Sunday, July 14, 2019

GEMBALA YANG SESAT - Bab 1



GEMBALA YANG SESAT
BAGAIMANA PAUS FRANCIS SEDANG MENYESATKAN KAWANANNYA





PEMILIHAN PAUS YANG MENGEJUTKAN


Petir menyambar Basilika Santo Petrus hingga dua kali pada tanggal 11 Februari 2013. Dua fotografer yang berbeda menangkap gambar dramatis dari petir kedua yang menerangi langit yang gelap di sekitar kubah basilika. Foto-foto itu disajikan sebagai ilustrasi sempurna untuk berita utama hari itu dari Roma: pengumuman mengejutkan oleh Paus Benediktus XVI bahwa dia akan mengundurkan diri dari kepausan. 





Paus dari Jerman itu meciptakan berita di sebuah konsistori (sebuah pertemuan para kardinal saat itu di Roma) yang sedang membicarakan rencana memberikan kanonisasi kepada tiga orang kudus baru. Paus Benediktus masih merahasiakan rencana pensiunnya, dia hanya memberikan pemberitahuan sebelumnya kepada beberapa pejabat Vatikan saja. Karena dia menyampaikan pengumumannya yang menakjubkan itu dalam bahasa Latin, maka sebagian besar anggota audiensnya kesulitan untuk mengertinya. Tetapi mereka yang fasih dalam bahasa kuno itu mulai ribut ketika Benediktus berkata, “Saya telah membuat kepastian bahwa kekuatan saya, karena usia lanjut, tidak lagi sesuai dengan pelaksanaan tugas yang memadai dari pelayanan Petrus,” dan begitulah mereka tersentak, ketika dia melanjutkan berkata “dan saya menyatakan bahwa saya meninggalkan pelayanan sebagai Uskup Roma,” dan pengunduran diri itu mulai berlaku pada akhir bulan.

Berita itu sangat menggucangkan. Tidak ada paus Roma yang mengundurkan diri lebih dari lima ratus tahun belakangan. Paus terakhir yang melakukannya secara sukarela adalah Celestine V, pada tahun 1294. Gagasan bahwa ada seorang Vikaris Kristus akan melepaskan tanggung jawabnya memang mengejutkan bagi banyak umat Katolik yang setia. (Celestine akhirnya dikanonisasi, tetapi hanya setelah melewati banyak kritikan; dia sering diidentifikasi sebagai tokoh bayangan dalam Canto III dalam buku Inferno karya Dante, “si penakut, yang melakukan penyangkalan besar.”) Benediktus telah berbicara tentang pengunduran dirinya beberapa kali, seperti pendahulunya John Paul II, tetapi hanya sebagai kemungkinan teoritis. Tetapi sekarang hal itu menjadi kenyataan.

Memang tidak ada yang berharap masa kepausan yang panjang bagi Benediktus XVI ketika dia terpilih dulu, tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke tujuh puluh-delapan. Dia tidak pernah dalam keadaan sehat sempurna, sering menderita setidaknya satu kali stroke dan selalu bergantung pada alat pacu jantung. Usia lanjutnya dan kesehatannya yang lemah, pada kenyataannya, membuat beberapa pengamat meragukan bahwa dia akan dipilih oleh konklaf bulan April 2005.

Dan memang, ketegangan jabatan kepausan menuntut bayaran stamina fisik yang terlalu besar bagi Benediktus. Pada tahun 2012, para pengunjung ke istana apostolik melaporkan bahwa meskipun di pagi hari itu paus nampak sehat, tetapi pada tengah hari dia akan terlihat kelelahan, kehilangan konsentrasi, dan butuh istirahat sebelum dia dapat melanjutkan tugasnya yang produktif. Bermasalah dengan lutut rematik, dia kurang mantap pada kakinya. Dia sedang mendekati ulang tahunnya yang ke delapan puluh lima.

Pada saat yang sama, masalah-masalah yang menuntut perhatian paus nampak menumpuk semakin tinggi:

• Skandal pelecehan seks yang telah menghancurkan Gereja di Amerika Serikat satu dekade sebelumnya kini menyapu seluruh Eropa. Ada desakan marah untuk mengundurkan diri kepada para uskup yang telah gagal dalam melakukan tindakan terhadap para klerus pelaku pelecehan itu. Benediktus, yang pada malam pemilihannya telah mencela adanya "kotoran" yang mengotori profesi imamat Katolik, dimana dia telah meningkatkan upaya Vatikan untuk menyingkirkan para pelanggar itu dari tugas pelayanan mereka.

• Tim pemeriksa perbankan Eropa menuduh bank Vatikan, yang dikenal sebagai Lembaga Karya Keagamaan, telah menyediakan tempat perlindungan bagi pencucian uang. Vatikan telah memulai serangkaian reformasi ekonomi yang dirancang untuk memastikan adanya transparansi dan memulihkan kepercayaan kepada lembaga itu.

• Dalam apa yang disebut skandal "Vatileaks", dokumen rahasia Vatikan, yang sebagian besar terkait dengan transaksi keuangan yang dipertanyakan, telah jatuh ke tangan jurnalis Italia, yang menggunakannya sebagai dasar bagi cerita-cerita sensasional mereka. Investigasi internal telah melacak kebocoran ada pada pembantu dekat paus sendiri, Paolo Gabriele, yang kemudian dinyatakan bersalah oleh pengadilan Vatikan. (Pengampunan paus telah membebaskannya dari hukuman penjara delapan belas bulan.) Tetapi banyak pengamat yang meragukan temuan pengadilan bahwa Gabriele bertindak sendirian. Tampaknya masuk akal untuk berspekulasi bahwa para pejabat senior Vatikan lainnya, yang memiliki lebih banyak alasan untuk terlibat dalam intrik internal, telah menuntun kepada kebocoran itu.

• Sebuah komisi khusus yang terdiri atas tiga orang kardinal yang sudah pensiun menyelidiki Vatileaks dan menyampaikan laporan yang sangat banyak kepada Paus pada akhir 2012. Meskipun hasil penyelidikan itu tidak pernah dipublikasikan, tetapi Roma diguncang oleh desas-desus, beberapa diterbitkan di surat kabar terkemuka, bahwa para kardinal itu telah membuka adanya jaringan homoseksual di dalam Vatikan yang menghadapkan para klerus kepada ancaman pemerasan.

Rupanya Benediktus telah mencapai kesimpulan bahwa dirinya, sekarang, sebagai seorang pria lanjut usia dan secara alami dan terdidik sebagai seorang ilmuwan, daripada seorang administrator, dia merasa tidak memiliki kekuatan maupun bakat yang diperlukan untuk menyelesaikan krisis internal ini. Ketika mereka berkumpul di Roma untuk memilih penggantinya, para kardinal dari seluruh dunia jelas-jelas berpikiran serupa. Mereka sering berbicara kepada wartawan tentang bagaimana menemukan seorang pemimpin dengan kemampuan administratif yang kuat yang dapat memimpin reformasi birokrasi Vatikan yang sangat dibutuhkan saat ini.


MENCARI GAYA KEPEMIMPINAN BERBEDA

Ada tema-tema lain yang jelas, juga dalam percakapan yang mendahului konklaf, yang akan dibuka pada 12 Maret. Para kardinal bersemangat untuk mengejar "evangelisasi baru" yang telah menjadi prioritas, baik bagi Yohanes Paulus II maupun Benediktus XVI, tetapi mereka bersikap terbuka untuk gaya kepemimpinan yang berbeda. Selama kepausan panjang Yohanes Paulus II, Kardinal Joseph Ratzinger adalah asisten terdekat dan kepercayaan dari paus Polandia itu. Karena dia, Joseph Ratzinger, selalu meneruskan kebijakan pendahulunya ketika dia menggantikannya sebagai paus, maka Gereja dalam banyak hal telah diatur oleh rezim kepausan yang sama selama tiga puluh lima tahun. Sebuah pepatah lama Vatikan mengatakan bahwa “seorang paus gemuk mengikuti seorang paus kurus,” dimana hal ini berarti bahwa sebuah konklaf haruslah memilih seorang pria dengan kualitas pribadi yang berbeda, gaya kepemimpinan yang berbeda.

Beberapa kardinal menyarankan bahwa waktunya mungkin sudah matang bagi seorang paus dari Dunia Ketiga. Terpilihnya Yohanes Paulus II, paus non-Italia pertama dalam berabad-abad sebelumnya, merupakan keberhasilan yang spektakuler. Mungkin sudah waktunya untuk melihat lebih jauh. Katolisisme telah banyak bermanfaat di Afrika dan Amerika Selatan, sementara pengaruh Gereja mulai memudar di Eropa.

Argumen untuk memilih seorang paus non-Eropa diperkuat oleh tidak adanya calon yang menonjol di antara kandidat paus dari Eropa. Kardinal Ratzinger telah menjadi pilihan yang jelas masuk ke dalam konklaf tahun 2005. Sebagai uskup paling berpengaruh di dunia, dia akan menjadi favorit yang luar biasa bagi pemilihan paus kecuali pertanyaan mengenai kesehatannya. Pada tahun 2013, Kardinal Angelo Scola dari Milan secara umum dianggap sebagai pesaing dari Italia yang terkemuka, tetapi lapangan telah penuh sesak.

Cardinal Scola mungkin adalah kandidat yang disukai dari pada paus yang lain. Tetapi Benediktus tidak akan berpartisipasi dalam konklaf atau membuat komentar sama sekali — tentang pemungutan suara atau tentang kebutuhan Gereja. Setelah bersumpah setia kepada Paus di masa depan, dia meninggalkan Vatikan untuk tinggal di tempat istirahat kepausan musim panas di Castel Gandolfo sampai saatnya paus baru itu menetap di kantornya. Bahkan setelah kepulangannya, paus yang sudah pensiun itu akan mempertahankan keheningan yang ketat dengan urusan gerejawi saat ini.

Pada hari-hari menjelang konklav, para kardinal di dunia yang sudah berkumpul di Roma, bertemu di “sidang umum” harian yang memiliki dua tujuan. Pertama, karena tidak ada paus yang bisa membuat keputusan akhir selama masa kosong saat itu, maka para kardinal bekerja sama dalam urusan-urusan penting Tahta Suci. Kedua, dan yang lebih penting, para kardinal bertukar pikiran tentang kebutuhan Gereja - kebutuhan yang akan diminta kepada paus berikutnya untuk menjawabnya.

Kongregasi atau rapat umum ini tertutup bagi orang luar, dan kantor pers Vatikan hanya memberikan laporan yang tidak jelas tentang apa yang telah dibicarakan atau diputuskan oleh para kardinal. Selama beberapa hari pertama dari pertemuan di 2013, para kardinal dari Amerika Serikat mengadakan briefing harian, memberikan kepada media massa informasi lebih lanjut tentang pembicaraan itu. Tapi kardinal-kardinal lainnya mengeluh tentang apa yang mereka lihat sebagai pelanggaran kerahasiaan, tetapi para uskup Amerika dengan enggan menghentikan pemberian briefing mereka. Pastor Federico Lombardi, direktur kantor pers Vatikan, menjelaskan bahwa sikap diam para kardinal Amerika akan sesuai dengan pengertian masyarakat umum bahwa selama hari-hari menjelang konklaf paus, sikap para kardinal adalah "menahan diri” dalam rangka untuk melindungi kebebasan berrefleksi dari masing-masing anggota College of Cardinals yang harus membuat keputusan penting saat itu.”

Namun demikian, jurnalis Vatikan yang giat mampu menghasilkan laporan dari sidang harian. Terlepas dari persepsi bahwa urusan Vatikan diselimuti kerahasiaan, tetapi rumor selalu merebak, dan laporan tentang diskusi internal selalu bocor ke dalam surat kabar Italia. Bahkan setelah konklaf kepausan, di mana setiap kardinal bersumpah bahwa dia tidak akan membocorkan apa pun tentang apa yang terjadi, para wartawan biasanya dapat memberikan penjelasan yang cukup jelas tentang prosesnya dalam seminggu sesudahnya, dan tidak ada yang meragukan bahwa laporan itu cukup akurat. Selama masa vakum, ketika para kardinal tinggal di apartemen mereka sendiri dan mengadakan percakapan makan malam dengan para pembantu dan teman-teman mereka, para wartawan merasa relatif mudah untuk menggodok rincian tentang diskusi selama sidang.

Misalnya, sebelum konklaf 2013, seorang wartawan Italia mengungkapkan bahwa para kardinal akan diberi pengarahan oleh tiga orang uskup — Kardinal Julián Herranz, Jozef Tomko, dan Salvatore De Giorgi — yang telah menyiapkan berkas tebal dan berat tentang skandal Vatileaks untuk Benediktus. Karena ketiga kardinal itu berada pada komisi investigasi berusia di atas delapan puluh, maka tidak ada yang akan berpartisipasi dalam konklaf itu sendiri. Jadi mereka akan berbicara selama sidang-sidang pendahuluan, di mana kardinal-kardinal tua dapat mengambil bagian, dan memberikan garis besar secara umum — tetapi bukan rincian lengkap — dari temuan mereka.


Dicari: Evangelisasi Baru dan Reformasi Vatikan

Bocoran dari hasil sidang harian membenarkan apa yang sudah diketahui oleh para pengamat Vatikan: bahwa para kardinal khawatir tentang evangelisasi, tentang penyelesaian skandal pelecehan seks dan masalah bank Vatikan, dan tentang pertikaian dan ketidakefisienan yang terungkap di dalam Curia Roma. Beberapa uskup menyerukan perombakan menyeluruh dari birokrasi Vatikan dan pengangkatan seorang kepala staf yang akan mengkoordinasikan tugas dari lembaga-lembaga yang berbeda. Media massa dengan patuh melaporkan saran-saran ini — meskipun mereka menurut saja dengan kerahasiaan isi diskusi, tetapi laporan yang keluar biasanya tidak menyebutkan kardinal tertentu yang menjadi sumbernya.

Namun, para wartawan itu kehilangan acuan yang paling penting yang dibuat selama sidang-sidang umum, yang terungkap hanya setelah konklaf. Seorang kardinal dari Argentina, Jorge Bergoglio, telah menarik perhatian saudara-saudaranya dengan ajakan singkat namun tegas agar Gereja “keluar dari dirinya dan pergi ke pinggiran.” Ketika Gereja tidak melakukan ini, dia berkata, “ia menjadi cinta-diri dan kemudian menjadi sakit.” Acuan ini jelas membuat banyak kardinal memikirkan Bergoglio sebagai calon paus. Hal itu membuat kesan yang begitu mendalam pada Kardinal Jaime Ortega di Havana bahwa setelah pemilihan Bergoglio, dia mencari dan menerima izin untuk membuat pernyataan publik.

Kardinal Bergoglio sama sekali tidak dikenal. Menurut laporan yang kurang diakui, pada kenyataannya, dia telah menjadi runner-up untuk bersaing dengan Kardinal Ratzinger pada konklaf 2005. Tetapi sejak saat itu dia telah bertugas dengan tenang sebagai uskup agung Buenos Aires. Beberapa orang menganggapnya sebagai ‘paus penantian’. Dia belum pernah berkeliling dunia dan memberikan pidato. Dia telah mengajukan permohonan kepada Tahta Suci pengunduran dirinya sebagai uskup agung, seperti yang disyaratkan oleh hukum kanonik, setelah mencapai ulang tahunnya yang ke tujuh puluh lima. Namanya tidak termasuk lusinan yang disebutkan oleh pembuat berita sebagai kandidat teratas pada 2013.

Namun setidaknya beberapa kardinal ingat akan dukungan yang dimiliki oleh Bergoglio dalam konklaf terakhir dan percaya bahwa dia akan menjadi kandidat yang baik sekali lagi. Rupanya Bergoglio sendiri cukup akrab di antara mereka. Dalam suatu kesempatan pertemuan tepat sebelum konklaf dimulai, seorang klerus muda dengan bercanda menanyakan kepadanya nama apa yang akan dia ambil jika dia terpilih nanti. "Francis," terdengar jawaban yang cepat.

Dan begitulah yang terjadi.

Selama konklaf itu sendiri, dengan para kardinal yang dikurung di Kapel Sistine, dimana pemikiran mereka tertutup dari dunia luar, para jurnalis yang berkumpul di Roma yang menanti berita besar menjadi frustrasi karena tidak adanya materi bagi pemberitaan mereka. Seorang wartawan Fox News marah dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik sangat perlu merubah cara memilih paus. Aturan yang ada saat ini tidak berfungsi — yang artinya bahwa aturan yang ada saat ini tidak memberinya bahan apa pun untuk diberitakan.

Tetapi masih untung bagi para wartawan, hasilnya datang dengan cepat. Pada hari kedua konklaf, pada pemungutan suara kelima, Kardinal Bergoglio terpilih : orang Amerika Latin pertama dan Yesuit pertama yang menjadi paus Roma. Segera setelah asap putih naik dari cerobong asap di atas Kapel Sistina, kerumunan besar berkumpul di St Peter's Square untuk bertemu dengan paus baru.

Beberapa hari kemudian muncul keinginan, bahwa segera setelah pemilihannya, sebelum diperkenalkan ke publik, paus baru telah menentukan prioritas utamanya untuk menyebut paus emeritus, ketika Benediktus XVI memutuskan untuk menentukan peranan dirinya. Ternyata itu bukanlah tugas yang mudah. Ketika mereka memasuki konklaf, para kardinal telah menyerahkan ponsel mereka, dan Kapel Sistine telah dibersihkan dari segala pengaruh luar untuk memastikan bahwa tidak ada sarana komunikasi elektronik di dalamnya. Ketika segel konklaf itu rusak, paus baru bergegas melalui istana apostolik mencari telepon yang masih berfungsi. Dia akhirnya menemukan satu di ruangan yang berantakan dan penuh sesak yang digunakan oleh staf Radio Vatikan untuk disimpan dan dimasukkan ke dalam panggilan ke Castel Gandolfo. Tetapi Paus Benediktus tidak mendengar dering teleponnya. Dia sedang menonton televisi, menunggu berita yang sama yang ingin didengar oleh seluruh dunia.

Pengumuman, ketika ia disampaikan, cukup membingungkan. Jean-Louis Tauran, yang memiliki privilege sebagai kardinal protodeacon untuk memperkenalkan paus baru kepada dunia, mengundang tepukan tangan ketika dia mengucapkan formula tradisional, "Habemus papam!" (Kami memiliki seorang paus!) Tapi suara dari kerumunan dan umpan balik dari public mengaburkan kata-katanya sambil melanjutkan dengan kata: "Eminentissimum ac reverendissimum Dominum, Dominum Georgium Marium, Sanctae Romanae Ecclesiae Cardinalem Bergoglio." Beberapa orang mengharapkan nama "Georgium," dan gemuruh dari lapangan Santo Petrus membuatnya lebih sulit untuk mendengar kata "Bergoglio," jadi ada momen keheningan di tengah kerumunan orang banyak — yang dipimpin oleh peziarah dari Argentina — dan kemudian mereka mulai bertepuk tangan dengan antusias.

Tetapi ketika Kardinal Tauran melanjutkan, kegembiraan di lapangan Santo Petrus meningkat. Paus yang baru, dia mengumumkan, telah memilih nama “Fransiskus.” Dengan menyebutkan Fransiskus dari Asisi, salah satu dari orang-orang kudus yang paling dicintai, nama itu menunjukkan komitmen paus baru itu kepada kesederhanaan, kerendahan hati, dan cinta sepenuh hati kepada semua ciptaan Allah. Pada saat yang sama, dengan mengingat pesan yang diterima oleh orang kudus besar dari Tuhan di gereja San Damiano: "Francis, pergilah, bangunlah kembali rumah-Ku, seperti yang kamu lihat saat ini adalah berupa reruntuhan."

Untuk memahami makna sepenuhnya dari nama baru yang dipilih paus ini, ingatlah bahwa selama 1.100 tahun, setiap paus yang baru terpilih telah memilih nama yang telah digunakan oleh beberapa paus lainnya di hadapannya. Nama setiap paus sejak Lando, yang memerintah dari tahun 913 hingga 914, diikuti oleh sebuah angka Romawi, dan satu-satunya paus yang telah memilih nama baru, John Paul I, telah secara eksplisit menyebutkan nama pausnya menurut nama dua pendahulunya, John XXIII dan Paulus VI. Maka ketika Bergoglio memilih nama yang benar-benar baru, Paus Fransiskus menunjukkan bahwa dia siap untuk bergerak ke jurusan yang baru.


Sebuah Debut Sensasional

Ketika paus yang baru terpilih ini melangkah keluar ke loggia basilika Vatikan, penampilannya menimbulkan sensasi yang lain. Dia mengenakan jubah putih kepausan dan zucchetto, tetapi tidak dalam mozzetta (jubah merah pendek) dan stola dimana paus-paus sebelumnya telah memakai bagi penampilan publik pertama mereka. Setelah kejutan awal yang agak canggung dari burung gagak itu, dia berdiri dengan tenang, tangannya terlipat, sampai tepuk tangan mulai mereda. Ketika dia berbicara, dia mulai dengan salam sederhana: Buona sera.

Melanjutkan dengan nada yang sama, paus baru itu mengatakan kepada orang banyak, “Anda tahu, adalah tugas konklaf untuk memberi kepada Roma seorang uskup baru.” Tentu saja! Tidak seorang pun di St. Peter's Square perlu diingatkan tentang keadaan yang ada. Francis melanjutkan, ”Sepertinya saudara-saudaraku, para kardinal, telah hampir sampai ke ujung bumi untuk menemukannya. Tapi di sini kita berada.”

Ini adalah sebuah sensasi: seorang paus yang mengatakan kepada dunia bahwa para kardinal diharuskan memilih seseorang sebagai paus tertinggi dan tampaknya dia seakan menyesali pilihan mereka. Kata-katanya mengisyaratkan bahwa pemilihan dirinya adalah kebetulan — "di sini kita berada" — dia dan dunia Katolik harus membuat yang terbaik dari hasil pemilihan itu.

Ketika ia melanjutkan, Francis menyebut dirinya sebagai uskup Roma, tidak pernah menyebut dirinya sebagai "paus" dan menyinggung keunggulan barunya hanya secara tidak langsung, ketika ia mengamati bahwa Gereja di Roma "adalah orang yang memimpin semua gereja di kemurahan hati." Apakah ini menjadi tampilan lain dari kerendahan hati? Tidak diragukan lagi, tapi itu adalah sesuatu yang lebih. Francis meletakkan dasar bagi pemahaman baru tentang jabatan Petrus, yang akan menghilangkan jebakan kekuasaan monarki, dan bukannya menekankan peran uskup Roma sebagai fokus persatuan bagi Gereja universal.

Saat dia melanjutkan, Francis menyebut dirinya sebagai uskup Roma, tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri sebagai "paus" dan mengacu pada keunggulan barunya hanya secara tidak langsung, ketika dia mengamati bahwa Gereja di Roma "adalah orang yang memimpin semua gereja di Roma." amal. ”Apakah ini tampilan kerendahan hati yang lain? Tidak diragukan lagi, tapi itu lebih dari itu. Francis meletakkan dasar untuk pemahaman baru tentang kantor Petrine, yang akan menjatuhkan perangkap kekuasaan monarki dan lebih menekankan peran uskup Roma sebagai fokus kesatuan Gereja universal.

Paus baru ini menyimpulkan dengan satu gerakan sensasional lagi. Dia diharapkan untuk mengakhiri ceramah pertamanya dengan memberikan berkatnya urbi et orbi — kepada kota (di sini diwakili oleh orang banyak di St Peter's Square) dan kepada seluruh dunia. Francis memperkenalkan kerutan baru: “Sebelum uskup memberkati umatnya, saya meminta anda untuk berdoa kepada Tuhan agar memberkati saya.” Kemudian dia, sebagai “uskup,” menundukkan kepalanya, dan keheningan turun di atas Vatikan selama beberapa saat yang panjang sebelum akhirnya dia memberikan berkatnya. Bahkan saat itu meski dia belum selesai, dia berkata lagi "Berdoalah untuk saya," dia mendesak kepada kerumunan massa, "dan kita akan melihat satu sama lain segera."

Setelah penampilan publik pertamanya, Francis dan semua kardinal yang telah memilihnya kembali ke rumah kediamannya di St. Martha, tempat mereka menginap selama konklaf, untuk mengambil barang-barang mereka. Ketika minibus terakhir meninggalkan Basilika Santo Petrus, beberapa kardinal tercengang melihat bahwa pengganti Santo Petrus ikut naik mobil bersama mereka. Dia tidak berpikir bahwa dia dapat memerintahkan memakai kendaraannya sendiri dan bahwa para pembantu Vatikan akan segera melompat untuk melakukan perintahnya. Dia masih menganggap dirinya sebagai satu anggota — diakui sebagai anggota terkemuka — dari persekutuan para uskup.

Keesokan harinya, hari Kamis, Francis keluar dari Vatikan untuk berdoa di Basilika St. Mary Major, di Roma. Mengapa dia memilih gereja itu? Karena St. Mary Major adalah gereja tertua di Roma yang didedikasikan untuk Bunda Maria, yang terbesar dan paling menonjol? Ya, dan paus juga memilihnya karena basilika itu menyimpan gambar Maria Salus Populi Romani: pelindung orang-orang Roma. Sekali lagi dia menekankan jabatan uskup Roma dan komitmennya pada keuskupan setempat.

Staf basilika dipojokkan ke dalam kebingungan oleh kunjungannya yang tak terduga. Bangunan itu, seperti biasa, penuh peziarah dan turis. Haruskah orang-orang itu diminta minggir sehingga paus bisa berdoa secara pribadi? Francis menentang langkah-langkah khusus seperti itu, dan bersikeras bahwa dia hanya ingin berdoa di hadapan ikon yang dicintai banyak orang. Dengan sebuah kesepakatan mendadak, petugas setempat tidak perlu mengosongkan seluruh basilika, tetapi hanya membersihkan daerah tempat paus akan berada.

Sekembalinya ke Vatikan, paus yang baru itu berhenti di Domus Internationalis Paulus VI, di mana dia telah menginap sebelum konklaf, untuk mengambil barang-barangnya dan melunasi tagihannya. Laporan-laporan tentang demonstrasi kerendahan hati paus ini — bayangkan seorang paus mengambil dari dalam dompetnya sendiri untuk membayar tagihan! —menyebar cepat ke seluruh dunia. Sebenarnya adegan itu belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah pemilihannya, Benediktus XVI diam-diam mengunjungi apartemen yang telah dia tempati selama bertahun-tahun untuk mengambil beberapa buku dan barang-barang lainnya, tetapi tidak ada fotografer yang mencatat bahwa paus sedang mengurusi kepentingan pribadinya.

Citra paus baru ini sebagai seorang pria sederhana dan rendah hati, yang mengesampingkan ornamen megah dari istana kepausan, dengan cepat tertancap di benak publik. Tapi ada satu catatan masam yang sebagian besar hilang dalam liputan media atas kepausan baru itu. Menurut beberapa wartawan, ketika seorang pembantu mencoba menempatkan mozzetta tradisional di pundaknya sebelum penampilan pertamanya di loggia Santo Petrus, Francis menyikatnya dengan saksama, menyatakan bahwa “karnaval sudah berakhir.”

Laporan-laporan itu sepertinya tidak mungkin. Ucapan "karnaval," jika benar, jelas merupakan tamparan bagi Paus Benediktus, yang dengan senang hati menghidupkan kembali penggunaan beberapa jubah kepausan tradisional, seperti saturno bertepi lebar dan sandal merah, karena penghargaan yang besar bagi sejarah dan otoritas yang dilambangkannya. Mengapa seorang paus baru, pada saat ini, sebelum penampilannya yang penuh dengan kemenangan, membuat komentar pedas tentang pendahulunya? Kisah lain adalah tentang paus yang menolak mozzetta dengan lembut, "Saya lebih suka tidak memakainya." Tetapi mengapa seorang reporter menciptakan kata "karnaval" jika hal itu tidak diucapkan paus? Dan jika dia benar-benar telah menggunakan kata itu, atau sesuatu seperti itu, mengapa paus yang baru terpilih menjadi sangat marah?

No comments:

Post a Comment