Tuesday, July 2, 2019

PROF. DE MATTEI: PARA KARDINAL DAN PARA USKUP, APAKAH ANDA...




PROF. DE MATTEI:
PARA KARDINAL DAN PARA USKUP, APAKAH ANDA SUNGGUH MENGINGINKAN SEBUAH GEREJA SEPERTI INI?



"Akankah para uskup, penerus para Rasul tetap diam? Akankah para kardinal, penasihat Paus dalam pemerintahan Gereja tetap diam?, di hadapan manifesto politik-keagamaan yang memutarbalikkan doktrin dan praksis dari Tubuh Mistik Kristus?"

Reaksi pertama sebagai tanggapan terhadap Instrumentum Laboris untuk Sinode Amazon mendatang difokuskan pada ‘pembukaan pintu’ bagi para imam yang menikah dan pengesahan wanita ke dalam jabatan sakramental Gereja. Tetapi Instrumentum Laboris adalah sesuatu yang lebih dari itu: Instrumentum Laboris adalah sebuah manifesto bagi eko-teologi pembebasan yang mengusulkan "visi-kosmos" dari paham panteisme, egaliter, yang tidak bisa diterima oleh seorang Katolik sejati. Gerbang-gerbang Magisterium, sebagaimana dikatakan oleh José Antonio Ureta, dengan tepat disoroti dan  dibuka lebar-lebar bagi masuknya "Teologi dan Eko-teologi Indian,” yang merupakan dua turunan dari teologi pembebasan di Amerika Latin. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan kegagalan "sosialisme nyata", pendukung Teologi Pembebasan (TP), dengan gaya Marxis, menghubungkan peran historis kekuatan revolusioner dengan masyarakat adat dan alam."

Dalam dokumen itu, yang diterbitkan oleh Takhta Suci pada 17 Juni, Amazon telah "meledak" ke dalam kehidupan Gereja seperti sebuah "entitas baru" (Instrumentum Laboris / IL no.2). Tapi apakah Amazon itu? Ini bukan hanya tempat fisik dan "biosfer yang kompleks" (IL no.10) tetapi ia  juga sebuah "kenyataan yang penuh dengan kehidupan dan kebijaksanaan" (IL no.5), yang naik kepada sebuah paradigma konseptual dan memanggil kita kepada “perubahan pastoral, ekologis dan sinodal."(IL no.5). Untuk menjalankan peran kenabiannya, Gereja harus memperhatikan "bangsa Amazon" (IL no.7). Orang-orang ini dapat hidup dalam "interkomunikasi" dengan seluruh kosmos (IL no.12), tetapi hak-hak mereka terancam oleh kepentingan ekonomi perusahaan multinasional, yang, sebagaimana dikatakan oleh penduduk asli Guaviare (Kolombia) "telah memangkas pembuluh nadi dari Bumi Pertiwi."(IL no.17).

Gereja mendengarkan "tangisan, baik dari orang-orang dan dari bumi (IL n.o18), karena di Amazon" tanah adalah tempat teologis dimana iman itu hidup. Ini juga merupakan sumber yang unik dari wahyu Allah"(IL no.19). Jadi, sumber ketiga dari Wahyu telah ditambahkan (oleh penulis IL) ke dalam Kitab Suci dan Tradisi: Amazon, tanah di mana "semuanya terhubung "(IL no.20), semuanya "terkait secara konstitutif, hingga membentuk sebuah keseluruhan yang vital." (IL no.21). Di Amazon, cita-cita Komunisme terpenuhi, mengingat bahwa dalam kolektivisme suku asli, maka "semuanya akan dibagi merata dan ruang-ruang pribadi (ciri khas dari modernitas) menjadi  minimal."

Masyarakat pribumi telah dibebaskan dari monoteisme dan telah memulihkan animisme dan politeisme. Memang, seperti yang tertulis dalam IL no.25: "… kehidupan komunitas Amazon belum dipengaruhi oleh peradaban Barat. Hal ini tercermin dalam kepercayaan dan ritus tentang tindakan roh dan kepercayaan adanya dewa-dewa, yang diberi berbagai nama yang berbeda - dengan dan di wilayah itu, dengan dan dalam hubungannya dengan alam.

Visi kosmos ini diterapkan dalam 'mantra' Francis: "semuanya adalah terhubung" (IL 16, 91, 117, 138, 240).

Dokumen itu juga menegaskan bahwa "visi kosmos" Amazon mencakup "kebijaksanaan leluhur, sumber kehidupan spiritual dan budaya asli (IL no. 26). Jadi, "penduduk asli Amazon harus banyak mengajari kita (...) . Jalan evangelisasi yang baru harus dibangun dalam dialog dengan kebijaksanaan nenek moyang di mana benih-benih Firman dinyatakan." (IL no.29).

Kekayaan Amazon [saat itu] bukanlah menjadi monokultur, tetapi menjadi sebuah "dunia multi-etnis, multi-kultural, dan multi-agama" (IL no.36) yang dengan itu semua kita perlu berdialog. Orang-orang di Amazon, "mengingatkan kita tentang masa lalu dan luka-luka yang ditimbulkan selama periode penjajahan yang panjang. Untuk ini paus Francis telah meminta 'dengan rendah hati untuk diberi pengampunan, bukan hanya atas pelanggaran-pelanggaran Gereja sendiri, tetapi juga atas kejahatan terhadap penduduk asli selama apa yang disebut sebagai masa penaklukan Amerika.' Di masa lalu Gereja kadang-kadang menjadi kaki tangan penjajah dan ini telah menghalangi suara kenabian Injil." (IL no.38).

"Ekologi integral" termasuk "transmisi pengalaman kosmologi leluhur, spiritualitas dan teologi masyarakat adat, untuk memelihara Rumah Bersama kita" (IL no.50). "Dalam kebijaksanaan nenek moyang mereka - orang-orang ini - telah menanamkan keyakinan bahwa semua ciptaan adalah saling terhubung, bahwa hal itu patut kita hormati dan menjadi tanggung jawab kita. Budaya Amazon, yang mengintegrasikan manusia dengan alam, menjadi titik acuan untuk pembangunan baru paradigma ekologi integral."(IL no.56).

Gereja harus melepaskan diri dari identitas Romawi dan mengadopsi "wajah Amazon". "Wajah Gereja Amazon menemukan ekspresinya dalam pluralitas masyarakat, budaya, dan ekosistemnya. Keragaman ini membutuhkan pilihan untuk menyajikan Gereja misionaris yang berpandangan ke luar, yang menjelma dalam semua kegiatan, ekspresi, dan bahasanya" (IL no.107) . "Sebuah Gereja dengan wajah Amazonian dalam beragam nuansanya, berusaha menjadi Gereja yang berpandangan keluar" (lih. EG 20-23), yang meninggalkan tradisi mono-kultural, klerikal dan dominasi tradisi kolonial dan yang tahu cara membedakan dan mengadopsi ekspresi budaya yang beragam dari masyarakat, tanpa rasa takut." (IL no.110).

Semangat panteis yang menjiwai alam Amazon adalah ciri utama dari dokumen (IL) tersebut. "Roh Pencipta yang mengisi alam semesta (lih. Keb. 1,7) adalah Roh yang selama berabad-abad telah memelihara kerohanian orang-orang ini bahkan sebelum pemberitaan Injil dan mendorong mereka untuk menerimanya dari dasar budaya dan tradisi mereka sendiri."(IL no.120).

Karena itu, "kita perlu memahami apa yang telah diajarkan oleh Roh Tuhan kepada orang-orang Amazon selama berabad-abad: iman kepada Allah, Bapa-Ibu-Pencipta; rasa persekutuan dan keharmonisan dengan bumi; rasa solidaritas dengan sesama manusia; proyek untuk "hidup dengan baik", kebijaksanaan peradaban berusia seribu tahun yang dimiliki oleh para penatua dan yang berdampak pada kesehatan, hidup bersama, pendidikan dan pemanfaatan tanah, hubungan dengan alam dan Bumi Pertiwi; kapasitas untuk melakukan perlawanan dan ketahanan perempuan pada khususnya; ritus-ritus keagamaan; hubungan dengan leluhur mereka; sikap kontemplatif dan rasa terima kasih mereka; perayaan dan upacara dan rasa hormat yang suci kepada tanah mereka." (IL no.121).

Sekali lagi, dalam terang "desentralisasi yang sehat" dari Gereja, maka "komunitas-komunitas itu meminta agar Konferensi-Konferensi Episkopal mengadaptasi Ritus Ekaristi dengan budaya mereka". "Gereja perlu berinkarnasi dalam budaya Amazon yang memiliki rasa kebersamaan, kesetaraan dan solidaritas yang besar, sehingga klerikalisme tidak diterima dalam berbagai bentuk manifestasinya. Masyarakat adat memiliki tradisi organisasi sosial yang kaya, di mana otoritas berada dalam rotasi dan memiliki semangat pelayanan yang mendalam. Atas dasar pengalaman dalam organisasi ini, akan lebih baik untuk mempertimbangkan kembali gagasan bahwa pelaksanaan dalam yurisdiksi (kekuasaan pemerintahan Gereja ) harus terhubung di semua bidang (sakramental, peradilan, administrasi) dan dengan cara yang permanen kepada Sakramen Tahbisan Suci "(IL no.127).

Atas dasar premis bahwa "selibat adalah sebuah karunia bagi Gereja" maka sebuah permintaan sedang diajukan agar "untuk zona paling terpencil di wilayah itu, sebuah penelitian dibuat tentang kemungkinan penahbisan imamat bagi penatua setempat, terutama penduduk asli, yang dihormati dan diterima oleh komunitas mereka – terutama bagi mereka yang mungkin telah memiliki keluarga yang telah mapan dan stabil - sebagai cara untuk menjamin tersedianya Sakramen-sakramen yang menyertai dan mempertahankan kehidupan Kristiani mereka." IL no.129). Lebih jauh, kita perlu "menjamin kepemimpinan bagi para wanita, bersama dengan ruang-ruang yang lebih luas dan relevan di bidang pendidikan imamat: teologi, katekese, liturgi dan sekolah-sekolah iman dan politik" dan "mengidentifikasi jenis pelayanan resmi yang dapat diberikan pada wanita, dengan mengingat peran sentral yang mereka mainkan saat ini di Gereja Amazon."

Apa lagi yang bisa ditambahkan? "Akankah para uskup, penerus para Rasul tetap diam? Akankah para kardinal, penasihat Paus dalam pemerintahan Gereja tetap diam?, di hadapan manifesto politik-keagamaan yang memutarbalikkan doktrin dan praksis dari Tubuh Mistik Kristus?"


Translation: Contributor Francesca Romana

Best regards,
The Lepanto Foundation


Source:
https://rorate-caeli.blogspot.com/2019/06/de-mattei-dear-cardinals-and-bishops-do.html

*https://edwardpentin.co.uk/amazon-synod-working-document-criticized-for-serving-neo-pagan-agenda/

Source:https://www.aldomariavalli.it/2019/06/20/sinodo-amazzonia-signori-cardinali-e-vescovi-davvero-volete-questa-chiesa/



No comments:

Post a Comment