Friday, October 5, 2018

SEORANG PROFESOR KATOLIK BERKATA...


Peter Kwasniewski 

BlogsCatholic Church Wed Oct 3, 2018 - 7:30 am EST

SEORANG PROFESOR KATOLIK BERKATA:
MENGAPA SAYA TAK AKAN PERNAH MENGAJARKAN KEPADA MAHASISWA SAYA, AJARAN BARU DARI PAUS FRANCIS SOAL HUKUMAN MATI.


3 Oktober 2018 (LifeSiteNews) - Sulit dipercaya bahwa perubahan atas ajaran Katekismus, yang menyebabkan badai seperti itu pada saat itu, terjadi hanya dua bulan yang lalu. Berbagai peristiwa yang tak dapat ditawar-tawar di bawah kepausan ini telah mengubur pokok bahasan penting dalam siklus berita dan dalam pikiran orang banyak. Itu hanya satu lagi tonggak dalam perjalanan panjang yang dipaksakan menuju Gereja Masa Depan. Tetapi janganlah kita membuat kesalahan dengan membiarkan kepentingan kita didominasi oleh berita terbaru ini, sehingga kita berhenti dan tidak mau merenungkan “metode menuju kegilaan” ini.

Coba renungkan perbedaan antara teks Katekismus baru dan pidato paus 11 Oktober 2017 lalu, yang menjadi dasar dan yang menjadi acuan (sebagai satu-satunya sumber yang dikutip untuk melakukan revisi). Dalam pidatonya itu paus berbicara dengan bebas jelas:

Harus dengan tegas dikatakan bahwa hukuman mati adalah tindakan yang tidak manusiawi yang, terlepas dari bagaimana hukuman itu dilakukan, merendahkan martabat manusia. Hal ini sangat bertentangan dengan Injil, karena hal itu melibatkan penindasan yang disengaja terhadap kehidupan manusia yang selalu bersifat sakral di mata Penciptanya dan yang pada akhirnya — hanya Tuhanlah yang menjadi hakim dan penjamin sejati.

Di sini, Paus mengklaim bahwa hukuman mati, pada prinsipnya, adalah bertentangan dengan Injil, yang berarti ia bertentangan dengan hukum Ilahi atau hukum alam atau keduanya, dan karena itu pada dasarnya hukuman mati adalah tidak bermoral. Ini adalah ajaran yang sesat secara formal, dan kita yakin bahwa Paus tahu hal ini — tetapi dia juga tahu betapa sedikit umat Katolik yang cukup tahu soal teologi untuk bisa mengidentifikasi adanya ajaran sesat, bahkan ajaran itu muncul dan memukul wajah mereka sendiri. Selain itu, paus seharusnya tahu bahwa sebagian besar pejabat yang mengelilinginya adalah para pengecut atau pencari popularitas, jadi dia tidak akan mendapatkan tantangan dari kelompoknya itu.

Teks Katekismus yang baru (versi paus Francis), bagaimanapun juga, menampilkan bahasa yang dibuat secara cerdik dan licik: “Gereja mengajarkan, dalam terang Injil, bahwa 'hukuman mati tidak dapat diterima,’ karena itu adalah serangan terhadap hak pribadi dan martabat seseorang yang tidak dapat diganggu gugat” (mengutip pidato paus). Tidak dapat diterima. Kata yang tidak jelas, kabur, dan berputar-putar, yang tidak memiliki silsilah dalam teologi moral, yang berbicara tentang apa yang bermoral atau tidak bermoral, benar atau salah, atau benar dalam beberapa keadaan dan salah dalam keadaan lain.

Karena pengarangnya tahu bahwa kalimat itu akan, ‘mau tidak mau’, mendorong umat Katolik untuk bergerak ke segala arah untuk mencoba mencari tahu apa maknanya. Apakah perubahan ini merupakan klaim yang praktis atau hanya teoretis? Keterbatasan yang hati-hati atau pengecualian yang berprinsip? Dan jaringan kaum apologis mulai mengeluarkan "penjelasan" yang dapat diprediksi akan menunjukkan bahwa, sekali lagi, terlepas dari semua kalimat yang bertentangan, meskipun ada kontradiksi yang dapat diketahui oleh semua orang, tetapi tidak ada yang benar-benar berubah dan semuanya tetap baik-baik saja! Semakin banyak orang yang bersungguh-sungguh akan terus menggaruk-garuk kepala mereka, menuntut klarifikasi tanpa akhir dan menandatangani petisi tanpa henti dan menyampaikan komentar yang tak ada habisnya untuk menunjukkan bagaimana mengatakan bahwa lingkaran adalah segi-empat.

Dr. Joseph Shaw menjelaskannya masalah ini dengan baik: “Dalam kasus ini, lubang-tikus ambiguitas yang harus ditempuh oleh umat Katolik konservatif, yang harus merayap untuk melihat adanya kesinambungan antara dua edisi Katekismus itu (lama dan baru), yang amat memalukan. Dan ketika mereka telah merangkak melewatinya, mereka akan diabaikan.”

Sementara itu, terlepas dari upaya-upaya tersebut, tujuan utama dari Paus – adalah mau mengirimkan sinyal bahwa doktrin Katolik harus terus diperdebatkan dan dapat dikembangkan menjadi bentuk-bentuk evolusi baru dan tidak beradab, lunak, flexibel dan dapat disesuaikan dengan Zeitgeist – agar hal ini bisa diterima dalam pikiran mayoritas umat Katolik dan non-Katolik. (Zeitgeist: merupakan pemikiran dominan pada suatu masa yang menggambarkan dan mempengaruhi sebuah budaya dalam masa itu sendiri.)

Pastor Hugh Somerville Knapman menunjukkan bahaya dari cara berpikir seperti ini:
Melihat hal ini secara lebih kontekstual, mungkin perhatian yang lebih besar adalah fenomena perubahan itu sendiri. Sejak pertengahan abad ke-20 Gereja telah mengalami serangkaian perubahan pengajaran dan liturgi yang konstan, dan sering kali sangat tidak perlu. Perubahan skala besar mengarah kepada harapan yang lebih banyak. Dan lebih banyak lagi. Semuanya diartikan, secara salah, adalah terbuka bagi berubah. Ketika perubahan ditujukan demi perubahan itu sendiri, maka semuanya tidak ada yang aman. Baru-baru ini Profesor Stephen Bullivant dan para komentator lainnya, telah mencatat bagaimana reaksi negatif terhadap Humanae Vitae pada tahun 1968 yang dikondisikan oleh harapan yang luas tentang adanya perubahan dalam ajaran Gereja mengenai kontrasepsi buatan, sebuah harapan yang dipupuk dan diperburuk oleh perubahan-perubahan memusingkan yang dikeluarkan pada Gereja di tahun 1960an. Dengan demikian, perubahan pada teks Katekismus sekarang ini muncul sebagai perluasan, yang patut disesalkan, dari sebuah budaya perubahan. Ini bukanlah apa yang kita butuhkan saat ini.

Tetapi itulah yang dengan sengaja diberikan kepada kita. Pertanyaan retorik dari Tuhan— Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?(Mat 7: 9–10) — sayangnya, hal itu telah dijawab dengan cara yang tidak retoris oleh paus kita. Kita sungguh diberi batu dan ular!

Saya ingin memperjelas hal ini: Saya tidak akan pernah mengajarkan kepada siapa pun — kepada anak-anak saya, teman-teman saya, para mahasiswa saya, pembaca saya, audiens saya — hal-hal yang telah diperintahkan oleh Francis untuk dimasukkan ke dalam Katekismus. Saya akan dengan senang hati mengajarkan bahwa hukuman mati seringkali bukanlah solusi terbaik. Saya bersedia mengakui bahwa itu mungkin layak dibatasi dalam demokrasi Barat modern.

Dengan hati nurani yang baik, saya tidak dapat menyatakan bahwa hukuman mati adalah "bertentangan dengan martabat manusia" atau dilarang oleh "terang Injil." Saya tidak dapat melakukan ini tanpa menolak wahyu dan iman Katolik. Ini adalah atas nama kepatuhan kepada Tuhan yang berkuasa atas hidup dan mati, pencipta ilahi dari Negara dan sumber otoritas hukumannya (lih. Rom 13), bahwa saya tidak bersedia memberikan persetujuan bagi ajaran palsu ini, dan saya dengan tulus berharap bahwa penolakan seperti ini akan menjadi norma, daripada sekedar pengecualian.

Sekarang bukanlah saatnya untuk bersikap ultramontanisme, yang kalau diterapkan saat ini akan seperti menuangkan bensin kepada api. Sekarang adalah saatnya untuk mengatakan “Cukup! Cukuplah sudah!.” Seperti halnya bagi saya dan rumah tangga saya, kami akan melayani Tuhan dalam Iman Katolik di mana ada ribuan kalimat katekismus telah melahirkan kesaksian yang tak terbantahkan selama berabad-abad ini.

(Ultramontanism: ide bahwa kekuasaan mutlak Gereja berada di tangan paus)

+++++++++++++++++++++

Beberapa kutipan hukuman mati dalam Kitab Suci:

Kel 21:12 "Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.
Kel 21:16 Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati.
Kel 22:19 Siapapun yang tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati.
Im 20:10 Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.
Im 20:13 Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.
Ul 13:5 Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan--dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
Rm 6:23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.


Kita harus mengenali bahwa Allah telah memberi pemerintah otoritas untuk menentukan kapan hukuman mati pantas dijatuhkan (Kejadian 9:6, Roma 13:1-7). Justru tidak alkitabiah mengklaim bahwa Allah menentang hukuman mati dalam segala hal.

No comments:

Post a Comment