Wednesday, July 17, 2019

KARDINAL MÜLLER: SINODE AMAZON ADALAH 'SEBUAH ALASAN UNTUK MENGUBAH GEREJA'



Cardinal Gerhard Müller.




by Diane Montagna

NEWSCATHOLIC CHURCHFAITH Mon Jul 15, 2019 - 2:29 pm EST


KARDINAL MÜLLER: SINODE AMAZON ADALAH 'SEBUAH ALASAN UNTUK MENGUBAH GEREJA'


ROMA, 15 Juli 2019 (LifeSiteNews) - Dalam sebuah wawancara baru yang penuh semangat, Kardinal Gerhard Müller mengatakan bahwa sinode para uskup yang akan datang di Amazon adalah "sebuah alasan untuk mengubah Gereja."

"Fakta bahwa sinode itu diadakan di Roma dimaksudkan untuk menitikberatkan permulaan dari sebuah gereja baru," tambahnya.

Dalam wawancara 11 Juli lalu dengan La Nuova Bussola Quotidiana (lihat teks lengkap di bawah), mantan prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman ini juga telah mendukung kritik Kardinal Walter Brandmuller tentang dokumen kerja Sinode Amazon sebagai “sesat,” dan dia menambahkan bahwa “ dokumen itu juga tidak memiliki refleksi teologis."

“Kaum bidaah tahu tentang doktrin Katolik namun mereka menolaknya. Namun di sini, hanya ada kebingungan yang besar," katanya, seraya menambahkan bahwa "pusat dari semua itu bukannya Yesus Kristus" tetapi berpusat pada penulis dan para pendukungnya, serta berpusat pada "gagasan manusiawi mereka untuk menyelamatkan dunia."

"Pendekatan dari Instrumentum Laboris (dokumen kerja sinode) adalah visi ideologis," yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dasar-dasar agama Katolik, kata Kardinal Gerhard Müller tegas.

Mengomentari substansi dokumen kerja, Kardinal Müller mengatakan "cosmovision" yang diusulkannya adalah bersifat "pan-naturalistik" dan "sangat mirip dengan Marxisme."

Dia juga mengatakan bahwa kita harus benar-benar menolak ungkapan-ungkapan seperti "pertobatan ekologis," sambil menekankan bahwa "hanya ada pertobatan kepada Tuhan saja."

Mengenai penekanan dokumen kerja sinode tentang “Ibu Pertiwi,” mantan kepala CDF itu mengatakan: “Ibu kita adalah manusia, bukan bumi. Dan ibu kita di dalam iman adalah Maria.”

Kardinal Müller menyebut desakan dokumen itu untuk menciptakan sebuah “liturgi yang berinkulturasi” sebagai suatu langkah “untuk merubah bukan hanya apa yang menjadi hak gerejawi, tetapi juga apa yang menjadi hak Ilahi.”

Ditanya apakah dia khawatir akan dicap sebagai "musuh Paus" karena menyampaikan kritik semacam ini, Kardinal Müller mengatakan: "Ini hanya sebuah dokumen kerja yang tidak memiliki nilai magisterial, sehingga hanya orang yang bodoh saja yang dapat mengatakan bahwa mereka yang mengkritiknya adalah seorang musuh Paus."

“Sayangnya,” kardinal Müller menambahkan, “ini adalah trik mereka untuk menghindari dialog kritis; jika Anda mencoba untuk mengajukan keberatan, Anda akan langsung dicap sebagai musuh Paus."

Tergoda oleh ilusi bahwa "segala sesuatu harus dirubah dengan keyakinan bahwa, dengan cara ini, akan ada musim semi baru bagi Gereja," hingga mereka "memandang rendah" tradisi dan memperlakukan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI sebagai "ketinggalan zaman," kata kardinal bersikeras.

Tetapi “mereka tidak melihat bahwa justru sebaliknya, mereka menghancurkan Gereja. Mereka seperti orang buta yang jatuh ke dalam lubang.”

Di bawah ini adalah terjemahan bahasa Inggris dari wawancara penuh dengan Cardinal Gerhard Müller, dengan izin dari La Nuova Bussola.

LA NUOVA BUSSOLA: Yang Mulia, Anda mengatakan “mereka ingin mengubah Gereja,” tetapi apakah tanda-tanda yang jelas dari niat ini?

CARDINAL MÜLLER: Pendekatan Instrumentum Laboris adalah visi ideologis yang tidak ada hubungannya dengan pendekatan teologis terhadap pewahyuan diri Allah dalam Yesus Kristus, yang adalah Sabda yang berinkarnasi, sungguh Allah dan sungguh manusia. Mereka ingin menyelamatkan dunia sesuai dengan ide mereka sendiri, mungkin menggunakan beberapa elemen dari Kitab Suci dan Tradisi Kerasulan. Bukan kebetulan bahwa, meskipun mereka berbicara tentang Wahyu, Penciptaan, sakramen-sakramen, dan hubungan dengan dunia, tetapi hampir tidak ada referensi substansial terhadap teks-teks Konsili Vatikan II yang mendefinisikan aspek-aspek ini: Dei Verbum, Lumen Gentium, dan Gaudium et Spes. Tidak disebutkan juga tentang akar martabat manusia, universalitas keselamatan, Gereja sebagai sakramen universal dari keselamatan dunia. Dokumen itu hanya berisi ide-ide duniawi, yang juga bisa diperdebatkan, dan tidak ada hubungannya sema sekali dengan Wahyu Ilahi.

Dalam hal ini, menurut saya, penting untuk menyebutkan Instrumentum Laboris no.39, di mana ia berbicara tentang “arena dialog yang luas dan penting antara kerohanian, kepercayaan, dan agama Amazon yang membutuhkan pendekatan dari dalam hati terhadap budaya-budaya yang berbeda.” Ia juga mengatakan: “Tidak mau bersikap terbuka terhadap pihak lain, seperti halnya sikap orang yang mau bekerjasama, yang secara khusus mengakui bahwa keselamatan hanya pada keyakinannya sendiri, akan merusak keyakinan kita.” Mereka menganggap kredo kita seolah-olah itu adalah pendapat dan ciptaan bangsa Eropa. Tetapi Pengakuan Iman (credo) adalah tanggapan kita, yang diterangi oleh Roh Kudus, terhadap Wahyu Allah dalam Yesus Kristus yang hidup di dalam Gereja. Tidak ada credo yang lain.

Sebaliknya, ada berbagai keyakinan filosofis lain atau berbagai ekspresi mitologis, tetapi tidak ada yang berani mengatakan, misalnya, bahwa Kebijaksanaan Plato adalah sebuah bentuk Wahyu Allah.

Dalam penciptaan dunia, Allah hanya memanifestasikan keberadaan-Nya, Dia menjadi titik rujukan bagi hati nurani dan hukum alam, tetapi tidak ada pewahyuan lain di luar Yesus Kristus.

Konsep Lógos spermatikòs ("benih-benih Firman"), yang diambil dari Konsili Vatikan II, tidak berarti bahwa wahyu dalam Yesus Kristus yang ada di semua budaya adalah terpisah dari Yesus Kristus - seolah-olah Yesus hanyalah salah satu unsur dari wahyu. Santo Justin Martir menolak semua mitologi kafir dan mengatakan bahwa unsur-unsur kebenaran dalam filsafat adalah milik Kristus (II. Apol. 13), "dimana di dalamnya ada harta hikmat dan pengetahuan" (Kol. 2: 3).

Jadi, Anda setuju dengan Cardinal Brandmüller ketika dia menyebut “bidaah” atas dokumen ini.

Bidaah? Bukan hanya bidaah, ia juga tidak memiliki refleksi teologis. Orang bidaah tahu tentang doktrin Katolik, tetapi mereka menolaknya. Tetapi di sini hanya ada kebingungan besar, dan pusat dari semua itu bukanlah Yesus Kristus, tetapi diri mereka sendiri, gagasan manusiawi mereka untuk menyelamatkan dunia.

Dalam dokumen tersebut, “cosmovision” masyarakat adat disajikan sebagai model ekologi integral. Menurut konsep ini, roh-roh dan dewa-dewa bertindak "dengan dan di wilayah mereka, dengan dan dalam kaitannya dengan alam." Dan cosmovision ini dikaitkan dengan "mantra" Francis: 'semuanya terhubung' "(lihat IL no. 25) .

"Cosmovision" adalah pan-naturalis atau - dalam konteks Eropa modern - konsepsi materialistis, mirip dengan Marxisme; pada akhirnya, kita dapat melakukan apa yang kita inginkan. Tuhan bukanlah alam, seperti yang dirumuskan oleh Baruch de Spinoza (1632-1677).

Kita percaya kepada Tuhan, Pencipta alam semesta. Ciptaan adalah demi kemuliaan Tuhan, tetapi ia juga merupakan tantangan bagi kita, yang dipanggil untuk bekerjasama dengan kehendak Tuhan yang menyelamatkan seluruh umat manusia. Tugas kita bukan untuk melestarikan alam sebagaimana adanya; kita bertanggung jawab atas kemajuan umat manusia di dalam pendidikan, keadilan sosial, dan untuk perdamaian di antara orang-orang. Itulah sebabnya umat Katolik membangun sekolah dan rumah sakit; ini juga merupakan bagian dari misi Gereja. Seseorang tidak dapat memuji-muji alam seolah-olah Amazon adalah lingkungan surga, karena alam tidak selalu mencintai manusia. Di Amazon ada predator, ada infeksi dan penyakit. Dan juga anak-anak ini, anak-anak muda di Amazon ini, memiliki hak atas pendidikan yang baik, untuk mendapat manfaat dari pengobatan modern. Seseorang tidak dapat mengidealkan hanya obat tradisional saja yang baik, seperti yang dikatakan oleh dokumen sinode. Misalnya, ada satu obat disana untuk mengobati sakit kepala, tetapi adalah hal yang lain ketika ada penyakit serius atau membutuhkan operasi yang rumit. Manusia tidak hanya memiliki hak, tetapi juga kewajiban untuk melakukan segalanya untuk menjaga atau memulihkan kesehatan. Konsili juga menghargai sains modern, karena dari hal itu kita telah mengalahkan begitu banyak penyakit; kita telah menurunkan angka kematian bayi dan juga risiko bagi ibu. Teknologi modern itu sendiri bukanlah iblis, tetapi harus berfungsi untuk memecahkan banyak masalah eksistensi manusia.

Umat Kristiani memiliki tanggung jawab untuk mempromosikan kebaikan bersama (Gaudium et Spes, 34.), tanpa mengacaukannya dengan keselamatan jiwa yang kekal.

Namun, budaya dan agama tradisional masyarakat adat Amazon digambarkan sebagai model harmoni dengan alam.

Tidak ada harmoni dengan alam setelah dosa asal. Berkali-kali (alam) menjadi musuh manusia, tetapi bagaimanapun, hal itu bersifat mendua. Ingatlah akan empat elemen: bumi, api, air, udara. Gempa bumi, kebakaran, banjir, badai, semua adalah manifestasi dari alam dan berbahaya bagi manusia. Dan manusia menjadi musuh saudaranya, bukannya teman (melalui perzinahan, perampokan, kebohongan, pembunuhan, perang). “Kita tahu bahwa seluruh ciptaan telah mengeluh bersama sampai sekarang; dan bukan hanya ciptaan, tetapi kita sendiri yang memiliki buah sulung dari Roh mengeluh di dalam hati ketika kita menunggu diadopsi sebagai anak laki-laki, yaitu penebusan atas tubuh kita ”(lht.Rm. 8: 22-23).

Semuanya dibaca melalui kunci: sebuah "pertobatan ekologis" yang dibutuhkan…

Kita harus benar-benar menolak ungkapan seperti “pertobatan ekologis.” Karena hanya ada pertobatan kepada Tuhan saja, dan sebagai konsekuensinya juga ada kebaikan alam. Kita tidak bisa menjadikan ekologi sebagai agama baru, ini adalah konsep panteistik yang harus ditolak. Panteisme bukan hanya teori tentang Tuhan; ia juga merupakan bentuk penghinaan bagi manusia. Tuhan yang mengidentifikasi dirinya dengan alam bukanlah suatu pribadi. Sebaliknya, Allah Pencipta menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya. Dalam doa kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang mendengarkan kita, yang mengerti apa yang ingin kita katakan, bukan sebuah mistisisme di mana kita dapat meniadakan identitas pribadi kita. “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" (Lht. Rm. 8:15).

... dan orang menganggap Bumi sebagai ibu.

Ibu kita adalah suatu pribadi, bukan bumi. Dan ibu kita di dalam iman adalah Maria. Gereja juga digambarkan sebagai seorang ibu, sebagai mempelai wanita Yesus Kristus. Kata-kata ini (tentang Ibu Pertiwi) tidak boleh diperluas. Adalah satu hal untuk menghormati semua elemen di dunia ini, namun adalah hal yang lain untuk mengidealkan atau medewakannya. Identifikasi Tuhan dengan alam ini adalah bentuk atheisme, karena Tuhan tidak tergantung pada alam. Mereka (para pendukung agenda sinode) benar-benar mengabaikan Penciptaan.

Sejak di awal tahun 1980-an, Kardinal Ratzinger saat itu melihat bahwa tidak ada lagi khotbah di gereja-gereja tentang Penciptaan, dan dia meramalkan konsekuensi dramatisnya.

Memang, semua kesalahan ini muncul dari kebingungan antara Pencipta dan ciptaan, dari identifikasi alam dengan Tuhan, yang antara lain menghasilkan politeisme, karena setiap elemen alam dikaitkan dengan keilahian. Esensi dari monoteisme alkitabiah adalah perbedaan ontologis antara Pencipta dan ciptaan. Tuhan bukanlah bagian dari karya-Nya, Dia berdaulat atas semua ciptaan. Ini bukanlah penghinaan, melainkan menonjolkan alam. Sebuah aksioma mendasar dari teologi Katolik mengatakan: Gratia non tollit naturam sed perficit eam ["Kasih karunia tidak menggantikan alam tetapi menyempurnakannya"] (St Thomas of Aquinas, Summa theologiae I, q. 1 a.8). Dan manusia tidak lagi menjadi budak terhadap unsur-unsur; manusia tidak lagi harus menyembah dewa api atau berkorban kepada dewa api untuk menenangkan kita dengan unsur yang menakutkan kita. Manusia akhirnya terbebas.

Visi panteistik yang dianut oleh Instrumentum Laboris juga menyiratkan kritik terhadap antroposentrisme yang harus dikoreksi oleh Gereja sendiri.

Adalah gagasan yang absurd untuk berpura-pura mengira bahwa Tuhan bukanlah antroposentris. Manusia adalah pusat dari Penciptaan, dan Yesus menjadi manusia, Dia tidak menjadi tanaman. Gagasan seperti itu adalah bidaah terhadap martabat manusia. Sebaliknya, Gereja harus menekankan antroposentrisme, karena Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada kehidupan binatang apa pun. Saat ini ada kebalikan dari prinsip ini: jika seekor singa terbunuh di Afrika itu menjadi tragedi dunia, tetapi di sini lain ada anak-anak yang dibunuh di dalam rahim ibu mereka dan semuanya baik-baik saja. Stalin juga berpendapat bahwa sentralitas martabat manusia harus dihilangkan; dengan cara ini, dia bisa memanggil banyak orang untuk membangun saluran dan membiarkan mereka mati demi kebaikan generasi mendatang. Ideologi ini memastikan bahwa beberapa orang mendominasi semua yang lain. Tetapi Tuhan adalah antroposentris, Inkarnasi adalah antroposentris. Penolakan terhadap antroposentrisme hanya datang dari kebencian terhadap diri sendiri dan orang lain. Manusia di dalam Kristus sebagai Putra Bapa adalah teosentris dan tidak pernah kosmo-sentris. Kasih kepada Tuhan di atas segalanya dan kasih kepada sesama, ini adalah medan gravitasi bagi keberadaan manusia.

Kata ajaib lain dalam Instrumentum Laboris adalah inkulturasi, yang sering dikaitkan dengan Inkarnasi.

Menggunakan kata Inkarnasi hampir sebagai sinonim untuk inkulturasi adalah mistifikasi pertama. Inkarnasi adalah peristiwa unik dan tidak dapat diulang. Adalah Firman Allah yang menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Tuhan tidak menjelma dalam agama Yahudi; Dia juga tidak menjelma di Yerusalem. Jadi, Yesus Kristus itu unik. Ini adalah poin mendasar, karena semua sakramen bergantung pada Inkarnasi, itu adalah kehadiran Sabda yang berinkarnasi. Seseorang tidak dapat menyalahgunakan istilah-istilah tertentu yang penting bagi agama Kristianitas. Gereja mengekspresikan dirinya dalam bentuk-bentuk budaya tertentu melalui simbol-simbol dalam katekese dan liturgi. Tetapi tanda sakramental (kata dan tanda) mempengaruhi rahmat supernatural Kristus, yang sungguh hadir. Dengan demikian orang tidak boleh memandang rendah liturgi sebagai “benda museum” atau “milik beberapa orang pilihan” (lihat IL no. 124). “Substansi sakramen-sakramen” adalah lebih penting daripada ritus sekunder (bahasa, musik, dll.) Dan itu tidak dapat diubah oleh otoritas gerejawi (Council of Trent, 21. sess. 1562: DH 1728).

Marilah kita kembali kepada inkulturasi: sudah jelas dari dokumen sinode Amazon bahwa semua kepercayaan masyarakat adat, ritual dan adat mereka harus diadopsi. Ada juga referensi tentang bagaimana agama Kristen awal diinkulturasikan di dunia Yunani. Dan dikatakan bahwa, seperti yang dilakukan pada saat itu, hal itu juga harus dilakukan juga saat ini terhadap orang-orang Amazon.

Tetapi Gereja Katolik tidak pernah menerima mitos Yunani dan Romawi. Sebaliknya, ia menolak peradaban yang merendahkan manusia melalui perbudakan. Ia menolak budaya imperialis Roma atau pederasty khas Yunani. Referensi Gereja adalah pemikiran tentang budaya Yunani, yang telah mengenal unsur-unsur yang membuka jalan bagi Kekristenan melalui akal. Hubungan antara iman yang diwahyukan dan kecerdasan manusia adalah dasar dari hubungan kita dengan Tuhan, awal dan akhir dari semua ciptaan. Aristoteles tidak menciptakan sepuluh kategori: karena itu sudah ada sejak sebelumnya; dia hanya menemukan hal itu. Ini juga terjadi dalam sains modern: itu bukan sesuatu yang hanya menyangkut Barat, melainkan penemuan struktur dan mekanisme yang ada di alam. Hal yang sama berlaku juga untuk hukum Romawi, yang bukan sembarang sistem yang seenaknya. Tetapi itu adalah penemuan prinsip-prinsip hukum tertentu, yang ditemukan orang-orang Romawi dalam sifat suatu komunitas. Tentu saja, budaya lain belum memiliki kedalaman seperti ini. Tetapi kita tidaklah hidup di dalam budaya Yunani, Romawi, Gothic, Lombard, Frank. Kekristenan secara total mengubah budaya Yunani dan Romawi. Mitos-mitos pagan tertentu mungkin memiliki dimensi pedagogis dalam kaitannya dengan Kekristenan, tetapi semua itu bukanlah elemen-elemen yang terletak pada fondasi Kekristenan.

Dalam proses inkulturasi ini, Instrumentum Laboris juga “menafsirkan kembali” sakramen-sakramen, terutama yang berkaitan dengan Imamat, dengan dalih bahwa hanya ada sedikit imam di wilayah yang begitu luas.

Hal ini lebih lanjut menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan adalah bersifat sosiologis dan bukan teologis. Wahyu Allah dalam Kristus sungguh hadir di dalam sakramen-sakramen, dan Gereja tidak memiliki otoritas apa pun untuk mengubah substansi sakramen-sakramen. Ini bukanlah sekadar ritual yang kita sukai, dan imamat bukanlah kategori sosiologis untuk menciptakan hubungan dalam komunitas. Setiap sistem budaya memiliki ritus dan simbolnya sendiri, tetapi sakramen-sakramen adalah sarana rahmat ilahi bagi semua manusia di setiap waktu dan tempat, sehingga kita tidak dapat mengubah konten atau substansinya. Kita juga tidak dapat mengubah ritus, ketika ritus ini ditetapkan oleh Kristus sendiri. Kita tidak dapat melakukan baptisan dengan cairan apa pun; pembaptisan itu dilakukan dengan air alami. Pada saat Perjamuan Terakhir, Yesus Kristus tidak mengambil minuman atau makanan sembarangan saja; Dia mengambil air buah anggur dan roti dari gandum. Beberapa orang mengatakan, "tetapi tanaman gandum tidak tumbuh di Amazon, mari kita gunakan sesuatu yang lain saja." Tapi ini bukan inkulturasi. Mereka ingin mengubah tidak hanya apa yang merupakan hak gerejawi, tetapi juga apa yang menjadi hak Ilahi.

Yang Mulia, satu hal terakhir: Anda sering menyebut "mereka," bagi orang-orang yang ingin mengubah Gereja. Tapi siapakah "mereka"?

Ini tidak mengacu pada satu orang atau sekelompok orang tertentu. Ini adalah sistem rujukan-diri, yang kebal dari argumen kritis apa pun, sebuah cara berpikir yang cuma mendiskualifikasi umat beragama Katolik dan teolog lainnya, dengan menuduh mereka secara moral sebagai orang Parisi, doktor hukum, kaku, dan konservatif.

Mereka (para pendukung sinode Amazon) berbicara tentang hikmat para leluhur di Amazon dengan penuh hormat, tetapi tradisi panjang Gereja dihina, dan Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI dituduh sebagai orang yang ketinggalan zaman. Mereka ingin menyesuaikan (segalanya) dengan dunia: masalah pernikahan yang tak terceraikan, selibat, imam wanita, dan otoritas kerasulan, seolah-olah itu adalah masalah politik. Segala sesuatu harus diubah dalam keyakinan bahwa, dengan cara ini, akan ada musim semi baru bagi Gereja, sebuah Pentakosta baru. Ini adalah ide yang aneh, karena pencurahan Roh Kudus adalah peristiwa yang unik, eskatologis, dan berlaku selamanya. Seolah-olah teladan Protestan tidak cukup untuk membantah ilusi ini. Mereka tidak melihat bahwa alih-alih mereka bisa menghancurkan Gereja, justru mereka seperti orang buta yang jatuh ke dalam lubang. Gereja harus berkembang sesuai dengan prinsip-prinsip teologi Katolik dan bukan sosiologi atau naturalisme dan positivisme (lht. Dei Verbum, 8-10). “Teologi sakral bertumpu pada firman Allah yang tertulis, bersama dengan tradisi sakral, sebagai fondasi utama dan abadi.” Dengan meneliti dalam terang iman, semua kebenaran yang tersimpan dalam misteri Kristus, maka teologi paling akan sangat diperkuat dan terus diremajakan oleh kalimat itu (Dei Verbum, 24).

*******
Translation from the Italian by Diane Montagna of LifeSiteNews.



No comments:

Post a Comment