Monday, October 1, 2018

KOMUNIS MERENCANAKAN PERUBAHAN KONSILIER...


These Last Days News - September 25, 2018

SECARA RAHASIA, KOMUNIS MERENCANAKAN PERUBAHAN KONSILIER; JUGA PELECEHAN SEXUAL OLEH KLERUS…





Fatima.org reported on September 24, 2018:

by David Martin

Episode terbaru dari skandal pelecehan seks yang meledak di media saat ini telah menjadi kesempatan yang tepat bagi kita semua untuk berhenti sejenak dan merenungkan: bagaimana kita telah sampai pada keadaan sejarah Gereja yang tragis seperti ini.

Tak perlu diragukan lagi, skandal yang mencuat sekarang ini hanyalah indikasi permukaan dari rawa-rawa luas yang berupa kesalahan dan kebusukan yang telah menjangkiti Gereja sejak Vatikan II, tetapi kerusakan ini sebagian besar merupakan hasil dari perencanaan matang selama bertahun-tahun sebelumnya dari orang-orang yang berusaha untuk mencelakakan Gereja dari dalam. Bunda Maria di Fatima telah memperingatkan pada tahun 1917 — tahun terjadinya Revolusi Bolshevik di Rusia — bahwa jika kita tidak mengindahkan permintaannya untuk mendorong pertobatan Rusia melalui doa Rosario harian dan tindakan konsekrasi Rusia kepada Hatinya Yang Tak Bernoda,maka  kesalahan bangsa itu akan menyebar ke seluruh dunia dan bahkan ke dalam Gereja.

Sayangnya, permintaan Bunda Maria itu tidak diperhatikan dan karenanya, Rusia tidak bertobat, dan dengan demikian, pengaruh yang menipu dari Komunisme terus hidup dan terus bekerja saat ini di dalam Gereja. Sehingga kemudian ‘…tindakan sesat untuk mempercayai kebohongan’ (lht. 2Tes 2:10) telah benar-benar menjadi ‘tatanan baru’ saat ini.

Merusak kaum muda

Apa yang kita lihat yang terutama diterapkan di zaman kita sekarang ini adalah strategi Lenin untuk memulai revolusi: Rusakkan kaum muda: jauhkan mereka dari agama. Buatlah mereka tertarik dengan seks.

Buatlah mereka menjadi berpikiran dangkal; hancurkan sifat keras kepala mereka. Menurut mantan propagandis KGB Soviet, Yuri Bezmenov, yang bekerja untuk Badan Pers Novosti Uni Soviet, sampai dia membelot pada tahun 1970, metode utama subversi yang digunakan oleh kaum Marxis di Barat hanya ini saja: merusak kaum muda, membuat mereka tertarik kepada seks, menjauhkan mereka dari agama. Buatlah mereka menjadi berpikiran dangkal dan selalu bimbang […] hancurkan kepercayaan orang-orang terhadap para pemimpin nasional mereka dengan mendorong para pemimpin itu untuk melakukan perbuatan yang hina, yang aib, hingga layak untuk dicemooh […] hingga menyebabkan kerusakan terhadap kebajikan-kebajikan moral yang lama: kejujuran, ketenangan, pengendalian diri, iman akan Sabda Tuhan."

Menurut beberapa mantan agen seperti Bezmenov, target utama Komunis adalah — dan tetap — Gereja Katolik, media, perguruan tinggi dan universitas kita.

Tidak lama setelah Vatikan II, kami melihat gelombang pemikiran revolusioner baru yang melanda masyarakat, yang dicontohkan terutama melalui wabah musik-rock dan obat-obat terlarang yang telah membuat masyarakat mengalami gejolak baru. Tetapi hal itu tidak berakhir di sana. Pengaruh budaya pop yang busuk ini memasuki Gereja dan melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai "Misa Gitar" kontemporer, sebuah tindak kekejian yang penuh dengan dentuman drum, rebana, mikrofon, dan pengeras suara, yang semuanya digunakan untuk memproyeksikan nuansa hati dan lirik lagu yang memberontak bagi umat yang setia.
Misa yang menggunakan musik gitar akan mengotori Misa Kudus dan menuntun umat beriman untuk mengikuti irama ketukan nada-nada pop dari sebuah injil baru, yang darinya akan muncul tari-tarian, tepuk tangan, wanita dengan celana pendek, celana ketat, dengan pakaian yang tidak senonoh; dan juga pria dengan memakai anting, rambut panjang dan kuncir kuda — tanda klasik dari homoseksualitas.

Menurut Bezmenov, sebuah kelompok musik rock atau pop dengan membawa pesan 'keadilan sosial' yang dilapisi ‘pemanis’ berupa nada-nada 'spiritual' yang populer sebenarnya lebih manjur bagi rencana subversi KGB, daripada seseorang yang berdiri di mimbar yang memberitakan doktrin Marxis-Leninis.

Oleh karena itu dari tatanan liturgi yang busuk ini yang dijalin dengan benang-benang budaya pop (dan didorong terutama oleh kehadiran kelompok homoseksual di dalam Gereja) maka belatung-belatung pelecehan seksual telah muncul di zaman kita. “Dari buahnya kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:20)

Bukan suatu kebetulan

Namun, subversi ini tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah fakta yang telah banyak diketahui dan didokumentasikan bahwa agen-agen Komunis mulai memasuki seminari-seminari Katolik sejak tahun 1930-an dengan tujuan untuk menghancurkan Gereja Katolik dari dalam. Lebih dari seribu agen seperti itu telah memasuki seminari-seminari sebelum tahun 1940. Kesaksian dari seorang mantan komunis, seperti Bella Dodd, Anatoliy Golitsyn, dan Manning Johnson, yang telah bersaksi di depan the House Un-American Activities Committee tentang kegiatan konspirasi mereka, telah lebih dari cukup untuk menegaskan bahwa para agen ‘palu arit’ telah  membangun kekuatan mereka melawan Gereja dengan maksud untuk membongkar dan mengindoktrinasi umat beriman dengan prinsip-prinsip anti-Gereja.

Rencana mereka, pertama-tama adalah untuk melunturkan filsafat dan ajaran Katolik di seminari-seminari dan membuat mereka memiliki akses untuk berkomunikasi secara lihai dan menarik para imam Katolik menjauh dari akar tradisional mereka, dan pada gilirannya para calon imam dan imam itu akan menerima prinsip-prinsip revolusioner dan menjadi pion-pion subversi gerejawi. Ide ‘kepalan tinju’ Lenin sekarang akan diterapkan dengan cara spiritual di mana upaya "pemberdayaan kaum awam" akan membantu rencana musuh untuk menggulingkan struktur monarki Gereja, sehingga rasa baru dari demokrasi dan kebebasan beragama bisa didahulukan daripada aturan-aturan yuridis dan regulasi yang dikeluarkan dari Tahta Petrus.

Mantan komunis berbicara

Manning Johnson, mantan pejabat Partai Komunis di Amerika, memberikan kesaksian berikut pada tahun 1953 kepada the House Un-American Activities Committee:

"Begitu taktik infiltrasi organisasi keagamaan ditetapkan oleh Kremlin ... komunis menyadari kenyataan bahwa penghancuran agama dapat berjalan lebih cepat melalui infiltrasi Gereja oleh ajaran komunis yang beroperasi di dalam Gereja itu sendiri .... Kesimpulan praktis yang ditarik oleh para pemimpin Merah adalah bahwa lembaga-lembaga Gereja ini akan memungkinkan bagi minoritas komunis kecil untuk mempengaruhi ideologi klerus di masa depan, di jalan yang kondusif yang mendukung tujuan komunis…. Kebijakan menyusupi seminari-seminari telah berhasil, bahkan melampaui harapan kami."

Pada awal tahun limapuluhan, Bella Dodd, mantan pejabat tinggi Partai Komunis Amerika, memberikan kesaksian di depan the House Un-American Activities Committee tentang infiltrasi komunis kedalam Gereja dan Negara dan memberikan penjelasan terperinci tentang subversi Komunis kedalam Gereja. Berbicara sebagai mantan orang dalam, dia berkata:

“Pada tahun 1930-an kami menempatkan seribu orang ke dalam profesi imamat untuk menghancurkan Gereja dari dalam. Idenya adalah agar orang-orang ini ditahbiskan, dan kemudian menaiki tangga dan posisi yang berpengaruh dan otoritas, sebagai Uskup-uskup.”

Dalam pernyataan publiknya, dia juga menyatakan: “Pada akhir 1920-an dan 1930-an, arahan telah dikirim dari Moskow kepada semua organisasi Partai Komunis. Untuk menghancurkan Gereja Katolik (Roma) dari dalam, para anggota partai harus ditanam di dalam seminari-seminari dan di dalam organisasi keuskupan ... Saya sendiri telah menempatkan 1.200 orang di seminari-seminari Katolik.”

Menurut profesor Katolik Alice von Hildebrand, yang adalah teman dari Dodd, dia mengatakan bahwa “ketika dia menjadi anggota partai yang aktif, dia telah berhasil mendudukkan tidak kurang dari empat orang kardinal dalam Vatikan yang bekerja untuk kami, yaitu Partai Komunis."

Dua belas tahun sebelum Vatikan II, Dodd juga mengatakan: “Saat ini mereka telah berada di tempat-tempat tertinggi di dalam Gereja.” Dia juga memprediksi akan adanya perubahan di dalam Gereja yang akan sangat drastis dan bahwa “Anda akan tidak mengenali lagi bahwa itu adalah Gereja Katolik."

Ramalan Bella Dodd tentu saja telah terjadi. Gereja saat ini hanyalah bangkai dari kejayaannya masa lalu, yang telah dilucuti dari kekudusan dan kesalehannya. Sebagian besar karena para bapa dari Vatikan II (para uskup dan kardinal peserta KV II) telah menyerahkan telinga mereka kepada agen-agen merah yang menyerukan “perubahan.” Dodd menjelaskan pekerjaan mereka di dalam Gereja:

  • Mempromosikan agama palsu: sesuatu yang menyerupai agama Katolik, tetapi bukan.
  • Memberi label Gereja masa lalu sebagai penindas, otoriter, penuh prasangka, arogan dalam mengklaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, dan bertanggung jawab atas terjadinya perpecahan di dalam badan-badan keagamaan selama berabad-abad.
  • Memojokkan para pemimpin Gereja agar melakukan “sebuah 'keterbukaan kepada dunia,' dan kepada sikap yang lebih fleksibel terhadap semua agama.”

Dodd, dalam keadaan hancur hatinya akhirnya menyadari bahaya mengerikan dan tidak dapat diperbaiki yang telah dia lakukan dengan getol dan efektif untuk mengikuti perintah Stalin. Dia  datang kepada Uskup Agung Fulton Sheen yang terhormat pada tahun 1952 dan dengan sepenuh hati dia mengakui perbuatan konspiratorialnya. Setelah itu dia menyatakan kepada Fulton Sheen bahwa dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan memasuki ordo penitensial dalam Gereja dan untuk memperbaiki perilaku buruknya. Tetapi dengan penuh kebijaksanaan uskup Fulton Sheen lebih menasihatinya bahwa misinya adalah untuk tetap berada di dunia sehingga dia bisa bersaksi tentang kebenaran dan membuka mata semua orang tentang bahaya Komunisme yang bersembunyi di dalam dan di sekitar Gereja. Bella Dodd taat dan mematuhinya.

Sekarang, renungkan juga memoar dari seorang agen Komunis yang tidak bertobat, yang ditemukan oleh seorang perawat Katolik yang merawatnya setelah dia mengalami kecelakaan mobil. Sayangnya, dia meninggal dalam waktu singkat setelah itu tanpa bisa mengungkapkan identitasnya, sehingga dia hanya dikenal dengan nama kode yang diberikan kepadanya oleh Polisi Rahasia Soviet, dan kode bagi dirinya adalah SS 1025.

Ada 1024 agen yang telah bergerak sebelum dia, beberapa di antaranya telah menjadi uskup dan ada yang bisa menembus kepada posisi tinggi dalam Vatikan. Seorang agen mengungkapkan bagaimana dia menjadi seorang ‘imam’ yang kemudian bekerja sama dengan orang-orang yang progresif selama Konsili Vatikan II untuk mengindoktrinasi Konsili itu dengan kejahatan. Pertimbangkan kutipan berikut dari memoarnya:

“Kita harus menanamkan di kepala mereka, dan terutama kepada para imam, bahwa waktunya telah tiba untuk berusaha dan bekerja keras untuk menyatukan semua agama. Kita harus, khususnya, mempromosikan di antara umat Katolik perasaan bersalah tentang 'SATU KEBENARAN' yang mereka klaim mereka sendiri miliki. Kita harus meyakinkan mereka bahwa sikap ini adalah dosa kesombongan yang luar biasa, dan bahwa mereka sekarang harus mencari rekonsiliasi dengan agama-agama lain. Pemikiran ini harus dibuat agar bertumbuh dan menjadi yang terdepan dalam pikiran mereka….

“Kita akan berbicara tentang manusia, menekankan martabat dan kemuliaan manusia. Kita harus mengubah bahasa dan pola berpikir setiap orang Katolik. Kita harus menumbuhkan nilai mistik dari umat manusia…. Kami akan mendewakan manusia.”

“Begitu umat Katolik menerima nilai mistik baru ini, kami akan memberi tahu mereka untuk melepaskan gereja mereka dari segala patung dan ornamen karena hal-hal ini tidak penting dan menjijikkan bagi saudara-saudara Protestan dan Yahudi yang mereka sayangi. Dengan demikian, semua simbol penyembahan dan devosi Katolik akan dihilangkan oleh Konsili, dan ketika patung-patung dan ornamen-ornamen itu hilang, maka devosi juga akan hilang. Ya, kami akan mempromosikan semangat ikonoklastik terutama di kalangan generasi muda. Mereka sendiri nantinya yang akan menghancurkan tumpukan patung, gambar, pakaian, relikwi, organ, dll. Akan menjadi ide yang baik juga untuk menyebarkan 'nubuatan' yang mengatakan: 'Kamu akan melihat para imam yang menikah, dan kamu akan mendengar Misa dalam bahasa lokal.' Hal ini pasti akan mempermudah tugas kita. Kita akan menghasut para wanita untuk menuntut hak mereka untuk menjadi imam ….

“Kami akan menurunkan Salib, mengganti altar dengan sebuah meja biasa, dan membaliknya sehingga imam dapat mengambil peranan seperti seorang presiden. Imam akan berbicara kepada umat lebih banyak dari sebelumnya. Dengan cara ini Misa, secara bertahap, akan berhenti dianggap sebagai tindakan pemujaan kepada Tuhan, dan akan menjadi pertemuan dan tindakan persaudaraan manusia. Semua hal ini harus dijabarkan dengan sangat rinci dan hal ini mungkin membutuhkan waktu hingga 30 tahun sebelum ia bisa diimplementasikan, tetapi saya pikir semua tujuan saya akan terpenuhi pada tahun 1974.”

Bisakah kita mengerti mengapa Gereja menjadi seperti sekarang ini? Apakah ini bukan menegaskan bahwa perubahan-perubahan radikal yang terjadi di dalam Gereja setelah Konsili Vatikan II sebagian besar merupakan karya dari para pengikut setan yang telah menduduki posisi-posisi kunci di dalam gereja-gereja dan seminari-seminari Katolik kita? Dan tentu saja, rencana musuh untuk mengotori seminari-seminari telah berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi hari ini. Homoseksualitas diajarkan sebagai cara hidup yang dapat diterima di beberapa seminari dan gereja Katolik kita. Apakah mengherankan jika seminari-seminari telah menjadi lubang neraka dari bidaah dan kebejatan moral? Pelecehan seksual merajalela di banyak seminari, tetapi apa yang kita harapkan ketika para pemimpin Gereja dan bahkan paus saat ini - yang memiliki sejarah melibatkan dirinya dengan Teologi Pembebasan Marxis - telah tercatat sebagai orang yang mengatakan bahwa “Tuhan memang menciptakan anda seperti itu (menjadi gay)?"

Dan sayang sekali, sodomi adalah tumor yang menyebarkan kanker pedofil dan menghancurkan kaum muda Katolik. Inilah alasannya mengapa musuh menekankan pada tindakan menginfeksi Gereja dengan kaum homoseksual.

Perawan Terberkati di La Salette (19 September 1846) bernubuat dengan mengatakan, “Roma akan kehilangan Iman dan menjadi tempat kedudukan dari antikristus.” Ketika kita menyadari bahwa banyak dari pejabat Gereja, termasuk anggota kunci Dewan Sembilan dari Francis adalah simpatisan gay, maka hal itu hanya membenarkan kepercayaan kita kepada nubuatan Bunda Maria.

Akan jadi apa kita ini?

Kutipan pesan-pesan Our Lady of the Roses di Bayside

"Oh anak-anakku di Amerika Serikat, apakah kamu tidak mengerti apa yang akan terjadi padamu? Negerimu, Amerika Serikat, belum tahu apa yang akan diderita melalui kekuatan-kekuatan yang merusak. Anak-anakku, kamu tidak akan luput dari kehancuran yang dikerjakan oleh Beruang Komunisme itu kepada banyak negara di Eropa dan dunia. Kamu tidak boleh mengkompromikan Imanmu untuk menyelamatkan apa yang tersisa, karena segala sesuatu di atas bumi akan runtuh seperti puing-puing karena Pemurnian nanti. Sebuah bola api, sebuah pemurnian, sebuah baptisan api, sedang menuju umat manusia. Tidak bisakah kamu mengerti? "  - Our Lady of the Roses, Bayside, 20 Nopember 1978

"Negaramu, Amerika Serikat, dan negara-negara lain di dunia, sesuai dengan ukuran kompromi mereka terhadap komunisme, akan jatuh kedalam jerat komunisme. Kamu tidak bisa memilih jalan tengah. Kamu harus berjalan ke kanan atau ke kiri.
"Kompromi tidak akan membawa apa pun selain keputusasaan dan kesedihan. Kompromi, anak-anakku, akan memperbudak kamu. Kenalilah apa yang terjadi di negaramu dan banyak negara di dunia. Beruang itu sedang menjarah sekarang dan ia memiliki rencana untuk terjun ke seluruh dunia-- Beruang Merah, anak-anakku, yang dikenal sebagai Red Brown Bear ....
"Bertahun-tahun telah berlalu, anak-anakku, sejak aku berusaha memperingatkan kamu di Fatima. Pesanku dicemooh oleh banyak orang, dibuang dan disembunyikan dari dunia, tetapi pesanku itu sekarang tidak dapat dibuang atau disembunyikan, karena saat ini kamu telah mencapai satu titik dalam hidupmu, anak-anakku, seumur hidupmu di atas bumi, ketika hari-harimu sekarang sedang dihitung." - Our Lady of the Roses, 10 Februari 1977

"Anak-anakku, tidak ada negara sekarang yang bisa bebas dari kejahatan komunisme. Hatiku terkoyak, karena aku datang kepadamu dalam banyak sekali kesempatan di dunia untuk memperingatkan kamu, sebagai anak-anak Kami, untuk menghindari kompromi dengan musuh-musuh Tuhan, meskipun mereka datang kepadamu dengan bahasa yang halus, merasionalisasikan perilaku mereka. Dan karena manusia telah terjatuh dan menjauh dari rahmat, maka ia akan menerima segala kebohongan ini dan menjadi budak." - Our Lady of the Roses, 13 Mei 1978

"Ketika aku saya memperingatkan kamu di masa lalu dan kamu tidak mau mendengar, kecuali kamu mau berdoa lebih banyak, melakukan lebih banyak penebusan dosa, pengorbanan, maka komunisme akan menyebar ke seluruh duniamu, merampok bangsa-bangsa, menghancurkan Imanmu, memasuki tempat-tempat tertinggi dari Rumah Puteraku. Bisakah kamu menyangkal apa yang terjadi sekarang di duniamu? Hilangkan kebutaan dari matamu dan lihatlah! Keluarlah dari kegelapan sebelum terlambat, karena sebuah Rumah yang berada dalam kegelapan akan  memakai pita kematian atas dirinya! Aku mengulangi: sebuah Gereja yang berada dalam kegelapan akan menutup pintu-pintunya." - Our Lady of the Roses, 18 Maret 1977

Para penipu
"Ada sebuah formasi di dalam Rumah-Ku yang Kuberi nama sebagai ‘orang-orang jahat dari salib.’ Mereka adalah para penipu. Mereka telah masuk untuk menghancurkan. Mereka telah meraih dan mencapai kepemimpinan tertinggi di dalam Rumah-Ku di atas bumi. Mereka menyalibkan ulang Diri-Ku di dalam Rumah-Ku. Wakilmu (Paus Paulus VI) menjadi tahanan di dalam Rumah-Ku." - Yesus, Our Lady of the Roses, 22 November 1976

The above Messages from Our Lady were given to Veronica Lueken at Bayside, New York. Read more
 



 Paus Francis menerima hadiah patung palu arit (lambang komunis) yang ditempeli Yesus yang disalib. Pemberian dari Evo Morales, seorang komunis, presiden Bolivia.
Patung ini kemudian dibawa pulang dan dipajang di Vatikan.
Kalung yang dipakai Paus Francis itu juga memiliki bentuk yang sama,
palu arit dengan Yesus yang disalib.
 



BETAPA SEDIHNYA YESUS!

No comments:

Post a Comment