Saturday, August 27, 2016

Vol 2 - Bab 7: Penghiburan didalam Api Penyucian

Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 7

Penghiburan didalam Api Penyucian
Para malaikat
St.Bridget
Paula dari St.Teresa Venerabilis
Bruder Peter de Basto

Disamping segala penghiburan yang diterima oleh jiwa-jiwa dari Sang Perawan Terberkati, mereka juga ditolong dan dihibur oleh para malaikat, dan terutama dari para malaikat pelindung mereka. Para doktor Gereja mengajarkan bahwa misi dari para malaikat pelindung itu berakhir sampai masuknya suatu jiwa asuhannya kedalam Surga. Jika pada saat kematian suatu jiwa dalam keadaan rahmat, namun dia masih belum layak untuk bisa memandang wajah Yang Maha Tinggi, maka malaikat pelindungnya akan menuntunnya menuju tempat penebusan dosa itu dan tetap tinggal disana bersama jiwa itu sambil memberikan segala bantuan dan penghiburan kepada jiwa asuhannya itu.

Ini adalah sebuah pendapat yang umum dikalangan para doktor Gereja yang suci, demikian kata Pastor Rossignoli, bahwa Allah, yang pada suatu hari akan mengutus para malaikatNya untuk mengumpulkan orang-orang terpilih, juga mengutus mereka dari waktu ke waktu untuk pergi ke Api Penyucian, mengunjungi dan menghibur jiwa-jiwa yang menderita disitu. Tidak diragukan lagi, tak ada penghiburan yang lebih berharga dari pada bisa memandang para penghuni Surga itu, tempat tinggal terberkati, ke tempat mana suatu saat mereka akan menuju untuk menikmati kebahagiaan yang mulia dan kekal. Buku ‘the Revelations of St.Bridget’ penuh dengan contoh-contoh mengenai hal ini, dan biografi dari beberapa orang kudus juga banyak berisi hal yang sama. St.Paula Venerabilis dari St.Teresa, yang telah kita bicarakan diatas, memiliki devosi yang luar biasa kepada Gereja yang menderita itu, yaitu jiwa-jiwa di Api Penyucian, hingga dia menerima banyak karunia penglihatan yang menakjubkan. Suatu hari, ketika sedang berdoa bagi ujub itu, dia dibawa didalam rohnya menuju Api Penyucian dimana dia melihat ada sejumlah besar jiwa-jiwa yang tercebur kedalam nyala api. Didekat mereka itu dia melihat ada Juru Selamat kita, yang dikelilingi oleh para malaikatNya, yang menunjuk kepada jiwa-jiwa itu, satu demi satu, yang Dia kehendaki untuk masuk ke Surga, ke tempat mana mereka lalu naik dengan perasaan sukacita yang tak terkatakan. Atas penglihatan ini hamba Allah itu menyerahkan dirinya kepada Mempelai Ilahi dan berkata kepadaNya :”Oh Yesus, mengapa Engkau memilih jiwa-jiwa itu dari antara sekian banyak jiwa-jiwa lainnya ?”. Yesus lalu menjawab :”Aku telah melepaskan mereka yang selama hidupnya telah menjalankan tindakan kemurahan hati dan kebaikan yang besar, dan yang layak menerima apa yang telah Kujanjikan bagi mereka. Terberkatilah orang yang murah hati karena mereka akan menerima kemurahan hati”.

Didalam biografi hamba Allah ini, Peter de Basto, kita bisa menemukan contoh yang menunjukkan betapa para malaikat kudus, sementara mereka mengawasi kita di dunia ini, juga memperhatikan jiwa-jiwa di Api Penyucian. Dan karena kita telah menyebutkan nama Bruder de Basto, maka kita tak bisa menahan diri dari keinginan kita untuk memperkenalkan religius yang terhormat ini kepada para pembaca. Kisah sejarahnya sangat menarik dan menimbulkan puji-pujian.

Peter de Basto, anggota dari the Society of Jesus, dimana penulis biografinya menyebut dia sebagai Alphonsus Rodriguez of Malabar, telah meninggal didalam kesucian pada 1 Maret 1645 di Cochin. Dia lahir di Portugal dari keluarga terkenal Machado dan dari percampuran darah bangsawan seluruh propinsi antara Douro dan Minho. Dukes of Pastrano dan Hixar adalah merupakan anggota dari keluarganya, dan dunia telah memberinya sebuah kedudukan yang baik. Namun Tuhan memiliki rencana tersendiri baginya, dan Tuhan memberinya dengan berbagai karunia rohani yang besar. Ketika dia masih kanak-kanak, dia diajak ke Gereja, dan dia berdoa dihadapan Sakramen Terberkati dengan bersemangat seperti malaikat. Dia percaya bahwa semua orang bisa melihat seperti dirinya, dengan mata jasmani, adanya para pasukan roh-roh Surgawi yang memuji didekat altar dan tabernakel. Dan dari sejak itu dan seterusnya Juru Selamat yang tersembunyi didalam wujud Ekaristi, menjadi pusat dari selurub perhatiannya serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya yang menandai kehidupannya yang panjang dan suci itu.

Disitulah kemudian seolah didalam matahari ilahi, dia menghadapi tanpa ada halangan, masa depan serta segala detilnya yang tidak disangka-sangka. Disitu juga Allah menunjukkan kepadanya simbol-simbol misterius yang berupa sebuah tangga dari emas yang menyatukan Surga dengan bumi, yang ditopang dibawahnya oleh tabernakel serta bunga lily kemurnian yang menyembulkan akar-akarnya serta menyerap makanannya dari gandum orang-orang pilihan serta anggur yang bisa menghasilkan para perawan.

Menuju usianya yang ke 17, karena kemurnian hatinya serta kekuatan dari Sakramen Terberkati bagi dirinya yang menjadi sumber yang tak pernah habis, di Lisbon Peter bersumpah untuk menjalankan hidup kemurnian kekal di kaki Bunda Pertolongan Kekal. Dia tidak berpikir untuk meninggalkan dunia ini, dan beberapa hari kemudian dia pergi ke Indies, dan dua tahun dia mengikuti wajib militer disana.

Namun pada akhir dari masa itu, ketika dia berada dalam bahaya karena kapal yang ditumpanginya rusak, maka atas jasa baik dari gelombang lautan dia terombang-ambing selama lima hari penuh. Dan dengan didukung dan diselamatkan oleh Sang Ratu Surga, serta Putera Ilahinya, yang menampakkan Diri kepadanya, dia berjanji untuk mempersembahkan dirinya seutuhnya untuk melayani Mereka selama sisa kehidupannya. Segera setelah dia kembali ke Goa, dalam usia 19 tahun, dia pergi kepada pimpinan dari biara the Society of Jesus untuk minta menjadi anggota dari komunitas itu. Khawatir jika namanya itu mendatangkan penghormatan yang berlebihan kepadanya, maka dia lalu mengambil nama dari seorang desa sederhana dimana dia menerima baptisan dan menyebut dirinya sebagai Peter de Basto.

Beberapa waktu kemudian selama cobaan-cobaan yang dialaminya didalam masa novisiatnya itu, kejadian yang menakajubkan terjadi padanya, yang kemudian hal itu dicatat didalam the Annals of the Society, dan yang sangat menimbulkan sukacita bagi seluruh anak-anak asuh St.Ignatius. Imam Kepala menugaskan Peter bersama dua orang lainnya untuk pergi ke pulau Salsette dan memerintahkan mereka untuk tidak mau menerima bantuan apapun dari kaum misioner yang ada disitu, tetapi hanya dengan meminta-minta dari desa ke desa, bagi makanan mereka serta tempat menginap mereka pada waktu malam. Suatu hari ketika mengalami kelelahan setelah perjalanan yang jauh, mereka bertiga bertemu dengan suatu keluarga yang sederhana yang terdiri atas seorang pria tua, seorang wanita dan seorang anak kecil, dimana keluarga ini menerima mereka dengan sangat baik sekali dan menjamu mereka dengan makanan sederhana. Namun pada saat mereka hendak berpisah, setelah mengucapkan banyak terima kasih, Peter de Basto menanyakan nama-nama dari anggota keluarga itu, agar dia bisa mendoakan mereka kepada Tuhan. Si wanita itu menjawab :”Kami adalah 3 orang pendiri dari the Sossiety of Jesus” Dan ketiga anggota keluarga itu tiba-tiba menghilang. Seluruh kehidupan rohani dari orang suci ini hingga saat kematiannya, yaitu hampir selama 56 tahun, dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban serta rahmat yang sangat luar biasa. Kita juga bisa menambahkan bahwa Peter de Basto layak menerima semua itu dan membagikannya kepada semua orang karena adanya keutamaan-keutamaan, kerja keras, serta kurban-kurbannya yang berani. Dia juga memperhatikan urusan dalam hal mencuci pakaian, dapur, dan kebersihan pintu-pintu di biara Goa, Tuticurin, Coulao, Cochin. Peter tak pernah berusaha menarik diri dari pekerjaan yang paling berat sekalipun, ataupun menyediakan waktu luang hanya untuk beristirahat dari tugas-tugasnya. Paling tidak, dia menghabiskan waktunya didalam doa-doa. Kelemahannya yang paling utama, dimana yang menjadi penyebabnya adalah kerja yang terlalu berlebihan, dikatakannya dengan tersenyum, adalah kesibukannya yang amat menyenangkan. Lebih lagi, dengan mengabaikan kemarahan dari setan, hamba Allah ini jarang sekali menerima keringanan dari penderitaannya. Roh-roh kegelapan sering nampak kepadanya dalam wujud yang amat mengerikan. Mereka sering menyerang Peter de Pasto dengan kejamnya, terutama pada jam-jam ketika dia tidur atau berdoa dihadapan Sakramen Terberkati.

Suatu hari ketika dia berpergian, para pendampingnya tiba-tiba berlari ketakutan karena mereka mendengar suara pasukan yang terdiri dari orang-orang, kuda dan gajah, yang amat menakutkan yang nampak mendekati mereka dengan penuh kemarahan. Peter de Basto sendiri nampak tenang. Ketika para pendampingnya itu menyatakan keheranan mereka karena de Basto tidak merasa takut sama sekali, dia menjawab :”Jika Tuhan tidak mengijinkan setan mengarahkan kemarahannya kepada kita, apakah yang kita takutkan ? dan jika Tuhan memberi ijin mereka untuk bertindak terhadap kita, mengapa aku harus berlari dari hal itu ?”. Dia hanya berseru kepada Sang Ratu Surga, dan segera saja Bunda Maria menjadikan pasukan itu berlari ketakutan.

Sering sekali bahwa segala sesuatunya nampak membingungkan, hingga pada kedalaman jiwanya, tetapi dia bisa menemukan ketenangan, damai, dan kemenangan jika berada di tempat pengungsian yang biasanya, yaitu Yesus yang hadir didalam Ekaristi Kudus.

Suatu hari dia dipenuhi dengan penghinaan yang membuatnya cukup merasa terganggu, dia bersujud dihadapan kaki altar dan memohon kepada Juru Selamat Ilahi karunia kesabaran. Kemudian Tuhan kita menampakkan Diri kepadanya dimana TubuhNya tertutup oleh luka-lukaNya, dengan mantel ungu menyelimuti bahuNya, sebuah tali mengikat leherNya, sebatang buluh pada tanganNya, dan sebuah mahkota duri pada kepalaNya. Kepada Peter, Dia berkata :”Lihatlah, apa yang diderita oleh Putera Allah yang sejati, untuk mengajari manusia bagaimana menderita”.

Namun kita masih belum menyentuh masalah yang ingin kita ceritakan melalui kehidupan yang suci ini, yaitu devosi dari Peter de Basto kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian, sebuah devosi yang didorong dan diilhami oleh malaikat pelindungnya. Tidak terhitung lagi banyaknya kerja keras yang dilakukannya, serta doa-doa rosario yang didaraskannya setiap hari bagi orang yang meninggal. Suatu hari ketika dia melupakannya, dia tertidur tanpa mendaraskan doa itu, namun dia sendiri tidak bisa tidur pulas saat itu, ketika tiba-tiba dia dibangunkan oleh malaikat pelindungnya. “Puteraku”, kata roh Surgawi ini, “jiwa-jiwa di Api Penyucian menunggu manfaat dari perbuatan baikmu setiap hari”. Segera Peter terbangun untuk melaksanakan kewajiban kemurahan hati dan suci itu. 


No comments:

Post a Comment