Saturday, March 16, 2019

CARDINAL SESAT, YANG MENUTUP-NUTUPI KASUS PENCABULAN, MENINGGAL

CARDINAL SESAT, YANG MENUTUP-NUTUPI KASUS PENCABULAN, MENINGGAL.
PAUS FRANCIS MEMUJI DIA SEBAGAI 'PASTOR YANG PENUH SEMANGAT’



By Claire Chretien
NEWSCATHOLIC CHURCH Thu Mar 14, 2019 - 10:49 am EST


Card.Danneels dalam jubah seragam kebesarannya : LGBT

14 Maret 2019 (LifeSiteNews)  - Kolaborator dekat paus Francis, Kardinal Godfried Danneels, dari Belgia, yang tertangkap dalam rekaman suara, telah mengancam  korban pelecehan seks untuk tetap diam dan "mengakui kesalahannya sendiri," telah meninggal pada umur 85. Paus telah menyampaikan pujiannya kepada almarhum kardinal berpandangan heterodox (modern) ini, dan menyebutnya sebagai "imam yang bersemangat" yang selalu "memperhatikan tantangan Gereja kontemporer."


"Semoga Tuhan mengampuni jiwanya," kata John-Henry Westen, pemimpin redaksi dan salah satu pendiri LifeSiteNews. “Kami berdoa agar Kardinal Danneels sempat bertobat karena perannya dalam menutup-nutupi pelecehan seksual dan memajukan heterodoksi/modernism dalam Gereja. Kami berdoa untuk ketenangan jiwanya,” tambahnya.

Danneels, mantan uskup agung Brussels, adalah ketua konferensi uskup Belgia dari tahun 1979 hingga 2010.

Dia “melayani Gereja dengan penuh dedikasi, tidak hanya di keuskupannya, tetapi juga di tingkat nasional sebagai presiden Konferensi Para Uskup Belgia, sambil menjadi anggota berbagai dicasteri Romawi,” kata Paus Francis dalam telegramnya telegramnya tentang kematian kardinal ini.

Danneels muncul bersama Paus Francis di balkon Basilika Santo Petrus setelah pemilihan paus tahun 2013. Paus secara pribadi secara pribadi menunjuk Danneels untuk berpartisipasi dalam kedua sinode tentang keluarga, sebuah peran yang diakui Paus dalam pernyataannya saat kematian Danneels: “Kardinal Danneels juga mengambil peran aktif dalam berbagai Sinode para Uskup, termasuk pada tahun 2014 dan 2015 tentang keluarga."

Pope Francis honored Cardinal Godfried Danneels (2nd from left) by letting him stand alongside the pope on the balcony on the night of his election on March 13, 2013.



Danneels telah mengakui dirinya menjadi bagian dari kelompok uskup sayap kiri (komunis), "Mafia Saint Gallen," yang berhasil berkonspirasi untuk memilih Paus Francis.

Kardinal ini tertangkap dalam rekaman pada tahun 2010 yang mengancam korban pelecehan seks agar tidak melaporkan bahwa dirinya telah dicabuli selama 13 tahun oleh Uskup Roger Vangheluwe. Korban adalah keponakan Uskup Vangheluwe sendiri. Setelah dirilisya rekaman itu, di mana Danneels juga memaksa kepada korban untuk "meminta pengampunan," tetapi justru Vangheluwe mengakui pelecehan yang dilakukannya dan dia kemudian mengundurkan diri.

“Dia telah dipanggil kepada Tuhan pada saat pemurnian ini dan berjalan menuju Kebangkitan Tuhan. Saya memohon Kristus, pemenang atas kejahatan dan kematian, untuk menyambutnya dalam kedamaian dan sukacita-Nya," demikian isi telegram paus Francis. "Sebagai janji penghiburan, saya menawarkan berkat apostolik khusus untuk Anda dan kerabat Kardinal yang telah meninggal, para pastor, umat beriman dan semua orang yang akan mengambil bagian dalam pemakaman."

Telegram ini dikirim kepada Kardinal Jozef De Kesel, penerus paham liberal dari Danneels.

Pada tahun 2013, Danneels menyebut undang-undang yang mengizinkan “pernikahan” sesama jenis sebagai “perkembangan yang positif.” Sebuah buku tahun 2015. Sebuah buku tahun 2015 melaporkan bahwa Danneels memberi selamat kepada pemerintah Belgia ketika melegalkan “pernikahan” sesama jenis. Meskipun sudah ada ajaran Katolik yang jelas, tetapi kardinal ini tetap mendukung penggunaan kondom sebagai perlindungan dari HIV / AID. Menurut dua orang politisi Belgia, Danneels juga berusaha meyakinkan raja Belgia untuk menandatangani RUU yang melegalkan aborsi pada tahun 1990.

Sebuah laporan Reuters tentang kematian Danneels tidak menyebut-nyebut skandal pelecehan seksualnya, tetapi mencatat bahwa ia adalah "suara liberal yang kuat di dalam Gereja Katolik Roma." Artikel itu menyebut cardinal itu "seorang pengkhotbah yang periang dan berbakat."


No comments:

Post a Comment