Thursday, July 4, 2019

PAUS FRANCIS MENGHADIAHKAN RELIKUI ST. PETRUS KEPADA PATRIARK GEREJA ORTODOKS




PAUS FRANCIS MENGHADIAHKAN RELIKUI ST. PETRUS KEPADA PATRIARK GEREJA ORTODOKS


LifeSiteNews
Oleh : Diane Montagna

ROMA, 3 Juli 2019 (LifeSiteNews) - Dalam sesuatu hal yang tak terduga dan apa yang dilihat oleh sebagian orang di Roma sebagai isyarat yang tidak menyenangkan, Paus Francis telah memberikan relikui Santo Petrus Rasul kepada seorang patriark Ortodoks.

Setelah Misa yang khidmat pada tanggal 29 Juni, pesta liturgi Rasul Petrus dan Paulus, Paus memberikan kepada delegasi yang mewakili Patriarkh Ekumenis Ortodoks Bartholomew dari Konstantinopel, sebuah peti relikui perunggu yang berisi sembilan fragmen tulang dari Paus pertama.

Gereja Ortodoks, walaupun memiliki imamat dan sakramen yang sah, tidak berada dalam persekutuan penuh dengan Roma, sebagian karena Gereja itu tidak mengakui kedudukan tertinggi dari kepausan. Meskipun penarikan ekskomunikasi antara Roma dan Konstantinopel telah dilakukan bersama pada akhir Konsili Vatikan II oleh Paus Paulus VI dan Patriarkh Athenagoras, umat Katolik tidak berdoa bagi para patriakh Ortodoks dalam liturgi mereka, demikian pula Ortodoks tidak berdoa bagi Paus. Tidak ada hubungan sakramental antar Gereja.

Tentang Relikui tersebut

Kesembilan fragmen tulang tersebut adalah bagian dari relikui Santo Petrus yang ditemukan selama penggalian nekropolis Vatikan yang dimulai oleh Paus Pius XI pada tahun 1939. Selama penggalian, para arkeolog menemukan sebuah monumen kuburan dengan peti mati yang diukir dengan kata-kata Yunani "Petros eni", atau “Peter ada di sini."

Menyusul penyelidikan selanjutnya, arkeolog Italia Margherita Guarducci menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa ia telah menemukan tulang-tulang St. Peter di dekat situs yang diidentifikasi sebagai makamnya.

Pada tahun 1968, Paus Paulus VI, yang yakin akan keaslian penemuan itu, menugaskan pembuatan sebuah peti perunggu untuk menyimpan sembilan buah fragmen tulang dan menyimpan relikui tersebut di kapel pribadinya di Istana Apostolik, tempat relikui itu berada sampai saat ini. Setiap tahun, pada pesta liturgi Santo Petrus dan Paulus pada 29 Juni, relikui itu dipajang di kapel untuk penghormatan pribadi kepada Paus Roma.

Relikui St. Petrus lainnya masih tetap berada di sebuah ceruk kecil di dinding - di bawah altar utama Basilika Santo Petrus, di tempat awal-mula relikui tersebut ditemukan.

Sembilan fragmen tulang tersebut pernah ditampilkan untuk penghormatan publik hanya satu kali, yaitu pada 24 November 2013, ketika Paus Fransiskus meletakkan relikui tsb di sebelah altar, selama Misa Penutupan Tahun Iman, yang dibuka oleh Paus Benediktus XVI.

Paus Fransiskus memindahkan peti relikui tersebut dari kapel pribadi para paus pada tanggal 29 Juni, pesta liturgi para Rasul St. Petrus dan Paulus, Pelindung Roma.

Meninggalkan Istana Kerasulan

Uskup Agung Telmessos, yang memimpin delegasi resmi Patriarkat Ekumenis Konstantinopel, mengatakan bahwa setelah Misa Kepausan di Basilika Santo Petrus pada 29 Juni, Paus Fransiskus mengundangnya untuk menemaninya ke makam Santo Petrus di bawah altar utama.

Uskup agung itu mengatakan bahwa setelah keduanya berdoa bersama di makam Santo Petrus, Paus mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki sebuah "hadiah untuk Gereja Konstantinopel." Paus mengundang uskup agung tsb untuk menemaninya ke Istana Kerasulan. Di sana, di kapel pribadi para paus, Francis mengambil peti relikui itu dan memberikannya kepada Uskup Agung Ayub.

"Ketika kami memasuki kapel," kata uskup agung Orthodox, "Paus Francis menjelaskan kepada saya bahwa Paus Paulus VI ingin menyimpan sebagian dari relikui St. Peter dari Basilika Vatikan, di kapel pribadinya."

Paus Francis mengatakan kepadanya: “Saya tidak lagi tinggal di Istana Kerasulan, saya tidak pernah menggunakan kapel ini, saya tidak pernah [merayakan] Misa Kudus di sini, dan kami memiliki relikui Santo Petrus di basilika itu sendiri, jadi akan lebih baik jika mereka mau, (relikui ini) disimpan di Konstantinopel."

"Ini hadiah dari saya untuk Gereja Konstantinopel," tambah Paus, saat ia menyerahkan relikui tersebut. "Tolong bawa relikui ini dan berikan kepada saudaraku Patriark Bartholomew."

"Hadiah ini bukan dari saya, ini adalah hadiah dari Tuhan," katanya.

Mengaku agak kaget dengan keputusan Paus, Uskup Agung Ayub berkata: "Ini adalah peristiwa luar biasa dan tak terduga yang tidak kami harapkan. Relikui Rasul Suci Petrus selalu disimpan di Roma di mana relikui itu menjadi tujuan ziarah."

"Gereja Ortodoks tidak pernah meminta relikui tersebut karena mereka tidak pernah menjadi milik Gereja Konstantinopel," kata uskup agung itu. “Kali ini, kita tidak mengatakan kembalinya relikui itu ke tempat asalnya. Kali ini, relikui tersebut diberikan sebagai hadiah. Sikap kenabian ini adalah langkah besar lainnya di jalan menuju persatuan yang konkret.”

Tanda yang tidak menyenangkan?

Tetapi beberapa pengamat memandang gestur itu sebagai pertanda buruk bagi Gereja dan Roma.

"Paus Francis benar-benar menyerahkan St. Peter," kata satu sumber di Roma kepada LifeSite. "Sebuah langkah yang luar biasa."

"Relik-relik itu berada di kapel pribadi Paus," catat seorang imam.  "Dia (PF) jelas lebih suka mengambil suatu 'langkah' atas relikui tersebut daripada berdoa di depan relikui itu dan menerima rahmat khusus dari pelindungnya, Paus pertama."

“Ini adalah cara berpikir yang sepenuhnya sekuler, dan apa yang dia petik - sekularisasi - akan dia tabur untuk seluruh Gereja, dengan cara yang tidak diharapkan oleh siapa pun,” tambahnya.

Dalam komentarnya kepada LifeSite, seorang imam lain di Roma menyatakan, betapa pentingnya 'locus,' yaitu 'tempat', dalam pandangan Katolik, dan menambahkan bahwa adalah kehendak Tuhan bahwa Petrus menjadi martir di Roma.

Imam itu menunjukkan bahwa seni dan sastra Kristen menggambarkan bahwa Petrus melarikan diri dari penyaliban di Roma selama penganiayaan Kaisar Nero. Menurut sebuah (catatan) tradisi Kristen, di jalan di luar kota, Petrus bertemu dengan Yesus yang bangkit. Dalam terjemahan Latin, Petrus bertanya kepada Yesus, _"Quo vadis, Domine ?,"_ yang dijawab oleh Tuhan yang bangkit: _"Romam eo iterum crucifigi"_ ("Aku pergi ke Roma untuk disalibkan lagi").  Visi itu memberi Petrus keberanian untuk kembali ke kota (Roma), di mana ia menjadi martir dengan disalibkan secara terbalik.

"Saya sangat curiga bahwa ini adalah sebuah tanda bahwa perlindungan Santo Petrus akan meninggalkan Vatikan," kata seorang pengamat di Roma.  “Apa yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah : Francis memberikan relikui Santo Paulus kepada orang Protestan.  Itu akan sejalan dengan logika dari langkah ini.  Dan itu akan lebih jauh lagi melucuti perlindungan ilahi, mempersiapkan St. Petrus bagi sebuah kehancuran yang tak terlihat sejak penjarahan Roma pada tahun 1500-an."

Pindah ke Timur

Pada malam tanggal 29 Juni, relikui tersebut dipindahkan dari Roma ke Konstantinopel, didampingi oleh Monsinyur Andrea Palmieri, wakil menteri Dewan Kepausan untuk Promosi Persatuan Kristen. Pada 30 Juni, relikui tsb diekspos untuk penghormatan publik selama Liturgi Ilahi yang dirayakan oleh Patriark Bartholomew, yang menggambarkan keputusan Paus Fransiskus sebagai langkah yang "berani dan hebat".

Peti relikui itu sekarang disimpan di patriarkat ekumenis di Istanbul.

"Seringkali tanda-tanda diberikan kepada kita," komentar seorang pengamat di Twitter setelah berita tersebut.  "St. Peter meninggalkan Roma menuju ke Timur hanya berarti satu hal: penghakiman telah dijatuhkan atas Roma.


No comments:

Post a Comment