Thursday, September 27, 2018

GURITA – MULAILAH MEMUTUS TENTAKEL-TENTAKELNYA





GURITA – MULAILAH MEMUTUS TENTAKEL-TENTAKELNYA


September 25, 2018 


Ketika uskup agung Viganò merilis kesaksian eksplosifnya bulan lalu - dan sekarang dia  bersembunyi karena takut akan keselamatan nyawanya - dia dengan tepat telah menggambarkan jaringan homoseksual di dalam Gereja sebagai gurita raksasa dengan tentakel di mana-mana untuk mencekik kehidupan Gereja.

Kata-katanya yang tepat menyatakan bahwa jaringan homoseksual "bertindak di bawah penyembunyian kerahasiaan dan tinggal bersama kekuatan tentakel-tentakel gurita, dan mencekik para korban yang tidak bersalah serta panggilan hidup imamat, dan ia sedang mencekik seluruh Gereja."

Tentakel-tentakel, adalah kata yang baik bagi uskup agung untuk digunakan, karena kata itu tepat menggambarkan aspek multi-dimensi untuk menggambarkan horor ini.

Salah satu bidang utama dari semua masalah ini adalah cara para pemuda direkrut dan ditangani oleh berbagai keuskupan di Amerika Serikat – dan dalam banyak kasus, budaya homoseksual sering telah mendominasi dan dalam beberapa kasus ia juga menjadi ancaman bagi panggilan kepada hidup bakti yang sebenarnya.

Untuk lebih memahami tentakel yang menjangkau ke berbagai keuskupan di Amerika Serikat dan kemudian kepada kehidupan seminari, perlu bagi kita untuk memahami berbagai bentuk yang dapat dilakukan.

Budaya homoseksual di dalam keuskupan - yaitu, para klerus yang bertindak sebagai mafia dalam melindungi satu sama lain dan kemudian mempromosikan laki-laki "gay" yang tepat kedalam  seminari, dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

Pertama, bisa saja misalnya, di mana beberapa seminaris sendiri secara aktif berteman satu sama lain - terlepas dari pengetahuan atau dorongan dari keuskupan yang mensponsori mereka.

Kedua, bisa jadi di mana iklim keramahan-gay telah dipupuk oleh kepala diosesan bersama dengan beberapa klerus lainnya, termasuk seorang uskup, orang yang mungkin memiliki kebijaksanaan atau menentukan pembentukan calon imam di keuskupannya.

Ketiga, dapat ditemukan di beberapa fakultas atau staf seminari, yang memberikan semacam persetujuan diam-diam untuk melestarikan ‘subkultur gay.’ Lingkungan ini dapat sangat merugikan para seminaris yang non-gay, terutama ketika sifat atau kecenderungan gay yang jelas telah mendominasi rumah pembentukan imam-imam itu; atau yang keempat, kombinasi dari tiga poin pertama atau semua hal di atas.

Inilah bahayanya jika seorang imam homoseksual seperti Thomas Rosica, seorang pembicara yang ‘laris’ di banyak keuskupan dan seminari di AS, atau seorang pastor James Martin dibiarkan muncul dan memberikan ceramah kepada para imam dan seminaris diosesan di berbagai lembaga "Katolik".

Mereka tidak harus secara langsung mendorong kegiatan (dosa) tertentu, mereka hanya meruntuhkan katolisitas tradisional dengan cara-cara yang kecil dan halus dalam pembicaraan mereka, yang tentu saja hal ini membantu menyumbangkan pemikiran tentang apa yang disebut "keramahan gay". Mereka seharusnya tidak diijinkan berbicara kepada pikiran kaum muda.

Kemudian, ada contoh lain di mana ada orang yang terlibat dalam proses pembentukan kaum remaja putra yang dipanggil untuk memasuki ordo-ordo, ternyata orang itu adalah orang yang aktif gay dan terlibat dalam aktivitas seksual dengan beberapa seminaris yang, sebagian besar, adalah peserta yang memang bersedia.

Lalu ada beberapa kasus dimana beberapa imam berusaha memaksa para seminaris non-gay yang mereka anggap menarik dan ingin mendaftar di jajaran mereka. Para seminaris ini adalah korban-korban langsung, dan sering kali menerima perlakuan pelecehan fisik dan penyerangan, belum lagi pelecehan spiritual, kebingungan, dan potensi kehilangan semangat panggilan yang diberikan oleh Allah Yang Mahakuasa kepada mereka.

Kemudian ada juga kasus-kasus di mana suatu lingkungan di suatu keuskupan atau seminari yang begitu terang-terangan melaksanakan kegiatan homoseksual, sehingga para seminaris-seminaris gay disitu merasakan semacam ‘kebebasan penuh’ untuk melampiaskan gaya hidup gay mereka kepada para seminaris non-gay atau para pemuda polos yang menyadari sebuah panggilan suci kepada Gereja, dengan cara mengisolasi mereka di satu sisi, atau dalam beberapa kasus, bahkan mengejar mereka secara fisik.

Kemudian ada lagi sebuah jenis tentakel, tentakel gay dari keuskupan-ke-seminari yang sama sekali berbeda, yang pertama kali diungkapkan oleh Church Militant dalam laporan eksklusif kami bulan lalu tentang ‘pipa-penyalur’ dari Amerika Selatan yang menyalurkan para pria homoseksual ke keuskupan-keuskupan di AS dan kemudian ke seminari-seminari.

Yang kami tampilkan disitu berfokus pada penyelidikan yang mengungkapkan bahwa imam-imam homoseksual dan para direktur kehidupan-panggilan dari berbagai Keuskupan Pantai Timur Amerika Serikat, secara diam-diam mendaftarkan para pria gay dari Kolombia ke sejumlah seminari, termasuk Holy Apostles Seminary di Cornwall, Connecticut.

Kasus Ini muncul dalam sebuah penyelidikan Gereja pada tahun 2012, dan kita bisa mengatakan bahwa Seminari Holy Apostles segera membersihkan rumah mereka setelah kebusukan itu ditemukan. Apa yang ditemukan oleh penyelidikan itu adalah bahwa para pria muda ini adalah kaum gay aktiv dan dalam beberapa kasus mereka juga "dibuat prasmanan" di antara berbagai klerus diosesan.

Sekarang, untuk mulai memutuskan tentakel atau lengan gurita homoseksualitas yang mencekik Gereja itu, maka perlu bagi kita untuk mulai menyebutkan nama.

Jadi itulah yang akan mulai kita lakukan di sini.

Keuskupan agung Hartford di bawah pimpinan Uskup Agung Henry Mansell adalah peserta paling jahat dalam kejahatan ini.

Hari ini, Pastor James Shanley adalah vikaris episkopal Keuskupan Agung Hartford.
Para mantan seminaris disana telah menyatakan bahwa penyelidikan internal itu menunjuk langsung kepada pastor Shanley, antara lain, dan Church Militan akan mengungkapkan lebih banyak lagi tentang orang-orang ini dalam beberapa hari mendatang.

Pastor Shanley adalah "direktur (penasihat) rohani" bagi beberapa seminaris dari Keuskupan Agung Hartford yang kemudian dikeluarkan dari Seminari Holy Apostles karena terlibat dalam aktivitas homoseksual sebagai hasil dari penyelidikan tahun 2012. Para mantan seminaris sejak saat itu, tahun 2012, telah menyatakan bahwa pastor Shanley memiliki hubungan yang dekat dan intim dengan sejumlah seminaris dari Keuskupan Agung Hartford.

Dalam perannya, kata beberapa orang seminaris, pastor Shanley memiliki sejumlah hubungan homoseksual dengan berbagai imam diosesan (termasuk direktur-panggilan saat itu) dan seminaris dalam keuskupan agung Hartford dimana hal itu masih sedang berlangsung.

Para mantan seminaris mengatakan kepada Church Militant bahwa semua kasus ini ada dalam halaman-halaman dari laporan internal yang dibagikan kepada berbagai uskup.

Pastor Shanley juga mengetahui adanya hubungan homoseksual di antara para seminaris yang kemudian ditahbiskan sebagai imam untuk keuskupan agung Hartford.

Dalam apa yang disebut "arahan spiritual" bagi para seminaris, pastor Shanley selalu menyarankan agar orang itu berhati-hati dan menjaga tingkat kerahasiaan dari hubungan homoseksual mereka satu sama lain.

Pastor Shanley juga diketahui sering menghadiri "pesta seks" di mana para seminaris dan imam diosesan berkumpul bersama. Pesta sex ini sering dilakukan di berbagai properti yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Hartford, dan para mantan seminaris memberi tahu kita bahwa semua ini, lagi-lagi, telah ada di dalam laporan tindak lanjut penyelidikan pada seminari Holy Apostles.

Sekarang, sekali lagi, berbagai otoritas Gereja - para uskup dan jajarannya - telah diberitahu akan kejahatan ini, dan sampai saat ini pastor Shanley adalah bagian dari jaringan homoseksual yang luas, yang memiliki akses tak terbatas ke lorong-lorong kekuasaan di dalam Gereja dan kepada orang-orang muda yang menyadari panggilan mereka kepada hidup bakti imamat.

Sebagai catatan terakhir, hanya beberapa minggu yang lalu, pastor Shanley menghadiri presentasi yang diberikan oleh pastor James Martin di Universitas St. Joseph di Connecticut di mana pastor Shanley memberikan tepuk tangan meriah setelah pidato oleh pastor James Martin.

Beginilah jaringan homoseksual di dalam Gereja bekerja – yang juga diungkapkan oleh uskup agung Viganò, yang saat ini sedang bersembunyi entah dimana. Mereka saling mempromosikan dan bertepuk tangan satu sama lain, mereka saling menutupi dan, selama mereka tidak menyentuh anak di bawah umur, mereka benar-benar tidak merasa bersalah dan tidak perlu bertanggung jawab.

Kebusukan ini harus dibasmi dan diseret ke dalam terangnya siang hari.

Berdoalah Rosario bagi Gereja, umat Katolik yang setia - setiap hari, dengan intensi khusus untuk pembebasan dan kemuliaan Bunda Gereja agar ia dibebaskan dari gurita ini.

No comments:

Post a Comment