Tuesday, July 9, 2019

PAUS FRANCIS MEMPROMOSIKAN TUJUAN-TUJUAN YANG DIBUAT OLEH KOMUNIS




PAUS FRANCIS MEMPROMOSIKAN TUJUAN-TUJUAN YANG DIBUAT OLEH KOMUNIS




Sejak awal kepausannya, paus Francis telah bekerja sangat keras untuk mempromosikan penerimaan dan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals /SDG) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hanya sedikit lebih dari setahun setelah pemilihannya, nama paus Francis telah dikutip dalam United Nations Population Fund (dokumen Dana Populasi PBB) yang berjudul, "Agama dan Pembangunan setelah 2015  (Religion and Development Post 2015)." Dimulai pada halaman 20 dari dokumen ini adalah bagian yang menjelaskan sifat dan harapan dari SDGs. Tetapi pada halaman 21, dokumen itu menunjukkan bahwa paus Francis bertemu dengan para pemimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa, dimana paus Francis menyerahkan seluruh Gereja Katolik kepada SDGs.

“Penghargaan terhadap isu-isu ini tumbuh di dalam PBB, seperti dibuktikan misalnya dalam pertemuan Mei 2014 antara kepemimpinan PBB dan perwakilan Vatikan serta Paus dalam agenda SDG. Pertemuan ini diikuti oleh audiensi antara Sekretaris Jenderal PBB dan paus Francis, yang berkomitmen bahwa Gereja Katolik akan mendukung seluruh upaya SDG."

Jadi, menurut Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Paus Francis telah setuju, beberapa bulan setelah mengumumkan niatnya untuk menulis sebuah ensiklik tentang "ekologi manusia" untuk "berkomitmen bahwa Gereja Katolik akan mendukung upaya SDG." Pada tahun berikutnya, paus Francis menerbitkan ensiklis Laudato Si, yang membuat 23 referensi langsung kepada pembangunan berkelanjutan (SDG).

Pada bulan September 2015, paus Francis berbicara di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan menyampaikan kesediaannya untuk mengadopsi SDG secara universal. Dia berkata:

Realitas dramatis dari seluruh situasi pengucilan dan ketidaksetaraan ini, bersama dengan akibat-akibatnya yang jelas, telah mendorong saya, di dalam persekutuan dengan seluruh umat Kristiani dan banyak orang lainnya, untuk mencatat tanggung jawab saya yang besar dalam hal ini dan untuk berbicara, bersama dengan semua orang yang mencari solusi yang sangat dibutuhkan dan efektif. Adopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan di KTT Dunia, yang dibuka hari ini, merupakan tanda pengharapan yang penting. Saya juga yakin bahwa Konferensi Paris tentang Perubahan Iklim akan mendapatkan kesepakatan mendasar dan efektif.

Pada Nopember 2015, the Pontifical Academy of Sciences, Vatikan, mengadakan sebuah workshop dengan judul Children and Sustainable Development: A Challenge for Education,” yang bisa diperkirakan dari judulnya, bahwa workshop itu akan memusatkan pembicaraan pada bagaimana memberikan indoktrinasi kepada anak-anak mengenai SDG (Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).

Pada Juni 2016, Paus Francis berbicara kepada Akademi Ilmu Sosial Kepausan tentang topik perdagangan manusia. Dalam pidatonya itu, paus Francis menyatakan terima kasihnya karena banyak pihak telah mengadopsi SDGs dengan berkata, "Saya bersyukur atas kenyataan bahwa perwakilan dari 193 negara anggota PBB dengan suara bulat telah menyetujui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang baru."

Pada bulan Maret tahun ini, Paus Francis berbicara kepada para peserta konferensi Vatikan yang berjudul, RELIGIONS AND THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS): LISTENING TO THE CRY OF THE EARTH AND OF THE POOR“.  ("Agama Dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sdgs): Mendengarkan Jeritan Bumi Dan Kaum Miskin".) Dalam pidatonya, Paus Francis memuji adopsi SDGs 2015, dan bahkan menunjukkan bahwa SDGs akan mengarah pada sebuah "tatanan dunia yang berkelanjutan." Dalam pidato pembukaannya, dengan mengutip dirinya sendiri dari Laudato Si, Paus Francis berkata:
“Agenda 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang disetujui oleh lebih dari 190 negara pada September 2015, merupakan langkah maju yang bagus untuk dialog global, ia  menandai sebuah solidaritas baru dan universal yang sangat vital.”(Laudato Si’, 14).

Kemudian dalam pidatonya, membahas apa yang disebutnya sebagai "mitos pertumbuhan dan konsumsi tanpa batas," paus Francis menunjukkan bahwa SDG hanya menyediakan dasar bagi "tatanan dunia yang berkelanjutan" dengan mengatakan:

"Meskipun perlu untuk mengarahkan serangkaian tujuan pembangunan, ia tidak cukup bagi sebuah tatanan dunia yang adil dan berkelanjutan."

Dan hanya beberapa hari yang lalu, berbicara kepada para peserta Konferensi Internasional Yayasan Centesimus Annus Pro Pontifice, Paus Francis  mendesak lebih banyak lagi kemajuan pada tujuan pembangunan berkelanjutan.”

Fokus dan daya tarik yang tumbuh pada SDG dari PBB ini sangat memprihatinkan, terutama mengingat fakta bahwa tujuan tersebut begitu kuat berakar dalam ideologi Komunis.

Jadi, apa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)? Ia adalah rencana PBB untuk menciptakan utopia sosialis global yang disamarkan sebagai program pengentasan kemiskinan. Hal itu adalah buah yang lahir dari Agenda 21, Tujuan Pembangunan Milenium dan sejumlah program sosialis lainnya yang dikembangkan oleh PBB.

Singkatnya, SDG (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) dari PBB adalah langkah pertama dalam mencapai beberapa tujuan yang dinyatakan dalam Manifesto Komunis Karl Marx. Sebenarnya, tujuan-tujuan ini adalah tujuan khas dari Komunis. Berikut adalah snap-shop tentang bagaimana bagian-bagian tertentu dari SDG sejalan dengan tujuan Komunis yang teridentifikasi: 

SDG (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan)
·         Tujuan 1. Mengakhiri kemiiskinan dalam segala bentuknya, dimana saja.
·         Komunis selalu menggunakan penderitaan orang miskin sebagai pembenaran untuk implementasi skema jahat mereka.
·         Tujuan 2. Mengakhiri kelaparan, mendapatkan keamanan di bidang pangan, dan peningkatan nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.
·         Papan 7 dari Manifesto Komunis menyerukan pendekatan top-down untuk industri dan pertanian.
·         Tujuan 3. Memastikan adanya kehidupan yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan semua orang dari segala usia.
·         Sebuah terbitan tahun 1938 tentang Komunis menyimpulkan bahwa “Hanya melalui kemenangan terakhir dari sosialisme dunia, kekayaan yang luas dari pengetahuan ilmiah yang tersedia, benar-benar dapat digunakan bagi manfaat yang penuh demi kemanusiaan. 'Obat yang disosialisasikan' ini adalah ungkapan yang tidak berarti kecuali dalam masyarakat yang dijadikan masyarakat sosialis."
·         Tujuan 4. Memastikan tersedianya pendidikan berkualitas inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua.
·         Papan 10 Manifesto Komunis adalah "Pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah umum."
·         Tujuan 5. Mendapatkan kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan gadis.
·         Komunisme telah mendorong perempuan untuk bekerja sejak awal Revolusi di Rusia.
·         Sasaran 8. Mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, pekerjaan penuh dan produktif, dan pekerjaan yang layak untuk semua.
·         Papan 8 dari Manifesto Komunis: Tanggung jawab yang sama dari semua untuk bekerja. Pembentukan tentara industri, terutama bidang pertanian.
·         Sasaran 11. Menjadikan kota-kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
·         Papan 9 Manifesto Komunis: Kombinasi pertanian dengan industri manufaktur; penghapusan bertahap semua perbedaan antara kota dan negara dengan distribusi populasi yang lebih merata di seluruh negeri.
·         Sasaran 12. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
·         Ini adalah gema dari mandat Karl Marx, "Dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya."
·         Sasaran 17. Memperkuat cara implementasi dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.
·         Ini adalah pemerintahan global murni yang dirancang oleh sebuah entitas dengan otoritas di atas kedaulatan nasional.






Ringkasan ini tidak dimaksudkan untuk memberi pengetahuan secara lengkap, tetapi ia memberikan informasi yang cukup untuk mengingatkan para patriot dan orang-orang Kristiani yang paling suam-suam kuku sekalipun. Tetapi Gereja Katolik, yang telah mengeluarkan kecaman keras terhadap Komunisme dan Sosialisme, seharusnya tidak ada hubungan lagi dengan pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ... namun, organisasi-organisasi ‘keadilan sosial Katolik’ dan para pemimpinnya telah membajak posisi-posisi kunci di Vatikan dan menggunakan pengaruh dan wewenang mereka untuk mempercepat segala rencana yang bertujuan untuk membuat umat beriman sepenuhnya mendukung dan bekerja bagi implementasi SDGs. (Sustainable Development Goals - Tujuan Pembangunan Berkelanjutan)

Hal ini sangat berbahaya dan harus ditentang dengan kuat oleh semua umat Katolik yang setia. Berikut ini adalah gambaran umum dari beberapa SDG yang dengan berani dan mengerikan mendorong terbentuknya pemerintahan komunis global.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang pertama adalah:

Tujuan 1. Mengakhiri semua kemiskinan dalam segala bentuknya di mana saja.
Seolah tujuan ini sangatlah mulia. Tapi tujuan itu sama sekali tidak bisa diraih. Tuhan kita yang terberkati mengatakan dengan sangat jelas, Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." (Yoh. 12: 8) Jika manusia bisa mencapai tujuan ini, maka Tuhan kita akan menjadi pembohong. Namun selain itu, "mengakhiri kemiskinan" adalah salah satu seruan tertua dari revolusi Marxis internasional. Dalam terbitan the Washington Socialist tahun 1915, lebih dari dua tahun sebelum Revolusi Soviet Oktober 1917, sebuah artikel bertuliskan, "Putuskan Obat Hitam bagi Pengangguran" dan dibawahnya ada tulisan lagi: "Apakah ini akan mengakhiri kemiskinan?"

Dalam terbitan kelompok Socialist edisi 1928, “The Daily Worker,” penulis komunis terkenal dan analis kebijakan luar negeri, Scott Nearing, menulis sebuah artikel yang menanyakan "Apakah Ada Terlalu Banyak Mulut?" Dalam artikel itu Scott Nearing menyampaikan tujuan sosialisme dengan sebuah judul yang singkat: Bagaimana mengakhiri kemiskinan.”

Pada tahun 1934, penulis Sosialis, Upton Sinclair, mencalonkan diri sebagai gubernur California dengan semboyannya yang terkenal: Akhiri Kemiskinan di California!”

Program Pemilihan Suara Pekerja, yang awalnya diterbitkan dalam Fighting Worker pada tahun 1936, memberikan gambaran mengerikan tentang harapan yang dimaksudkan untuk masyarakat komunis global yang berfokus pada "penghapusan kemiskinan." Disitu dkatakan bahwa:

“Pemerintah Pekerja akan mengambil alih para pengambil-alih, akan mensosialisasikan industri, akan menjadi kediktatoran terhadap para pengeksploitasi untuk memastikan demokrasi pekerja. Di bawah pemerintahan baru ini para pekerja akan melakukan produksi untuk digunakan, bukannya demi keuntungan pribadi, tempat ia akan mengatur produksi pada tingkat yang lebih tinggi untuk memastikan kelimpahan bagi semua, menghilangkan kemiskinan, pengangguran dan perang, untuk mendirikan negara pekerja, bekerja sama dengan Uni Soviet, dan akan meletakkan dasar bagi masyarakat komunis dunia yang memberikan dukungan material kepada gerakan revolusioner di seluruh dunia.”

Pada bulan Agustus 1945, The Militan, sebuah publikasi dari Liga Komunis Amerika, mencetak sebuah artikel bertuliskan, TIDAK ADA PERDAMAIAN! Hanya Sosialisme Dunia yang Bisa Menyelamatkan Manusia Dari Penghancuran Atom dalam Perang Imperialis Lainnya!” Dalam mengungkapkan kebutuhan untuk membangun Tatanan Dunia Sosialis, artikel itu diakhiri dengan pernyataan singkat tentang bagaimana perjuangan Sosialisme sekarang “lebih dari sekadar perjuangan untuk mengakhiri kemiskinan.”

Pada tahun 1960, The Militant memuat sebuah kisah yang menguraikan platform partai Sosialis, yang menyatakan niatnya untuk “mengakhiri kemiskinan.” Di bawah judul,  Socialist Workers Party Election Platform,” (“Platform Pemilihan Partai Buruh Sosialis”) artikel tersebut menyatakan:

“Tidak ada keraguan sedikit pun juga bahwa ekonomi terencana di Amerika Serikat, dengan tenaga kerja terampil kami, sumber daya kami yang kaya, pabrik industri yang luar biasa dan sains yang sangat maju, dapat dengan cepat mengakhiri kemiskinan di benua ini dan memastikan bahwa setiap orang memiliki kehidupan yang berlimpah, peluang dan pencapaian yang sangat memuaskan."

Ada banyak banyak contoh lain yang bisa kami berikan, tetapi intinya adalah ini saja; rapat umum di sekitar orang miskin dengan tujuan “mengakhiri kemiskinan” telah menjadi ciri khas dari aktivisme Sosialis sejak awal. Tetapi hal lain yang harus dicatat adalah bahwa seruan untuk mengakhiri kemiskinan, seperti yang ditunjukkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang pertama, tidak lebih dari platform peluncuran bagi tujuan-tujuan yang lain, yang sangat menggemakan tulisan-tulisan Karl Marx dan Komunis terkenal lainnya.


Pada tahun 2030, memastikan sistem produksi pangan berkelanjutan dan menerapkan praktik pertanian ulet yang meningkatkan produktivitas dan produksi, yang membantu menjaga ekosistem, yang memperkuat kapasitas untuk adaptasi terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir dan bencana lainnya dan yang secara progresif meningkatkan kualitas tanah.




Walaupun tujuan ini terlalu lemah dalam rencana implementasi aktualnya, yang jelas adalah bahwa tujuannya adalah untuk mengelola produksi pangan sesuai dengan standar internasional dan sistem perencanaan. Aspek-aspek lain dari Tujuan 2 termasuk pemeliharaan “bank benih dan tanaman yang beragam di tingkat nasional, regional dan internasional, dan memastikan akses dan pembagian manfaat yang adil dan merata yang timbul dari pemanfaatan sumber daya genetik” sambil memastikan “akses yang aman dan setara terhadap tanah, sumber daya dan input produktif lainnya.” ”Mungkin cara yang lebih ringkas untuk menempatkan semua ini adalah papan 7 dari Manifesto Komunis:

“Perluasan pabrik dan instrumen produksi yang dimiliki oleh Negara; melakukan penanaman di lahan-lahan kritis, dan perbaikan tanah pada umumnya sesuai dengan rencana bersama."

Tujuan no.3 SDGs adalah dorongan lama dari lingkaran sosialis dan komunis. Tujuan no.3 adalah, “Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua orang di segala usia.” Walaupun ini kedengarannya seperti tujuan yang baik, pada kenyataannya hal itu merupakan dorongan untuk pengobatan yang disosialisasikan, termasuk semua bentuk pengendalian kelahiran dan akses kepada abortus yang ‘aman.’





Dalam The New International edisi Desember 1938, ada sebuah artikel berjudul, “Apa itu Pengobatan Yang Disosialisasikan?. Dalam artikel tersebut, dia berupaya untuk menetapkan kebutuhan akan obat yang disosialisasikan. Da mengatakan: “Kita hanya perlu diingatkan tentang beberapa fakta untuk menyadari betapa salahnya klaim orang-orang yang mempertahankan status quo*: angka kematian ibu di AS tahun 1936 adalah 57 per 10.000 kelahiran hidup - lebih dari dua kali lipat dari Swedia; ada 40.000 kematian per tahun akibat TBC, setengahnya dapat dicegah; hampir satu dari sepuluh orang dewasa terinfeksi sifilis; ada 60.000 kasus baru sifilis kongenital setiap tahun, sembilan puluh delapan persen di antaranya dapat dicegah; ada kebutuhan mendesak bagi hampir 50.000 perawat kesehatan masyarakat, 70.000 dokter gigi, dan 400.000 tempat tidur rumah sakit jika standar kesehatan minimum harus dipenuhi.”

Kesimpulan dari artikel adalah sudah jelas:

“Hanya melalui kemenangan final sosialisme dunia, persediaan besar dari pengetahuan ilmiah yang ada benar-benar dapat digunakan demi kepentingan penuh dari kemanusiaan. 'Obat yang disosialisasikan' itu adalah ungkapan yang tidak bisa diartikan lain kecuali dalam masyarakat yang dijadikan sosialis (komunis)."

Dalam edisi International Socialist Review edisi 1963 ada sebuah artikel berjudul,  Obat yang disosialisasikan, Inggris dan AS. Kekhawatiran dalam artikel ini adalah serupa:

“TBC merajalela. Pada tahun 1948 angka kematian adalah 48.000. Pada tahun 1960 turun menjadi 4.500.

Tingkat kematian bayi di bawah lima tahun, dan kematian ibu melahirkan adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Sekarang ini termasuk yang terendah, kedua setelah Belanda.

Persediaan dokter, dokter gigi, dan perawat, sangat sedikit, tidak terdistribusi dengan baik.”

Pada tahun 1976, Partai Pekerja Sosialis mendeklarasikan “Bill of Rights” baru, yang memasukkan pernyataan ini:

"Semua orang, sejak lahir hingga usia lanjut, harus dijamin pemerintah dalam pembiayaan perawatan medis dan gigi melalui program penuh pengobatan yang disosialisasikan."

Singkatnya, pengobatan yang disosialisasikan, atau perawatan kesehatan universal, adalah SELALU menjadi tujuan dari komunisme. Tetapi yang khususnya memprihatinkan adalah seberapa dekat retorika dorongan Komunis untuk obat-obatan yang disosialisasikan ini cocok dengan Tujuan no. 3 dari SDGs. Sama seperti ajakan sebelumnya untuk pengobatan yang disosialisasikan, menyatakan keprihatinan atas tingkat kematian ibu, angka kelahiran, dan pencegahan penyakit menular seperti tuberkulosis, cocok dengan Tujuan no.3 dari SDG berikut, hampir poin demi poin:



3.1 Pada tahun 2030, menurunkan rasio kematian ibu melahirkan global menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.
3.2 Pada tahun 2030, mengakhiri kematian yang dapat dicegah pada bayi baru lahir dan anak-anak di bawah usia 5 tahun, dengan semua negara bertujuan untuk mengurangi kematian neonatal hingga paling rendah 12 per 1.000 kelahiran hidup dan kematian di bawah 5 hingga setidaknya serendah 25 per 1000 kelahiran hidup.
3.3 Pada tahun 2030, mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit yang ditularkan melalui air, dan penyakit menular lainnya.
3.4 Pada tahun 2030, mengurangi sepertiga kematian dini akibat penyakit tidak menular melalui pencegahan dan pengobatan serta meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan.
Tujuan no. 3.7 adalah tentang pengendalian kelahiran, aborsi dan keluarga berencana, sedangkan Tujuan no. 3,8 adalah tentang pengobatan yang disosialisasikan, atau yang saat ini disebut, “Akses universal kepada perawatan kesehatan:

3.7 Pada tahun 2030, memastikan akses universal kepada layanan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk untuk keluarga berencana, informasi dan pendidikan, dan integrasi kesehatan reproduksi ke dalam strategi dan program nasional.
3.8 Mendapatkan cakupan kesehatan universal, termasuk perlindungan risiko finansial, akses kepada layanan perawatan kesehatan esensial yang berkualitas dan akses kepada obat-obatan dan vaksin esensial yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau untuk semua.





Masing-masing dari tujuan ini cocok dengan poin-poin pembicaraan Komunis dan agen-agen Komunis di seluruh dunia selama hampir 100 tahun terakhir. Dan seandainya tidak jelas bahwa aborsi adalah "esensial" untuk mencapai Tujuan Pembangunan PBB, di sebelah kanan adalah dokumen yang diproduksi oleh arsitek Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), Jeffrey Sachs. Perhatikan implikasi dalam gambar bahwa "jika wanita diketahui hamil," dia akan disarankan melakukan aborsi "untuk bisa menyelesaikan pendidikannya." Juga perhatikan tema "kesehatan ibu," "kesetaraan gender," dan pengurangan kemiskinan .

“Memastikan adanya pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil, dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua.”

Termasuk di bawah tujuan ini, antara lain, adalah niat untuk "memastikan bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah yang bebas, adil dan berkualitas" dan "memastikan bahwa semua pemuda dan orang dewasa memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, bagi pekerjaan, pekerjaan yang layak dan kewirausahaan.”

Hal ini sangat mirip dengan papan no.10 dari Manifesto Komunis, yang mengatakan:
10. Pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah umum. Penghapusan tenaga kerja pabrik anak-anak dalam bentuknya yang sekarang. Kombinasi pendidikan dengan produksi industri, dll, dll.

Tujuan no. 5 SDGs sangat menarik, karena retorikanya cocok 100% dengan retorika Vladimir Lenin. Tujuan no. 5 adalah untuk “Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan.” Dari catatan khusus adalah niat berikut yang berada di bawah tujuan ini:
5.4 Mengakui dan menghargai perawatan yang tidak dibayar dan pekerjaan rumah tangga melalui penyediaan layanan publik, infrastruktur dan kebijakan perlindungan sosial dan promosi tanggung jawab bersama dalam rumah tangga dan keluarga sebagaimana layak secara nasional.
5.5 Memastikan partisipasi penuh dan efektif perempuan dan kesempatan yang sama untuk kepemimpinan di semua tingkat pengambilan keputusan dalam kehidupan politik, ekonomi dan publik.
5.6 Memastikan akses universal kepada kesehatan seksual dan reproduksi serta hak-hak reproduksi sebagaimana disepakati sesuai dengan Program Aksi Konferensi Internasional tentang Populasi dan Pengembangan dan Platform Beijing untuk Aksi dan dokumen hasil konferensi peninjauan mereka.

Vladimir Lenin secara teratur berperang melawan hukum yang melarang aborsi dan pengendalian kelahiran, dan begitu revolusi berhasil menggulingkan Tsar di Rusia, ia menghapuskan semua undang-undang tersebut. Tujuan no. 5.6 sejalan dengan cita-cita Komunis tentang akses kepada aborsi dan pengendalian kelahiran. Adapun aspek lain dari tujuan no.5, pada bulan Februari 1920, Pravda mencetak pidato yang disampaikan oleh Lenin dengan judul,  Kepada Para Pekerja Perempuan.” Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tentang pemberdayaan dan kesetaraan perempuan dan anak perempuan tampaknya telah mengangkat semua poin-poin pentingnya langsung dari pidato ini:





Sangat penting bahwa pekerja perempuan mengambil bagian lebih besar dalam pemilihan. Pemerintah Soviet adalah pemerintah pertama dan satu-satunya di dunia yang menghapus sepenuhnya semua hukum lama, borjuis, yang terkenal buruknya karena menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki dan yang memberikan hak istimewa kepada laki-laki, seperti misalnya, dalam bidang hukum hukum atau dalam hal sikap hukum terhadap anak-anak. Pemerintah Soviet adalah pemerintah pertama dan satu-satunya di dunia yang, sebagai pemerintah pekerja keras, menghapuskan semua hak istimewa yang terkait dengan properti, yang dipertahankan laki-laki dalam undang-undang keluarga di semua republik borjuis, bahkan yang paling demokratis sekalipun.

Di mana ada tuan tanah, kapitalis dan pedagang, tidak akan ada persamaan antara perempuan dan laki-laki, terutama dalam hukum.

Di mana tidak ada tuan tanah, kapitalis, dan pedagang, di mana pemerintah pekerja keras membangun kehidupan baru tanpa para penghisap ini, di sana kesetaraan antara perempuan dan laki-laki ada di dalam hukum.

Tetapi itu tidak cukup.

Ini adalah perbedaan yang jauh antara kesetaraan dalam hukum dengan kesetaraan dalam kehidupan.
Kami ingin pekerja perempuan mencapai kesetaraan dengan pekerja laki-laki, tidak hanya dalam hukum, tetapi juga dalam kehidupan. Untuk ini, penting bahwa pekerja perempuan mengambil bagian yang semakin meningkat dalam administrasi perusahaan publik dan administrasi negara.

Dengan terlibat dalam pekerjaan administrasi, kaum wanita akan belajar dengan cepat dan mereka akan mengejar ketertinggalan dari kaum pria.

Ini hanyalah satu contoh di antara banyak pemimpin Komunis yang mendorong pembebasan feminis sejalan dengan Sasaran 5 SDGs.

Tujuan no. 11 memperkenalkan keinginan untuk mengimplementasikan rencana utopia komunis di seluruh dunia. Tujuan ini adalah untuk    Menjadikan kota-kota dan permukiman manusia dalam keadaan iklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan.

Sasaran 11.3 secara khusus adalah cukup  mengganggu:

11.3 Pada tahun 2030, meningkatkan urbanisasi yang inklusif dan berkelanjutan serta kapasitas untuk perencanaan dan pengelolaan pemukiman manusia yang partisipatif, terintegrasi dan berkelanjutan di semua negara.

Hal ini disampaikan di halaman 3 dari pembukaan Zero Draft SDGs:

“Kita harus menghormati dan menjaga rumah bersama kita. Kita ingin melindungi planet ini sehingga dapat mendukung kebutuhan generasi sekarang dan mendatang. Kita akan melestarikan dan menggunakan samudera dan lautan kita secara berkelanjutan; melawan perubahan iklim; melindungi dan memulihkan ekosistem; menghalangi terciptanya padang gurun, degradasi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati; mempromosikan kota-kota dan pemukiman manusia yang aman dan inklusif; dan mempromosikan pengurangan risiko bencana.“





Ini adalah referensi langsung kepada Agenda 21, yang merupakan salah satu program awal yang telah menjadi tujuan SDG. Tanpa berbicara detail, intinya adalah menghilangkan orang-orang dari lingkungan pedesaan, dan memusatkan mereka di kota-kota dan pinggiran kota, menyebarkannya demi kepentingan pertanian “berkelanjutan” sambil melestarikan alam di seluruh dunia. Ini adalah bentuk penciptaan komunitas (atau komune) yang sepenuhnya terencana, sambil menolak pembangunan di tempat-tempat yang telah ditentukan. Gagasan ini muncul lebih lengkap dalam paragraf 29 dari ringkasan:

“Kami menyadari bahwa pengembangan dan pengelolaan kota yang berkelanjutan sangat penting bagi kualitas hidup warga kami. Kami akan bekerjasama dengan pihak berwenang dan masyarakat setempat untuk memperbarui dan merencanakan kota-kota dan permukiman warga kami, untuk memupuk kedekatan komunitas dan keamanan pribadi, dan untuk merangsang inovasi dan pekerjaan. Kami akan mengurangi dampak negatif dari kegiatan perkotaan, termasuk melalui manajemen yang aman dan penggunaan bahan kimia, pengurangan dan daur ulang limbah, dan penggunaan air serta energi yang lebih efisien. Dan kami akan berusaha untuk meminimalkan dampak dari kota-kota pada sistem iklim global. Kami juga akan mempertimbangkan tren dan proyeksi populasi dalam strategi dan kebijakan pembangunan nasional, pedesaan dan perkotaan kami."

Ini adalah implementasi yang jelas dari papan 9 dari Manifesto Komunis, yang menyerukan:
“Kombinasi pertanian dengan industri manufaktur; penghapusan secara bertahap semua perbedaan antara kota dan pedesaan dengan distribusi penduduk yang lebih merata di seluruh negeri."

Pembukaan Dokumen Nol untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menjelaskan apa artinya semua ini. Disitu dikatakan, "Kami ingin ... mendorong kemakmuran bersama dan gaya hidup berkelanjutan di seluruh dunia."





Kemakmuran bersama dan gaya hidup berkelanjutan terdengar mengerikan seperti redistribusi kekayaan ... dan memang begitu faktanya. Paragraf 25 dari ringkasan untuk SDG membuat hal ini sangat jelas:

“Kami akan berusaha membangun fondasi ekonomi yang kuat untuk semua negara kami. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan sangat penting untuk kemakmuran. Hal ini hanya mungkin terjadi jika kekayaan dibagi-bagikan melalui kebijakan progresif yang ditujukan untuk redistribusi."

Atau, seperti yang dinyatakan oleh Karl Marx sendiri dalam kritiknya terhadap Program Gotha, “Dari masing-masing sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing sesuai dengan kebutuhannya!”

Kesimpulan

Paus Pius XI menjelaskan dengan sangat baik bahwa umat beriman memiliki tugas untuk memerangi Komunisme, dan kita harus mencela setiap dan semua kolaborasi dengan komunis dan program-program mereka. “Lihatlah, saudara-saudara yang terkasih, bahwa umat beriman tidak membiarkan diri mereka tertipu! Komunisme pada dasarnya adalah salah, dan tidak seorang pun yang akan menyelamatkan peradaban Kristen dapat bekerja sama dengannya dalam melakukan apa pun. Mereka yang membiarkan diri mereka ditipu untuk memberikan bantuan demi kemenangan Komunisme di negara mereka sendiri, akan menjadi orang pertama yang menjadi korban kesalahan mereka. Dan semakin besar tradisionalitas serta keagungan peradaban Kristiani di daerah-daerah di mana Komunisme berhasil menembus, maka yang jauh lebih dahsyat adalah kebencian yang diperlihatkan oleh orang-orang yang tak bertuhan itu.” DIVINI REDEMPTORIS – Pope Pius XI, 1937

Intinya adalah bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) tidak lain adalah sebuah rencana yang dikodifikasikan secara global untuk penerapan Utopia Komunis. Singkatnya, tujuan yang sejalan dengan tujuan Komunisme adalah: 

·         Tujuan no.2 dari SDGs, yaitu untuk “Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan,” sejalan dengan Papan 7 dari Manifesto Komunis, “Perluasan pabrik-pabrik dan instrumen produksi yang dimiliki oleh Negara; melakukan penanaman di lahan-lahan kritis, dan perbaikan tanah pada umumnya sesuai dengan rencana bersama."
·         Tujuan no. 3 dari SDGs, yaitu "Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia," dimana hal ini sejalan dengan rencana lama Komunis untuk menerapkan "Obat bersosialisasi."
·         Tujuan no. 4 dari SDGs, yaitu “Memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif dan adil, dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua,” dan hal ini sejalan dengan papan ke-10 dari Manifesto Komunis, “Pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah umum. Penghapusan tenaga kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang. Kombinasi pendidikan dengan produksi industri, dll., dll.”
·         Tujuan no. 5 dari SDGs adalah untuk “Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan” dan hal ini sangat cocok dengan dorongan Vladimir Lenin untuk pembebasan feminis.
·         Tujuan no. 11 dari SDGs berupaya untuk “Membuat kota dan permukiman manusia menjadi inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan,” dan dengan demikian, ingin mendistribusikan kekayaan sesuai dengan seruan Marxian, “Dari masing-masing orang, sesuai dengan kemampuannya, untuk masing-masing orang, dan yang sesuai dengan kebutuhannya.”


Ini adalah sebuah rencana Komunis. Tetapi ini seharusnya tidak mengejutkan, karena PBB adalah entitas Komunis, dan selalu begitu. Faktanya, tujuan no.11 dari 45 tujuan Komunis yang diidentifikasi dalam Cleon Skousen dalam bukunya, “The Naked Communist” adalah, "Promosikan PBB sebagai satu-satunya harapan bagi umat manusia." Jika seseorang memperhatikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, jelas bahwa retorika itulah yang digunakan untuk mempromosikan gagasan ini. Yang sangat mengganggu tentang hal ini adalah bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan mendapatkan banyak perhatian dan dukungan dari Vatikan. Mengingat Gereja Katolik terus-menerus mengutuk Komunisme, maka promosi Vatikan terhadap berbagai program yang jelas-jelas berbau Komunis sangatlah tidak bisa dipahami dengan akal sehat.


No comments:

Post a Comment