Monday, March 4, 2019

Vortex - Paus Francis...






paus Francis bersalah karena berupaya menutup-nutupi kasus
Dan kepausannya harus berakhir.


February 27, 2019

Saya, Michael Voris, menyapa Anda dari Roma, setelah pertemuan puncak yang tidak berarti apa-apa, tentang pelecehan seks dan upaya penyembunyian kasus ini – dan yang tidak pernah diungkapkan sama sekali akar masalahnya. Saya membawa kepada Anda pertanyaan-pertanyaan di seputar Paus Francis sendiri - tentang apa yang dia lakukan, apa yang dia ketahui dan kapan dia tahu hal itu.

Ada banyak sekali pertanyaan yang berasal dari banyak kasus yang terus dipertanyakan, dan sementara kasus-kasus itu mendapatkan liputan di media sekuler, tampaknya tidak ada tanggapan yang signifikan dari pihak Vatikan terhadap segala tuduhan yang berdatangan, maupun tindak lanjut yang serius. Para jurnalis seakan hanya menaruh informasi di luar sana, sebagai semacam fakta dari sejarah masa lalu, dan yang terus berlanjut.

Maka mari kita mulai dari awal.

Ketika uskup agung Viganò merilis kesaksiannya yang pertama, Agustus 2018 lalu, yang mengungkapkan beberapa nama pelaku arus homoseksual di Vatikan, dimana dia juga menyatakan dengan tegas bahwa Paus Francis tahu bahwa McCarrick telah dihukum dan dipinggirkan oleh Paus Benediktus, tetapi paus Francis justru mengangkat kembali McCarrick untuk menduduki jabatan penting di Vatikan, meski masa lalunya adalah seorang homopredator.

Satu demi satu, media liberal, termasuk media Katolik liberal seperti John Allen dari media  Crux, sedikit meremehkan pengakuan Viganò dengan mengatakan bahwa kesaksian itu harus diterima dengan sebuah keraguan besar. Tetapi seiring berlalunya waktu (dalam kurun beberapa minggu), menjadi jelaslah bahwa Viganò benar hingga kepada tuduhan terakhir yang dibuatnya.

Jadi, apa yang kita miliki pada saat ini adalah seorang paus yang mengetahui sepenuhnya tentang masa lalu homopredator McCarrick, kemudian mengangkatnya kembali untuk menjadi terkenal dan berpengaruh - seorang pria yang, hanya beberapa tahun kemudian, dia harus diberhentikan dari status klerusnya ketika kejahatannya menjadi semakin diketahui secara luas, bukan hanya sekedar di dalam dinding Vatikan saja.

Bahwa Paus Francis sendiri secara pribadi yang melakukan hal ini dengan pengetahuan penuh, hal ini sangatlah mengganggu kita semua, sehingga wartawan dan penyelidik pemberani mulai memeriksa masa lalunya, untuk melihat apakah dia telah menutup-nutupi atau melindungi klerus lainnya – dan bahkan mempromosikan mereka dalam jabatan tinggi.

Dengan kembali menelisik ke negara asalnya, Argentina dan Amerika Selatan, para wartawan mulai mengungkap kasus-kasus lain yang melibatkan uskup agung (saat itu) Bergoglio yang menutupi kasus para klerus predator.

Salah satunya melibatkan pastor Julio Grassi, yang kemudian menjalani hukuman 15 tahun atas tuduhan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur – dia dihukum tahun 2009 - sebuah kasus yang mengguncang Argentina saat itu. Pada tahun 2010, uskup agung Bergoglio memulai pembelaannya terhadap Grassi selama bertahun-tahun dengan ongkos yang amat mahal secara finansial untuk membantunya mengajukan banding, dan menghasilkan serangkaian buku panjang yang menyatakan bahwa dia (Julio Grassi) tidak bersalah dan tuduhan-tuduhan dari si korban, Gabriel, adalah bohong.

Pembelaan dari Bergoglio itu telah melukai sistem peradilan sampai tahun 2016 ketika pengadilan tertinggi negara itu menguatkan pembelaan Grassi. Namun yang menjadi masalah adalah, melalui semuanya ini, pastor Julio Grassi sebenarnya tidak pernah berada di bawah yurisdiksi kekuasaan Bergoglio. Grassi tidak pernah bertugas di keuskupan Bergoglio, juga ketika Bergoglio menjabat sebagai uskupnya.

Sampai hari ini, meskipun ada permintaan tulus dari Gabriel (si korban), Paus Francis tidak pernah menyampaikan permintaan maaf atau bahkan kata-kata penghiburan kepadanya.

Dalam kasus lain yang mengundang kritik internasional terhadap Paus Francis, seharusnya  dia secara terbuka meminta maaf karena telah mendukung seorang uskup Chili, Juan Barros, yang dia tunjuk sendiri untuk menjabat di keuskupan selatan Osorno.

Barros telah melindungi klerus homopredator, Fernando Karadima, pelaku pencabulan terhadap anak laki-laki muda paling produktif di negara ini. Kemudian Vatikan sendiri yang memutuskan bahwa dia (Fernando Karadima) bersalah pada 2011.

Tetapi yang kemudian terungkap adalah bagaimana Paus Francis memilih Juan Barros (si pelindung dan menyembunyikan kasus pastor Fernando Karadima) untuk menjadi uskup, dengan jalan menutupi kejahatan imam itu. Ketika orang-orang di keuskupan memprotes Francis karena memilih Barros sebagai uskup mereka, Paus Francis membalas mereka dengan marah, membela Barros dan menghina orang-orang itu, dan menyebut mereka sebagai pembohong.

Paus Francis berkata kepada orang-orang Chili bahwa apa yang mereka tuduhkan itu adalah fitnah dan menambahkan kalimat yang menjadi kunci: "Anda semua, dengan segala niat baik, katakanlah kepada saya bahwa memang ada korbannya, tetapi saya belum melihat para korban itu ada, karena merekapun tidak mau datang."

Dan hal itu terbukti bohong. Pada tahun 2015, beberapa tahun sebelumnya, Cdl. Sean O'Malley telah menyerahkan langsung ke tangan Paus, sebuah surat dari korban yang merinci kisah kekerasan seksual yang dialaminya yang dilakukan oleh pastor Karadima. Cdl.O'Malley telah berbicara banyak, sebanyak laporan pers yang membawa detailnya.

Jadi, Paus Francis sudah tahu, sejak bertahun-tahun sebelumnya, bahwa Karadima adalah pastor homopredator dan uskup Juan Barros selalu melindungi dia, dan Paus Francis masih terus berusaha untuk mendesak penunjukan Barros sebagai uskup dan dia berbohong tentang hal ini sambil menghina orang banyak. Dia kemudian meminta maaf, dan hanya itu saja yang dilakukannya.

Dalam kasus lain yang lebih jelas, Paus Francis tampaknya telah mencoba untuk menutupi seorang uskup predator dari keuskupan Oran di Argentina, dengan memberi pekerjaan yang nyaman baginya di sini, di Vatikan. Uskup Gustavo Zanchetta dituduh telah menyebarkan foto-foto telanjang dirinya melalui HPnya, dia juga memasuki kamar-kamar para seminarisnya di malam hari dan melecehkan mereka secara seksual, serta sejumlah kasus penyelewengan finansial.

Tuduhan-tuduhan ini telah menyebar di Vatikan pada tahun 2015, dan kemudian Zanchetta pergi ke Roma untuk membela diri. Berbagai sumber mengatakan bahwa dia mampu meyakinkan Paus bahwa foto-foto telanjang di HPnya adalah (rekayasa) photoshop dan palsu. Sayangnya, tidak ada yang bisa memverifikasi pembelaan itu.

Tetapi sehubungan dengan masalah para seminaris, laporan internal yang disampaikan kepada Vatikan berbunyi: "[Zanchetta] menyaksikan para seminaris di kamar mereka pada malam hari dengan senter, meminta pijatan, masuk ke kamar mereka dan duduk di tempat tidur mereka, mendorong mereka untuk minum minuman beralkohol, dan memilih para seminaris tertentu yang lebih tampan."

Vatikan dan Paus mengetahui tentang tuduhan-tuduhan ini antara tahun 2015 dan 2016. Pada tahun 2017, Paus Francis membawa Zanchetta ke Roma dan memberikan sebuah jabatan untuknya, yang menangani investasi real estate milik Vatikan.

Sekali lagi, karena kasus ini telah masuk ke dalam laporan media sekuler arus utama - dan hanya karena pemberitaan besar-besaran dari media-media itu maka Zanchetta kemudian dipindahkan dari posisinya yang nyaman ketika penyelidikan Gereja sedang berlangsung.

Inilah tepatnya mengapa setiap diskusi pada KTT soal pelecehan sex terhadap para seminaris minggu lalu, harus ditutup sepenuhnya oleh Cdl. Cupich dan uskup agung Scicluna. Kasus itu secara langsung melibatkan Paus Francis, karena Zanchetta mencabuli para seminarisnya sendiri dan Paus Francis tahu semua tentang itu - sebuah garis yang langsung.

Kemudian ada kasus tentang seorang pria yang dijuluki "Wakil Paus" karena kedekatannya dengan Francis, Cdl. Óscar Rodríguez Maradiaga. Maradiaga terlibat dalam skandal raksasa karena membela dan menutupi kasus sexual salah seorang uskup pembantunya, Jose Juan Pineda, yang dilaporkan dan dituduhkan oleh 50 orang seminaris dari Maradiaga karena kasus predasi homoseksual.

Maradiaga mengecam laporan itu sebagai tidak benar - meskipun banyak bukti yang dapat dipercaya - dan dia tetap dengan kuat berlindung di sini, di Roma, sebagai ‘Paus nomor dua’ di samping pembelaannya atas Pineda, yang juga dituduh melakukan pelanggaran keuangan besar-besaran tahun sebelumnya, dalam sebuah laporan yang telah diberikan kepada Paus Francis.

Namun, Maradiaga tidak hanya membiarkan Pineda tetap berada di tengah-tengah semua tuduhan ini, dia juga bahkan mempromosikan Pineda menjadi administrator keuskupan ketika Maradiaga sendiri bolak-balik di Houston, Texas untuk menjalani perawatan kanker.

Akhir tahun lalu, Pineda mengajukan pengunduran dirinya kepada Paus tanpa sepatah kata pun dari Maradiaga, tidak ada penjelasan resmi yang substantif yang diberikan, maupun permintaan maaf dari Maradiaga atau Pineda kepada hampir 50 seminaris yang harus menderita pelecehan sexual dari kedua orang itu, dan kemudian Maradiaga terus menjalani perannya sebagai ‘paus nomor dua’ sambil menyerang para penuduhnya sementara Paus Francis sendiri duduk manis dan tidak melakukan apa pun.

Ada sebuah pola di sini, dalam diri Paus Francis, yang banyak dikatakan umat Katolik: sudah terlalu banyak kasus yang melilitnya dan dia harus muncur. Juga Uskup Agung Viganò, yang meski tidak berbicara soal tuduhan-tuduhan ini, tetapi dia menyimpulkan hanya dari informasi negativ tentang McCarrick, dan dia berkesimpulan bahwa paus Francis harus mundur dari jabatannya.

Hal inilah - dan apa yang diharapkan oleh banyak umat Katolik di seluruh dunia agar lebih banyak lagi kasus yang terbuka – yang terus diajukan, yaitu pertanyaan tentang kepausan Francis harus ditinjau kembali dan didiskusikan secara terbuka.

Orang-orang di sekitar Paus adalah para artis yang ahli dalam hal menutup-nutupi kasus kejahatan, yang berpura-pura mengadakan pertemuan puncak yang palsu untuk melindungi informasi lebih lanjut tentang McCarrick yang akan dipublikasikan. Yang lain-lainnya juga  dituduh menutup-nutupi diri mereka sendiri, seperti Maradiaga dan Gracias. Tetapi bahkan Paus sendiri telah menutup-nutupi segala dosa dan kejahatan ini.

Kepausan ini sedang terbakar, dan itu terjadi dengan cepat. Apakah dia mengundurkan diri atau tidak, penyebab keruntuhan besar-besaran ini adalah homoseksualitas yang diterima dan dilindungi oleh paus Francis dan kroni-kroninya serta budaya penyembunyian besar-besaran yang dilakukan oleh hampir setiap kardinal di sekitarnya - dari Cupich hingga ke Wuerl, hingga ke McCarrick, hingga ke Maradiaga, hingga ke Tobin dan daftar ini terus bertambah panjang….

Paus berikutnya nanti - siapa pun dan kapan pun - perlu memberikan kepada semua orang-orang ini perlakuan yang sama seperti terhadap McCarrick, dan musti memecat mereka semua untuk menjadi orang awam, di mana banyak dari mereka akan berakhir di balik jeruji besi karena dosa dan kejahatan mereka.

Faktanya, kita semua harus berdoa agar Paus Francis sendirilah yang melakukan hal itu dan kemudian dia mengundurkan diri, untuk menunjukkan reformasi yang dijanjikannya ketika dia melangkah keluar dari loggia itu (konklaf) hampir enam tahun yang lalu, yang akhirnya reformasi itu kita harapkan akan datang ke dalam Gereja, hanya saja bukan pada saat kepausannya.

+++++++++++++++++

Nubuatan St. Fransiskus dari Assisi (Meninggal3 Oktober 1226, Assisi, Italia)

Setan akan memiliki kekuatan yang luar biasa; kemurnian tak bernoda dari Ordo kita, serta Ordo-ordo lainnya, akan sangat dikaburkan, hingga hanya sedikit sekali umat Kristiani yang akan mematuhi Paus dan Gereja Roma dengan setia dan kemurahan hati yang sempurna. Pada saat kesusahan ini ada seorang pria, yang tidak terpilih secara kanonik, akan diangkat menjadi Paus, yang dengan kelicikannya akan berusaha untuk menarik banyak orang ke dalam kesesatan dan kematian.

Akan terjadi perbedaan pendapat dan perpecahan di kalangan masyarakat, kaum religius dan klerus, kecuali jika hari-hari itu diperpendek; maka sesuai dengan Sabda Kitab Suci, bahkan orang-orang terpilih akan dituntun menuju kesesatan, jika mereka tidak dibimbing secara khusus, di tengah kebingungan yang begitu besar, oleh rahmat Allah yang sangat besar.

Beberapa pengkhotbah akan bersikap diam terhadap kebenaran, dan yang lain-lainnya akan menginjak-injak dan menyangkalnya. Kesucian hidup akan dicemoohkan bahkan oleh mereka yang mengaku suci dari luar, karena pada saat-saat itu, Yesus Kristus akan mengirim kepada mereka bukan seorang pastor yang benar, tetapi seorang perusak.

Nubuatan Blessed Anne Catherine Emmerich

BornSeptember 8, 1774, Coesfeld, Germany
DiedFebruary 9, 1824, Dülmen, Germany

Dia memperingatkan datangnya sebuah perpecahan yang besar didalam Gereja selama saat-saat akhir zaman itu, serta adanya ‘relasi yang menyebalkan’ antara dua paus dimana yang satu akan memimpin sebuah gereja palsu.


1 comment:

  1. JOIN NOW !!!
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.name
    dewa-lotto.com

    ReplyDelete