Tuesday, October 23, 2018

AGENDA LGBT TELAH MERAMPOK SINODE BAGI KAUM MUDA


AGENDA LGBT TELAH MERAMPOK SINODE BAGI KAUM MUDA




by David Nussman  •  ChurchMilitant.com  •  October 22, 2018

Penekanan Dititik-Beratkan Pada 'Menyambut' Perbuatan Homoseksual, Dan Hanya Sedikit Sekali Seruan Tentang Pertobatan Dan Penyesalan


VATICAN CITY (ChurchMilitant.com)  - Sinode tentang Pemuda yang sedang berlangsung saat ini di Vatikan, telah digunakan sebagai platform untuk secara agresif mempromosikan agenda LGBT.

Beberapa uskup yang ambil bagian dalam Sinode ini dilaporkan telah mengumandangkan satu topik yang sama yang bernada ‘pro-gay’ dalam pidato mereka.

Misalnya, dalam sebuah tweet pada 20 Oktober oleh penulis National Catholic Reporter, Joshua McElwee, dia mencatat bahwa - berbicara dalam acuan mendukung individu LGBT - Cdl. Blase Cupich dari Chicago menyerukan sikap "inklusi," Cdl. John Ribat dari Keuskupan Agung Port Moresby, Papua New Guinea mengatakan "tidak ada yang dikecualikan" dan uskup agung Peter Comensoli dari Melbourne, Australia, berkata, "Bukankah kita semua orang berdosa? Dan bukankah kita semua ingin ditemukan oleh Tuhan?"

"Tiga uskup pada saat briefing Sinode sekarang ini berbicara tentang keinginan mereka agar gereja bersikap inklusif (juga mau menerima) orang-orang gay," kata McElwee.
Kutipan-kutipan itu berasal dari konferensi pers Vatikan pada 20 Oktober 2018 dalam Sinode bagi kaum muda. Selama konferensi, pertanyaan ganda diajukan kepada panelis tentang menyambut para pengungsi dan menyambut homoseksual.

Cardinal Cupich menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu. Setelah berbicara soal pengungsi, dia berkata:
Berkenaan dengan isu ‘ketertarikan kepada sesama jenis,’ dan isu-isu yang terkait dengan itu: Ada sejumlah interupsi, di kelompok kami, dan juga dalam laporan hari ini, yang ingin memastikan bahwa kami berkata tentang sesuatu yang berlaku bagi semua orang. Saya ditanya, "Apa dokumen terakhir yang harus dikatakan kepada orang-orang homoseksual, yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis?" ... Jawaban saya adalah, "Saya pikir seluruh dokumen harus memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada semua orang." Jadi kami ingin memastikan bahwa orang-orang dilibatkan, dan merasa terlibat oleh apa pun yang kami katakan.

Baru-baru ini, para pastor peserta sinode dan peserta awam telah bertemu dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas bagian-bagian dari Instrumentum laboris, atau "dokumen kerja," yang disusun pada pertemuan kaum muda dari seluruh dunia di Vatikan awal tahun ini.

Setiap beberapa hari selama sinode, setiap kelompok kecil menyelesaikan relatio atau "melaporkan" tentang apa yang dibicarakan dalam kelompok. Laporan ini diterbitkan dalam kelompok-kelompok oleh Vatikan. Tiga set laaporan telah dirilis sejauh ini - sesuai dengan bagian satu, dua dan tiga dari dokumen kerja. Laporan terbaru diterbitkan pada 20 Oktober – pada hari yang sama dengan konferensi pers.

Jadi kami ingin memastikan bahwa orang-orang dilibatkan, dan merasa dimasukkan oleh apa pun yang kami katakan.Tweet

Dalam tanggapannya terhadap sebuah pertanyaan, Cdl. Ribat menyebutkan soal mereka yang merasa ‘tertarik kepada sesama jenis’ dengan  berkata, "Sekarang pendekatan Gereja adalah untuk dapat menyambut semua orang, dan untuk dapat membuat mereka merasa di rumah sendiri, dan tidak ada seorang pun yang dikecualikan. Dan itulah Gereja." (Perhatikan: tidak ada kata dosa atau pertobatan disebutkan disini).

Kardinal Ribat kemudian mengatakan tentang diskusi-diskusi dalam sinode, "Ini benar-benar bicara soal ‘tidak mengecualikan siapa pun.’ (termasuk bagi orang berdosa). Ini benar-benar tentang menyambut semua orang dan (berada) di rumah, bersama satu sama lain." (Dengan kata lain: orang berdosa/homosex aktiv, tidak dianggap sebagai orang berdosa. Jadi, homosex adalah normal).

Kemudian moderator bertanya kepada  uskup agung Comensoli dari Australian jika dia ingin berkomentar selanjutnya. Dia berkata, "Sangat sederhana, bukankah kita semua adalah orang berdosa? Dan bukankah kita semua ingin ditemukan oleh Tuhan? Dan karena ditemukan oleh Tuhan, bagaimana kita bisa menemukan hidup kita di dalam Dia."

Juga selama konferensi pers, Matthew Bunson dari EWTN bertanya kepada para panelis apakah dan bagaimana diskusi dalam sinode tersebut menangani skandal pelecehan seks yang telah menimpa Gereja di negara-negara berbahasa Inggris seperti Amerika dan Australia. Baik Cupich maupun Comensoli mengakui bahwa krisis pelecehan sex itu memang muncul secara teratur selama sinode. (Itu saja jawaban mereka).

Kemudian, dalam sebuah pertanyaan lanjutan, Susie Pinto dari EWTN News Nightly bertanya tentang bagaimana mereka menanggapi kritik terhadap sinode bulan Februari 2019 mendatang tentang skandal pelecehan seks dan apa tindakan konkrit yang akan dilakukan.

Cupich mengatakan bahwa para uskup harus terbuka untuk diselidiki ketika tuduhan dibuat terhadap mereka. Kemudian, sebagai tanggapan atas pertanyaan dalam bahasa Spanyol, Cdl. Cupich menekankan bahwa tim investigasi dari umat awam dalam kasus pelecehan seks harus mampu menyelidiki uskup seperti dirinya "tanpa campur tangan kita."

Kemudian, Diane Montagna dari LifeSiteNews meminta panelis untuk "sedikit lebih jelas tentang apa yang Anda maksud dengan 'menyambut' dan 'penerimaan'," karena dia bertanya-tanya: apakah mereka membuat perbedaan antara mencintai seseorang dan menyetujui gaya hidup.

Dia juga bertanya, "Saya ingin tahu apa dampak yang Anda pikir tentang kesaksian ketiga dari uskup agung ViganĂ² pada sinode ini ... terutama mengingat apa yang dikatakan oleh ViganĂ² tentang budaya homoseksual menjadi penyebab utama dari banyak pelecehan seksual yang telah kami saksikan di dalam gereja."

Uskup Agung Comensoli menjawab bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk memikul salib, termasuk mereka yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis. Kardinal Cupich menekankan bahwa semua orang perlu ditemani dalam perjalanan hidup mereka.

Kardinal Cupich menjawab tentang pertanyaan kedua Montagna, "Saya tidak tahu apakah ada sesuatu yang baru" dalam kesaksian ketiga dari ViganĂ², dimana jawaban ini mencirikan bahwa Cupich adalah sebagai bagian dari sikap "simpang-siur" yang berkelanjutan.




Cupich juga berkata, "Penelitian menunjukkan dengan jelas ... bahwa penyebabnya bukan homoseksualitas, tetapi ada faktor-faktor lain juga."

Comensoli menimpali dengan mengklaim bahwa ada penelitian di Australia yang menegaskan perkataan Cupich. Sebagaimana dicatat oleh Vatikan News, baik Cdl. Cupich dan uskup agung Comensoli telah membantah bahwa ada hubungan antara homoseksualitas dalam imamat dengan krisis pelecehan seks para imam – hal ini terlepas dari fakta bahwa 80 persen pelecehan klerus di Amerika Serikat adalah berupa homoseksual.

Ed Pentin dari the National Catholic Register bertanya kepada uskup agung Comensoli tentang pemikirannya soal petisi baru-baru ini oleh pemuda Katolik Australia untuk mengakhiri "apa yang mereka sebut 'kebijakan-dalam-berbicara' ... dan apa yang mereka sebut sebagai 'hal yang biasa dan dangkal.' "

Comensoli menjawab, "Saya benar-benar tidak menyadari surat itu, atau dokumen itu - saya tidak tahu apa isinya - jadi saya harus menjawab dengan cara yang agak umum."

Dia mengatakan bahwa dia ingin menunjukkan "berapa [sic] kali saya dengar dari auditor muda kami, bahwa mereka ingin bertumbuh dalam relasi mereka dengan Tuhan, di dalam dalam kebenaran dan di dalam kasih. Dan melakukan hal itu dalam ajaran-ajaran yang lebih luas dari Gereja."

Ada ratusan pemuda Australia mengatakan dalam petisi 12 Oktober 2018 lalu yang ditujukan kepada orang-orang yang ambil bagian dalam sinode, "Kaum muda tidak ingin membentuk Gereja sebelum Gereja dapat membentuk kami. Dunia sedang bingung. Dan dalam kebingungan ini, kaum muda tidak memiliki apa-apa untuk memahaminya."

Petisi itu juga menyatakan bahwa orang-orang muda "tidak dapat berharap untuk mengambil peranan di tengah-tengah kebingungan atas isu-isu seperti kontrasepsi, seksualitas, pemberian Komuni bagi orang yang bercerai dan orang non-Katolik, imam yang menikah dan pentahbisan imam perempuan."

Mereka mengeluh tentang subversi pada ajaran Gereja oleh kepemimpinan Gereja yang liberal: "Kebingungan semacam itu disulut oleh para pejabat tinggi senior yang dengan sengaja menggunakan bahasa rancu ketika membahas masalah-masalah semacam itu, bahkan di hadapan ajaran-ajaran yang sangat jelas dari Kristus, para Bapa Gereja dan dogma Gereja."

Naskah itu juga menyebut tentang liturgi yang buruk dan semakin lemah, dan mereka mengatakan, "Tidak peduli seberapa banyak kita mencoba dan membuatnya menjadi kontemporer atau mudah dimengerti, tetapi Misa tetap terlepas meninggalkan kita. Dalam membawa Misa kepada tingkat kenyamanan kita, kita mengubah anggapan yang secara fisik dikatakan seolah Misa adalah sekilas rasa dari surga, menjadi anggapan yang aneh dimana orang-orang berusaha untuk menganggapnya serius."

Petisi dari kaum muda Australia ini memiliki 217 penandatangan. Daftar tanda tangan menunjukkan bahwa mereka adalah anggota dan alumni dari Asosiasi Mahasiswa Katolik Australia, sebuah organisasi mahasiswa universitas.

No comments:

Post a Comment