Monday, July 29, 2019

GEMBALA YANG SESAT - Bab 5




GEMBALA YANG SESAT
BAGAIMANA PAUS FRANCIS SEDANG MENYESATKAN KAWANANNYA

BAB LIMA

Pertanyaan Yang Belum Dijawab

Sidang biasa dari Sinode Para Uskup yang diselenggarakan pada Oktober 2015 sebagian besar merupakan kelanjutan dari pertemuan luar biasa tahun sebelumnya. Topiknya sama — perkawinan dan keluarga — dan argumen-argumen yang sama diulangi lagi, ketegangan yang sama juga terungkap. Tetapi ada dua perbedaan penting. Pertama, keluhan tentang adanya manipulasi persidangan mereda, mungkin karena para uskup sudah bersiaga, siap untuk menentang setiap strategi yang mencurigakan. Kedua, dan lebih penting, sesi ini akan menghasilkan laporan akhir yang pada gilirannya akan membentuk dasar bagi dokumen magisterial penting oleh paus Francis.

Ketika sebuah pertemuan sinode menyimpulkan, maka para uskup memberikan suara untuk serangkaian usulan. Usulan yang disetujui oleh mayoritas dua pertiga menjadi laporan akhir sinode. Tetapi karena sinode adalah merupakan sebuah badan penasihat, maka laporannya bukanlah menjadi kata terakhir. Malahan paus merangkum hasil diskusi ke dalam “nasihat apostolik,” sebuah ekspresi magisterium kepausan yang membawa tingkat otoritas yang tinggi (meskipun bukan yang tertinggi).

Pada pertemuan sinode 2014, Francis telah memberikan banyak indikasi atas sikap dan kecenderungannya, tetapi tidak secara terbuka memihak kepada pendukung perubahan. Meskipun dia telah menyatakan antusiasmenya atas usaha Kardinal Kasper, tetapi dia belum menyetujui proposalnya untuk mengizinkan pemberian Komuni bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi. Sementara dia telah menunjuk para pejabat yang mengatur pertemuan, dia tidak mau terlibat langsung dalam kejahatan mereka. Jadi masih mungkin untuk percaya bahwa paus akan menerima hasil dari pertimbangan para uskup tentang masalah yang telah mendominasi diskusi.

Tentu saja sudah ada beberapa tanda awal, bahwa paus akan memihak kepada Kasper, kepada siapa dia telah memberikan waktu dan kesempatan di konsistori para kardinal pada Februari 2014. Lalu beberapa bulan kemudian ada laporan bahwa paus sendiri telah menasihati seorang wanita bahwa dia hendaknya menerima Komuni Kudus meskipun dia telah melakukan perceraian dan menikah kembali dengan pria lain.

Pada bulan April 2014, Vatikan mengkonfirmasi bahwa paus telah melakukan salah satu panggilan teleponnya yang mengejutkan kepada seorang wanita di Argentina, Jaquelina Lisbona, yang telah menulis surat kepadanya tentang situasi perkawinannya, memohon izin kepada paus untuk boleh menerima Komuni Kudus. Lisbona — yang mengaku kecewa dengan perhatian internasional yang diberikan kepada kisahnya itu — mengatakan kepada sebuah stasiun radio Argentina bahwa sementara dia (Lisbona) tidak bercerai, tetapi suaminya (yang baru), Julio Sabetta, bercerai dan menikah lagi dengan dirinya (Lisbona). Karena pernikahan mereka (Lisbona & Julio Sabetta) tidak diakui oleh Gereja, demikian Lisbona mengatakan, maka pastornya mengatakan kepadanya bahwa dia dilarang menerima Sakramen-sakramen.

Setelah paus menelponnya, suami Lisbona menulis di halaman Facebook-nya bahwa Paus telah mengatakan kepada istrinya “bahwa dia boleh pergi ke Sakramen pengakuan dosa dan mulai menerima Komuni di paroki yang berbeda.” Dalam akun percakapannya yang kedua, Sabetta mengklaim bahwa paus telah meyakinkan istrinya bahwa “orang yang bercerai dan kemudian menerima Komuni tidak melakukan kesalahan apa pun.” (Yang benar, Gereja mengizinkan orang Katolik yang bercerai untuk menerima Komuni — asalkan mereka tidak menikah lagi.)

Kantor pers Vatikan mengindikasikan bahwa pihaknya tidak akan mengomentari panggilan telepon paus itu, dan menekankan bahwa laporan tentang percakapan itu "tidak dapat dikonfirmasikan sebagai hal yang dapat dipercaya." Dalam kasus apa pun, pernyataan Kantor pers Vatikan melanjutkan, saran paus kepada seseorang tidak dapat dianggap sebagai pernyataan ajaran Gereja, karena percakapan seperti itu “tidak akan menjadi bagian dari kegiatan publik paus.” Pernyataan Kantor pers Vatikan juga menambahkan bahwa “konsekuensi yang berkaitan dengan pengajaran Gereja tidak dapat disimpulkan dari kejadian-kejadian seperti ini.”

Tetap saja percakapan telepon paus ini menimbulkan pertanyaan yang amat mengganggu. Apakah dia benar-benar memberikan nasihat pastoral — dalam kasus yang tidak mungkin dia tidak tahu dengan baik — melalui saluran telepon internasional? Apakah dia benar-benar memberi tahu seorang wanita bahwa dia harus menerima Komuni terlepas dari keterlibatannya dalam pernikahan yang tidak dapat diberi sanksi oleh Gereja? Sementara seorang pembaca yang bijaksana biasanya mempertanyakan keakuratan laporan semacam itu, tetapi yang jelas bahwa Francis telah melakukan begitu banyak panggilan telepon yang tak terduga dan pernyataan-pernyataan yang aneh sehingga percakapan ini, seperti yang dilaporkan, tampaknya cukup masuk akal dan bisa dipercaya bahwa hal itu telah terjadi.

Pertanyaan-pertanyaan tentang pemikiran paus yang berkisar di seputar persiapan untuk sesi sinode kedua, menimbulkan kecurigaan bahwa dia bertekad untuk mendapatkan persetujuan uskup terhadap proposal Kasper. Spekulasi makin meningkat ketika paus menyebut "prinsip-prinsip gradualitas," bahasa yang digunakan oleh beberapa orang untuk ‘membenarkan perubahan dalam pengajaran Gereja.’ Yohanes Paulus II menggunakan istilah itu pada 1981 dalam nasihat apostoliknya sendiri, Familiaris Consortio. Mengakui bahwa banyak orang hanya akan membuat kemajuan bertahap menuju kehidupan kebajikan, Paus Polandia itu dengan jelas mengindikasikan bahwa para pastor tidak boleh menghindar dari pernyataan yang jelas tentang ajaran Gereja.

Namun mereka tidak dapat memandang hukum hanya sebagai cita-cita yang harus dicapai di masa depan: mereka harus menganggapnya sebagai perintah Kristus Tuhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan manusia dengan sikap keteguhan. Dan apa yang dikenal sebagai ‘hukum gradualitas’ atau ‘kemajuan selangkah demi selangkah’ tidak dapat dianggap sebagai ‘gradualitas hukum,’ seolah-olah ada derajat atau bentuk ajaran dalam hukum Allah yang berbeda untuk individu dan situasi yang berbeda.

Jika “gradualitas” berarti “bertemu orang-orang di tempat mereka berada” dan membuka percakapan yang mungkin bisa menuntun mereka kepada Kristus, maka itu bukan hanya pendekatan yang bijaksana tetapi suatu kebutuhan pastoral. Tetapi para pendukung proposal Kasper tampaknya menyarankan sesuatu yang berbeda: kesediaan untuk mentolerir dosa, untuk berpura-pura bahwa sebuah luka adalah tanda kesehatan. Pastor Vincent Twomey, seorang teolog Irlandia terkemuka yang belajar untuk gelar doktornya di bawah asuhan Joseph Ratzinger, telah mengatakan bahwa pendekatan ini bukanlah pendekatan pastoral yang benar dan hal itu tidak baik: “Tidak ada tindakan yang bisa dibilang cukup berani untuk menawarkan rekomendasi 'pastoral' jika hal itu tidak berani menentang sebuah dunia yang masih menyandang bekas luka-luka dari revolusi seksual tahun 1960-an."


Prosedur Pembatalan Perkawinan Yang Efisien

Bahkan sebelum para peserta sinode mengadakan pertemuan pada Oktober 2015 untuk pembahasan putaran kedua mereka tentang keluarga, nampaknya paus akan mengeluarkan masalah yang paling kontroversial — yaitu proposal Kasper — untuk dikeluarkan dari agenda pembahasan dan membuat lebih mudah untuk mendapatkan dekrit pembatalan perkawinan.

Beberapa pasangan Katolik yang perkawinannya hancur belum pernah ada yang benar-benar menikah ‘resmi’ di mata Gereja. Sebuah dekrit kanonik mengakui bahwa pernikahan mereka yang diduga tidak sah membuat mereka bebas untuk menikah kembali (atau, di mata Gereja, untuk menikah untuk pertama kalinya) dan mereka masih bisa menerima Komuni. Jika pengadilan perkawinan berjalan seefisien yang diharapkan, maka pemberian solusi segera dan tanpa membebani mereka yang memenuhi syarat, maka proposal Kasper mungkin bisa diperdebatkan.

Di awal September, hanya beberapa minggu sebelum sinode dimulai, Francis mengumumkan perubahan-perubahan pada Kode Hukum Canon yang merampingkan prosedur untuk pembatalan perkawinan. Dia menjelaskan bahwa dia termotivasi oleh keinginan untuk membantu orang-orang Katolik yang “terlalu sering terpisah dari struktur hukum gereja karena adanya jarak fisik atau moral” dan mengingat bahwa reformasi seperti itu telah sering disebut-sebut selama diskusi sinode pada Oktober 2014.

Reformasi-reformasi ini, kata paus, tidak mengubah ajaran Gereja yang tegas tentang tidakterceraikannya pernikahan. Perubahan kanonik, katanya, adalah “ketentuan yang mendukung, bukan terhadap anulasi pernikahan, melainkan mendukung kecepatan proses anulasi, bersama dengan penyederhanaan prosedur yang sesuai, sehingga hati umat beriman yang menunggu kejelasan status mereka tidak terlalu lama tertindas oleh kegelapan keraguan karena menunggu lama untuk memperoleh sebuah kesimpulan."
Reformasi-reformasi yang utama adalah:

   Penghapusan biaya untuk permohonan anulasi. Biaya itu sekarang ditanggung oleh keuskupan.
   Penghapusan peninjauan wajib untuk setiap penilaian anulasi. "Kepastian moral yang dicapai oleh hakim pertama menurut hukum harus sudah memadai."
   Opsi untuk meminta agar kasus-kasus didengar oleh seorang hakim tunggal yang ditunjuk oleh uskup, bukannya sebuah dewan pengadilan yang terdiri dari tiga hakim.
   Proses yang dipercepat untuk kasus-kasus di mana bukti sudah tampak jelas bahwa pernikahan sakramental mereka tidak pernah terjadi.

Perubahan-perubahan ini, yang mulai berlaku pada bulan Desember 2015, akan memiliki sedikit efek praktis pada umat Katolik di Amerika Serikat, negara yang menyumbang hampir setengah dari kasus anulasi perkawinan yang dijatuhkan oleh pengadilan-pengadilan Gereja di seluruh dunia. Meskipun opsi “jalur cepat” baru akan bermanfaat bagi mereka yang memenuhi syarat untuk itu, namun sebagian besar umat Katolik Amerika sudah memiliki akses yang mudah kepada pengadilan perkawinan, dan banyak keuskupan telah membebaskan biaya yang terkait dengan petisi untuk pembatalan. Namun demikian, reformasi diharapkan mempengaruhi diskusi sinode. Seperti yang diramalkan John Allen.

Keputusan itu akan mengkalibrasi ulang diskusi pada edisi kedua bulan Oktober dalam sinode para Uskup tentang keluarga, kemungkinan mengurangi penekanan pada pertanyaan tentang penerimaan Komuni bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah kembali, dan menciptakan ruang bagi masalah-masalah lain untuk muncul.

Prosedur anulasi yang disederhanakan telah menghilangkan satu argumen untuk proposal Kasper — yaitu, bahwa banyak umat Katolik, khususnya di keuskupan miskin, tidak memiliki akses ke pengadilan perkawinan. Reformasi juga menanggapi seruan, yang semula dibuat oleh Benediktus XVI, untuk memiliki lebih banyak cara untuk mengajak orang yang bercerai dan menikah kembali ke dalam keterlibatan aktif dalam kehidupan Gereja.

Sebuah anulasi bukanlah suatu bantuan yang diberikan oleh para pejabat Gereja. Sebuah "deklarasi anulasi," demikian sebutannya, adalah temuan yuridis bahwa perkawinan tertentu tidak pernah merupakan perkawinan yang sah. Jika tidak ada perkawinan, maka demi keadilan, Gereja harus membuat putusan secepat mungkin sehingga pria dan wanita tahu bahwa mereka bebas untuk memasuki perkawinan yang baru.

Namujn sayangnya, seperti yang diamati oleh para peserta sinode, di banyak bagian dunia, umat Katolik tidak memiliki akses ke pengadilan perkawinan. Bahkan di mana pengadilan berjalan dengan efisiensi yang wajar, prosesnya bisa rumit dan mahal. Jadi konsensus yang mudah muncul dari sesi sinode sebelumnya bahwa proses pembatalan harus dirampingkan.

Sekarang Francis telah menghilangkan semua kesulitan itu. Prosesnya telah disederhanakan, dan biaya (untuk pemohon) telah dihapuskan. Dalam kasus-kasus di mana ada alasan yang jelas untuk pembatalan, uskup diosesan dapat dengan cepat mengeluarkan vonisnya. Sekali reformasi kepausan ini diberlakukan, maka mudah — bahkan terlalu mudah, demikian yang dikhawatirkan oleh para pengkritik — bagi pasangan-pasangan Katolik untuk mendapatkan pernyataan anulasi.

Dengan perkawinan pertama mereka dibatalkan dan perkawinan baru mereka diatur lagi, maka akan ada ribuan pasangan Katolik yang akan disambut untuk menerima Ekaristi. Jadi, siapakah yang akan diperlakukan sebagai penerima manfaat potensial dari proposal Kasper? Yaitu mereka yang tidak dapat menerima anulasi karena mereka benar-benar menikah pertama kali. Dan tampaknya jelas mustahil untuk menerima pasangan-pasangan itu kembali ke dalam kehidupan sakramental penuh dari Gereja — dan dengan aturan yang baru ini mereka bisa menerima perkawinan kedua— tanpa melanggar Sabda Yesus.

4 Oktober — hari pembukaan pertemuan sinode 2015 — adalah hari Minggu ke dua puluh tujuh dari hari biasa dalam kalender liturgi Gereja. Injil yang didengarkan oleh umat Katolik di seluruh dunia dibacakan dalam Misa hari itu, diambil dari Santo Markus pasal sepuluh, tampak sangat tepat:

Dan orang-orang Farisi datang dan untuk mencobai Yesus dan bertanya, "Apakah sah bagi seorang pria untuk menceraikan istrinya?"

Yesus menjawab mereka, "Apa yang diperintahkan Musa kepadamu?"

Mereka berkata, “Musa mengizinkan seorang pria untuk menulis surat cerai, dan untuk mengusirnya.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Karena kekerasan hatimu, dia menulis perintah ini kepadamu. Tetapi sejak awal penciptaan, 'Tuhan menjadikan mereka laki-laki dan perempuan.'

‘Karena alasan inilah seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, dan keduanya akan menjadi satu daging. 'Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging.

"Oleh karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah manusia menceraikannya." Dan di rumah para murid bertanya lagi kepada Yesus tentang masalah ini.

Dan dia berkata kepada mereka, “Siapa pun yang menceraikan istrinya dan menikahi orang lain, melakukan perzinaan terhadapnya; dan jika dia menceraikan suaminya dan menikahi yang lain, dia melakukan perzinahan." 


Mengutuk Kritikus

Ketika sinode membuka acaranya, keseruan perdebatan yang ditayangkan kurang bebas dari pada sesi sebelumnya, meski masih terasa sedikit. Paus memperbarui seruannya untuk melakukan debat bebas dan terbuka, tetapi para pakar Katolik liberal mengisyaratkan bahwa siapa pun yang menentang proposal Kasper berarti menentang paus. Para uskup yang berbahasa Jerman menyampaikan jaminan bahwa tidak ada seorang pun yang mengeluhkan perubahan dalam pengajaran Gereja, tetapi ketika kaum konservatif mengatakan bahwa Gereja tidak boleh mengubah ajarannya, mereka dikecam sebagai “orang-orang Parisi” — salah satu julukan terkuat dalam leksikon progresif para pejabat gereja yang progresif. Juru bicara Vatikan menolak adanya "teori konspirasi" tentang manipulasi sinode, tetapi para uskup yang menentang kemungkinan perubahan revolusioner dituduh membentuk komplotan rahasia. Aspek yang paling tidak pantas dari pertemuan sinode 2015 bukanlah argumen yang hidup, tetapi upaya agresif oleh kader ideologi untuk menggambarkan lawan-lawan mereka sebagai penjahat.

Ya, ada beberapa perbedaan pendapat yang serius di antara para uskup yang berkumpul di Roma bulan Oktober itu. Itulah yang diharapkan. Beberapa perubahan besar dalam pengajaran Gereja telah disarankan; hal itu akan menjadi tidak sehat jika proposal tersebut tidak mendorong debat yang gencar. Tujuan sinode adalah untuk mengumpulkan ide. Bahkan tanpa dorongan berulang-ulang dari paus, beberapa tingkat ketidaksepakatan di antara para uskup tidak akan terhindarkan. Jika tidak ada perbedaan di antara mereka, para uskup bisa tinggal di rumah saja.

Secara alami, para uskup yang memiliki pendapat kuat melakukan yang terbaik untuk meyakinkan orang lain. Para uskup membuat aliansi dengan orang-orang lain yang berbagi pandangan mereka dan mencoba mengajak saudara-saudara mereka yang belum memutuskan. Sekali lagi, tidak ada yang aneh tentang itu. Sebagai Uskup Agung dari Philadelphia, Charles Chaput mengamati, “Saya belum pernah menghadiri pertemuan Gereja di mana tidak ada kelompok-kelompok yang berkumpul dan melobi untuk mendukung sikap tertentu.”

Apa yang luar biasa tentang pertemuan sinode ini adalah upaya dua cabang untuk mengekang diskusi terbuka: pertama dengan memanipulasi sinode (seperti yang diceritakan dalam bab sebelumnya), dan kedua dengan membungkam mereka yang berani melaporkan adanya manipulasi.

Dalam pengarahan harian tentang perkembangan sinode, kantor pers Vatikan mengandalkan para uskup yang akan memberikan laporan yang optimis. Kardinal Péter Erdő, jenderal relator untuk sinode - pejabat yang ditunjuk oleh paus untuk meringkas hasil diskusi - berada dalam posisi terbaik untuk meringkas diskusi untuk konsumsi pers, tetapi setelah menyampaikan pidato yang sangat konservatif pada hari pembukaan, setelah itu dia hampir menghilang. dari pandangan.
Tidak mengherankan jika kantor pers Vatikan ingin memastikan bahwa diskusi sinode disampaikan kepada publik dengan cara yang menguntungkan. Yang luar biasa adalah bahwa seorang pembantu kantor pers — Pastor Thomas Rosica, seorang Kanada yang membantu media berbahasa Inggris — muncul sebagai partisan aktif, mengirimkan pesan dari para wali gereja liberal dan para komentator di akun Twitter-nya. Masih lebih luar biasa, Rosica, sebagai seorang PR - seharusnya mencari audiens seluas mungkin, tetapi dia justru mulai memblokir kaum konservatif dari feed Twitter-nya. Ketika debat sinode memanas, dia memberikan nasihat tentang "Bagaimana menangani orang-orang yang beracun," yang menunjukkan bahwa sementara kaum Katolik liberal tidak ingin ada orang yang dikecualikan dari Gereja, tetapi mereka dengan senang hati akan mengecualikan beberapa orang dari perundingan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah nada polemik yang diperlihatkan oleh pastor Antonio Spadaro, editor La Civiltà Cattolica, jurnal Jesuit yang banyak artikelnya telah disetujui oleh Sekretariat Negara Vatikan, sebelum ia diterbitkan. Seorang kepercayaan paus dan sesekali menjadi ‘penulis bayangan’ yang telah dijuluki sebagai ‘juru bicara paus,’ karena dia selalu bekerja sama dengan Francis selama proses Sinode. Sehubungan dengan kedekatannya dengan paus, orang mungkin berharap Spadaro untuk merevisi pendekatan yang tidak masuk akal bagi debat sinode, tetapi dia justru menaburkan duri pada tulisannya di Twitternya dengan ‘pengabaian a la Trump,’ dengan cara mengejek mereka yang mempertanyakan arah yang jelas dari sinode. Pada 10 Oktober dia mentweet, “Gereja bukanlah ‘kereta cepat doktrin’ yang berjalan tanpa pemahaman tentang lanskap di sekitarnya” — ini adalah sebuah pernyataan yang paling samar dan paling tidak jelas. Kemudian pada hari itu juga dia mengambil sikap bermusuhan yang lebih eksplisit: "Mereka yang menginginkan sinode 2015 bersifat kaku & tegas, berarti menyerang metode & komunikasinya."

Pastor James Martin, seorang Jesuit Amerika terkemuka, ikut bergabung dalam kampanye itu dengan serangkaian tweet yang memuji para uskup liberal dan mengkritik kaum konservatif. Dia mencapai puncak keberpihakannya dengan pernyataan bahwa Kardinal Robert Sarah telah membandingkan homoseksual dengan Nazi, sebuah karakterisasi yang sangat tidak benar atas pernyataan kardinal Sarah tentang bahaya ideologi gender.

Namun seorang Jesuit yang lain, jurnalis Thomas Reese, juga sama-sama bersikap tidak sopan dalam rangkumannya tentang debat sinode: “Satu pihak hanya melihat hukum — kontrak pernikahan itu permanen dan hanya bisa diakhiri melalui kematian. Di sisi lain, melihat jutaan orang menderita karena perkawinan yang rusak yang tidak dapat disatukan kembali." Dan menanggapi keluhan bahwa sinode ini sedang diatur, dia memutar balikkan teori konspirasinya sendiri: "Mereka mengatakan bahwa sinode itu sedang dimanipulasi dan diprogram ketika, pada kenyataannya, semua sinode sejak Konsili Vatikan II juga dimanipulasi dan diprogram oleh kaum konservatif.” Nada omongan partisan ini akhirnya mempengaruhi para peserta sinode sendiri. Kardinal Donald Wuerl dari Washington, DC, dalam sebuah wawancara dengan majalah Yesuit Amerika, berbicara dengan nada meremehkan tentang adanya "beberapa uskup yang sikapnya adalah agar kita seharusnya tidak membahas semua ini" dan yang "melukis sesuatu dengan nada yang salah." Dia bertanya "…apakah mereka benar-benar tidak menyukai paus?"

Begitulah suasananya di mana paus sendiri, pada 7 Oktober itu, menyampaikan pidato yang tidak dijadwalkan, di mana, menurut banyak laporan, paus memperingatkan para uskup itu agar tidak terlibat dalam teori-teori konspirasi.


Kardinal Meminta Untuk Debat Terbuka

Tak lama setelah intervensi kepausan itu, Sandro Magister, veteran pengamat Vatikan untuk media L'Espresso, menerbitkan surat kepada Francis, tertanggal 5 Oktober dan ditandatangani oleh tiga belas orang kardinal, yang menyatakan keprihatinan serius tentang pelaksanaan Sinode. Keberadaan surat itu, isinya, dan nama-nama penandatangannya dengan cepat menjadi topik diskusi yang dominan di Vatikan.

Setelah mengungkapkan keraguan tentang dokumen kerja Sinode, serta prosedur dan komposisi komite yang akan menyusun dokumen akhir, para penandatangan menulis:

Pada gilirannya, hal-hal ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa prosedur baru itu tidak sesuai dengan semangat tradisional dan tujuan sinode. Tidak jelas mengapa perubahan prosedural ini diperlukan. Sejumlah peserta sinode merasakan bahwa proses baru ini tampaknya sengaja dirancang untuk memfasilitasi sebuah hasil yang telah ditentukan sebelumnya bagi pertanyaan-pertanyaan penting yang disengketakan.

Akhirnya dan mungkin yang paling mendesak, beberapa peserta sinode telah menyatakan keprihatinan mendalam bahwa sebuah sinode yang dirancang untuk mengatasi masalah pastoral yang vital — untuk memperkuat martabat pernikahan dan keluarga — ternyata dapat didominasi oleh isu teologis / doktrinal tentang Komuni bagi orang yang bercerai dan menikah lagi secara sipil. Jika demikian, hal ini pasti akan mengangkat masalah yang lebih mendasar tentang bagaimana Gereja, dalam perjalanan ke depan, harus menafsirkan dan menerapkan Firman Allah, doktrin-doktrinnya, dan disiplin-disiplinnya terhadap perubahan budaya manusia. Runtuhnya gereja-gereja Protestan liberal di era modern, dipercepat dengan ditinggalkannya elemen-elemen kunci dari iman dan praktik Kristen demi kepentingan adaptasi pastoral, selayaknya menjadi perhatian besar agar sangat berhati-hati dalam diskusi sinode kita sendiri.

Para penandatangan surat itu, menurut Magister, adalah Kardinal Carlo Caffarra, Thomas Collins, Timothy Dolan, Willem Eijk, Péter Erdő, Gerhard Müller, Wilfrid Napier, George Pell, Mauro Piacenza, Robert Sarah, Angelo Scola, Jorge Urosa Savino, dan André Vingt- Trois. Daftar penandatangan itu sangat mengesankan. Kardinal Erdő adalah relator jenderal sinode, sementara Napier dan Vingt-Trois adalah di antara empat presiden-delegasi sinode. Müller, Pell, dan Piacenza mengepalai kantor Kuria Romawi.

Namun, beberapa kardinal dalam daftar itu menyangkal telah menandatangani surat itu. Tidak jelas bagaimana Magister mendapatkan surat itu atau mengapa dia mendaftarkan nama-nama kardinal yang sekarang mengatakan mereka belum menandatanganinya. Sumber-sumber Vatikan yang diinformasikan menunjukkan bahwa memang ada surat yang ditulis, tetapi informasi Magister mengenai surat itu dan penandatanganinya tidak tepat. Banyak pengamat Vatikan berspekulasi bahwa Francis merespons surat ini ketika, dalam pidatonya pada 7 Oktober di dalam Sinode, dia dilaporkan memperingatkan agar tidak menerapkan "hermeneutik konspirasi" pada prosedur pertemuan.

Dan siapa yang membocorkan surat para kardinal itu? Biasanya, dalam mencari sumber dokumen yang bocor, urutan pertama adalah mempertimbangkan kepentingan siapa yang diuntungkan oleh publisitas sebuah dokumen. Namun dalam hal ini, sama sekali tidak jelas siapa yang akan mendapat manfaat dari penerbitan surat rahasia kepada paus.

Sekilas, mungkin tampak bahwa para penulis surat memiliki paling banyak keuntngan. Jika mereka tidak puas dengan tanggapan yang mereka terima dari Bapa Suci, mereka mungkin ingin menambahkan beberapa tekanan publik demi tercapainya tujuan mereka. Dua pertimbangan mendukung hipotesis itu. Pertama, kebocoran itu muncul melalui Magister, yang sering mengkritik Francis dan telah mengajukan berbagai pertanyaan dalam tulisannya sendiri, seperti yang tertera dalam surat dari para kardinal itu. Kedua, surat itu menjadi publik hanya setelah Francis menanggapi keprihatinan para kardinal — seminggu atau lebih setelah ditulis.

Namun demikian, penerbitan surat rahasia itu mungkin telah merusak alasan para kardinal yang menulisnya. Kebocoran itu dianggap sebagai upaya curang untuk memanipulasi opini publik — singkatnya, tindakan ketidaksetiaan. Kardinal Müller, yang menolak untuk membenarkan atau pun menyangkal bahwa dia telah ikut menandatangani surat itu, sedang memanaskan kebocoran itu, dengan mengatakan bahwa itu menciptakan kesan bahwa Francis dikelilingi oleh para "serigala" yang berusaha untuk melemahkan otoritasnya. Jadi, mungkin kebocoran itu dimaksudkan untuk membuat masalah bagi para kardinal yang menandatangani surat itu.

Selain spekulasi, dirilisnya surat itu kepada publik tampaknya melayani kepentingan jurnalis Sandro Magister. Ini bukan kebocoran penting pertamanya. Juni sebelumnya, kantor pers Vatikan telah menangguhkan hak jurnalisnya setelah dia menerbitkan konsep awal ensiklik kepausan Laudato Si. Vatikan telah menekankan bahwa draft yang diterbitkan oleh Magister bukanlah teks terakhir, meski tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dia tidak memiliki dokumen terakhir, tetapi dia memiliki sesuatu yang sangat dekat dengan dokumen asli.

Demikian juga, Magister belum mendapatkan teks terakhir dari surat para kardinal kepada Francis. Kardinal Pell — yang mengakui bahwa dia telah ikut menandatangani surat itu — melaporkan bahwa versi Magister berisi “kesalahan dalam isi dan daftar penandatangan.” Tetapi seperti yang akan ditunjukkan oleh Magister, Pell tidak menyangkal bahwa kekhawatiran yang diungkapkan dalam draft akhir pada dasarnya adalah sama dengan yang ada di versi Magister. Tampaknya, kemudian, setelah Magister mendapatkan draft yang beredar di antara sejumlah kardinal, surat itu akhirnya direvisi dan ditandatangani oleh kelompok yang sedikit berbeda.

Kardinal Urosa, yang mengakui telah ikut menandatangani surat itu, mengatakan bahwa "banyak kardinal" telah melihatnya, baik dalam bentuk draft atau final. Jika banyak salinan yang beredar, maka tidak mengherankan bahwa seseorang akan menemukan jalannya ke tangan seorang jurnalis. Apa yang patut dicatat, sebenarnya, adalah kegagalan Magister untuk mendapatkan versi final. Ini menunjukkan bahwa para kardinal yang menandatangani surat itu tidak ingin mempublikasikannya dan, yang lebih penting, bahwa mereka tidak membocorkannya setelah surat itu dikirim ke paus dan paus telah menanggapi mereka.

Bukti yang ada, singkatnya, tidak memungkinkan kita untuk mengidentifikasi si pembocor surat itu, apalagi motivasinya. Tetapi ini yang kita tahu: sekali lagi, berdasarkan dokumen yang bocor itu, Vatikan terjebak dan terperangkap dalam gelombang tuduhan dan penyangkalan yang tidak sehat. Sekali lagi, ada seseorang di Vatikan yang bertekad untuk melemahkan orang lain. Sekali lagi, martabat Tahta Suci dihantam oleh kisah-kisah intrik istana.


Pernyataan Terakhir — Tanpa Kesimpulan

Ketika bulan Oktober hampir berakhir, perdebatan dan manuver serta kebocoran dan pengaduan berakhir, dan para peserta Sinode menyetujui model terakhir proposal mereka. Dalam wawancara terpisah berikut kesimpulan dari pertemuan itu, Uskup Agung Forte dan Kardinal Pell menawarkan interpretasi yang bertentangan tentang keputusan terakhir Sinode tentang proposal Kasper.

Pell mengatakan kepada National Catholic Register bahwa “…tidak ada disebutkan soal penerimaan Komuni bagi orang yang bercerai dan menikah lagi. Itu bukan salah satu kemungkinan yang mengambang.” Namun Forte, sekretaris khusus sinode, mengatakan dalam wawancara radio bahwa laporan akhir mengizinkan penerimaan Komuni Kudus oleh “beberapa” orang yang telah menikah kembali di luar Gereja, setelah pemeriksaan hati nurani dan proses pendampinan dan pembedaan spirituil oleh para pastor mereka.

Apakah laporan itu benar-benar ambigu? Dengan keterusterangannya seperti yang biasa dilakukannya, Pell mengatakan bahwa pernyataan itu tidak terlalu ambigu atau mendua yang bisa diartikan sebagai "tidak cukup" — dan sengaja kalimat itu dibuat demikian. Dia mengatakan kepada Register: "Dokumen itu ditulis dengan cerdik untuk mendapatkan konsensus."

Berkat ungkapan kalimat yang cermat, Sinode telah mencapai konsensus — nyaris. Paragraf 86, yang mendorong orang-orang Katolik yang bercerai dan menikah kembali untuk menggunakan “forum internal” (percakapan dengan seorang imam) untuk membedakan hambatan-hambatan terhadap “partisipasi penuh mereka dalam kehidupan Gereja,” telah menerima hanya satu suara lebih dari dua pertiga yang dibutuhkan. Tetapi Sinode masih tidak mencapai kejelasan. Gereja Katolik menerima atau tidak menerima bahwa seseorang dalam ‘perkawinan’ yang kedua dimana pasangan yang sebelumnya masih hidup, tidak boleh menerima Komuni. Yang mana yang benar? Berbagai uskup memberikan jawaban yang berbeda pula.

Ketika Sinode para Uskup berkumpul, umat beriman berharap untuk memperdalam pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan oleh Gereja. Diakui, Sinode itu tidak mengajar dengan otoritas. Hanya paus, dalam pernyataan post-sinodalnya sendiri, yang melakukannya. Tetapi para uskup adalah guru, dan kita memiliki hak untuk mengharapkan pengajaran, bukan menerima kebingungan atau, lebih buruk lagi, kekacauan.

Selama diskusi Sinode, sering muncul saran bahwa Gereja hendaknya menggunakan bahasa yang lebih ramah, mengadopsi sikap yang lebih berbelas kasih, menawarkan argumen yang lebih menarik. Ya, kita semua ingin menyambut para pastor, para bapa pengakuan yang berbelas kasih, dan para penginjil yang menawan. Dan dari guru-guru kita, kita menginginkan kejelasan. Di dalam pertemuan Sinode ini, kita diberi tahu, bahwa para uskup peduli dengan masalah pastoral, bukan masalah doktrinal. Namun proposal Kasper mengangkat pertanyaan doktrinal utama, dan bukannya menjawab pertanyaan itu secara langsung, tetapi Sinode bahkan berusaha untuk mempercayainya.

Mengenai masalah doktrin, seperti pada masalah hukum, bahasa yang tepat sangat penting. Seorang pengacara yang merancang kontrak dengan bahasa ambigu sengaja untuk menutupi kurangnya kesepakatan antara para pihak, bisa mengundang bencana. Namun, karena pernyataan Sinode tidak mengikat, maka bahaya bagi Iman dapat dihindari asalkan paus memenuhi tugas yang diberikan Tuhan kepadanya sebagai guru tertinggi Gereja, guna menjawab pertanyaan yang sengaja dihindari oleh para peserta Sinode.

Umat ​​Katolik yang mengikuti debat Sinode dengan cemas menunggu nasihat kerasulan dari paus Francis. Dan itu adalah penantian yang relatif singkat. Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI secara rutin membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan nasihat kerasulan semacam itu, setelah pertemuan-pertemuan Sinode sebelumnya. Tetapi belum pernah Sinode meninggalkan pertanyaan krusial seperti itu tidak terselesaikan seperti sinode kali ini.



No comments:

Post a Comment