Thursday, March 7, 2019

FREEMASON DAN OCCULTISME


FREEMASON DAN OCCULTISME


Freemason/ Freemasonry bukan merupakan gerakan yang didirikan oleh Gereja Katolik.

Ada sebagian orang mengatakan bahwa freemasonry didirikan oleh Gereja Katolik, atau minimal Gereja Katolik berperan aktif di dalamnya. Namun ini adalah tuduhan yang tidak mendasar, karena Gereja Katolik sendiri – melalui beberapa dokumen – melarang anggotanya untuk ikut di dalam gerakan ini.

Asal usul Freemasonry tidak diketahui dengan jelas, namun diperkirakan lahir akhir abad 16 di Scotlandia atau awal abad 17 di Inggris. Sekarang ini anggotanya mencapai lebih dari 5 juta orang, tersebar di seluruh dunia, (Inggris, Skotlandia, Amerika, dst).

Pada waktu awal didirikan di Eropa, sampai beberapa waktu kemudian, organisasi ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang kaya dan berkedudukan tinggi. Mereka mengatakan bahwa mereka bukan agama/kelompok religius. Syarat utama menjadi anggota Freemason adalah percaya kepada adanya satu Sosok yang Sempurna / “Supreme Being”. Maka konon semua penganut agama bisa bergabung, dan derajatnya sama, tidak boleh membawa-bawa agama dalam pertemuan mereka. Dari data Wikipedia kita ketahui bahwa ada beberapa uskup Anglikan menjadi anggota, dan memang dari tulisan-tulisan lain yang beredar di internet, dikatakan bahwa target Freemason yang utama adalah para pemimpin, terutama pemimpin gereja, dan karena Gereja yang paling nyata secara fisik adalah Gereja Katolik, maka mereka menargetkan pemimpin Gereja Katolik untuk bergabung dalam  organisasi ini. Tujuannya, untuk mengaburkan ajaran tentang keberadaan Tuhan seperti yang dikenal dalam Alkitab.

Tentang Freemasonry

Umumnya Freemasonry didefinisikan sebagai organisasi fraternitas/persaudaraan yang merupakan sebuah sistem moral yang terselubung dalam kiasan, dan digambarkan dengan simbol. Simbol yang mereka pakai sebagai logo adalah penggaris siku dan jangka, dengan atau tanpa huruf G di tengahnya. Namun karena organisasi ini tidak mempunyai satu pemimpin utama, dan setiap anggota boleh menafsirkan sendiri simbol itu, maka tidak diperoleh kata sepakat bagi makna dari logo tersebut. Disebut Free-mason karena maksudnya adalah agar ideologi mereka yaitu, Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan menjadi prinsip yang merasuk secara bebas kedalam sendi-sendi kemasyarakatan, tanpa diketahui dari mana asalnya.

Organisasi ini terbagi menjadi beberapa Grand Lodge/Orients pada wilayah tertentu, dan keanggotaannya  terbagi menjadi 3 tingkatan. Umumnya pada bagian tingkat terbawah kegiatannya lebih ke arah sosial. Maka tak mengherankan, banyak orang yang bergabung di level bawah tidak tahu mengapa organisasi ini dilarang oleh Gereja Katolik, sebab mereka sekedar hanya kumpul-kumpul saja dengan beberapa acara bersama. Setidaknya demikianlah yang kami ketahui dalam pembicaraan dengan seorang teman yang mempunyai pengalaman berkomunikasi dengan anggota kelompok Freemason di Amerika. Namun pada level berikutnya, sampai tingkat ketiga, terdapat ritual yang tidak sesuai dengan ritual Gereja, dan doktrinnya yang mengacu ke arah naturalisme dan rationalisme serta  mengarah kepada relativisme, yaitu: tidak ada Kebenaran sejati, semua agama sama saja, dan mereka mengusahakan sebuah dunia tanpa adanya Tuhan, tetapi hanya “Sosok Sempurna” yaitu Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan. (Padahal, ketiga hal tersebut, sesungguhnya tak bisa dicapai jika keberadaan Tuhan sebagai Pribadi tidak diakui).

Maka Gereja Katolik melarang Freemasonry karena beberapa alasan: Pertama, karena dengan slogan “Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan”, mereka sebenarnya menganggap “KEBEBASAN” adalah sebagai Tuhan/ Supreme Being mereka. Hal ini bertentangan dengan prinsip Allah Trinitas dalam agama Katolik. Kedua, slogan tersebut sedikit demi sedikit membentuk pola pikir relativisme, di mana semua agama adalah sama, semua benar, tidak ada yang paling benar, sehingga dalam menentukan nilai moralitas, hal ini dapat membingungkan, karena hal yang dianggap salah oleh yang satu, bisa dianggap benar oleh yang lain. Hal ini bertentangan dengan prinsip Kebenaran objektif yang diajarkan oleh Gereja Katolik: yang benar selalu benar, sedangkan yang salah tidak pernah boleh dianggap benar oleh Gereja. Ketiga, ritual yang mereka gunakan juga asing, misalnya, pelantikan gedung (mereka sebut sebagai pembaptisan) memakai simbol jagung, minyak dan anggur, dst, simbol dan upacara yang tidak sesuai dengan cita rasa Kristiani.

Paus Leo XIII dengan jelas melarang gerakan ini dalam surat ensikliknya Ab Apostolici, 15 Okt 1890, karena melihat gerakan Freemason menyusup ke dalam gerakan politik di Italia yang ingin menghapuskan pengaruh Gereja dari masyarakat, dan menyulut kebencian kepada Gereja Katolik. Kitab Hukum Gereja tahun 1917, secara jelas menyebutkan bahwa siapa yang bergabung dalam Freemasonry, langsung terkena ekskomunikasi. Namun pada Kitab Hukum Gereja yang terbaru 1983, tidak secara eksplisit disebutkan kata ‘Freemasonry’, hanya, tetap disebutkan larangan untuk bergabung pada organisasi yang menentang Gereja. Maka ada orang-orang yang berspekulasi bahwa larangan untuk mengikuti Freemason sudah dicabut.

Hal ini diklarifikasi oleh Paus Benediktus XVI, yang pada waktu menjadi kepala dalam the Congregation for the Doctrine of Faith. Dalam Quaesitum est, dia menyatakan “Penilaian negatif yang diberikan oleh Gereja terhadap kelompok Freemason tetap tidak berubah, sebab prinsip mereka tidak sesuai dengan doktrin Gereja. Dan karenanya, keanggotaan umat kepada kelompok mereka tetap dilarang. Umat yang bergabung dalam kelompok Freemason berada dalam dosa berat dan tidak dapat menerima komuni.” Dekalarasi ini disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II, dan ditandatangani pada tanggal 26 November 1983.

Freemason dengan gerakan naturalism, rationalism dan relativism-nya memang sangat berbahaya terhadap Iman Katolik, justru karena kelihatannya tidak berbahaya. Namun jika kita lihat di Amerika misalnya, nilai-nilai naturalisme dan relativisme ini memang banyak mempengaruhi beberapa biara, sehingga mereka berfokus pada meditasi tentang alam lebih daripada berakar pada liturgi, mereka melepas habit/kerudung demi persamaan dengan umat awam, berkompromi dengan nilai-nilai liberal, meringankan disiplin dalam biara dst. Dan dengan langkah yang demikian, malah angka panggilan di biara itu semakin merosot drastis. Sedangkan pada biara-biara yang tetap berpegang pada pengajaran iman yang benar-benar sesuai dengan tradisi Katolik, malah menunjukkan angka kenaikan yang signifikan.

Apakah Freemason  telah menyusup  ke dalam Gereja Katolik?

Ada banyak spekulasi bahwa gerakan Freemason telah menyusup ke dalam Gereja Katolik dengan cara yang halus, seperti menerima komuni di tangan, yang ditujukan supaya orang tidak lagi percaya akan kehadiran Yesus yang sungguh nyata dalam bentuk Hosti Kudus. Katolisitas telah membahas tentang komuni di mulut atau di tangan melalui jawaban ini, silakan klik. Kita tidak usah gelisah dalam hal ini, sebab jika kita percaya Tuhan membimbing Gereja-Nya dengan Roh Kudus-Nya, maka pasti Ia melindungi Gereja dalam menentukan segala sesuatu, dan bagian yang perlu kita lakukan adalah taat pada apa yang telah ditetapkan Gereja. Memang setelah Vatikan II, umat diperbolehkan menerima Komuni di tangan, sehingga terdapat dua cara dalam menerima Komuni, yaitu langsung di mulut atau di tangan. Maka, karena Gereja setelah KV II memperbolehkan dua cara itu, maka kita diijinkan memilih salah satu (di mulut atau di tangan), asal kita lakukan dengan kesadaran penuh, bahwa kita menyambut Tuhan Yesus sendiri. Tetapi untuk sebagian orang lebih memilih komuni langsung di mulut, karena cara yang demikian lebih berakar pada tradisi dan anjuran dari para orang Kudus serta pesan-pesan dari Surga yang diberikan kepada banyak visiuner. Namun, kita tidak dapat memaksakan kepada orang lain untuk menerima dengan cara yang sama.

Tentang Occultisme

Occultisme berasal dari kata occultus (Latin) artinya rahasia/tersembunyi, sehingga ia diartikan sebagai pengetahuan akan sesuatu yang tersembunyi. Dalam bahasa Inggris, hal ini kemudian dikaitkan dengan pengetahuan paranormal, lawan kata dari ilmu pengetahuan/ science. Maka, arti Occultisme yang umumnya berlaku sekarang berkonotasi negatif, seperti ilmu gaib/magic, astrologi, spiritualism, dst. Tentu dengan konotasi demikian, occultisme dilarang oleh Gereja Katolik, karena pada dasarnya hal itu merupakan pelanggaran terhadap perintah Tuhan yang pertama, “Akulah Tuhan Allah-mu. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:2-3). Mereka yang mempraktekkan occultism tidak lagi mempercayai Allah sebagai Tuhan yang berada di atas segalanya, sebab mereka ‘menggantikan’ Allah dengan keyakinan mereka akan ilmu gaib/roh-roh/ dst.

Mempercayai janji Kristus yang akan selalu melindungi Gereja-Nya.

Jadi, pada dasarnya, janganlah kita takut dan bingung jika kita mendengar berita-berita yang negatif tentang Gereja. Sebab sudah dari jaman abad awali banyak orang yang ingin menghancurkan Gereja Katolik, namun hingga sekarang Gereja tetap berdiri. Mari kita yakini dan percaya akan janji Kristus, bahwa Ia tidak akan meninggalkan Gereja-Nya, sampai akhir zaman. Kadang Tuhan mengizinkan hal negatif tersebut terjadi, dengan tujuan untuk memurnikan dan memperbaharui Gereja, sebab Roh Kudus akan menyatakan kebenaran Tuhan, dan memampukan mereka yang berpegang kepada-Nya untuk mengikuti kehendak-Nya.


No comments:

Post a Comment