Tuesday, August 9, 2016

Vol 2 - Bab 3 : Penghiburan jiwa-jiwa



Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 3

Penghiburan jiwa-jiwa
St.Stanislaus dari Cracow dan Peter Miles yang dihidupkan kembali

Kepuasan hati ini, yang terjadi ditengah-tengah penderitaan yang amat besar, tak bisa dijelaskan kecuali oleh penghiburan Ilahi, yang diberikan oleh Roh Kudus kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian. Roh Ilahi ini, dengan perantaraan iman, pengharapan dan kemurahan hati, memberikan semua itu bagi kepentingan seorang yang sakit yang harus tunduk kepada perlakuan yang amat menyakitkan, namun yang membawa akibat bisa menyembuhkan dia kepada kesehatan yang sempurna. Orang yang sakit ini menderita, namun dia mencintai penderitaannya itu. Roh Kudus, Sang Penghibur, memberikan kepuasan yang sama kepada jiwa-jiwa yang suci itu. Mengenai hal ini kami memiliki contoh yang baik sekali pada diri Peter Miles, yang dibangkitkan dari kematiannya oleh St.Stanislaus dari Cracow, yang lebih senang untuk kembali lagi kedalam Api Penyucian dari pada hidup di dunia ini.

Keajaiban yang terkenal ini dari peristiwa kebangkitan orang mati, terjadi pada tahun 1070. Kisah ini diceritakan didalam Acta Sanctorum tanggal 7 Mei, St.Stanislaus adalah Uskup dari Cracow ketika Duke Boleslas II memerintah Polandia. Dia selalu mengingatkan pangeran ini akan tugas-tugasnya yang telah dilanggarnya secara memalukan dihadapan semua warganya.

Boleslas merasa tersinggung oleh kebebasan bicara yang suci dari utusan Tuhan itu. Lalu dia membalas dendam melalui ahli waris seorang yang bernama Peter Miles yang telah meninggal 3 tahun sebelumnya. Peter Miles telah menjual tanah warisannya kepada Gereja di Cracow. Para ahli waris dari Peter Miles menuduh orang kudus itu menyerobot tanah itu tanpa membayar kepada pemiliknya. Stanislaus mengatakan bahwa dia telah membayar lunas tanah itu. Namun karena para saksi yang bisa menguatkan dia dalam hal jual beli tanah itu, telah diancam dan disuap oleh pangeran itu, maka dia diingkari oleh para saksi dan dia dihukum untuk membayar ganti rugi. Lalu setelah Stanislaus menyadari bahwa tidak ada keadilan dari pihak manusia, maka dia menyerahkan segenap hatinya kepada Allah dan dia menerima sebuah inspirasi secara tiba-tiba. Dia meminta waktu 3 hari dan berjanji untuk mendatangkan arwah Peter Miles secara pribadi, agar Peter bisa bersaksi terhadap kebenaran dari jual beli tanah itu.

Orang kudus itu berpuasa, terus berjaga dan berdoa kepada Tuhan agar menolong dirinya. Hari ke 3, setelah dia mempersembahkan Misa Kudus, dia pergi keluar disertai dengan sejumlah besar umat disitu serta para imam lainnya, dan dia pergi menuju tempat dimana Peter Miles dikuburkan. Atas perintahnya maka kubur itu terbuka. Didalamnya tidak berisi apa-apa lagi kecuali tulang belulang Peter. Dia menyentuh tulang-tulang itu dengan salibnya dan dalam nama Tuhan yang merupakan Kebangkitan dan Kehidupan, dia memerintahkan kepada orang mati itu agar bangkit.
Tiba-tiba saja tulang belulang itu menyatu, tertutupi oleh daging kembali, dan dihadapan pandangan semua orang yang sangat tegang saat itu, orang yang meninggal itu kelihatan bangkit dan menggandeng tangan Uskup Stanislaus dan berjalan menuju tempat pengadilan dimana Boleslas berada bersama semua pejabat pengadilan dan banyak lagi orang-orang yang menyaksikan dan menunggu saat-saat yang menegangkan itu sambil berharap. “Lihatlah Peter”, kata orang kudus itu kepada Boleslas, ‘dia datang kepadamu, pangeran, untuk bersaksi dihadapanmu. Tanyailah dia dan dia akan menjawabmu sendiri”.

“Tidaklah mungkin bisa untuk menceritakan ketegangan dari sang pangeran dan para pejabat kerajaan serta semua orang yang hadir disitu. Peter meyakinkan mereka bahwa bahwa dirinya telah dibayar lunas bagi tanah itu. Lalu dia berpaling kepada para ahli warisnya, dan dia menyesalkan tindakan mereka yang telah menuduh hamba Allah yang suci itu, Stanislaus, telah melanggar aturan. Lalu Peter meminta kepada para ahli warisnya untuk melakukan silih atas dosa-dosanya itu.

Begitulah ketidak-adilan itu, yang dikira akan berhasil dilaksanakan, ternyata telah digagalkan. Kini datanglah ksempatan yang membingungkan tokoh kita ini. Dengan berharap untuk melengkapi keajaiban yang besar ini demi kemuliaan Tuhan, Stanislaus mengajukan usul kepada orang yang mati itu jika dia ingin terus hidup beberapa tahun lagi, dia akan memintakan karunia itu kepada Tuhan baginya. Tetapi Peter menjawab bahwa dia tidak ingin seperti itu. Dia berada didalam Api Penyucian dan dia lebih senang untuk segera kembali kesana dan menanggung rasa sakitnya tempat itu, dari pada menghadapkan dirinya kepada kutukan didalam kehidupan duniawi ini. Peter meminta kepada Stanislaus untuk memohon kepada Tuhan untuk memperpendek masa tinggalnya didalam Api Penyucian, agar dia bisa segera memasuki tempat tinggal dari orang-orang terberkati. Setelah itu, dengan disertai oleh Uskup Stanislaus dan sejumlah besar orang, Peter kembali lagi ke kuburnya, tidur disitu, dan tubuhnya menjadi hancur kembali dan tulang-tulangnya kembali lagi pada keadaannya semula. Kita memiliki alasan yang cukup untuk mempercayai bahwa Peter segera memperoleh pembebasan dari jiwanya.

Itulah contoh yang luar biasa yang hendaknya bisa menarik perhatian kita, dimana ada satu jiwa dari Api Penyucian, setelah mengalami siksaan-siksaan yang amat menyakitkan disana, ternyata dia lebih menyukai penderitaannya itu dari pada hidup di dunia ini, serta alasan yang disampaikannya bagi pilihannya itu, yaitu bahwa didalam kehidupan duniawi ini kita dihadapkan kepada bahaya kemusnahan dan menerima kutukan yang kekal.

No comments:

Post a Comment