Thursday, July 11, 2019

KRISIS TERBURUK DALAM 2000 TAHUN SEJARAH GEREJA


krisis terburuk dalam 2000 tahun sejarah gereja


NEWS: COMMENTARY



by Antonio Socci  •  ChurchMilitant.com  •  July 9, 2019   

Antonio Socci bicara soal sinode Pan-Amazon dan kepausan Francis

Dengan membaca dokumen Vatikan untuk Sinode Amazon, maka kepausan Bergoglian kini memiliki manifesto resmi yang berhaluan kiri ekstrem, berdasarkan “sosialisme surealis.”

Selain Trump dan Salvini, Presiden Brasil Bolsonaro sekarang berada di antara musuh-musuhnya, karena ketiganya merupakan lambang peradaban Barat yang dibenci oleh orang-orang dari tradisi Yahudi-Kristiani yang tidak menyangkal akar-akar dan identitasnya.

Instrumentum Laboris Vatikan ini, demikian tulis José Antonio Ureta, "telah mewakili pembukaan total pintu Magisterium bagi 'teologi Indian' dan 'eko-teologi,' dua turunan teologi pembebasan di Amerika Latin, yang pemandu soraknya, setelah keruntuhan Uni Soviet dan kegagalan 'sosialisme nyata,' sekarang menghubungkan peran historis kekuatan revolusioner dengan masyarakat adat dan alam, dalam sebuah kunci Marxis."

Ini adalah pembukaan total pintu Magisterium bagi 'teologi Indian' dan 'eko-teologi.' Tweet

Di antara umat Katolik terjadi sebuah kebingungan besar. Tampaknya ‘Gereja yang padam’ seperti yang diinginkan oleh Bergoglio benar-benar berhasil:  keluar dari agama Katolik. Kardinal Walter Brandmüller — teman pribadi Benediktus XVI - adalah sejarawan terkemuka Gereja, namun dia tidak ragu-ragu menggunakan istilah paling keras untuk bersuara menentang Instrumentum Laboris ini: "sesat" dan "murtad."

Brandmüller berbicara tentang Sinode Amason sebagai “perembesan agresif ke dalam urusan Negara dan masyarakat yang murni sekuler di Brasil." Dia kemudian mengutuk absurditas teologis dari dokumen tersebut (berbeda dengan teks-teks Konsili Vatikan II) dan "penolakan anti-rasional terhadap budaya 'Barat' yang menekankan pentingnya penalaran." Instrumentum laboris dari Vatikan yang seperti itu, seru kardinal, "menjadikan sinode para uskup dan akhirnya Paus harus bertanggung jawab atas pelanggaran berat terhadap depositum fidei (deposit iman), yang memiliki konsekuensi pada penghancuran diri Gereja atau pergantian Corpus Christi mysticum menjadi sebuah LSM sekuler dengan tujuan ekologis-sosial-psikologis."

Kardinal Walter Brandmüller menyimpulkan dengan tegas bahwa dokumen Vatikan itu ‘sangat  bertentangan dengan ajaran Gereja yang mengikat tentang hal-hal yang menentukan dan karenanya ia telah memenuhi syarat untuk dianggap sebagai bidaah. Mengingat bahwa di dalam dokumen itu bahkan fakta wahyu ilahi dipertanyakan, atau disalahpahami, maka kita harus juga berbicara tentang kemurtadan." Dokumen itu merupakan serangan terhadap dasar-dasar iman ... dan karenanya ia harus ditolak dengan keteguhan hati sepenuhnya."

Posisi kardinal Brandmüller, yang merupakan teman dekat Benediktus XVI, adalah posisi umat Katolik. Dan orang juga dapat berasumsi bahwa posisi ini telah diwartakan di atas segalanya oleh Ratzinger, yang selama bertahun-tahun teguh membela Iman Gereja dari serangan teologi pembebasan dan dari semua turunannya yang dewasa ini mengisi penuh dokumen Vatikan untuk sinode mendatang.

Meskipun ada ribuan tekanan yang diberikan kepada paus Francis untuk menanggapi, tetapi pihak Francis tidak pernah mau menanggapi pertanyaan dari empat kardinal Dubia (salah satunya adalah Brandmüller sendiri). Juga paus Francis tidak pernah memberikan bantahan resmi terhadap tuduhan uskup agung Carlo Maria Viganò, penulis kesaksian bersejarah tentang skandal Vatikan.

Sebaliknya, pada bulan April lalu, Benediktus menerbitkan kesaksiannya sendiri - secara khusus dalam kaitannya dengan skandal sexual dalam Gereja - yang menawarkan refleksi sejalan dengan sudut pandang para kardinal dubia yang disebutkan di atas, dan juga menawarkan solusi Benediktus sendiri.

Dan kita juga dapat mengatakan bahwa dokumen Benediktus itu sudah mengantisipasi munculnya dokumen Vatikan tentang sinode Amazon. Bahkan, dia mengutuk setiap upaya untuk menggantikan Gereja Kristus dengan menciptakan "Gereja lain, yang diciptakan oleh kita," karena itu adalah sebuah gereja yang – bukannya memusatkan perhatiannya pada keselamatan jiwa manusia – tetapi justru memusatkan perhatiannya kepada urusan politik, ekonomi, dan ekologi (menurut ideologi duniawi), padahal itu adalah sebuah "percobaan yang telah dicoba dan terbukti gagal."

Dokumen dari Benediktus ini sekarang telah diterbitkan dalam sebuah volume oleh Cantagalli bersama-sama dengan teks-teks Bergoglio lainnya tentang masalah skandal dalam Gereja, dan para klerus sekarang banyak yang menyampaikan pujian atas karya Benediktus ini sebagai sebuah tanda keharmonisan yang konon ada di antara dua paus itu.

Tetapi keharmonisan macam apa? Bagian-bagian tertentu dari kubu Bergoglio bereaksi dengan keras April lalu ketika Benediktus mengumumkan publikasi "catatan-catatan"-nya. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa tulisan itu bukanlah milik Benediktus. Lebih jauh, pihak Bergoglio sangat berhati-hati untuk tidak menyebarkan dokumen Benediktus itu, yang telah diberikan kepadanya oleh Benediktus sendiri pada saat KTT Vatikan (Februari lalu) tentang skandal sexual dalam Gereja.

Sebagai gantinya, Francis menambahkan kepada buku itu dengan tulisan-tulisannya sendiri untuk membuat orang melupakan dan mengabaikan kegagalannya dalam masalah ini (ini juga disoroti oleh Uskup Agung Viganò). Nampak bahwa Bergoglio berlindung di balik otoritas Benediktus. Tetapi hendaknya kita membaca kedua teks yang ada untuk memahami dua posisi yang berseberangan.

Benediktus pada tahun-tahun ini memiliki tugas yang cukup dramatis. Di satu sisi dia harus menangkis semua tarikan Bergoglio yang akan membawa Gereja ke luar batas-batas doktrin Katolik (dan kehadiran Benediktus sendiri adalah menjadi pencegah, yang memperingatkan dan menegur Francis). Di sisi lain, dia harus mendorong orang-orang Katolik yang kebingungan oleh bencana dan krisis saat ini (termasuk para uskup dan kardinal) dan dia harus mengajak mereka untuk mempertahankan iman Gereja sambil menghindari timbulnya perpecahan yang tidak dapat diperbaiki lagi.

Sinyal-sinyal yang diberikan Benediktus selalu bijaksana, jelas dan menghibur. Tidak hanya melalui intervensi yang kuat seperti dokumen yang dikeluarkannya April lalu, tetapi juga dengan mengingat bahwa dia – tetap sebagai paus - ada di sana dan umat Katolik seharusnya tidak merasa bahwa diri mereka adalah anak yatim. Buku terbarunya (benar-benar indah) yang diterbitkan Benediktus, "Per Amore," tidak menulisi sampulnya dengan judul "Paus Emeritus" tetapi hanya berupa tanda tangan yang tegas "Benedetto PP XVI." Inisial "PP" ini singkatan dari "Pastor Pastorum" (atau Pater Patrum), yang merupakan judul dan hak prerogatif paus yang memerintah.

Ini adalah tanda kecil yang kesekian kalinya dalam situasi dramatis yang terjadi pada Tahta Apostolik, yang tidak dapat (belum) diklarifikasi, tetapi menegaskan apa yang dikatakan oleh Benediktus XVI dalam audiensi terakhirnya pada 27 Februari 2013: Bahwa “yang selalu” adalah juga merupakan “untuk selamanya” - tidak akan ada lagi istilah kembali ke ruang privat. Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari kegiatan aktif tugas perutusan saya tidaklah membatalkan tugas pengajaran ini.”

Dalam beberapa surat terakhirnya - seperti surat 23 November 2017, kepada Cardinal Brandmuller, di mana dia menunjukkan bahwa dia sangat prihatin dengan situasi Gereja saat ini - Benediktus menyimpulkan dengan menulis: "Dengan berkat kerasulan saya." Hanya paus yang berkuasa yang dapat memberikan berkat kerasulan (secara langsung atau dengan mendelegasikan kepada orang lain). Jika Benediktus tidak lagi menjadi paus, dan dia memberikan berkat itu, maka hal itu berarti melakukan pelecehan.

Selain itu, banyak tanda-tanda lain yang diberikan Benediktus yang membuat orang harus berhenti sejenak dan berefleksi. Bukan hanya pakaiannya, namanya, gelarnya, lambangnya. Bergoglio sendiri memanggilnya "Yang Mulia" (karena dia secara resmi masih disebut sebagai "Yang Mulia Benediktus XVI.")

Selama enam tahun terakhir - dalam lingkaran Bergoglian - mereka ingin mendapatkan sebuah deklarasi dari Benediktus di mana dia mengatakan bahwa dia tidak lagi berhubungan dengan kepausan, dan bahwa dia hanya seorang uskup biasa. Tetapi Benediktus tidak pernqah mengucapkan kata-kata ini.

Seorang jurnalis dari Corriere della Sera telah menulis bahwa orang yang tak mau disebutkan namanya (dalam keadaan yang tidak ditentukan) dikatakan telah mendengar Benediktus berkata, "Paus adalah satu, Francis." Tetapi jurnalis yang sama ini baru-baru ini berkesempatan untuk bertemu dengan Benediktus dan mengajukan pertanyaan kepadanya, dan Benediktus XVI berkata kepadanya bahwa dirinya tidak pernah mengucapkan kalimat itu.

Posisi Benediktus adalah sentral dalam Gereja saat ini.Tweet

Pikiran Benediktus XVI dengan baik diungkapkan oleh perkataan dari orang kepercayaannya, Uskup Agung Georg Gaenswein, yang mengatakan pada konferensi bersejarah di Universitas Gregorian: “Sebelum dan sesudah pengunduran dirinya, Benediktus memahami dan menyadari tugasnya sebagai partisipasi dalam "pelayanan Petrus." Dia telah meninggalkan tahta kepausan namun, dengan langkah yang dibuat pada tanggal 11 Februari 2013, dia sama sekali tidak membatasi pelayanan ini. Sebaliknya, dia telah melengkapi jabatan pribadinya dengan dimensi kolegial dan sinodal, sebagai pelayanan yang dilakukan bersama. Inilah sebabnya mengapa Benediktus XVI tidak melepaskan nama kepausannya, atau jubah putihnya. Inilah sebabnya mengapa nama yang tepat untuk memanggil dirinya bahkan sampai hari ini adalah "Yang Mulia"; ... Dia tidak meninggalkan jabatan Petrus - sesuatu yang sama sekali mustahil baginya untuk dilakukan setelah penerimaannya yang tidak dapat dibatalkan terhadap jabatan itu pada bulan April 2005.

Disini Gaenswein berbicara tentang sebuah "kepausan pengecualian."

Ada orang-orang yang percaya bahwa dengan rancangan misterius dari Penyelenggaraan Ilahi, Gereja sedang dihadapkan kepada cobaan yang sangat keras, Jumat Agungnya sendiri, tetapi kehadiran Benediktus menjamin bahwa Gereja tidak akan karam. Tentu saja Benediktus adalah pusat dalam Gereja dewasa ini. Dan suatu hari nanti, semuanya akan menjadi lebih jelas.

********

First published in Libero on July 1, 2019.

Antonio Socci is the author of The Secret of Benedict XVI (Angelico Press, 2019). For more information click here

Translated by Giuseppe Pellegrino 



No comments:

Post a Comment