Thursday, October 18, 2018

PASTOR JAMES V. SCHALL: PAUS FRANCIS BERADA DI PUSAT DARI KRISIS YANG DIALAMI OLEH GEREJA SAAT INI



 Father James V. Schall at his last lecture before retiring from
teaching at Georgetown University in 2012.
Berkley Center / Youtube screen grab


By Lisa Bourne

NewsCatholic Church Fri Oct 12, 2018 - 1:35 pm EST

SEORANG IMAM & AHLI FILSAFAT (90 THN), PASTOR JAMES V. SCHALL, BERKATA:
PAUS FRANCIS BERADA DI PUSAT DARI KRISIS YANG DIALAMI OLEH GEREJA SAAT INI


12 Oktober 2018 (LifeSiteNews) - Krisis terbesar di dalam Gereja Katolik saat ini bukanlah persoalan ‘…apakah para uskup, kardinal atau imam adalah orang berdosa,’ kata seorang imam dan penulis terkenal. Tetapi masalahnya adalah: Apakah Gereja mau menegakkan ajarannya sendiri. Dan berada di pusat dari krisis adalah: Paus Francis.

“Gereja saat ini sedang mendapat sorotan tajam untuk melihat apakah ia menjunjung hukum alam di dalam ajaran dan praktiknya sendiri,” kata Pastor James V. Schall, “atau apakah ia bergabung dengan dunia dan dengan demikian ia merongrong klaimnya sendiri untuk mempertahankan konsistensi dan kebenaran doktrin sejak awal."

Schall, mantan profesor ilmu politik Universitas Georgetown, menulis di Crisis Magazine pada 8 Oktober 2018 dengan mengacu pada laporan yang sangat kritis tentang kepausan Francis di majalah terkemuka Jerman, Der Spiegel.




Laporan majalah tersebut mengkritik kepemimpinan Paus Fransiskus dan menuduhnya telah mengabaikan korban pelecehan sex di Argentina. Laporan itu menulis subjudul, "Krisis Terbesar dalam Sejarah Gereja."

Sementara itu umat Katolik telah meneriakkan kemarahan mereka dan semakin keras menuntut jawaban dalam skandal pelecehan seksual Gereja setelah munculnya dugaan awal pada bulan Juni lalu, bahwa mantan Kardinal Theodore McCarrick telah melakukan pencabulan terhadap para seminaris, para imam muda dan setidaknya pada satu anak kecil selama beberapa dekade.

Pengungkapan kasus McCarrick ini diikuti oleh laporan grand jury Pennsylvania yang dirilis pada bulan Agustus 2018, yang merinci pelecehan sex oleh sekitar 300 imam selama 70 tahun di enam keuskupan di sana.

Kemudian pada bulan Agustus 2018, mantan duta besar Vatikan untuk A.S. Carlo Maria Viganò, merilis kesaksiannya yang mengatakan bahwa Francis dan para uskup tingkat tinggi lainnya telah menutup-nutupi kasus McCarrick. Dan Viganò bersembunyi sejak itu.

Francis pada awalnya mengatakan dia tidak akan mengatakan "sepatah kata pun" tentang tuduhan Viganò itu, tetapi kemudian dia mengkritik keras "si Pendakwa Besar" (tentunya yang dimaksud disini adalah Viganò) hingga berulang kali dalam homili di tengah Misa Kudus yang dipimpinnya.

Skandal McCarrick telah membuat penanganan kasus pelecehan seks oleh Francis di bawah sorotan publik yang lebih besar. Pada saat yang sama, kekhawatiran dan keprihatian umat Katolik yang setia terus berlanjut atas kepemimpinan paus Francis, sehubungan dengan ajaran Gereja tentang seksualitas dan pernikahan – dimana nampak jelas bahwa paus Francis telah menyimpang jauh dari ajaran para pendahulunya, terutama terlihat dalam hasil dari Sinode Keluarga dan anjuran Amoris Laetitia yang telah digunakan untuk membuka kemungkinan umat Katolik yang hidup dalam situasi yang secara obyektif berdosa (hidup dalam perzinahan) untuk menerima Komuni Kudus tanpa mengaku dosa dan menyesali perbuatannya dan tanpa niatan untuk tidak mengulangi dosa itu lagi.

Kebanyakan orang menuntut sikap terbuka dari paus dan mereka juga ingin mengetahui fakta-faktanya, kata Schall, baik dalam penanganan pelecehan sex di Argentina, dan juga yang berkaitan dengan kasus McCarrick.

“Orang-orang merasa bingung dengan penolakan paus untuk menjawab pertanyaan yang tampaknya cukup wajar dan sah, serta lugas, tentang apa yang dia ajarkan,” katanya. “Akal sehat mengatakan bahwa, jika seseorang tidak bersalah, dia akan sangat ingin menjelaskan duduk masalahnya mengapa dan bagaimana, untuk membersihkan kecurigaan mengenai dirinya, sebagaimana adanya. Tetapi sikap diam dari paus Francis ini, bagaimanapun juga, menunjukkan kepada banyak orang yang berniat baik, bahwa ada sesuatu yang ditutup-tutupi, ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya.”

Apakah kisah ini yang dibicarakan oleh Der Spiegel benar-benar merupakan "krisis terbesar" dalam sejarah Gereja, Schall berkata, "… ini jelas merupakan krisis dalam proporsi yang besar yang menantang kredibilitas Gereja dengan caranya sendiri."

"Paus Bergoglio sendiri tampaknya bersedia berbicara tentang hampir setiap masalah tetapi menurut keyakinan dan caranya sendiri," katanya. “Tetapi krisis yang terjadi pada tahap sekarang ini, apakah kita suka atau tidak suka, tepatnya mengenai diri paus Francis sendiri, tentang apa yang dia yakini dan keputusan apa yang dia buat.”

"Disini bukan secara langsung menyangkut pertanyaan tentang apakah Katolisitas itu secara obyektif benar atau tidak," lanjutnya. "Sebaliknya, ini adalah pertanyaan apakah Gereja Katolik, dalam kesaksiannya sendiri tentang dirinya, adalah tetap konsisten dengan ajaran-ajarannya sendiri."

Dengan mengatakan bahwa krisis ini adalah yang "terbesar" dalam sejarah Gereja, Der Spiegel telah melukiskan keadaan Gereja sesuai dengan kenyataan yang ada, demikian tulis Schall.

“Majalah itu membandingkan ajaran Gereja dengan apa yang dipraktekkan atau diusulkan oleh Paus Francis,” katanya. “Artinya, bahwa krisis dalam Gereja saat ini adalah akibat dari perbuatan orang-orang dalam Gereja sendiri.”

"Gereja sedang terancam oleh para utusannya sendiri, bukan saja karena mereka tidak hidup sesuai dengan standar moral Kristiani, tetapi mereka juga tidak mengajarkan apa yang baik." kata Schall.

Selanjutnya imam dan filsuf itu mengatakan, "Ironisnya, secara lebih spesifik, bahwa hubungan sex antar sesama jenis telah menjadi sebuah "hak" sipil di banyak negara, padahal hubungan yang sama itu adalah merupakan penyimpangan terhadap hukum alam menurut ajaran Gereja."

“Dunia akan menyaksikan apakah Gereja akan bergabung dengan dunia dalam menyetujui hubungan ini sebagai “hak” dalam tatanan publik dan di dalam Gereja,” kata Schall. "Atau apakah Gereja akan menolak hubungan itu?"

Adalah masuk akal untuk menanyakan apakah krisis yang terbesar dalam Gereja?, tulisnya.

"Hal ini akan ada hubungannya dengan kebanggaan, misalnya, apakah mau menempatkan pendapat manusia di atas ajaran yang diwahyukan secara ilahi atau ajaran rasional?," kata imam itu. “Hal itu harus menjadi sebuah pelukan pada “dunia ini,” seperti yang dikatakan dalam Injil Yohanes tentang sebuah dunia yang menolak kedatangan Kristus dan Salib-Nya.”

Ayat-ayat Alkitab dalam 2 Timotius dan Matius 25 juga menyampaikan sinyal bahwa krisis yang serius dapat terjadi ketika “para imam dan uskup yang tidak layak, ditemukan di dalam Gereja itu sendiri,” kata Pastor Schall.

Dia mengutip contoh lain, seperti Francis sendiri yang sering berbicara tentang klerikalisme dan orang-orang Farisi di dalam Gereja, Paus Paulus VI yang berbicara tentang “asap setan” di dalam Gereja, dan Yehezkiel serta St. Agustinus yang memberikan peringatan bahwa “para gembala yang tidak layak mungkin berkuasa di antara kita."

"Tetapi di sisi lain, kepausan seharusnya menjadi tempat di mana "gerbang neraka tidak akan menang," kata Schall. "Para paus bisa berdosa dalam kehidupan pribadi mereka, tetapi mereka tetap tidak boleh mengajarkan doktrin palsu atau menyetujui perbuatan yang tidak bermoral."

Oleh karena itu, katanya, "krisis terbesar" dalam Gereja, bukanlah penemuan bahwa para klerus itu sendiri adalah orang berdosa.

“Kristus diutus Bapa bukan untuk kepentingan orang yang benar, tetapi untuk orang berdosa. Dia diutus untuk memberikan pengampunan kepada siapa pun yang memintanya,” tulis imam itu. “Tetapi Kristus juga mengatakan kepada kita agar berhenti berbuat dosa. Oleh karena itu, fakta bahwa orang-orang berdosa telah memenuhi dunia dan Gereja, bahkan setelah Kristus menetapkan aturan-aturan untuk dijalankan, hal ini tidaklah dapat mengejutkan siapa pun.”

Bahkan mereka yang tidak berpikir tentang adanya "penyimpangan" dari beberapa imam dan uskup yang dituduh melakukan tindakan yang sama dengan dosa, atau melakukan sesuatu yang tidak wajar, mereka mengakui bahwa "Gereja adalah benteng terakhir bagi integritas moral seperti yang terlihat dalam bentuk filosofis dan religius klasiknya," katanya.

Dan, katanya, mereka juga melihat bahwa masalah serius yang dihadapi Gereja terutama disebabkan oleh perbuatan orang-orang dalam Gereja sendiri.

"Kita dapat mengatakan bahwa masalah ini belum akan selesai, apakah paus itu orang berdosa, orang yang naif, atau orang yang lemah; tetapi yang bisa menyelesaikan adalah apakah dia telah menyetujui ajaran atau perilaku moral yang seharusnya dia tolak," kata Pastor Schall. "Jika paus Francis telah mengambil langkah ini (menyetujui perbuatan yang jelas-jelas busuk) dengan cara yang sangat otoriter, maka tudingan majalah Der Spiegel akan terbukti benar."

"Sebuah pembalikan atas ajaran mendasar pada tingkat tertinggi Gereja akan menjadi ‘krisis terbesar’ dalam sejarah Katolik," katanya. “Adalah sebuah bentuk tindakan kesetiaan, yang dengan penuh penghormatan kita berharap agar paus Francis bersedia menjelaskan ajarannya sendiri. Sebenarnya kita tidak usah terlalu banyak bertanya, termasuk Der Spiegel, yang  telah menanyakannya.”

Note: Follow LifeSite's new Catholic twitter account to stay up to date on all Church-related news. Click here: @LSNCatholic


++++++++++++++++

Machiavellian: orang atau kelompok yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sebagian tokoh yang termasuk Machiavelian diantaranya adalah Adolf Hitler (Jerman), Bennito Musolini (Italia), Idi Amin (Uganda), Shah Reza Pahlevi (Iran), Joseph Stalin (Rusia)

No comments:

Post a Comment