pertama (Sodano), yang dekat dengan paus, belum menjadi uskup; yang kedua (Mgr. Stanisław Dziwisz) betapapun aktivnya dia, pada dasarnya dikemas untuk mengurusi masalah doktrin dan gagasan pembaharuan.

Ambisi orang-orang ini secara bertahap akan terpenuhi, tetapi sementara itu ‘raja’ Sodano memerintah semua urusan internal dan diplomasi di Vatikan tanpa berbagi kekuasaan dengan yang lain.

Ide-ide politiknya menambah kebencian mendasar pada permusuhan pribadi yang sudah terkenal di Roma. Tidak seperti Cardinal Casaroli dan ‘pasangannya,’ Achille Silvestrini, yang adalah orang-orang yang suka berkompromi, namun Sodano adalah orang yang kaku dan taat. Dia tangguh dan, katanya, kejam, mengembalikan setiap pukulan yang diarahkan kepadanya seratus kali lipat. Cara operasinya: diam dan marah. Pikiran ideologisnya, hal yang menjiwainya, pada dasarnya adalah anti-komunisme. Karena itu, kedekatannya yang cepat dengan John Paul II, yang dibentuk atau dikonfirmasi selama perjalanan kontroversial Paus ke Chili pada tahun 1987. Angelo Sodano adalah nuncio untuk Santiago pada saat itu. Dan masa lalunya yang cukup bermasalah di Chili, yang tidak diketahui oleh siapa pun secara terperinci, akan sangat merusak citra sekretaris utama negara.

Sejarah Vatikan pada 1990-an dan 2000-an dibentuk sepuluh tahun sebelumnya di ibu kota Chili, tempat Sodano memulai kebangkitannya. Saya pergi ke sana dua kali untuk penulisan buku ini dan mewawancarai puluhan saksi. Beberapa arsip kediktatoran mulai 'berbicara,' bahkan ketika persidangan terhadap Jendral Pinochet (tokoh Komunis) masih berlangsung. Jika ternyata tidak ada arsip dari DINA atau dinas rahasia setempat (mungkin dihancurkan), arsip penting Amerika, terutama yang dari Departemen Luar Negeri dan dari CIA, baru-baru ini dibuka secara luas sebagai akibat dari tekanan internasional. Salinan dokumen asli ini telah dipercayakan oleh Amerika Serikat kepada pemerintah Chili dan sekarang dapat diakses di Museo de la Memoria dan los Derechos Humanos di Santiago. Saya telah menggunakan secara intensif ribuan dokumen yang tidak dipublikasikan ini untuk mengisi bagian dari buku ini yang berhubungan dengan Angelo Sodano. Oleh karena itu, banyak hal yang masih belum diketahui beberapa tahun yang lalu mulai muncul ke permukaan, seperti mayat-mayat yang akan dimusnahkan oleh diktator Pinochet.

“Orang baik, pada masa-masa ini, dekat dengan orang jahat.” Ungkapan ini berasal dari Chateaubriand - tetapi ini berlaku juga untuk Sodano.

Di sini, saya berada di Santiago, untuk penyelidikan saya, dan di sinilah, tanpa sengaja, saya menjadi semacam penulis biografi Angelo Sodano. Saya berharap kardinal dan penulis biografinya bisa bertemu; meskipun ada surat-surat dan pertukaran sapaan yang ramah, namun pertemuan itu tidak pernah terjadi. Itu mungkin memalukan. Itu membuat saya semakin sadar akan tanggung jawab saya. Saya tahu bahwa karir Kardinal sekretaris negara ini dapat diringkas di halaman-halaman berikut.

Ecce homo. Angelo Sodano adalah perwakilan Vatikan di Chili dari Maret 1978 hingga Mei 1988. Dia tiba di Santiago pada 'masa harapan gila,' tak lama setelah kudeta Augusto Pinochet. Itu adalah negara yang sudah dia kenal, tinggal di sana antara 1966 dan 1968 sebagai wakil dubes Vatikan. Pada saat itu, Chili adalah negara penting bagi Vatikan, dengan mempertimbangkan hubungan yang dianggap 'sensitif secara khusus' dengan diktator Chili.

Sodano membangun hubungan yang panjang dengan Pinochet, dimana banyak saksi yang saya tanyakan tidak ragu-ragu menyebut 'persahabatan yang mendalam' atau bahkan 'persahabatan yang intens.'

“Angelo Sodano sangat peduli dengan hak-hak asasi manusia. Kami melakukan sebanyak yang kami bisa. Jangan lupa bahwa kami memiliki sekitar tiga puluh pengungsi politik yang bergantung pada kedubes Vatikan di Santiago,” kata Uskup Agung François Bacqué, yang adalah wakil Sodano di Chili.

Saya memiliki beberapa kesempatan untuk berkomunikasi dan makan téte-à-tête dengan diplomat emeritus ini, yang sekarang sudah pensiun. Ini adalah keberuntungan: Uskup Agung François Bacqué sama cerewetnya dengan Sodano yang bungkam; sama akrab dan lucu seperti mantan menteri luar negeri yang pendiam dan tanpa humor: yang satu ingin dicintai, yang lain dibenci. Tidak seperti Uskup Agung François Bacqué, Sodano selalu menyimpan kata-kata baiknya untuk kelompok kecil kroninya, sibylline nuncios dan para kardinal yang tidak bisa ditembus informasinya. Namun dua karakter yang sangat berbeda ini, nuncio yang berhasil dan nuncio yang gagal, mirip satu sama lain – mereka adalah sebagai pembantu bagaikan bayangan cermin.

Sebagian besar saksi dan ahli yang saya wawancarai di Santiago tidak membagikan informasi positif ini, meskipun sedikit menghargai François Bacqué. Bagi mereka, masa lalu Sodano sebenarnya 'lebih hitam dari jubah imamnya.'

Kami duduk di meja yang sangat elegan yang ditutupi dengan perak. Dan saya berkata kepada diri saya sendiri: "Imam ini ingin menunjukkan kepadamu arti kekuasaan, kekuatan absolut, dan dia ingin aku mengerti bahwa aku adalah yang terendah dari yang rendah.” Karena bukan hanya lingkungannya yang mewah, tetapi penampilan itu sendiri sangat mewah.

Banyak saksi lainnya yang mengingat cara hidup seperti ini, yang jauh dari biasanya bagi seorang imam, bahkan untuk nuncio sekali pun. Sodano tidak menjadikan kesopanan sebagai sebuah kebajikan.

“Saya ingat Sodano dengan sangat baik; dia adalah seorang pangeran. Saya melihatnya sepanjang waktu: dia menikmati kehidupan yang glamor. Dia pergi keluar dengan mobilnya dengan pengawalan polisi, dengan cahaya biru. Dia pergi ke semua jenis pesta dan menuntut kursi yang dipesan di barisan pertama. Dia benar-benar kebalikan dari sifat Gereja, karena dia pro-Pinochet sedangkan Gereja Chili tidak," kata penulis dan jurnalis Pablo Simonetti kepada saya.

Ernesto Ottone, seorang akademisi yang bereputasi baik dalam waktu yang lama, adalah salah satu pemimpin Partai Komunis Chili. Dia kenal Sodano, dan dia memberi tahu saya: “Di Chili, Sodano sama sekali tidak memberi kesan sebagai seorang religius atau gerejawi. Dia menyukai makanan dan kekuasaan yang besar. Saya dikejutkan oleh kebenciannya akan wanita, yang kontras dengan kenyataan bahwa dia sangat banci. Cara berjabat tangannya sangat tidak biasa: dia tidak menjabat tanganmu, dia memberimu semacam belaian feminin, seperti pelacur abad kesembilan belas sebelum dia pingsan dan menuntut aroma garam!”

Para saksi mata juga tercengang melihat Sodano 'membungkuk sampai ke lantai' ketika dia bertemu dengan sang diktator. Dengan sikap sebagai bawahan dia menjadi jauh lebih ramah: ‘dia akan menamparmu dari belakang,’ kata seorang saksi kepada saya. Tetapi perempuan tetap sepenuhnya absen dari kehidupan nuncio. Terkadang penyendiri ini berada sendirian; di lain waktu dia akan muncul di tengah orang banyak. Kemudian dia akan tiba dengan rombongannya, sebuah arak-arakan makhluk lelaki, yang sangat berbakti kepadanya di dalam jiwa dan raga mereka. Kemudian kejahatan masuk seiring waktu.

Seorang pria yang bekerja dengan Sodano di kedubes mengkonfirmasi perkembangan ini. “Pada mulanya Sodano bijaksana dan pendiam. Dia datang ke Chili dengan ide-ide Roma tentang kediktatoran: dia memiliki visi Pinochet yang agak kritis, dan ingin membela hak-hak asasi manusia. Namun lambat laun, dalam kontak dengan realitas dan kediktatoran, dia menjadi lebih pragmatis. Dia mulai bekerja seturut rezim yang ada."

Pensiunan nuncio, François Bacqué, yang juga menjabat bersama Sodano di Chili, memiliki ingatan yang serupa: “Pada awalnya, dia tidak ingin berkompromi dengan Pinochet. Saya ingat suatu hari ketika dia seharusnya muncul di sampingnya untuk sebuah upacara militer. Nuncio, secara tradisional, ikut hadir, namun Sodano tidak ingin hadir karena takut membahayakan Gereja."

Arsip-arsip diplomatik, yang sekarang telah dikonfirmasi, secara efektif menegaskan bahwa ada ketegangan antara Sodano dan presiden Pinochet, terutama selama beberapa tahun pertama. Pada tahun 1984, khususnya, ketika ada empat orang ekstrimis sayap kiri memasuki gedung kedubes apostolik meminta suaka politik. Tetapi ada lebih banyak dokumen yang membuktikan bahwa Sodano memberi Pinochet dukungan penuh: bahkan nuncio bertindak lebih jauh hingga menutup matanya ketika pemerintah memerintahkan penangkapan para imam yang dituduh melakukan kegiatan subversif.

Faktanya, Angelo Sodano secara tidak sengaja menjadi malaikat pelindung Pinochet. Dia mulai mengabaikan kejahatan Pinochet, mengambil pendekatan pendahulunya di Santiago, yang pada tahun 1973, secara terang-terangan menganggapnya sebagai 'propaganda komunis' (menurut dokumen dari misi diplomatik Amerika yang diungkapkan oleh WikiLeaks). Dia juga berusaha untuk mengecilkan peran penggunaan penyiksaan sistematis, yang sangat kejam dan brutal, dan untuk mempertahankan hubungan diplomatik antara Chili dan Tahta Suci, setelah beberapa negara, termasuk Italia, memutuskan hubungan mereka.

Sejak saat itu, menurut banyak pernyataan saksi yang telah saya kumpulkan (termasuk pastor  Cristián Precht, salah satu rekan terdekat Uskup Santiago, Raúl Silva Henríquez), Sodano berkontribusi pada penunjukan uskup yang netral atau pro-Pinochet, dan mendiskualifikasi imam yang menentang rezim. Pada 1984, dia bermanuver untuk menggantikan Silva Henríquez, seorang kardinal moderat yang mengkritik kekerasan kediktatoran Pinochet dan dekat dengan presiden Republik, Salvador Allende. Kemudian Sodano berusaha mendukung penunjukan Juan Francisco Fresno Larrain, sekutu Pinochet yang terkenal kejam, dan menunjuk seorang uskup lain yang 'tidak penting' menurut semua saksi.

"Kardinal Fresno pada dasarnya khawatir dengan seleranya akan kue jeruk," kata wartawan Mónica González di Santiago.

Namun, tampaknya, Kardinal Fresno adalah sosok yang lebih ambivalen: meskipun anti-komunis, dia dikatakan telah mengkritik Pinochet secara pribadi, dan sang diktator, yang awalnya bersemangat terhadap dia, segera menganggapnya sebagai seorang 'musuh' rezim. Pinochet dikatakan telah mengeluh kepada Sodano tentang Fresno, dan dia mengancam akan 'berganti agama'! Sodano kemudian menekan Fresno agar menghentikan kritiknya terhadap rezim (menurut telegram dan catatan dari CIA yang telah saya konsultasikan).

Secara bertahap Sodano bersikap lebih keras. Nuncio (Sodano) menjadi lebih dingin dan lebih kaku. Dia tetap diam tentang penangkapan dan pembunuhan atas empat imam yang dekat dengan teologi pembebasan, yang menjelaskan mengapa dia sering dikritik oleh jaringan Katolik Chili yang progresif (khususnya oleh gerakan También Somos Iglesia, yang mengecamnya karena keterlibatannya dengan kediktatoran). Dia juga dituduh memerintahkan banyak klerus yang berpartisipasi dalam aksi demo tanpa kekerasan terhadap Pinochet. Gereja Sodano adalah Gereja yang mengerahkan kekuatannya melawan para imam progresif, melawan para imam pekerja, melawan kaum lemah - bukan Gereja yang melindungi atau membela umatnya.

Akhirnya, dengan keterampilan politik dia semakin terbiasa dengan acara bersama John Paul II, nuncio mengunci Konferensi Uskup Chili, menunjuk setidaknya empat uskup yang dekat dengan Opus Dei untuk memeriksa dan membatasi debat internalnya. (Sebagian besar uskup ultra-konservatif ini, ketika mereka masih seminaris, sering mengunjungi paroki pastor Fernando Karadima, yang menjadi pusat dari kisah ini, seperti yang akan kita lihat nanti.)

Dari Roma, ketika dia menjadi menteri luar negeri zaman John Paul II, Angelo Sodano terus menarik perhatian di Chili dan melindungi sang diktator. Pada tahun 1998, dia menunjuk Francisco Javier Errázuriz pada jabatan Uskup Agung Santiago, dan kemudian berkontribusi pada pengangkatannya sebagai kardinal. Tidak masalah bahwa Javier Errázuriz akan dituduh menutupi kasus-kasus pelecehan seksual, atau bahwa dia hanya mengangkat alis, seolah tidak tahu masalah, di Santiago, atas perkumpulan duniawinya dan kehidupan pribadinya: Sodano membela dia dari semua serangan.

Jurnalis dan penulis, Óscar Contardo, yang menulis buku tentang seorang pastor pedofil yang dilindungi oleh Kardinal Francisco Javier Errázuriz, tidak ragu-ragu mengkritik mereka yang mendorong penunjukannya pada jabatan itu. “Kami mendapati bahwa Angelo Sodano berada di jantung semua skandal ini di Chili. Nuncio itu berada di Santiago (Chili) bukan hanya karena alasan-alasan iman.”

Salah satu jurnalis yang saya wawancarai di Santiago, yang telah menulis banyak tentang kejahatan kediktatoran, menyatakannya dengan lebih kuat: “Mari kita sebut (kartu) sekop adalah sekop: di Chili, Angelo Sodano berperilaku seperti seorang fasis, dan dia adalah teman dekat seorang diktator fasis (Pinochet). Itulah kenyataannya."

Di Vatikan, sejumlah orang tidak ragu-ragu, secara pribadi, dalam membandingkan Sodano dengan pastor Pietro Tacchi Venturi. Reaksioner lain mengatakan bahwa Yesuit Italia ini (Sodano) adalah perantara antara Paus Pius XI dan Mussolini, dan kita tahu, dari fakta yang disampaikan oleh para sejarawan, bahwa dia mengumpulkan banyak sekali kesalahan. Dia pro-fasis, dan dianggap sebagai 'petualang seksual' yang hebat (dengan para lelaki muda).

Pada April 1987, Sodano mengurusi kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Chili, bekerja sama erat dengan asisten pribadi paus, Stanisław Dziwisz, yang berada di Roma dan akan bepergian bersama paus bagi kunjungan itu. Menurut dua orang saksi yang ikut serta, pertemuan persiapan untuk kunjungan berisiko ini 'sangat tegang' dan menyebabkan konfrontasi yang intens antara 'dua kubu' - progresif anti-Pinochet dan kaum konservatif pro-Pinochet. Hal luar biasa lainnya tentang mereka adalah bahwa mereka (kedua kubu) 'terutama terdiri dari para pastor homoseksual'.

Uskup Chili yang mengoordinasikan persiapan untuk kunjungan itu, dan salah satu arsiteknya yang paling efektif, adalah Francisco Cox; orang konservatif ini akan terus berperan dalam Dewan Kepausan untuk Keluarga di Roma, di mana dia akan menampilkan dirinya sebagai orang yang sangat homofobik (membenci homosex), sebelum akhirnya dia sangat dikecam karena pelanggaran homoseksualnya di Chili.

Orang lain di belakang kunjungan itu, pastor Cristián Precht, dekat dengan kardinal progresif Santiago: dia mewakili kubu lain, dalam pertentangan sengit antara arus kanan dan kiri dalam keuskupan Chili. Dalam sebuah wawancara, Precht memberi saya uraian terperinci tentang pertemuan-pertemuan itu, di mana nuncio Angelo Sodano berpartisipasi 'tiga atau empat kali,' dan memberi tahu saya dengan direkam: “Sodano bertindak mengenai hal-hal tertentu, seperti misalnya menentukan perwakilan pemerintah dan perwakilan dari Pinochet, dan tidak seperti perwakilan dari John Paul II.” (Pada 2011, dan kemudian pada 2018, pastor Cristián Precht juga dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak laki-laki dan jabatannya ditangguhkan oleh Roma, sebelum dipecat dengan status umat awam.)

Pada saat ini, bahkan Amerika Serikat telah menjauhkan diri dari Pinochet, yang pada awalnya mereka dukung. “Sekarang hanya Vatikan saja yang membela kediktatoran! Tidak ada orang lain yang ingin memberikan legitimasi politik kepada Pinochet kecuali Angelo Sodano!” Saya diberitahu demikian oleh Alejandra Matus, seorang jurnalis investigasi dan peneliti Chili yang berspesialisasi dalam kediktatoran, dan yang saya temui di Starbucks, di universitasnya di Santiago.

Selama perjalanan ini, Sodano mengizinkan - atau, menurut beberapa versi, mengorganisir - penampilan sangat simbolis dari Paus dan Jenderal Pinochet, bersama-sama di balkon di Istana Presiden La Moneda: foto kedua pria itu, tersenyum, sangat dikritik di seluruh dunia, dan khususnya oleh oposisi demokratis dan bagian dari Gereja Katolik Chili.

Piero Marini, 'pengatur upacara' John Paul II, termasuk di antara mereka yang hadir. Dia berbicara tentang versi peristiwa ini selama dua wawancara di Roma, di hadapan peneliti saya Daniele: “Semuanya telah disiapkan dengan sangat terperinci, tetapi Pinochet kemudian bertindak sendiri untuk mengundang paus ke balkon di La Moneda dan mengajaknya langsung ke sana. Itu bukanlah bagian dari protokol. Paus ‘diseret’ kesana melawan keinginannya."

Keesokan harinya, dalam misa di depan jutaan orang, ada perkelahian dengan polisi, yang menindak para perusuh selama misa; enam ratus orang terluka. Menurut banyak saksi dan beberapa penyelidikan, dinas rahasia Pinochet telah memanipulasi pembuat onar itu. Sodano mengeluarkan sebuah komunike yang menuduh oposisi demokratik yang harus bertanggung-jawab, sementara itu polisi adalah yang menjadi korbannya.

Kunjungan John Paul II itu adalah salah satu rekayasa politik terbaik yang dilakukan oleh Pinochet dan - karenanya - oleh Sodano juga. Sang diktator menyampaikan banyak pujian pada nuncio apostolik (Sodano), menawarkan kepadanya, beberapa bulan kemudian, makan siang untuk menghormati sepuluh tahun masa tugasnya di Santiago. Saya telah mengumpulkan beberapa pernyataan saksi tentang perjamuan ini, yang menunjukkan adanya keterlibatan yang tidak biasa dan abnormal antara seorang nuncio (Sodano) dengan seorang diktator (Pinochet). (Dokumen-dokumen yang dimiliki Departemen Luar Negeri Amerika mengkonfirmasi hal ini.)

Beberapa minggu kemudian, pada Mei 1988, ketika referendum penting sedang dipersiapkan untuk Pinochet (yang akan kalah pada Oktober, dan yang akan memaksanya untuk mundur), Sodano dipanggil kembali ke Roma, di mana dia diangkat sebagai 'menteri' urusan luar negeri di Vatikan. Pada tahun 1990 dia menjadi 'perdana menteri' paus.

Bulan madu Sodano dengan Pinochet masih belum berakhir. Seperti yang dikatakan Montesquieu: “Setiap orang yang memiliki kekuasaan akan cenderung untuk melakukan penyalahgunaan; maka dia terikat untuk menemukan batas-batasnya.” Tanpa batas, termasuk di Tahta Suci, seorang petualang dan ekstremis, dan bahkan seorang murid Injil (religius), Sodano, terus mengawasi temannya, sang diktator, dan terus mendukungnya bahkan setelah kejatuhannya. Pada tahun 1993 dia bersikeras agar Paus Yohanes Paulus II memberikan 'berkat ilahi'-nya kepada Jenderal Pinochet pada kesempatan ultah pernikahan emasnya. Dan ketika Pinochet dirawat di rumah sakit di Inggris, pada tahun 1998, dan ditangkap karena dia harus tunduk pada surat perintah penangkapan internasional dan permintaan ekstradisi dari Spanyol atas kejahatannya, Sodano masih memperhatikannya, mendukung diktator itu dan secara terbuka menentang tindakan ekstradisinya.

Pertama kali saya bertemu dengan Santiago Schuler adalah di restoran El Toro, yang dimilikinya. Sebagai pusat kehidupan malam di Chili, restoran gay ini berada di distrik Bellavista di Santiago. Kami berjalan dengan santai, dan saya bertemu dengan dia beberapa kali, termasuk sekali pada tahun 2017, selama kunjungan kedua saya di negara itu, ketika saya mewawancarainya di hadapan peneliti Chili saya, Andrés Herrera.

Sosok Santiago Schuler adalah kasus khusus. Dia adalah gay pro-Pinochet.

Dia terus memiliki kekaguman yang besar pada sang diktator (Pinochet)

"Saya masih punya dua potret Pinochet di lorong," katanya kepada saya tanpa sedikit pun rasa sungkan.

Pada usia 71, manajer El Toro itu memberi tahu saya tentang kariernya, di mana Katolik, fasisme, dan homoseksualitas menghasilkan ‘campuran koktail’ yang aneh. Dilahirkan di Chili dari keluarga petani anggur Prancis dan ayah dari Swiss, dia tumbuh dalam kepercayaan Kristiani, dan dekat dengan Opus Dei. Dia menikah dan menjadi ayah dari sembilan anak. Sebagai orang yang 'di dalam lemari' untuk waktu yang lama, dia hanya terlambat 'keluar' setelah akhir masa kediktatoran, ketika dia berusia lebih dari enam puluh. Sejak itu dia berusaha menebus waktunya yang hilang. Dengan restoran gay-nya, El Toro, yang hanya kecil di dalamnya, tetapi jauh lebih besar ketika diperluas ke jalan di teras di bawah tenda, mewakili jantung kehidupan gay Santiago. Dan sungguh sebuah paradoks! Tempat LGBT yang menjadi simbol Chili dijalankan oleh seorang mantan fundamentalis Katolik, seorang teman lama Pinochet!

"Kaum homoseksual tidak terlalu khawatir di bawah Pinochet, meskipun rezim itu memang sangat macho," kata Santiago Schuler.

Menurut Santiago Schuler dan sumber-sumber lain, istri Pinochet adalah seorang yang taat beragama Katolik dan sekaligus ramah-gay. Pinochets bahkan mengelilingi diri mereka sendiri dengan kumpulan homoseksual Katolik yang sesungguhnya. Pasangan presiden ini suka terlihat dengan tokoh-tokoh gay lokal tertentu, di pesta-pesta dan makan malam gala, seperti halnya Pinochet suka dilihat bersama dengan nuncio Angelo Sodano.

Para sejarawan dan aktivis gay yang saya wawancarai di Santiago tidak perlu berbagi analisis itu. Banyak yang membantah gagasan bahwa kediktatoran Chili berdamai dengan kaum homoseksual. Tetapi mereka semua mengakui bahwa beberapa tempat gay ditoleransi oleh rezim.

"Saya dapat mengatakan bahwa keberatan atas kaum gay tidak ada di bawah Pinochet," kata penulis dan aktivis, Pablo Simonetti, kepada saya. Memang benar bahwa dalam dokumen-dokumen yang keluar setelah berakhirnya kediktatoran ini, tampaknya tidak ada orang yang dieksekusi atau disiksa karena moral mereka. Namun perbuatan sodomi tetap merupakan kejahatan, sampai akhir 1990-an, dan juga tidak ada yang dilakukan untuk memerangi AIDS.

Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, di bawah kediktatoran Pinochet, bahkan ada 'sirkuit gay' di klub-klub pribadi, disko, dan bar di mana 'ide-ide politik biasanya ditinggalkan di ruang ganti.' Beberapa bar ditutup; beberapa klub disusupi oleh polisi. Ada juga kasus-kasus penganiayaan dan pembunuhan, dan para homoseksual disiksa oleh rezim, tetapi menurut Óscar Contardo, Pablo Simonetti dan para ahli lainnya, kediktatoran ini tidak menganiaya kaum homoseksual dengan cara khusus atau cara tertentu (seperti yang dilakukan oleh rezim Castro di Kuba, dan pemerintah sosialis sebelumnya, yang dipimpin oleh Allende, yang juga tidak terlalu ramah terhadap kaum gay).

Yang aneh, di sisi lain, dan sedikit mengejutkan, adalah keberadaan 'pengadilan gay' di dalam rombongan Pinochet. Tidak ada yang pernah bisa menggambarkannya secara rinci. Dan saya harus melakukannya di sini, karena itu adalah jantung dari subjek buku ini.

Pada acara makan malam yang lain, di mana Santiago Schuler membiarkan saya mencicipi anggur merah yang mana dia adalah penjual eksklusif di Chili, saya menanyai Schuler tentang 'pengadilan homoseksual' ala Pinochet. Kami menyebutkan serangkaian nama dan setiap kali Santiago Schuler mengangkat teleponnya dan berbicara dengan orang-orang lain yang dekat dengan Pinochet dan dengan siapa dia tetap berteman; dia merekonstruksi rombongan diktator yang gay atau ramah-gay. Ada enam nama disebut berulang secara sistematis. Semua nama itu terhubung erat dengan nuncio Angelo Sodano.

Yang paling terkenal dari nama-nama ini adalah nama Fernando Karadima. Dia adalah seorang imam Katolik yang, selama tahun 1980-an mengelola paroki El Bosque di pusat kota Santiago, yang juga saya kunjungi. Terletak di distrik Providencia yang cerdas, hanya beberapa ratus meter dari kantor kedubes. Jadi, Angelo Sodano adalah tetangga dekat Karadima. Dia bisa pergi menemuinya, kapan saja, dengan berjalan kaki.

Itu adalah juga gereja yang sering dikunjungi oleh rombongan Pinochet. Sang diktator memiliki hubungan yang baik dengan Karadima, yang dia lindungi dalam waktu yang lama, terlepas dari desas-desus yang berulang, sejak 1980-an dan seterusnya, tentang adanya pelecehan seksual yang terjadi di sana. Menurut beberapa sumber, paroki tempat Karadima bertugas, seperti kantor kedubesnya Sodano, telah disusupi oleh pelayanan keamanan rezim. Karena itu, homoseksualitas dari imam Chili sangat terkenal pada saat ini dan oleh semua pejabat, termasuk juga pelecehan seksualnya.

“Pinochet terpesona oleh informasi tentang homoseksual yang dibawa kembali kepadanya oleh para informan dan agennya. Dia sangat tertarik dengan hierarki Katolik gay," demikian kata Santiago Schuler kepada saya.

Ernesto Ottone, mantan direktur Partai Komunis Chili, dan lama diasingkan dari negara itu, memberi saya analisis yang menarik ketika saya mewawancarainya.

“Pada awalnya, Pinochet disukai oleh Gereja. Jadi dia harus membuat Gereja sendiri dari bawah ke atas. Dia harus menemukan para imam pro-Pinochet, juga para uskup. Kampanye rekrutmen dan pelatihan ini adalah peran gerejanya Karadima. Sodano yang mempertahankan strateginya.

Dan karena nuncio itu adalah seorang anti-komunis yang terkenal kejam, dan juga sangat angkuh, maka daya tarik kekuasaanlah yang tersisa. Dia berada di pihak kanan yang sulit. Sejauh yang saya ketahui, Sodano adalah pro-Pinochet.” (Pemimpin sayap kiri lainnya, Marco Enríquez-Ominami, yang berusaha beberapa kali menjadi kandidat dalam pemilihan presiden Chile, juga menegaskan sikap pro-Pinochet dari Sodano.)

Oleh karena itu, nuncio apostolik (Sodano) menjadi pemuja tanpa syarat dari Karadima, sedemikian rupa sehingga sebuah ruangan yang disediakan khusus baginya di sayap Vikariat El Bosque dinamai ‘la sala del nuncio’ (ruang tamu nuncio). Di sana dia bisa bertemu banyak seminaris dan pastor muda yang diperkenalkan secara pribadi oleh Karadima kepadanya. Orang Chili itu (Karadima) bertindak sebagai perantara, pemecah masalah, bagi orang Italia (Sodano), yang sangat berterima kasih atas kebaikan ini. Para pemuda yang ‘diinginkan’ sering berkumpul di sekitar paroki dan organisasinya, Union Priestly. Kelompok ini, yang terdiri dari lima uskup dan lusinan imam yang sangat konservatif, sepenuhnya dikhususkan untuk melayani Karadima, seperti halnya Legiun Kristus juga harus menghadap imam Marcial Maciel.

"Itu adalah semacam sekte dimana Karadima adalah bosnya," komentar pengacara Juan Pablo Hermosilla. "Baik Opus Dei maupun Legiun Kristus tidak benar-benar berakar di Chili, jadi kelompok Karadima mengambil peran itu."

Melalui jaringan para imam dan koneksi homoseksual pribadinya sendiri, Karadima selalu mendapat informasi tentang klerus di Chili.

“Karadima bekerja sama dengan Sodano,” Hermosilla menambahkan.

Pastor itu sering memberi tahu para tamunya bahwa dia bisa ‘mengendalikan keadaan.’ Dan berkat perhatian dari nuncio, dia mengklaim memiliki hubungan yang kuat dengan Roma, dan berada di bawah perlindungan langsung dari John Paul II, yang mungkin, pengakuan ini sangatlah berlebihan.

“Dia berpenampilan seperti orang suci, dan para seminaris memanggilnya ‘el santo, el santito.’ Dia mengatakan akan dikanonisasi segera setelah kematiannya,” kata pengacara Hermosilla menambahkan.

Mónica González, seorang jurnalis investigasi Chili yang terkenal, berkata: “Karadima selalu ingin tahu segalanya tentang kehidupan pribadi para imam, dia mendengarkan semua gosip, semua rumor. Dia tertarik pada imam-imam progresif, dan dengan bersemangat mencoba mencari tahu apakah mereka gay. Dia menyampaikan semua informasi ini kepada nuncio Sodano, dengan maksud untuk menghalangi karier siapa pun yang ada di belakangnya."

Kemungkinan besar, informasi ini, apakah diteruskan oleh Sodano kepada teman-teman fasisnya atau dikomunikasikan langsung dari Karadima kepada Pinochet, memungkinkan penangkapan terhadap para imam progresif. Beberapa saksi berbicara tentang perselisihan antara Sodano dan Sergió Rillón, tangan kanan Pinochet, dan tentang file-file yang saling dipertukarkan. Jadi Sodano, yang memiliki telinga Karadima, dan bangga dengan pengetahuannya yang luas, bisa berbagi rahasia dengan kediktatoran Chili.

Banyak perwira militer, banyak polisi rahasia Pinochet dan beberapa penasihat pribadinya juga menjadi pengunjung reguler ke paroki Karadima. Para menteri dan jenderal Pinochet, yang beragama Katolik yang taat, banyak menghadiri misa di sana.

Kita bahkan dapat mengatakan bahwa pada tahun 1970-an dan 1980-an, El Bosque menjadi gereja paroki kediktatoran, dan menjadi titik pertemuan bagi kaum fasis. Ada banyak sekali orang-orang yang melakukan sangat banyak kejahatan dan kelakuan buruk yang membutuhkan pengampunan dosa, sehingga orang bertanya-tanya bagaimana mereka dapat terus menerima Komuni dan berharap untuk berakhir di Api Penyucian! Kecuali jika pastor Fernando Karadima tampaknya menjanjikan surga bagi mereka, dengan restu dari nuncio.

Angelo Sodano sungguh hadir di mana-mana di El Bosque, menurut penuturan semua saksi, dan terus-menerus muncul bersama dengan Karadima, yang dengannya dia kadang-kadang merayakan misa konselebrasi. Utusan Paus Yohanes Paulus II muncul di samping Pinochet pada acara-acara tertentu. Dia menghabiskan sisa waktunya bergerak dalam lingkaran pro-fasis dan sangat anti-komunis: dia berhubungan langsung dengan Sergió Rillón, yang secara pribadi mengikuti urusan agama, serta dengan Francisco Javier Cuadra, penasihat khusus sang diktator, yang saat itu merupakan salah satu dari para menterinya dan akhirnya menjadi duta besarnya untuk Vatikan. (Arsip CIA mengkonfirmasi informasi hal ini, seperti halnya Osvaldo Rivera, penasihat dekat lainnya untuk Pinochet, yang kami wawancarai.)

Sodano tampak merasa sangat nyaman di lingkungan fasis ini. Pengawal pribadi Pinochet mengadopsi uskup agung sebagai salah satu dari kelompok mereka karena dia secara ideologis dapat diandalkan dan tidak banyak berbicara. Dan karena dia memiliki hubungan dengan Yohanes Paulus II dan diyakini menjadi kardinal masa depan, maka nuncio menjadi pion yang berharga dalam keseluruhan rencana. Sebagai balasannya, dia bangga karena mendapat kecemburuan seperti itu, hingga meningkatkan hasrat dan nafsu makannya. Seperti yang sering dikatakan Roosevelt, jangan pernah terlalu rendah memperkirakan orang yang terlalu tinggi perkiraan dirinya! Yang paling sia-sia dari nuncio, sebagai 'kepala kardinal' masa depan, adalah seorang lelaki yang memiliki kebanggaan tak terbatas dan ego yang sangat besar.

Sodano yang ambisius mengatur di antara banyak identitas sambil mencoba untuk menggabungkan jaringan yang berbeda dan menghindari membuat sebuah tanda yang khusus. Dia membagi hidupnya sedemikian rupa sehingga sulit untuk memecahkan ciri khas atau kode dari tahun-tahun keberadaannya di Chili. Dia mengambil kontrol yang aneh menuju sebuah ekstrim. Sebagai sosok yang pendiam dan bahkan tidak dapat dipahami, di Chili, dan kemudian di Roma, dia akan menampilkan dirinya sebagai orang bijaksana, berhati-hati dan tertutup - kecuali ketika dia tidak menghendakinya. Misalnya, dalam hubungannya yang penuh penasaran dengan Rodrigo Serrano Bombal.

Bombal - nama apa itu! Silsilah yang luar biasa! CV yang luar biasa! Seorang perwira angkatan laut cadangan dan diduga anggota dinas rahasia Pinochet, dia juga merupakan penggemar dari El Bosque. (Wartawan Mónica González mengatakan bahwa keanggotaannya di DINA, Dirección de Inteligencia Nacional, dinas rahasia Pinochet, dibuktikan dengan catatan pengangkatannya, yang dapat dikonsultasikan dengannya.)

Bagaimana kita tahu bahwa semua informasi ini dapat dipercaya? Semuanya dapat diakses sekarang di item-item dalam file dan pernyataan saksi yang diberikan sebagai bagian dari 'perselingkuhan' Karadima. Setidaknya sejak 1984, Fernando Karadima telah beberapa kali dikecam karena kasus pelecehan seksual. Pada saat dia secara teratur mengunjunginya, Angelo Sodano tidak mungkin, terlepas dari senyumnya, tidak tahu akan fakta-fakta ini.

“Fernando Karadima memperhatikan dan mancatat anak-anak laki yang memiliki masalah keluarga, dan berusaha merebut kesetiaan mereka terhadap paroki. Dan secara bertahap dia akan memindahkan dan memisahkan mereka dari keluarga mereka, dan akhirnya melakukan pencabulan terhadap mereka. Sistem yang digunakannya masih berisiko, karena anak-anak lelaki ini biasanya milik keluarga elit Chili," demikian saya diberitahu oleh pengacara dari beberapa korban, Juan Pablo Hermosilla.

Tindakan imam ini menyebabkan kemarahan sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, tetapi rombongan gay Pinochet dan keuskupan Chili melindungi Karadima dan menyapu seluruh kasus dan menyembunyikannya di bawah karpet. Vatikan, di mana Angelo Sodano saat itu menjadi menteri sekretaris negara, juga menutupi kasus  Karadima, dan bahkan memerintahkan Gereja Chili untuk tidak mencela dia. (Versi resmi adalah bahwa Vatikan tidak diberitahu tentang perselingkuhan Karadima sampai 2010, ketika Sodano tidak lagi menjadi sekretaris negara. Hanya Kardinal Santiago, Francisco Javier Errázuriz, yang dikatakan telah menunda pengiriman file ke Tahta Suci, dan menyimpannya untuk dirinya sendiri tanpa bertindak apa pun selama beberapa tahun - di mana dia secara pribadi didakwa bersalah oleh pengadilan Chili.)

Alasan yang menyebabkan Sodano (dan juga Kardinal Errázuriz, yang menggantikan Sodano sebagai sekretaris negara pada tahun 2006) untuk melindungi pastor pedofil ini tetap misterius.

Segala sesuatu menunjukkan bahwa itu bukan hanya masalah menutupi seorang pastor yang dituduh melakukan pelecehan seksual, tetapi melindungi seluruh sistem di mana kediktatoran Gereja dan Pinochet saling terkait erat, dan akan banyak kehilangan jika pastor itu mulai berbicara. Dalam kasus apa pun, karena kesetiaan kepada sistem, Sodano akan selalu membela para imam yang dituduh melakukan pelecehan seksual, untuk melindungi institusinya, membela teman-temannya, dan juga untuk melindungi dirinya sendiri.

Menurut 14 saksi dalam persidangan dan 50 atau lebih pengaduan yang terdaftar, pelecehan seksual dimulai pada akhir 1960-an dan berlanjut hingga 2010. Selama 50 tahun, Karadima telah mencabuli lusinan anak lelaki antara usia 12 dan 17 tahun, kebanyakan dari mereka berkulit putih. dan berambut pirang.

Hanya setelah jatuhnya kediktatoran Pinochet pada tahun 2004, penyelidikan formal dilakukan atas perbuatannya. Tidak sampai tahun 2011 ada empat tuduhan tidak langsung dinilai dapat diterima. Saat itulah, setelah Kardinal Sodano dipindahkan oleh Paus Benediktus XVI, Vatikan memerintahkan pengadilan di bawah hukum kanon. Pastor Karadima dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual anak di bawah umur dan dia dihukum oleh paus. Menurut informasi yang saya terima, dia masih tinggal di Chili saat ini, pada usia 80, tanpa tanggung jawab di bidang agama, di lokasi yang rahasia dan terpencil. (Dia akhirnya diturunkan statusnya menjadi umat awam, oleh Paus Francis pada September 2018.)

Sejak 2010 Gereja Chili telah sebagian besar 'didiskreditkan' dan 'dilucuti kredibilitasnya oleh perselingkuhan ini,' demikian kata Pablo Simonetti. Jumlah umat beriman telah merosot tajam, dan tingkat kepercayaan kepada iman Katolik telah menurun dari 50 persen menjadi kurang dari 22 persen.

Kunjungan paus Francis pada tahun 2018 membuka kembali luka lama: Francis tampaknya telah melindungi seorang pastor yang dekat dengan Karadima, dan kita mungkin harus melihat kesalahan itu kurang sebagai kesalahan - sayangnya - daripada sebagai upaya putus asa untuk memastikan bahwa seluruh sistem Karadima, dan hubungan baiknya sampai pada Kardinal Sodano dan Franciso Javier Errázuriz, tidak benar-benar runtuh. Setelah penyelidikan yang panjang, paus akhirnya meminta maaf dalam surat publik karena "melakukan kesalahan penilaian yang serius ... dalam persepsinya tentang situasi yang ada, terutama karena kurangnya informasi yang andal dan seimbang." Dia merujuk secara eksplisit kepada mereka yang telah memberinya informasi yang buruk: menurut pers Chili, mereka itu adalah nuncio Ivo Scapolo, dan kardinal Ricardo Ezzati dan Francisco Javier Errázuriz - ketiganya dekat dengan Angelo Sodano. Sejak itu, semua uskup Chili mengundurkan diri, dan kasus ini telah mencapai proporsi internasional. Beberapa kardinal, termasuk Ezzati dan Errázuriz, telah diselidiki oleh pengadilan Chili sehubungan dengan tuduhan pelecehan seksual terhadap imam-imam lainnya. Banyak fakta masih belum muncul. (Dalam bab ini saya menggunakan bukti dari persidangan dan pernyataan saksi, termasuk Juan Carlos Cruz, yang telah saya wawancarai, serta dokumen yang disampaikan kepada saya oleh kepala pengacara mereka, Juan Pablo Hermosilla, yang membantu saya dengan menjawab pertanyaan saya. Seorang imam yang dekat dengan Karadima, Samuel Fernández, yang bertobat, juga bersedia untuk berbicara kepada saya.)

Jadi, selama tahun-tahun tugasnya di Chili, Angelo Sodano bersosialisasi akrab dengan Pinochet dan paroki El Bosque. Apa yang sebenarnya dia ketahui? Apa motivasinya?

Di sini kita harus memperjelas bahwa tidak ada titik terang, baik selama persidangan Karadima, atau dalam lusinan wawancara yang saya lakukan di Santiago, apakah Sodano pernah dicurigai terlibat dalam pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dilakukan di El Bosque. Hal ini dikonfirmasi oleh Juan Pablo Hermosilla. “Kami melakukan penyelidikan mendalam, berdasarkan hubungan antara Karadima dan nuncio Sodano, tentang keterlibatan pribadi Sodano dalam pelecehan seksual Karadima, dan kami tidak menemukan bukti atau pernyataan saksi yang menunjukkan bahwa dia (Sodano) ikut serta dalam kejahatan ini. Saya tidak pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa Sodano hadir ketika Karadima melakukan tindakan pelecehan seksual. Saya pikir itu tidak terjadi karena kita pasti akan tahu setelah bertahun-tahun ini."

Tetapi pengacara korban menambahkan: “Di sisi lain, hampir tidak mungkin, dengan mempertimbangkan tingkat kejahatan seksual Karadima, frekuensinya dan desas-desus yang telah beredar sejak lama, dan mengingat bahwa sebagian besar korban adalah seminaris, bahwa Sodano tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.”

Tapi satu misteri terakhir tetap ada: kedekatan nuncio (Sodano) dengan rombongan Pinochet. Hubungan ini, relasi dengan mafia gay sejati, tetap aneh setidaknya, ketika kita menyadari posisi Gereja Katolik tentang homoseksualitas selama 1980-an.

Hubungan yang tidak wajar dengan Pinochet ini bahkan berarti bahwa nuncio diberi julukan: 'Pinochette' (menurut beberapa orang yang saya wawancarai). Demi Angelo Sodano, para pembelanya - yang termasuk nuncio François Bacqué - menunjukkan kepada saya bahwa sulit bagi seorang diplomat Vatikan untuk bertindak sebagai pembangkang di bawah sebuah kediktatoran. Bergaul dengan rombongan Pinochet sangat diperlukan, dan jika menentangnya akan menyebabkan penghentian hubungan diplomatik dengan Vatikan, pengusiran nuncio dan mungkin penangkapan para imam. Argumen ini memang masuk akal.

Demikian pula, para kardinal yang saya wawancarai di Roma mengakui keberhasilan diplomatik besar Sodano sejak kedatangannya di Chili pada tahun 1978. Menurut mereka, dia memainkan peran penting dalam mediasi antara Chili dan Argentina selama konflik antara kedua negara Katolik itu mengenai perbatasan mereka di ujung selatan dari Amerika Selatan, dekat Tierra del Fuego. (Tetapi menurut saksi terpercaya lainnya, Sodano awalnya menolak mediasi Vatikan, yang pada awalnya merupakan usaha dari Kardinal Raúl Silva Henríquez dan nuncio Italia Antonio Samorè, yang dikirim paus ke negara itu sebagai mediator dalam konflik ini.)

Mereka juga menekankan bahwa Yohanes Paulus II tidak segan dalam mengkritik Pinochet, termasuk dalam pidato publiknya yang terbukti sangat penting. Dalam perjalanannya tahun 1987, selama misa yang dia rayakan, paus mengizinkan para lawan politik dan pembangkang terhadap Pinochet untuk berbicara di sampingnya untuk mengkritik rezim sensor, penyiksaan dan pembunuhan politik. Perjalanan ini memiliki dampak abadi pada evolusi negara Chili menuju demokrasi sejak tahun 1990 dan seterusnya.

“Yohanes Paulus II memberi tekanan demokratis pada Pinochet, dan itu berhasil. Setahun setelah kunjungan paus, referendum membuka jalan menuju transisi demokrasi," demikian menurut Luis Larrain, ketua asosiasi LGBT yang penting di Chili, yang ayahnya adalah seorang menteri di bawah diktator Pinochet.

Hal ini telah memberi peran aneh sebagai polisi politik Pinochet sehubungan dengan Sodano.

“Jika kita menempatkan diri kita dalam konteks tahun 1980-an, Pinochet menganggap hubungan diplomatiknya dengan Vatikan sangat penting. Maka sudah wajar bagi Sodano untuk dipuji di depan umum oleh presiden, dan ‘diproses’ secara pribadi oleh dinas rahasia Chili. Apa yang asing adalah hubungan tidak normal yang dia bentuk, hubungan intim yang dia miliki dengan para agen dan penasihat diktator, di antara peringkat paling senior di dalam rezim," kata seorang wartawan Chili yang menulis banyak tentang kejahatan kediktatoran.

Tidak kurang dari empat pejabat Pinochet 'memproses' Sodano secara langsung. Pertama-tama, Kapten Sergió Rillón, penasihat dekat diktator dan agen 'penghubungnya' untuk urusan agama, yang memiliki kantor di lantai pertama La Moneda, istana presiden.

“Dia adalah seorang yang paling kanan dan bahkan seorang ‘sosialis nasional.’ Dia adalah salah satu guru Pinochet dan dia mewakili sayap yang keras," saya diberitahu oleh jurnalis Alejandra Matus di Santiago.

Dia dikenal sangat dekat dengan Karadima dan Sodano: “Rillón adalah anggota yang sangat intim dari lingkaran paling intim Pinochet. Dan dia adalah juga anggota yang sangat intim dari lingkaran intim Sodano," demikian Santiago Schuler memberi tahu saya.

Kemudian datanglah Osvaldo Rivera, seorang pakar budaya yang bekerja untuk Pinochet, yang juga berhasil masuk ke lantai atas La Moneda.

“Rivera menampilkan dirinya sebagai ‘raja budaya.’ Tetapi dia adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk menyensor televisi demi kepentingan Pinochet. Kita semua tahu bahwa dia bergerak dalam lingkungan yang sangat kanan dan gay," kata Pablo Simonetti.

Ditanya saat ini, Osvaldo Rivera bisa mengingat Angelo Sodano dengan sangat jelas. Dia bahkan cerewet tentang masalah ini. Rivera memperluas kehidupan Sodano di Chili dan memberi kami banyak informasi tentang kehidupannya. Dia mengenangnya 'suka minum wiski, dikelilingi oleh teman-teman kaya dan bejat,' lalu pulang dengan dijaga ketat karena dia 'cukup mabuk.'

Akhirnya, Sodano juga dekat dengan Francisco Javier Cuadra, orang dekat Pinochet, juru bicaranya, calon menteri dan duta besar di Vatikan. Dia, bercerai dan ayah dari delapan anak, digambarkan dalam sebah novel sebagai pria yang telah menjalani kehidupan yang penuh warna.

Terlepas dari orang-orangnya Pinochet yang dikaitkan dengan Angelo Sodano secara teratur, dua karakter lain yang mengganggu patut disebutkan di sini, karena mereka juga tertarik pada sang diktator dan termasuk dalam 'mafia' yang sama. Yang pertama, seorang homoseksual glamor dan tertutup, Arancibia Clavel, yang dekat dengan sang diktator dan tentara, yang bertanggung jawab untuk melakukan operasi yang melibatkan penghilangan fisik terhadap lawan-lawan politik; dia menerima hukuman berat karena kejahatannya sebelum kemudian dibunuh oleh 'tukang taksi.' Yang kedua, Jaime Guzman, adalah salah satu ahli teori rezim Pinochet: profesor hukum ultra-Katolik yang kaku ini disebut dalam portofolio DINA di bawah label 'homoseksual,' menurut Contscar Contardo dalam bukunya Raro, Una historia gay de Chile; dia dibunuh pada tahun 1991 oleh kelompok paling kiri. Keduanya kenal baik dengan Sodano.

Jaringan homoseksual Pinochet tidak pernah diuraikan - ini akan menjadi sebuah fakta bagi banyak orang Chili. Para peneliti dan jurnalis saat ini sedang menyelidiki lingkungan paradoks ini dan pengaturan keuangan antara Pinochet dan Vatikan (terutama melalui dana khusus dalam rekening bank rahasia yang dimiliki oleh sang diktator di Riggs Bank, dan yang mungkin telah mendanai lembaga-lembaga anti-komunis yang dekat dengan Solidarność di Polandia): kita dapat mengharapkan fakta lebih lanjut tentang semua poin ini di tahun-tahun mendatang.

Dalam semua kasus ini, kolusi politik dan seksual memberi makna pada frasa terkenal yang dikaitkan dengan Oscar Wilde dan diulangi di House of Cards: “Segala sesuatu di dunia adalah tentang seks, kecuali sex itu sendiri. Seks adalah tentang kekuatan.” Kita masih harus mengerti mengapa nuncio Angelo Sodano sangat senang bergaul dengan lingkungan homoseksual. Mengapa dia bergerak dalam kelompok ini pada saat Yohanes Paulus II menyatakan homoseksualitas sebagai dosa yang keji dan kejahatan absolut?

Kesimpulannya, kita dapat mengajukan tiga hipotesis. Yang pertama adalah berpikir bahwa Angelo Sodano dimanipulasi oleh dinas rahasia Chili, dimata-matai dan kedubesnya disusupi karena kenaifannya, pengalamannya yang kurang, dan berbagai asosiasinya. Yang kedua menyarankan bahwa Angelo Sodano adalah rentan - misalnya, jika dia sendiri adalah homoseksual – maka dia wajib berkompromi dengan rezim Pinochet untuk melindungi rahasianya. Jelas polisi politik Pinochet mengetahui semua detail kehidupan profesional dan pribadi Sodano, apa pun itu: mungkin mereka bahkan memerasnya? Hipotesis ketiga adalah berasumsi bahwa Angelo Sodano, si manipulator hebat, yang berbagi ide-ide politik dengan para penasihat Pinochet beserta moral mereka, bergerak bebas di lingkungan yang cocok untuknya.





No comments:

Post a Comment