Saturday, July 27, 2019

Phil Lawler - SETELAH 25 TAHUN MENYELIDIKI PELECEHAN SEKSUAL...



Phil Lawler on EWTN.EWTN video frame


OPINIONCATHOLIC CHURCHFAITHHOMOSEXUALITY Fri Jul 26, 2019 - 6:05 pm EST

SETELAH 25 TAHUN MENYELIDIKI PELECEHAN SEKSUAL DI LINGKUNGAN GEREJA, SAYA TIDAK BISA MELAKUKANNYA LAGI…

July 26, 2019 (CatholicCulture.org)

Saya berhenti!

Selama lebih dari 25 tahun hingga sekarang, saya telah melaporkan dan menulis tentang skandal di lingkungan Gereja Katolik. Kemarin, ketika saya lelah menulis satu artikel lagi tentang kebusukan tingkah laku uskup, saya menyadari betapa topik ini telah membuat saya menjadi mual. Saya tidak bisa melakukannya lagi.

Sejak tahun 1990-an saya telah menggali berbagai kebusukan, mengungkap lebih banyak dan lebih banyak lagi tentang apa yang oleh Paus Benediktus XVI dengan tepat disebut sebagai "kebusukan" di dalam Gereja - kebusukan yang mengaburkan citra Kristus. Itu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Itu bukanlah pekerjaan yang akan saya pilih. Itu tidaklah memperbaiki moral. Setiap hari saya harus berurusan dengan keburukan yang mengerikan - minggu demi minggu, bulan demi bulan – dan telah memakan korban yang besar: pada kesehatan saya, pada keluarga saya, pada kehidupan rohani saya. Dalam suatu peperangan, komandan yang baik tahu bahwa pasukan terberat pun perlu istirahat setelah berminggu-minggu dalam pertempuran. Dan percayalah kepada saya, ini adalah sebuah pertempuran spiritual.

Saya tidak akan pergi meninggalkan pertempuran itu. Tidak, jauh dari tindakan itu. Saya telah mengabdikan hidup saya untuk tujuan reformasi di dalam Gereja Katolik, dan saya sepenuhnya bermaksud untuk terus berbicara dan menulis tentang topik itu. Tetapi saya perlu mundur, untuk mengambil pendekatan baru, untuk berperang di front yang berbeda. Saya tidak bisa terus membajak dokumen-dokumen, mengejar berbagai petunjuk, mengeruk segala fakta. Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir banyak wartawan lain bergabung dalam perburuan kebenaran. Saya akan mengomentari fakta-fakta yang mereka gali; saya akan memberikan perspektif saya. Tetapi untuk memiliki perspektif yang sehat, saya harus menjauhkan diri dari racun, untuk meluaskan pandangan saya.

Berapa lama saya berada di garis depan? Pada November 1993, hampir satu dekade sebelum Boston Globe tiba di tempat kejadian, ketika editor Catholic World Report I memuat berita utama tentang skandal pelecehan seksual. (Tujuh tahun kemudian saya menerbitkan sebuah cerita sampul yang lebih provokatif: "The Gay Priest Problem.") Saya ditampar dengan gugatan pencemaran nama baik (kemudian saya dipecat) karena menerbitkan sebuah cerita yang mempertanyakan karya yang menyangkut tingkah laku imam-imam predator dan menjelaskan perbuatan mereka agar kembali kepada pelayanan Gereja. Pada tahun 2002 saya memunculkan cerita bahwa Paus Yohanes Paulus II telah memanggil pimpinan konferensi para uskup AS ke Roma untuk membahas skandal itu. Saya adalah orang pertama di Boston yang menyerukan pengunduran diri Kardinal Bernard Law, dan ketika dia akhirnya mengundurkan diri, saya juga memunculkan kisah itu.

Selama bertahun-tahun saya telah berbicara dengan para korban pelecehan seksual, dengan para imam yang telah dituduh (beberapa mungkin tidak bersalah, beberapa pasti bersalah), dengan para pengacara dan pejabat penegak hukum, dengan auditor dan akuntan, dengan pejabat kanselir, dengan instruktur seminari, dan bahkan dengan para pengusir setan, mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang skandal yang sedang berkembang. Saya telah belajar banyak sekali, dan saya menyesal mengatakan bahwa lebih sering daripada tidak, apa yang telah saya pelajari ternyata telah mengecewakan.

Melalui semua itu saya telah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan, dan untuk menyampaikan, kasih saya kepada Gereja - tekad saya adalah untuk tidak membiarkan kebusukan manusia mencemari mempelai wanita Kristus yang tak bernoda. Saya telah mencoba untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang akan bisa merusak - untuk menyoroti fakta-fakta yang tidak menyenangkan dimana fakta itu seolah-olah perlu untuk memajukan reformasi. Tidak diragukan lagi bahwa ada saat-saat ketika saya melangkah terlalu jauh, dan untuk ini saya minta maaf. Tetapi ada juga banyak kesempatan ketika saya harus menahan diri. Saya selalu tahu lebih dari yang saya ungkapkan. Banyak rahasia gelap yang akan mati bersama saya. Namun saya telah menemukan cukup bahan untuk menghasilkan ribuan berita pendek, ratusan opini, dan tiga buku tentang skandal. Anehnya, adalah saran seorang teman bahwa saya harus menulis buku keempat yang menyebabkan saya harus menilai kembali pekerjaan saya. Agak mengejutkan saya sendiri - dan kekhawatiran teman saya yang malang - saya bereaksi terhadap saran itu dengan marah. Saya merasa jijik dengan prospek menulis buku yang lain dengan topik yang sama. Saya menyadari kemudian bahwa saya perlu mengambil pendekatan yang berbeda.

Buku-buku tersebut dicetak, untuk kepentingan siapa pun yang ingin tahu apa yang telah saya temukan dalam penelitian bertahun-tahun. Kolom-kolom dan berita-berita ada di arsip. Pekerjaan itu selesai. Tetapi pada titik ini, saya ragu bahwa siapa pun yang tidak memahami masalah akan dibawa kepada satu contoh lagi, satu lagi kenyataan, satu lagi kemarahan. Fakta-fakta telah tersedia – bahkan telah tersedia cukup lama. Tantangannya adalah menawarkan perspektif.

Ketika saya mulai melaporkan skandal itu, saya berasumsi bahwa itu melibatkan beberapa imam yang sangat tidak bermoral dan beberapa uskup yang lalai. Ketika saya membongkar satu demi satu petunjuk, saya menemukan pola kebusukan yang jauh lebih luas dan lebih dalam daripada yang bisa saya bayangkan. Apakah pelecehan mereka tersebar luas? YA. Apakah banyak uskup yang terlibat? YA. Apakah ada upaya terorganisir untuk melindungi para pelaku? YA. Apakah itu meluas hingga ke Vatikan? YA. Apakah Paus terlibat? YA. Apakah para pemimpin Gereja diperas? YA. Apakah mereka mengorbankan kepentingan Gereja untuk menghindari deteksi dan penuntutan? YA. Dan secara perlahan saya menyadari bahwa skandal pelecehan seks bukanlah satu-satunya bukti kebusukan mereka: bahwa ada juga pelanggaran keuangan yang meluas, dengan beberapa pejabat yang menutupi-nutupi kasusnya. Semua fakta ini saya jelaskan dan tunjukkan dalam buku-buku saya.

Pembaca yang jeli mungkin memperhatikan bahwa saya juga menyebutkan di atas tentang percakapan saya dengan para pengusir setan, mengenai skandal-skandal ini. Dari waktu ke waktu dalam penelitian saya, saya telah mendeteksi bau belerang (bau khas dari keberadaan setan) yang sangat pasti, tetapi saya tidak pernah menemukan bukti kuat untuk mendukung sebuah berita tentang keterlibatan setan secara aktif. Masih bisakah ada keraguan bahwa si musuh bersukacita atas penghinaan terhadap Gereja beserta kebusukan para pemimpinnya? Di sebuah era ketika dunia Barat dilanda seksualitas yang menjijikkan dan penghinaan terhadap martabat manusia, setan pastilah bersuka ria di tengah kemarahan orang-orang benar, karena setan bisa menenggelamkan suara Gereja.

Di dalam buku The Faithful Departed  saya berpendapat bahwa "skandal" di lingkungan Gereja sebenarnya adalah tiga skandal utama yang berkaitan: skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh para imam; skandal pengaruh homoseksual yang meluas di kalangan para klerus; dan skandal para uskup yang lebih tertarik untuk melindungi posisi mereka daripada membela iman. Skandal yang pertama telah dan sedang diatasi. Skandal yang kedua dan ketiga belum. Sebaliknya, pengaruh "mafia lavender" telah terkonsolidasi dengan kuat pada banyak keuskupan di Amerika. Selain itu, aliran bukti yang terus berkembang tentang transaksi keuangan yang dipertanyakan di Vatikan dan "budaya amplop" dalam hierarki Amerika, mengancam untuk menjadi sebuah aliran yang deras, memberikan peluang-peluang baru bagi serangan terhadap integritas Gereja kita.

Satu siaran pers baru, sebuah program baru, sebuah janji baru, tidak akan cukup untuk membalikkan kerusakan yang terjadi. Seperti yang saya katakan kemarin, "Berbagai solusi ditawarkan oleh orang yang sama yang menciptakan masalah; calon reformis dipilih oleh orang-orang yang seharusnya direformasi." Baik di Roma maupun di AS ada keengganan yang jelas untuk mengakui besarnya ruang lingkup masalah, sebuah pilihan untuk menerima kepercayaan yang sia-sia bahwa beberapa langkah bertahap akan memungkinkan kembalinya urusan gerejawi seperti biasa.

Kembali pada tahun 1990-an, saya mengatakan kepada pewawancara radio (Al Kresta) bahwa skandal pelecehan seks akan membawa Gereja kepada krisis terbesar sejak Reformasi. Pada saat itu adalah prediksi yang mengejutkan - saya bahkan sedikit terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut saya sendiri. Hari ini saya katakan bahwa itu tidak dapat disangkal kebenarannya.

Yang mulia: Bangunlah! Roma sedang terbakar; berhentilah mengutak-atik. Anda tidak menghadapi masalah sederhana, tetapi sebuah krisis yang dahsyat; bukan kemunduran sementara, tapi kekalahan telak. Anda menghadapi kerugian yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Gereja: kehilangan umat beriman, kehilangan institusi, kehilangan warisan Katolik kita, kehilangan jiwa-jiwa. Anda tidak dapat lagi melanjutkan dengan asumsi bahwa apa yang Anda lakukan tahun ini akan sama seperti apa yang Anda lakukan tahun lalu. Jika Anda melakukan hal itu, Anda akan gagal dalam tugas suci Anda.

Untuk memulihkan Gereja, pertama-tama Anda harus mengembalikan kredibilitas Anda sendiri. Buanglah pendekatan kontrol kerusakan. Berhentilah untuk takut kepada kebenaran, mulailah mengatakan kebenaran, dan mintalah orang-orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Hadapilah kenyataan bahwa saat ini kredibilitas para uskup Katolik berada pada peringkat antara penjual mobil bekas dan telemarketer - dan dengan alasan yang masuk akal! Dan Anda ditugasi untuk mewartakan Injil, menjalankan misi para Rasul, memperkenalkan Firman Allah kepada dunia. Anda harus menghilangkan segala kebusukan ini, memulihkan kredibilitas, inilah prioritas utama Anda. Jika Anda tidak mau melakukan hal ini, maka segala hal lainnya yang Anda lakukan tidak akan berarti apa-apa.

Pemulihan kredibilitas Gereja Katolik: itu akan menjadi prioritas utama saya juga dalam pekerjaan saya di masa depan. Besok, di kolom yang lain, saya akan menjelaskan bagaimana saya berencana untuk menyelesaikannya.

Published with permission from CatholicCulture.org.

Diterbitkan dengan izin dari CatholicCulture.org.

No comments:

Post a Comment