Saturday, July 27, 2019

GEMBALA YANG SESAT - Bab 4




GEMBALA YANG SESAT
BAGAIMANA PAUS FRANCIS SEDANG MENYESATKAN KAWANANNYA

BAB EMPAT

Memanipulasi Sinode

Kekhawatiran tentang berbagai pernyataan paus Francis yang provokatif dan tentang komitmennya untuk menegakkan doktrin Gereja, muncul dengan diadakannya sebuah pertemuan dalam Sinode luar biasa pada tahun 2014 dan pertemuan dalam Sinode biasa pada tahun 2015. Sampai saat itu dia telah mengeluarkan beberapa dokumen otoritatif, tetapi dokumen kepausan yang mengikuti kedua pertemuan itu akan menjadi sebuah pernyataan resmi yang tidak dapat dihentikan: sebuah pernyataan resmi Magisterium Gereja.

Sinode adalah merupakan sebuah badan penasehat dari para uskup seluruh dunia — beberapa peserta dipilih oleh paus, dan yang lain dipilih oleh rekan-rekan mereka di berbagai konferensi episkopal nasional — yang didirikan (atau dihidupkan kembali) oleh Paus Paulus VI setelah Konsili Vatikan II. Para peserta itu bertemu dalam pertemuan "biasa" setiap tiga atau empat tahun untuk mempertimbangkan berbagai masalah penting dalam kehidupan Gereja, dan mengeluarkan pernyataan akhir setelah beberapa minggu pembahasan. Meskipun tidak memiliki kuasa yang menentukan dalam dirinya sendiri, tetapi pernyataan mereka menjadi dasar bagi "anjuran atau desakan apostolik pasca-sinode" oleh paus, sebuah dokumen pengajaran yang membawa otoritas pengajaran tingkat tinggi.

Majelis Sinode didahului oleh bulan-bulan persiapan sebelumnya. Sebuah topik dipilih dan kantor Sinode Vatikan menyiapkan serangkaian pertanyaan untuk dibahas. Pertanyaan-pertanyaan ini diedarkan di antara para uskup dunia untuk dikomentari, dan saran mereka dimasukkan ke dalam sebuah dokumen kerja kedua, yang berfungsi sebagai dasar untuk diskusi Sinode.

Pertemuan biasa Sinode dijadwalkan pada Oktober 2015, topiknya adalah pernikahan dan kehidupan keluarga. Francis memutuskan untuk mengadakan sesi "luar biasa" untuk bertemu pada bulan Oktober 2014 itu, dengan memberikan topik yang banyak bagi diskusi yang sangat penting ini. Keputusan itu tampak sangat masuk akal, mengingat serangan luar biasa terhadap kehidupan keluarga di awal abad ke-21: tingginya tingkat kehancuran dan perceraian keluarga, meningkatnya kasus kumpul kebo dan pergaulan bebas, tindakan aborsi dan kontrasepsi yang semakin banyak diterima di masyarakat, dorongan untuk mengesahkan ‘perkawinan’ sesama jenis.

Ketika persiapan dimulai, bagaimanapun, menjadi jelas bahwa Francis memiliki prioritas yang berbeda untuk Sinode ini. Dia telah mengadakan sebuah konsistori - sebuah pertemuan dari Dewan Kardinal - bulan Februari 2014, di mana dia akan menunjuk beberapa anggota baru bagi Dewan kardinal. Seperti yang sudah biasa, para kardinal telah berkumpul di Roma sehari sebelum konsistori untuk melakukan diskusi umum. Francis telah meminta seorang uskup Jerman, Kardinal Walter Kasper, pensiunan presiden Dewan Kepausan untuk Persatuan Kristiani, untuk memimpin mereka.

"Proposal Kasper" Menjadi Agenda Utama

Saran ini, yang kemudian dikenal sebagai "usulan Kasper," telah menyerang jantung dari dua ajaran penting Katolik. Pertama, sejak masa-masa awal Kekristenan, Gereja telah mengajarkan bahwa siapa pun yang menerima Ekaristi dalam keadaan dosa berat, dia melakukan dosa berat lainnya yang berupa dosa sakrilegi. Santo Paulus menulis dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus, Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. (1Kor 11:27-28) Kedua, Gereja selalu mengajarkan bahwa siapa pun yang menikah kembali sementara pasangannya dari pernikahan yang sah masih hidup hidup, dia berada dalam keadaan dosa berat.(1) Disiplin ini tidak didasarkan pada aturan yang sewenang-wenang, tetapi berdasarkan Sabda Yesus yang jelas: Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. (Mat. 5:32)

Francis membuka konsistori Februari 2014 - pertemuan pertamanya dengan seluruh anggota Dewan Kardinal sejak pemilihannya, hampir setahun sebelumnya - dengan menggarisbawahi ajaran Gereja bahwa keluarga, berdasarkan pernikahan, adalah "sel dasar dari masyarakat manusia." Mengamati bahwa dalam zaman kita, keluarga “dipandang dengan jijik dan diperlakukan dengan buruk,” maka paus Francis mendesak para pemimpin Gereja untuk berusaha memulihkan “pengakuan betapa indah, benar, dan baiknya membentuk sebuah keluarga.” Kemudian paus Francis juga memperkenalkan Kardinal Kasper, yang berbicara dalam kesempatan itu hampir selama dua jam, menghabiskan hampir seluruh sesi pagi.

Pastor Federico Lombardi, direktur kantor pers Vatikan, mengatakan kepada wartawan bahwa pernyataan Kasper ditujukan untuk para kardinal dan tidak akan dipublikasikan, tetapi dia memberikan ringkasan singkat dari pidato Kasper. Pikiran Kasper sangat "selaras" dengan pemikiran Francis, kata Lombardi, dan dia menekankan peran keluarga sebagai gereja domestik dan sebagai instrumen untuk evangelisasi. Kasper telah berbicara tentang pengertian pernikahan dan keluarga dalam teologi Kristen: didirikan pada saat penciptaan, dirusak oleh dosa, tetapi diangkat ke tingkat sakramen dan ditebus dengan rahmat. Lombardi membenarkan bahwa Kardinal Kasper melakukan pembicaraan tentang subjek yang telah menarik banyak perhatian media: status umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi. Tanpa memberikan rincian tentang pemikiran kardinal Kasper, Lombardi mengatakan bahwa Kasper telah meminta kepada Benediktus XVI, yang telah mendesak adanya pendampingan pastoral yang lebih besar untuk umat Katolik yang berada dalam situasi ini, dan Francis, yang telah mengatakan bahwa masalah pendampingan pastoral tidak harus dilihat sebagai penentangan terhadap pertanyaan kanonik tentang validitas suatu pernikahan. Kasper menutup pidatonya, kata Lombardi, dengan berbicara tentang "hukum bertahap," yang mengeksplorasi bagaimana pasangan-pasangan yang menikah akhirnya bisa memahami ikatan sakramental mereka dan penghargaan yang lebih baik untuk kehidupan keluarga mereka.

Andrea Tornielli memberikan pendapat yang lebih rinci tentang pidato Kasper. Berdasarkan laporan dari para kardinal yang hadir, Tornielli mengatakan bahwa Kasper telah menantang para uskup untuk mengatasi masalah umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi. Gereja tidak dapat mengubah doktrinnya mengenai tidakterceraikannya pernikahan, kata kardinal. Tetapi para pastor dapat dan harus menemukan cara untuk menjangkau umat Katolik yang berada dalam pernikahan yang tidak beres. Dia menekankan bahwa tidak ada situasi yang terlalu sulit bagi belas kasihan Tuhan.

Tornielli juga melaporkan bahwa Kasper telah menyatakan keraguannya tentang proposal untuk memudahkan akses kepada pengadilan Gereja yang mengeluarkan pembatalan perkawinan (anulasi), dan dia kuatir jika proses pembatalan perkawinan akan mengarah pada keluhan-keluhan baru bahwa Gereja telah mengakomodasi semacam “perceraian Katolik” yang munafik. Tetapi dia bertanya apakah mungkin untuk mengijinkan semacam proses penyesalan yang dengan hal itu umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali dapat direkonsiliasi dengan Gereja, sama seperti Gereja awali yang menyediakan proses penyesalan untuk memungkinkan orang-orang yang telah melepaskan keyakinan mereka untuk masuk kembali kedalam Gereja Katolik untuk menghindari adanya penganiayaan.

Seorang Jerman lainnya, Kardinal Reinhard Marx, uskup agung Munich dan Freising, dengan cepat menyarankan agar proposal Kasper harus diumumkan kepada publik. Dia mencatat bahwa Francis memuji presentasi Kasper, dan mengatakan bahwa Kasper telah mengangkat masalah yang “mendalam”. Selain itu, sekitar dua ratus salinan pidato Kasper sudah beredar, telah dibagikan kepada para kardinal dalam konsistori, sehingga tidak dapat dihindari bahwa isinya harus dipublikasikan.

Pada awal Maret, Kasper mengumumkan dalam wawancara dengan Radio Vatikan bahwa dia memang akan membuat buah pikirannya dipublikasikan dalam sebuah buku yang akan diterbitkan dalam bahasa Jerman dan Italia. Proyek ini mendapat persetujuan paus, katanya, yang “ingin diskusi terbuka tentang masalah yang mendesak ini.” “Saya mempertahankan pengajaran penuh Gereja,” dia meyakinkan pewawancara, “tetapi pengajaran itu harus diterapkan pada situasi-situasi konkrit." Gereja harus menemukan cara "untuk membantu, mendukung, dan mendorong" orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali, dan saran Kasper sendiri adalah berupa upaya untuk melakukannya sambil menghindari ‘kekakuan’ dan ‘kelemahan’."


Apa Yang Perlu Didengar Oleh Dunia

Ketika menjadi jelas bahwa proposal Kasper akan menjadi topik utama bagi pertemuan Sinode luar biasa pada bulan Oktober, para pembela ajaran Gereja tradisional tergerak untuk bersikap. Di Amerika Serikat, Ignatius Press mengeluarkan tiga buku, termasuk sejumlah esai oleh para ilmuwan Katolik terkemuka dan para uskup yang secara langsung menyanggah proposal Kasper. (Penerbitan buku ini menimbulkan perselisihan singkat dan terbuka pada pertemuan Sinode, seperti yang saya jelaskan di bawah ini.) Kardinal Raymond Burke, seorang Amerika yang kemudian menjabat sebagai prefek untuk Signatura Apostolik, pengadilan kanonik tertinggi, memimpin dalam mengkritisi proposal Kasper, dengan mengatakan kepada seorang audiens Irlandia bahwa penerimaan usulan Kasper itu akan “merupakan sebuah perubahan dalam ajaran Gereja, yang tidak mungkin boleh dilakukan.” Dia kemudian mengatakan bahwa usulan itu “keterlaluan” dan menunjukkan bahwa kritik terhadap proposal Kasper adalah sekaligus merupakan kritik terhadap paus Francis.

Marah atau tidak, outlet media dunia menyebarkan kabar bahwa Francis berusaha melakukan perubahan dalam ajaran Gereja — atau setidaknya, perubahan dramatis dalam disiplin — sementara pertemuan Oktober mendekat. Pada saat para uskup berkumpul di Roma, proposal Kasper telah mendominasi diskusi publik.

Perhatian yang tidak proporsional diarahkan kepada proposal yang satu ini, terlepas dari manfaatnya, sekaligus mengungkapkan adanya ketidakseimbangan yang serius yang terjadi dalam pendekatan Sinode. Pada saat ketika pernikahan dan keluarga diserang sedemikian rupa yang belum pernah terjadi sebelumnya — maka sebuah krisis sedang mengancam seluruh peradaban kita — para uskup di dunia Katolik nampak terpaku pada kebaikan hukum Gereja. Lebih buruk lagi, dengan berkonsentrasi pada debat ini, mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan satu pesan yang sangat perlu didengar oleh masyarakat kita.

Ketika para bapa sinode memulai acara diskusi mereka di Roma, Mahkamah Agung A.S. mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengabulkan upaya banding atas keputusan pengadilan yang lebih rendah yang telah membatalkan hukum pernikahan negara bagian. Hasil dari keputusan itu adalah bahwa istilah ‘perkawinan’ memiliki makna hukum yang sama sekali baru pada tiga puluh negara bagian, sementara dua puluh negara bagian lainnya (untuk saat ini) tetap berpegang pada definisi tradisional. Jadi, saat ini masyarakat Amerika tidak lagi memiliki pemahaman yang sama tentang apa pernikahan itu.

Orang Amerika tidak sendirian dalam kebingungan mereka. Di seluruh dunia Barat, para politisi dan ahli hukum mengarahkan masyarakat untuk menerima ‘perkawinan’ sesama jenis, sama seperti perkawinan pria-wanita – dimana pada satu atau dua dekade yang lalu ‘perkawinan’ semacam itu secara universal dianggap sebagai hal yang tidak wajar.

Setiap gagasan memiliki konsekuensinya sendiri, dan karenanya tidak mengherankan bahwa ketika kita kehilangan pemahaman teoretis kita tentang apa yang merupakan pernikahan sejati, maka kita juga kehilangan kemampuan praktis kita untuk mempertahankan keutuhan pernikahan. Diterimanya perceraian yang semakin meluas — yang kemudian dianggap sebagai kejadian yang biasa, bukan sebagai pilihan terakhir dalam keadaan yang luar biasa — adalah tanda pertama dari kegagalan itu. Tetapi masalahnya tumbuh secara dramatis dengan penerapan hukum perceraian ‘yang tidak salah’, yang memungkinkan satu pihak untuk memutuskan kontrak pernikahan. Seperti yang diamati oleh ilmuwan politik Stephen Baskerville, "Saat ini sudah tidak mungkin untuk membentuk perjanjian yang mengikat untuk menciptakan sebuah keluarga." Dengan membuat kontrak pernikahan yang permanen dapat diakhiri sesuka hati, maka negara sebenarnya telah mendefinisikan ulang makna pernikahan yang telah diterima sekitar lima puluh tahun yang lalu.

Baskerville telah dengan tepat mengeluhkan bahwa “gereja-gereja tidak pernah mengangkat suara mereka menentang perebutan kekuasaan gereja oleh negara” dalam mendefinisikan kembali makna pernikahan melalui undang-undang perceraian, dan sinode para uskup tidak melakukan apa pun juga untuk mengubah hal itu ketika mereka bertemu pada sinode 2014 dan 2015. Masalah tentang begitu mudahnya melakukan perceraian tidak pernah muncul dalam sinode itu.

Pernikahan sejati membutuhkan komitmen yang sejati. Selama generasi yang lalu, dunia Barat telah melihat peningkatan spektakuler dalam jumlah pasangan yang lebih memilih untuk hidup bersama tanpa menikah: mereka bertingkah seperti pasangan resmi, tetapi menolak untuk membuat komitmen pernikahan. Ini adalah ‘pernikahan’ yang tidak stabil, dan dengan sengaja hal itu dilakukan demikian karena salah satu pasangan dapat saja pergi kapan saja untuk membentuk hubungan yang lain. Pada saat yang sama, tingkat kelahiran di luar nikah telah meroket. Saat ini tingkat ilegalitas (anak haram) di antara semua bayi Amerika yang baru lahir adalah lebih dari 40 persen.

Perceraian dan anak haram telah menghasilkan situasi dalam masyarakat dan keluarga yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana sebagian besar anak-anak, di Amerika Serikat dan di banyak negara Eropa, tidak tinggal di dalam sebuah rumah tangga yang dikepalai oleh orang tua mereka yang sudah menikah. Anak-anak ini akan menghadapi banyak kendala dalam hidup mereka kelak, termasuk kurangnya contoh yang bisa membantu mereka membangun pernikahan mereka sendiri yang stabil dan langgeng. Tidak ada resep yang lebih mujarab untuk masyarakat yang disfungsional seperti ini, dimana populasi didominasi oleh anak-anak dari keluarga yang hancur berantakan. Dan itulah yang sekarang kita miliki.

Namun bagi beberapa pemikir revolusioner, hal itu masih tidak cukup. ‘Ideologi gender’ - gagasan bahwa identitas seksual seseorang sepenuhnya merupakan masalah pilihan pribadi, - dengan cepat mendapatkan pengaruh di sekolah-sekolah. Ideologi aneh ini, yang sekarang memasuki sekolah-sekolah dasar, merongrong pemahaman bahwa pria dan wanita, ayah dan ibu, dapat dibedakan — sebuah gagasan yang dianggap penting bagi keluarga.

Menilai gawatnya krisis saat ini, Mgr. Cormac Burke menulis:

Meskipun tidak bersikap pesimis secara alami, saya harus mengatakan bahwa kita tidak boleh berkedip melihat kenyataan yang ada, ketika kita tidak pernah menghadapi kenyataan seperti ini di tahun 1950-an, dimana pernikahan dan keluarga, di luar dan di dalam Gereja, telah terjerumus ke dalam krisis yang terus bertumbuh — karena dari sifat dan keberadaan krisis ini, maka struktur sosial kita sedang terancam oleh keruntuhan total.

Seorang hakim senior dari Rota Roma, pengadilan banding tertinggi Gereja, Mgr. Burke, memiliki banyak pengalaman mengevaluasi pernikahan yang hancur seperti yang lain-lainnya. “Jika saya harus meringkas penyebab dari krisis ini dalam satu faktor,” tulisnya, “mungkin adalah ini: pernikahan tidak lagi dipahami sebagai usaha keluarga. Hal ini pada dasarnya menjadi urusan 'kamu-dan-aku' ”.

Pernikahan sejati memiliki tiga karakteristik penting: pernikahan itu setia, berbuah, dan demi kehidupan. Analisis Burke mengarahkan kita kepada karakteristik kedua. Jika pasangan masuk ke dalam ‘perkawinan’ hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, mereka keluarga itu kehilangan unsur penting: orientasi terhadap anak-anak. Jadi kita sampai pada rahasia besar pengajaran Katolik tentang perkawinan: kebutuhan untuk bersikap terbuka terhadap kehidupan baru (punya anak).

Dalam ledakan protes yang menyambut terbitnya Humanae Vitae, ensiklik Paus Paulus VI 1968 yang menegaskan kembali kecaman tradisional Gereja terhadap kontrasepsi buatan, sebagian besar pemimpin Katolik berlarian mencari perlindungan, mengabaikan pembelaan publik atas hubungan antara pernikahan dan anak-anak. Berbicara kepada Wall Street Journal hanya beberapa bulan sebelum Sinode diselenggarakan pada 2014, Kardinal New York, Timothy Dolan, mengakui bahwa hierarki Gereja Katolik telah melewatkan kesempatan penting dengan tidak bersedia menerima pesan Humanae Vitae: “Kami kehilangan kesempatan untuk menjadi suara moral yang tegas ketika menghadapi salah satu masalah yang lebih menyengat saat ini."

Saat ini masalahnya adalah: Apa yang dimaksud dengan pernikahan? Jika pertanyaan itu dijawab dengan tidak benar, maka kehidupan keluarga yang sehat menjadi pengecualian dan bukan menjadi aturan yang harus dipatuhi. Tanpa keluarga yang sehat, peradaban kita akan hancur.

Satu-satunya lembaga yang dapat memimpin pemulihan pemahaman yang tepat tentang pernikahan dan keluarga adalah Gereja. Tetapi sinode para uskup 2014 & 2015 memilih untuk fokus pada bagaimana mengakomodasi umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali daripada membahas mengapa ada begitu banyak umat Katolik tidak lagi memahami tidakterceraikannya pernikahan atau bahkan otoritas Sepuluh Perintah Allah.

Sama pentingnya dengan mempertahankan integritas keluarga, maka Gereja Katolik melangkah lebih jauh dalam mengajarkan bahwa pernikahan sakramental adalah cerminan dari kasih Allah bagi umat-Nya; Gereja adalah Mempelai Wanita Kristus. Seperti Katekismus Gereja Katolik mengatakan, “Sakramen perkawinan menandakan persatuan Kristus dan Gereja-Nya.” Oleh karena itu, setiap saran, yang mengatakan bahwa ikatan perkawinan dapat diputuskan atau bisa memudar, hal ini menyiratkan bahwa kasih Kristus kepada Gereja mungkin juga bisa berhenti.


Transparansi Dalam Teori, Manipulasi Fakta

Bahkan sebelum para peserta sinode tiba di Roma pada awal Oktober 2014, semua orang sudah tahu bahwa persidangan akan berputar di sekitar satu pertanyaan sentral: Apakah paus dan teolog favoritnya dapat mengatasi perlawanan dari penjaga lama Vatikan dan mendorong perubahan dalam praktik Gereja mengenai pernikahan dan perceraian? Masih harus dilihat apakah kontes ini akan berlangsung di lapangan yang sama.

Dalam pidatonya kepada para uskup pada hari pertama diskusi mereka, paus Francis tampak mengindikasikan hal itu. Dia mendesak para peserta Sinode untuk berbicara dengan berani, “tanpa rasa sungkan, tanpa rasa takut.” Sekretaris jenderal sinode, Kardinal Lorenzo Baldisseri, menggemakan pesan itu, dan mengatakan bahwa “diskusi di dalam sinode harus terbuka.” Kenyataannya, secara dramatis berbeda. Pertemuan sinode Oktober 2014 jauh kurang transparan dari sesi-sesi sebelumnya.

Di masa lalu, para wartawan diizinkan untuk menghadiri sesi rapat-rapat kerja. Pidato para uskup diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan dipublikasikan. Pembicaraan itu mungkin panjang dan kering; diskusi mungkin terputus-putus. Tetapi siapa pun yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di dalam sinode dapat dengan mudah menemukan catatan lengkap dari persidangan.

Namun, untuk sesi ini, kantor pers Vatikan hanya memberikan ringkasan singkat tentang proses persidangan hari itu. Argumen yang memakan waktu beberapa jam diringkas menjadi beberapa paragraf. Beberapa kutipan langsung dapat dimasukkan dalam ringkasan, tetapi nama pembicaranya tidak disebutkan. Uskup mana yang menunjukkan poin mana? Pengamat hanya bisa menebak-nebak saja.

Ringkasan-ringkasan ini memastikan bahwa dunia luar tidak bisa mengetahui apa pun tentang sinode yang tidak disaring melalui kantor pers Vatikan. Jika para pejabat yang menyiapkan ringkasan tidak menemukan argumen yang layak disebutkan, tidak ada yang bisa mengetahuinya. Alih-alih diinstruksikan oleh para peserta sinode sendiri, para jurnalis pun diperintah dan didikte oleh kantor pers Vatikan.

Sensor semacam itu hampir selalu menjadi bumerang. Selalu ada kebocoran berita atau fakta. Selalu ada wartawan yang giat mencari informasi dari orang dalam dan sumber-sumber yang siap memasoknya. Ketika semuanya ada dalam catatan, wartawan yang jujur ​​dapat memilah-milah argumen dan bantahan, mencatat identitas peserta kunci dalam debat, dan mencapai kesimpulan logis tentang tren diskusi. Namun, ketika informasi sangat berharga, maka orang dalam dapat memajukan agenda khusus mereka dengan memainkan argumen mereka sendiri dan melemparkan lawan-lawan mereka dengan cara yang tidak bisa dibilang sopan.

Para pejabat sinode mengatakan bahwa pembatasan itu dimaksudkan untuk mendorong keterbukaan. Jika sesi-sesi bersifat tertutup, mereka beralasan, supaya para uskup tidak akan merasa terhambat untuk berbicara dengan jelas. Dengan tidak adanya wartawan di antara peserta rapat, mereka bisa bersikap blak-blakan, karena yakin bahwa perselisihan mereka tidak akan menjadi berita utama di hari berikutnya.

Tapi apa salahnya bagi dunia jika bisa melihat para uskup Katolik sedang dalam perdebatan sengit? Mengapa tidak membiarkan saja perbedaan pendapat itu diketahui semua orang — dan menjadi masalah publik?

Kardinal Gerhard Müller dari Kongregasi untuk Ajaran Iman telah menganjurkan pendekatan yang lebih terbuka. "Semua orang Kristiani memiliki hak untuk mendapat informasi tentang intervensi oleh para uskup mereka," katanya. Mereka yang mengikuti debat dalam sinode itu dapat belajar dari perselisihan para uskup, mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah-masalah tersebut.

Terlepas dari kerahasiaan resmi, laporan-laporan yang sangat beragam dari persidangan mulai muncul di media massa. Ketika para peserta sinode bertanya-tanya: yang mana dari rekan-rekan mereka yang mungkin merupakan sumber berita, atmosfer kepercayaan mulai memburuk. Robert Royal, seorang penulis dan komentator Katolik Amerika yang telah meliput beberapa pertemuan sinode sebelumnya, melaporkan bahwa suasana di Roma luar biasa tegang, komentar-komentar yang terdengar di kafe-kafe sering kali sangat pahit, kadang-kadang sangat tidak menyenangkan.

Ketegangan dan bahkan kepahitan semakin diperparah, setidaknya di kalangan yang lebih bersikap konservatif, oleh penerapan standar ganda yang mencolok dalam seruan untuk melakukan diskusi terbuka dan tidak terkekang. Kardinal Burke, sebagai contoh dalam berbicara tegas "tanpa rasa sungkan, tanpa rasa takut," adalah objek atau sasaran desas-desus - yang terbukti akurat - bahwa paus Francis memberikan sinyal ketidaksukaannya kepada Kard.Burke dengan memindahkannya dari jabatannya yang berpengaruh, sebagai kepala Apostolik Signatura, dan mengirimnya ke posisi yang kurang penting. Sementara itu Kardinal Kasper ada di mana-mana di media, mempromosikan argumennya bahwa Gereja harus mengizinkan umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni. Sumber-sumber yang dapat dipercaya mengungkapkan bahwa Kardinal Müller, yang tugasnya adalah melindungi doktrin Katolik, telah diberitahu bahwa dia tidak boleh mempromosikan buku yang isinya mengkritik proposal Kasper.


Misteri Dokumen-Dokumen Dipotong Isinya

Kard.Müller adalah salah satu dari lima kardinal yang menyumbang beberapa bab pada buku Remaining in the Truth of Christ, di mana sejumlah sarjana berpendapat bahwa proposal Kasper tidak sesuai dengan pengajaran dan praktik pastoral Gereja. Pastor Robert Dodaro, seorang sarjana patristik Amerika di Roma, yang sangat akrab dengan Kardinal Burke dalam mengumpulkan bahan-bahan bagi buku itu, yang diterbitkan oleh Ignatius Press di San Francisco, yang dipimpin oleh imam Yesuit Joseph Fessio.

Berharap untuk menjelaskan diskusi sinode pada bulan Oktober, Pastor Fessio berusaha untuk memberikan salinan buku itu ke tangan para peserta sinode. Banyak dari mereka yang menginap di St. Martha di Vatikan, sedangkan yang lain telah mencari akomodasi mereka sendiri, dan mereka yang merupakan penduduk Roma akan pergi ke pertemuan-pertemuan dengan berangkat dari apartemen mereka sendiri. Kantor pusat sinode memiliki alamat lokal untuk semua peserta tetapi menolak untuk merilis daftar itu kepada wartawan.

Dengan alamat-alamat yang dapat ditemukannya sendiri, Ignatius Press mengirimkan salinan buku Remaining in the Truth of Christ kepada sebanyak mungkin peserta sinode. Beberapa salinan diserahkan secara langsung kepada para uskup yang tinggal di kediaman St. Martha, sementara yang lain dikirimkan ke apartemen di Roma atau ke seminari-seminari dan tempat tinggal lainnya di mana para pesertanya diketahui menginap. Tetapi masih ada sejumlah uskup yang alamatnya sementara, tidak dapat ditemukan oleh penerbit.

Tim Pastor Fessio akhirnya memutuskan untuk mengirim buku itu ke setiap uskup yang berpartisipasi dalam pengelolaan kantor pusat sinode. Buku itu diserahkan di kantor pos Italia di Roma, paket-paket dikirimkan (tetapi tidak cukup cepat, seperti yang biasanya dilakukan oleh pihak pos Italia) ke kantor pos Vatikan sendiri. Beberapa amplop besar masuk ke kotak surat sementara yang telah disiapkan untuk para peserta sinode. Tetapi kemudian, secara misterius, surat-surat itu menghilang.

Dalam bukunya The Rigging of a Vatican Synod, Edward Pentin melakukan upaya terbaik untuk memberikan penjelasan tentang ‘larinya’ buku-buku itu dari kotak pos Vatikan. Rincian yang muncul terbukti sulit untuk dipahami, tetapi dua fakta muncul. Pertama, ketika banjir buku tiba, kantor pos Vatikan mengirimkan banyak — mungkin semuanya — dari buku-buku dan surat-surat mereka tanpa membubuhkan cap pos yang resmi. Kedua, sekretaris jenderal kantor pusat sinode, Kardinal Baldisseri, telah mengetahui isi dari amplop-amplop itu dan dilaporkan dia sangat marah. Paket-paket itu tampaknya telah dikembalikan ke kantor pos Vatikan untuk dicap dengan benar, dan beberapa dari amplop itu mungkin telah menemukan jalan mereka kembali ke kotak-kotak surat Vatikan bagi para uskup lebih dari seminggu kemudian, ketika diskusi sinode sudah selesai. Namun, banyak uskup melaporkan bahwa mereka tidak pernah menerima salinannya. Orang-orang yang menaruh curiga, berteori bahwa jika buku-buku itu akhirnya dikirimkan, maka buku-buku itu kemudian secara sengaja dikeluarkan dari kotak surat para uskup.

Pastor Federico Lombardi menolak cara-cara konspirasi semacam itu. Buku-buku itu telah dikirimkan, katanya kepada wartawan; memang beberapa uskup melaporkan telah menerima lebih dari satu salinan. (Hal itu tidak diragukan lagi, adalah benar. Dalam semangat mereka untuk memastikan bahwa buku-buku itu mencapai para peserta sinode, tim penerbit telah menggunakan semua alamat yang tersedia dan dalam beberapa kasus memiliki lebih dari satu alamat untuk seorang uskup tertentu.) Kardinal Baldisseri, sambil mengeluh bahwa distribusi buku itu adalah upaya untuk mempengaruhi diskusi sinode, membantah bahwa kantornya telah melakukan upaya jahat untuk menghalangi buku-buku agar tidak sampai kepada alamat yang dituju. Yang pasti, buku Remaining in the Truth of Christ diterbitkan dengan tujuan untuk mengaktivkan perdebatan. Tetapi redaktur dan penerbit buku itu berharap untuk mempengaruhi debat dengan menghadirkan argumen-argumen persuasif, bukan membatasi arus informasi kepada para peserta sinode.

Keluhan bahwa penyelenggara sinode terlibat dalam upaya mereka sendiri untuk mempengaruhi hasil sinode, menjadi lebih sering muncul seiring hari-hari persidangan berlalu. Dalam satu diskusi yang sangat kontroversial, Kardinal George Pell yang dilaporkan telah menggebrakkan tangannya ke atas meja dan berseru, "Anda harus berhenti memanipulasi sinode ini!"


Laporan Sementara Sinode Memicu Reaksi Marah

Kontroversi di dalam sinode semakin meningkat pada tanggal 13 Oktober 2014 dengan dirilisnya laporan sementara - relatio post disceptationem - yang seharusnya meringkas hasil diskusi pada minggu pertama sinode, dan berfungsi sebagai dasar untuk musyawarah pada minggu kedua. Namun, banyak peserta yang menganggap bahwa laporan sementara itu salah mengartikan pandangan dan pendapat mereka. Keesokan harinya, kantor pers Vatikan mengumumkan dengan nada membela diri, dan mengatakan bahwa "suatu nilai tertentu telah dikait-kaitkan dengan dokumen, dimana keduanya tidak ada hubungannya sama sekali," dan menekankan bahwa itu hanyalah sebagai "dokumen kerja."

Pada konferensi pers yang mendahului dirilisnya laporan sementara (relatio), para wartawan secara terbuka memperlihatkan sikap skeptis mereka tentang beberapa bagian dari dokumen yang lebih kontroversial. Ketika ditanya tentang pernyataan bahwa kaum homoseksual "memiliki karunia dan kualitas yang layak dibagikan kepada komunitas Kristiani," Uskup Agung Bruno Forte, yang merancang bagian kalimat itu, memberikan jawaban yang terkesan "bermain-main dengan bermacam-macam ulasan, baik di dalam maupun di luar aula Sinode," demikian lapor wartawan John Allen dari media Crux.

Kardinal Burke menuduh bahwa laporan sementara (relatio) itu “telah memajukan agenda-agenda yang tidak bisa diterima oleh banyak peserta sinode dan, dan saya bisa mengatakan bahwa para gembala yang setia, tidak akan dapat menerimanya,” dan Kardinal Pell menggambarkan relatio itu sebagai laporan yang “tendensius dan memihak”. Di antara para uskup dengan siapa Pell telah membahas relatio itu, katanya, tiga perempat dari mereka sepenuhnya tidak merasa puas dengan isinya.

Ketika kardinal Wilfrid Napier, dari Afrika Selatan, ditanya apakah para uskup menyetujui relatio itu, dia mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Dokumen itu telah dirilis kepada pers sebelum diserahkan kepada para peserta sinode. Ini adalah poin taktis yang penting, karena kesan pertama akan berlangsung lama. Para reporter yang meliput sinode, yang merasa cemas menunggu berita-berita solid tentang jalannya musyawarah, akan menelan saja dokumen pertama ini dan menyiarkannya ke seluruh dunia. Setiap pernyataan berikutnya dari sinode akan dibaca berdasarkan laporan sementara ini. Jadi, pihak staf sinode telah berhasil menetapkan syarat-syarat mereka bagi perdebatan publik, termasuk diskusi para uskup.

Kardinal Péter Erdő dari Hungaria, yang bertindak sebagai kepala dalam pembuatan laporan sementara sinode, bertanggung jawab (di atas kertas) untuk persiapan pembuatan relatio, tetapi ternyata dia tidak menyembunyikan fakta bahwa sebagian besar dokumen relatio itu telah disiapkan sebelumnya tanpa keterlibatan dirinya. Paus Francis sendiri, yang sering berbicara tentang pentingnya pemerintahan sinode di dalam Gereja, adalah sebagai salah satu pelaku dalam subversi prosedur persidangan dalam sinode ini, setelah dia menunjuk para pejabat yang bertugas dan menjalankan kantor sinode dan dia telah menyetujui keputusan mereka untuk mengeluarkan laporan sementara (relatio) kepada pers sebelum hal itu disajikan kepada para peserta sinode.

Uskup Agung Stanisław Gadecki, presiden konferensi para uskup Polandia, mengatakan kepada Radio Vatikan bahwa relatio itu gagal memberikan dukungan yang kuat bagi "keluarga yang baik, normal, biasa" yang berusaha untuk memenuhi idealisme pernikahan Kristiani. “Bukannya apa yang disebutkan dalam dokumen itu, tetapi apa yang tidak disebutkan, yang justru diperhatikan,” demikian keluh uskup agung itu. "Dokumen ini berfokus pada berbagai macam pengecualian, tetapi apa yang sebenarnya dibutuhkan adalah pernyataan tentang kebenaran."

Banyak uskup yang mengamati bahwa dirilisnya relatio sejak dini, telah memicu liputan besar di media massa, banyak di antaranya tidak akurat, menyampaikan kesan bahwa Gereja akan mengubah ajarannya. BBC, misalnya, mengumumkan bahwa Francis “mencetak kemenangan pertama dengan tenang,” dan meyakinkan bahwa “banyak pemimpin Gereja Katolik melunakkan bahasa mereka yang sebelumnya sangat kritis tentang ‘perkawinan’ gay.”


Sebuah Sikap "Yang Pada Hakekatnya Tidak Dapat Dirubah"

"Kami sekarang bekerja dari posisi yang hampir tidak dapat dirubah," kata Kardinal Napier, merujuk pada liputan media. “Pesannya adalah bahwa inilah yang dikehendaki oleh sinode para uskup, dan bahwa inilah yang dikatakan oleh Gereja Katolik,” katanya. "Apa pun yang kita katakan selanjutnya akan tampak atau terkesan seperti kita melakukan pengendalian yang merusak."

Di antara banyak keberatan mereka terhadap relatio, para kritikus sering mengutip kegagalan dokumen itu untuk memasukkan pemikiran St. John Paul II, dimana "teologi tubuh" adalah salah satu perkembangan magisterial yang paling penting sejak Konsili Vatikan II. Dan nampaknya seolah-olah sudah tepat jika suatu pernyataan baru dalam sinode itu yang berkata ‘membangun di atas fondasi (teologi tubuh) itu.’ Sebaliknya, dokumen itu sebagian besar justru mengabaikan karya dan upaya St. John Paul II.

Proposal Kasper, khususnya, secara langsung bertentangan dengan pengajaran St.Yohanes Paulus II. Dalam bagian 84 dari nasihat apostoliknya, tentang perkawinan dan kehidupan keluarga, Familiaris Consortio, yang dikeluarkan pada tahun 1981, St.Yohanes Paulus II telah menulis bahwa Gereja menegaskan kembali praktiknya, yang didasarkan pada Kitab Suci, bahwa Gereja tidak mengijinkan pemberian Komuni Kudus kepada orang yang bercerai yang telah menikah kembali. Mereka tidak dapat mengakui hal itu dari kenyataan bahwa keadaan dan kondisi kehidupan pasangan yang bermasalah itu secara objektif bertentangan dengan persatuan kasih antara Kristus dan Gereja yang ditandai dan dipengaruhi oleh Ekaristi. Selain itu, ada alasan pastoral khusus lainnya: jika pasangan seperti itu diijinkan untuk menerima Ekaristi Kudus, maka umat beriman akan dituntun ke dalam kesesatan dan kebingungan sehubungan dengan ajaran Gereja tentang tidakterceraikannya perkawinan.

Rekonsiliasi dalam sakramen Tobat, yang akan membuka jalan bagi penerimaan Ekaristi, hanya dapat diberikan kepada mereka yang sungguh bertobat karena telah melanggar tanda Perjanjian dan kesetiaan kepada Kristus, dan dengan tulus mereka siap untuk menjalani cara hidup yang tidak lagi bertentangan dengan ajaran Gereja tentang tidakterceraikannya perkawinan.

Dengan waktu satu minggu yang tersisa dalam sesi rapat sinode, para kritikus relatio (laporan sementara sinode) mengorganisir kampanye yang kuat untuk memastikan bahwa dokumen akhir sinode akan sangat berbeda dari laporan sementara itu. Setelah sebuah pekan pembukaan, di mana setiap uskup memiliki kesempatan untuk berbicara kepada seluruh majelis, para peserta dibagi menjadi sepuluh kelompok kerja, yang diorganisasikan berdasarkan bahasa. Kardinal Baldisseri awalnya mengumumkan bahwa laporan-laporan kelompok kerja tidak akan dipublikasikan. Menurut Marco Tosatti dari media La Stampa, pengumuman itu memancing protes keras oleh Kardinal Erdő. Namun ketika para wali gereja lainnya bergabung dengannya, maka keputusan itu dibalik.

Kelompok-kelompok kerja tersebut menyatakan keterkejutan mereka ketika laporan awal telah dipublikasikan, dan kebanyakan dari mereka mencatat adanya masalah yang serius tentang isinya. Berbicara untuk salah satu kelompok berbahasa Perancis, Kardinal Robert Sarah mengatakan bahwa dia merasa berkewajiban untuk menyuarakan adanya “emosi dan kebingungan yang dipicu oleh penerbitan dokumen yang kami anggap sebagai dokumen kerja yang sederhana (meskipun cukup berguna), dan karenanya, dokumen itu bersifat sementara."

Kardinal George Pell mengatakan kepada jurnal Katolik Inggris The Tablet bahwa sekitar tiga perempat dari para peserta sinode telah mengkritik isi dari relatio, yang dia sendiri gambarkan sebagai "tendensius dan tidak lengkap." Seperti juga banyak uskup lainnya, dia menemukan bahwa relatio itu "…aneh, karena sangat sedikit dalam dokumen itu yang berbicara tentang ajaran Kitab Suci serta ajaran magisterium tentang pernikahan, seksualitas, keluarga." Kardinal Müller mengatakan dokumen itu "sepenuhnya salah" dalam penggambarannya tentang diskusi para peserta sinode, dan dia mengatakan bahwa dokumen itu "sangat memalukan" karena dokumen itu telah menghilangkan pandangan dari beberapa peserta sinode sambil mempromosikan pandangan peserta-peserta yang lain.

Secara khusus, kelompok-kelompok kerja dalam sinode mengeluh bahwa relatio telah gagal untuk mengekspresikan visi positif tentang pemahaman Kristiani soal pernikahan dan kehidupan keluarga dan mereka menyerukan penegasan yang lebih kuat dari ajaran Gereja tentang pernikahan dan seksualitas. Mereka mengamati bahwa relatio berfokus pada situasi problematis, seperti pasangan kumpul kebo, ‘perkawinan’ sesama jenis, dan perceraian. Tanpa mengabaikan masalah-masalah itu, mereka menyarankan agar pernyataan akhir sinode hendaknya “mengandung pesan yang kuat tentang dorongan dan dukungan bagi Gereja dan bagi pasangan menikah yang setia.”

Kelompok-kelompok memuji upaya dalam relatio untuk menggambarkan Gereja sebagai tempat yang menyambut semua orang, apapun dari kesulitan mereka. Tetapi para peserta sinode, demikian kantor pers Vatikan melaporkan, merasa takut jika dokumen itu “dapat memberi kesan kesediaan pihak Gereja untuk melegitimasi situasi keluarga yang tidak wajar,” dan sebagian besar kelompok kerja sinode mempertanyakan kebijaksanaan “gradualisme atau secara bertahap” sebagai bentuk pendekatan pastoral kepada orang-orang yang ‘perkawinannya’ tidak wajar. Sebuah kelompok berbahasa Italia, yang dipimpin oleh Kardinal Angelo Bagnasco, uskup agung Genoa, bersikap lebih kritis lagi dengan mengatakan bahwa laporan pendahuluan itu "tampaknya takut untuk mengungkapkan adanya pendapat tentang beberapa masalah yang sekarang merupakan ekspresi budaya yang dominan."

Laporan-laporan kelompok kerja sinode tidak mengungkapkan konsensus yang mendukung diijinkannya umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menerima Komuni. Namun, sebagian besar kelompok memang menemukan kesepakatan umum bahwa jika memungkinkan, prosedur untuk memperoleh anulasi perkawinan musti disederhanakan.

Sejauh yang bisa diketahui orang luar, sepuluh hari pertama pertemuan sinode berbicara soal perceraian dan pernikahan kembali. Jauh lebih sedikit pembicaraan tentang keluarga sehat, dan lebih sedikit lagi tentang perlunya mempromosikan ajaran Gereja Katolik tentang kesucian dan tidakterceraikannya pernikahan. Agar adil, relatio post disceptationem memang mencurahkan perhatian pada tantangan penginjilan bagi mereka yang hidupnya bertentangan dengan visi Kristiani tentang pernikahan dan kehidupan keluarga — untuk secara perlahan menarik mereka, membantu mereka memahami kebenaran. Tapi dokumen sementara itu masih berfokus pada masalah, bukannya solusi.

Yang sama pentingnya untuk diamati, relatio itu memberi kesan kepada masyarakat umum bahwa Gereja Katolik sedang bersiap-siap untuk menerima keadaan kehidupan (perkawinan) yang tidak wajar, yang sampai sekarang masih dianggap sebagai dosa. Ketika pesan itu menyebar, akan semakin sulit untuk mengajarkan kebenaran tentang seksualitas manusia. Karena itu, kata pertama yang tepat bagi sari sinode ini adalah: kemunduran dalam evangelisasi.


Pengaruh Besar Dari Gereja Jerman Yang Sedang Menurun Moralnya

Dua orang paus sebelumnya, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, sering berbicara tentang "evangelisasi baru" – suatu upaya untuk menghidupkan kembali Iman di dalam masyarakat-masyarakat di mana kekristenan pernah dominan di tempat itu, tetapi kini telah memudar. Sebagian besar, hal itu berarti Eropa dan Amerika Utara, di mana Gereja disana telah mengalami penurunan tajam dalam kehadiran umat di dalam Misa, dalam panggilan imamat dan kehidupan keagamaan, dalam pernikahan gereja, dan dalam hal baptisan.

Tetapi jika Anda mau mengidentifikasi satu negara di Barat, di mana penurunan Gereja Katolik paling jelas, Anda mungkin akan menunjuk kepada Jerman, di mana eksodus besar-besaran telah menjadi bukti dari tidurnya Gereja Jerman dalam pewartaan Injil. Setiap tahun lebih dari seratus ribu orang Jerman secara resmi membatalkan pendaftaran mereka di Gereja Katolik — hal ini untuk mengatakan bahwa tidak ada orang yang menghadiri Misa Kudus. Lebih dari tiga ribu paroki telah ditutup dalam dekade terakhir, sementara jumlah pembaptisan tahunan telah turun sekitar seratus ribu.

Mengapa, kemudian, bahwa agenda dari sesi luar biasa dari sinode para Uskup — temanya adalah tentang keluarga dalam konteks evangelisasi —didominasi oleh orang Jerman? Kardinal Kasper telah memperkenalkan proposalnya untuk memungkinkan umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, untuk menerima Komuni. Kardinal Marx, presiden konferensi para uskup Jerman, telah bersaksi bahwa proposal Kasper itu mendapat dukungan penuh dari para uskup Jerman lainnya. Komentator Katolik Amerika, Amy Welborn, mengajukan pertanyaan yang tepat:

Ya, pertama-tama Anda (Kardinal Marx) harus bertanya mengapa seorang kepala sebuah gereja nasional yang sedang sekarat (Jerman) harus memiliki mikrofon yang terus dihidupkan bagi masalah ini. Mengapa kita mendengarkannya? Bukankah kita seharusnya mendengarkan Gereja di tempat-tempat di mana gereja itu sungguh hidup dan berkembang?

Di manakah Gereja bertumbuh? Paling mencolok di Afrika. Orang bahkan dapat mengatakan bahwa pada awal abad ke-21, Afrika sendiri adalah “konteks penginjilan.” Jadi, sebuah sinode yang didedikasikan bagi masalah keluarga, mungkin akan lebih bermanfaat jika membahas kesulitan-kesulitan yang dihadapi keluarga-keluarga Kristiani di Afrika. Dan ada banyak hal yang bisa dibahas: pengaruh yang kuat dari adat istiadat berhala, poligami, pernikahan paksa dan bisa diceraikan, kemiskinan, kurangnya akses kepada perawatan kesehatan dan pendidikan, perang saudara, bantuan asing yang sering terkait dengan ideologi anti-keluarga, dan, terakhir tapi tidak kalah pentingnya, ekstremisme kelompok agama tertentu dan penganiayaan agama. Ini adalah masalah nyata, menyentuh kehidupan jutaan orang. Tetapi semua masalah itu hampir tidak disebutkan dalam diskusi publik tentang agenda sinode. Justru dunia Barat berkonsentrasi pada masalah favoritnya sendiri: ketidaknyamanan orang-orang Katolik yang relatif sedikit jumlahnya, orang yang bercerai dan menikah lagi, dan sekarang mereka ingin menerima Komuni. Pada saat ketika ada ratusan ribu orang tua berjuang untuk menyelamatkan anak-anak mereka dari kelaparan atau untuk menemukan rumah baru di mana mereka akan aman dari kekerasan, bagaimana bisa orang membenarkan menempatkan proposal Kasper di bagian atas agenda? Dan pertanyaan yang lebih sulit lagi adalah bagaimana menyelesaikan situasi orang-orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali ini, bisa mendorong ledakan baru dari evangelisasi?

Ironisnya, Gereja Afrika memang menjadi fokus perhatian publik selama minggu kedua pertemuan sinode, tetapi bukan karena para uskup sinode membahas masalah keluarga-keluarga Afrika. Kardinal Kasper kedapatan meremehkan para uskup Afrika, yang menolak usulnya. "Mereka seharusnya tidak memberi tahu kami terlalu banyak tentang apa yang harus kami lakukan," keluhnya kepada sekelompok wartawan. Dia menambahkan bahwa orang-orang Afrika juga memblokir diskusi tentang bagaimana Gereja dapat meraih pasangan sesama jenis. Homoseksualitas bahkan tidak disebutkan dalam masyarakat Afrika, menurut pengamatan orang Jerman ‘yang tercerahkan’ itu. "Itu adalah tabu."

Pada awalnya Kasper membantah telah membuat pernyataan yang meremehkan ini, yang nadanya menggurui dan mengisyaratkan nada rasial. Kemudian wartawan Inggris yang telah mengungkapkan komentar-komentarnya, Edward Pentin, merilis rekaman wawancaranya dengan kardinal Kasper. Kasper menjawab bahwa wawancara itu tidak sah, tetapi dalam rekaman itu Pentin dengan jelas memperkenalkan dirinya sebagai seorang reporter, dia sebelum mengajukan pertanyaan. Akhirnya Kasper mengeluh bahwa seharusnya dia berbicara di luar rekaman (off the record). Garis pertahanan terakhir dari Kasper itu segera hancur juga, karena terbukti bahwa dia berkata seperti itu. Dia telah berbicara dengan tiga orang wartawan lainnya, dan dia tidak pernah mengatakan bahwa pernyataannya tidak usah direkam. Kasper bukanlah orang baru dalam permainan ini; karena dia telah sering berurusan dengan media, dengan cukup terampil, selama bertahun-tahun. Dia tentu tahu bahwa komentar-komentar yang dibuatnya kepada para wartawan telah masuk kedalam rekaman, kecuali dia memerintahkan yang sebaliknya.

Jadi, mengapa kardinal Kasper membuat komentar-komentar yang sangat tidak sopan seperti itu? Dan mengapa dia membayangkan bahwa omongannya tidak akan terungkap? Tampaknya dia telah berkenalan dengan dua wartawan lainnya, tetapi tidak dengan Pentin. Rupanya dia yakin (dan ternyata benar) bahwa dua wartawan yang dia kenal itu menerima pandangannya dan tidak mempublikasikan komentarnya yang meremehkan para uskup Afrika. Dengan kata lain, Kasper mengira bahwa dirinya sedang berbicara dengan wartawan sekutunya, bukan dengan pengamat yang netral.

Politisi yang mahir akan tahu bagaimana cara berhubungan dengan media, menawarkan wartawan wawancara eksklusif di sini, sedikit informasi tentang orang dalam di sana, pengarahan tentang latar belakang sekarang dan nanti. Tetapi Kasper telah melakukan upayanya selama berbulan-bulan, untuk mencari dukungan atas inisiatifnya. Dia telah berusaha memperlakukan orang pers dengan baik; dan bukan kebetulan bahwa liputan media tentang proposalnya sangat menguntungkan. Tetapi sekarang dia adalah korban dari kesuksesannya sendiri. Dia sangat malu karena dia membuat asumsi bahwa wartawan Edward Pentin, seperti banyak reporter lainnya, bermain untuk timnya.

Akhirnya, bahkan jika kardinal Kasper mengatakan bahwa dia berbicara di luar rekaman (off the record – tetapi sebenarnya hal ini tidak dia perintahkan kepada Pentin), dan bahkan jika Pentin bertindak tidak etis ketika dia merekam percakapan Kasper, tetapi faktanya adalah tetap: bahwa Kasper memang membuat komentar-komentar yang meremehkan tentang keprihatinan beberapa rekan uskup. Tidak diragukan lagi bahwa Kasper memandang sinode ini sebagai kesempatan untuk mengatasi masalah-masalah Dunia Pertama (Barat dan Eropa) dan melihat para uskup Afrika sebagai penghalang.


Tawaran Awal Bagi Penerimaan Homoseksualitas

Dalam komentar yang tidak terkontrol itu, Kardinal Kasper mengemukakan soal homoseksualitas, dan menyatakan ketidakpuasannya bahwa sinode tidak meluangkan lebih banyak waktu untuk topik itu. Sebenarnya, sangat sedikit yang dikatakan tentang homoseksualitas selama musyawarah para uskup. Pastor Lombardi mengatakan kepada wartawan bahwa dari 250 atau lebih pembicaraan selama sesi pleno, hanya satu pidato yang berfokus pada homoseksualitas.

Namun demikian, tidak kurang dari empat paragraf tentang pendampingan pastoral untuk homoseksual muncul dalam laporan sementara sinode. Kantor berita  Associated Press melaporkan bahwa paragraf-paragraf ini telah dirancang oleh Uskup Agung Bruno Forte, sekretaris komite yang ditunjuk oleh Paus untuk menyusun relatio, dan pada saat konferensi pers yang memperkenalkan relatio itu, Kardinal Erdő tampaknya mengkonfirmasi kewenangan Forte atas isi paragraf-paragraf itu dengan merujuk semua pertanyaan tentang homoseksualitas kepadanya.

Forte dengan jelas memperkenalkan pemikirannya sendiri ke dalam sebuah laporan yang dimaksudkan untuk merangkum ide-ide yang diungkapkan oleh para peserta sinode. Ketika relatio itu dibacakan dengan lantang, Forte dan seorang Jesuit Italia, Antonio Spadaro, saling mengacungkan jempol tangan tanda setuju. Robert Royal mengamati, “Ini sepertinya menunjukkan bahwa mereka bahkan tidak yakin. . . bahwa kalimat-kalimat itu akan bertahan sampai masuk ke dalam dokumen sementara (relatio)."

Beberapa orang dalam, kemudian, dapat menyelipkan ide-ide pribadi mereka ke dalam sebuah dokumen yang dimaksudkan untuk merangkum pemikiran para peserta sinode. Referensi serampangan untuk homoseksualitas adalah satu lagi bukti bahwa para penyelenggara sinode itu  melakukan yang terbaik untuk mengendalikan pertemuan serta pesan yang dihasilkannya.

Kardinal Sarah, prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi, membocorkan komentarnya yang mengecam manipulasi pesan sinode ini. Dalam briefing kepada wartawan, dia mengatakan bahwa “…apa yang telah dipublikasikan oleh media tentang ‘perkawinan’ homoseksual adalah upaya untuk mendorong Gereja untuk mengubah doktrinnya.” Laporan semacam itu tidak akurat, dia mengatakan: “Gereja tidak pernah menghakimi orang homoseks. tetapi perilaku homoseksual dan ‘perkawinan’ homoseksual adalah penyimpangan besar dari seksualitas yang sejati."

Kardinal Sarah juga meminta perhatian pada pernyataan kuat dalam laporan sementara sinode bahwa Gereja Katolik tidak dapat menerima “teori gender.” Sebagai penduduk asli Guinea, Sarah menceritakan bahwa beberapa uskup Afrika mengecam praktik dunia Barat yang sudah jamak dilakukan untuk mengaitkan bantuan asing kepada negara berkembang dengan syarat negara-negara itu mau menerima teori gender dan berbagai ideologi lain yang bersifat anti-keluarga. Masalah ini, kata Sarah, perlu mendapat perhatian lebih luas.

Kardinal Pell juga ingin menghilangkan kesan bahwa sinode akan mendukung perubahan radikal dalam pengajaran Gereja tentang pernikahan. “Kami tidak menyerah pada agenda sekuler; kami tidak akan ambruk," tegasnya. "Kami tidak punya niat untuk mengikuti unsur-unsur radikal di semua gereja-gereja Kristiani, menuruti gereja-gereja Katolik di satu atau dua negara, dan berlari keluar dari masalah ini." Kardinal dari Australia itu menambahkan sebuah pengamatan tajam tentang motif mereka yang mendorong perubahan dalam ajaran Gereja:
Pemberian Komuni kepada orang yang bercerai dan menikah kembali, bagi beberapa peserta sinode — sangat sedikit, tentu saja bukan mayoritas peserta sinode — itu hanyalah puncak gunung es, itu adalah kuda penguntit. Karena mereka menginginkan perubahan yang lebih luas, pengakuan pernikahan sipil, pengakuan ‘pernikahan’ homoseksual.


Sebuah Dokumen Final Yang Tidak Mengena

Setelah badai relatio dan keluhan-keluhan yang panas tentang manipulasi pesan sinode, pertemuan Oktober 2014 bergerak ke arah kesimpulan yang relatif tenang, para uskup menyetujui pesan akhir yang menyatakan penghargaan kepada keluarga dan menyoroti perjuangan yang mereka hadapi. Kehidupan keluarga, pesan tersebut menyatakan, adalah “perjalanan melalui pegunungan dengan kesulitan dan kejatuhan. Tuhan selalu ada untuk menemani kita.” Tidak seperti relatio yang kontroversial itu, laporan akhir sinode mencakup banyak referensi kepada Kitab Suci dan dokumen-dokumen Magisterium.

Para peserta sinode memiliki kesempatan untuk memberikan suara pada masing-masing dari enam puluh dua paragraf laporan, dan kantor pers sinode menerbitkan penghitungan suara untuk setiap paragraf. Misalnya, paragraf 56, yang menyatakan bahwa "sama sekali tidak dapat diterima" bahwa bantuan untuk negara-negara miskin bergantung pada legalisasi pernikahan sesama jenis, yang disahkan dengan selisih suara mencolok : 159-21.

Setiap paragraf dalam laporan akhir menerima suara mayoritas, tetapi tiga paragraf gagal untuk menerima supermajoritas dua pertiga yang diperlukan. Paragraf 52 dan 53 yang menyatakan bahwa para peserta sinode tidak setuju untuk mengijinkan orang-orang yang menikah kembali menerima Komuni, dan bahwa masalah ini memerlukan studi lebih lanjut. Paragraf 55 menyatakan bahwa beberapa keluarga memiliki orang-orang dengan orientasi homoseksual, bahwa mereka harus diterima dengan rasa hormat dan sensitivitas, dan bahwa ‘perkawinan’ sesama jenis adalah jauh tidak mirip dengan pernikahan sejati.

Kardinal Burke menyebut dokumen terakhir itu sebagai sebuah "perbaikan yang signifikan" atas laporan sementara. “Saya bisa mengatakan bahwa itu memberikan ringkasan diskusi yang akurat, meski tidak lengkap, atas apa yang terjadi di Aula Sinode dan dalam kelompok-kelompok kecil,” katanya kepada Catholic World Report. “Ini merupakan pukulan bagi mereka yang menulis materi yang tidak mencerminkan ajaran Gereja mengenai kondisi homoseksual dan tindakan homoseksual, yang menyiratkan bahwa Gereja sekarang ingin melonggarkan pengajarannya yang abadi, dan yang mencoba memperkenalkan materi tentang apa yang disebut 'perkawinan sesama jenis' ke dalam diskusi pernikahan Kristiani."

Dalam pidato penutupnya kepada sinode, paus membandingkan pertemuan dua minggu ini dengan sebuah perjalanan yang sulit. Karena hal itu adalah sebuah "perjalanan umat manusia, dengan menerima penghiburan, dan ada juga saat-saat kesedihan, ketegangan dan godaan, di mana beberapa kemungkinan dapat disebutkan."

Dengan menyebutkan "beberapa kemungkinan" itu, Paus dengan hati-hati seakan mau menyeimbangkan pernyataannya: memperingatkan ‘kaum tradisionalis’ terhadap ‘godaan untuk bersikap tidak fleksibel yang bermusuhan’ dan memperingatkan ‘kaum progresif dan liberal’ atas godaan terhadap ‘sebuah rasa belas kasih yang menipu yang hanya membalut luka tanpa terlebih dahulu menyembuhkannya.’ Dia memperingatkan adanya “godaan untuk mengabaikan 'depositum fidei' [deposit iman]” dan “godaan untuk mengabaikan kenyataan, memanfaatkan bahasa yang sangat licik dan bahasa yang licin untuk mengatakan begitu banyak hal dan untuk tidak mengatakan apa-apa!”

Dokumen terakhir dari pertemuan sinode 2014 tidak lain mengundang perhatian yang lebih dekat terhadap isi dari relatio yang lebih radikal. Dokumen sebelumnya, yang menyarankan perubahan besar dalam pengajaran Gereja, telah diakui lebih layak diberitakan. Tetapi di negara-negara berbahasa Inggris, ada alasan lain mengapa laporan awal lebih menarik perhatian. Terjemahan resmi bahasa Inggris dari dokumen terakhir para uskup tidak tersedia sampai sepuluh hari setelah sinode ditutup, ketika para uskup telah pulang dan para reporter yang meliput acara tersebut telah berpindah membicarakan topik-topik lainnya.

Bahkan kemudian, terjemahan bahasa Inggrisnya memiliki cacat, termasuk satu kelalaian terang-terangan. Pernyataan terakhir para uskup, yang dirilis dalam bahasa Italia, mencatat bahwa para peserta sinode setuju untuk “memahami bagaimana Gereja dan masyarakat dapat memperbarui komitmen mereka pada keluarga yang didasarkan atas perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita.” Kata-kata yang dicetak miring dihilangkan dari terjemahan bahasa Inggris resmi dari Vatikan. Tidak seorang pun yang menyaksikan manipulasi pertemuan sinode 2014 akan berpikir bahwa penghilangan paragraf atau kalimat-kalimat itu adalah tidak disengaja.

______________________________


1. Dekrit pembatalan perkawinan, atau yang biasa disebut "pembatalan atau anulasi," adalah temuan oleh pengadilan Gereja bahwa suatu pernikahan yang dianggap tidak sah — yaitu, bahwa tidak pernah ada pernikahan itu. Pernikahan yang sah tidak akan pernah bisa “dibubarkan.”


No comments:

Post a Comment