Saturday, August 13, 2016

Vol 2 - Bab 4 : Penghiburaan terhadap jiwa-jiwa



Volume 2 : Misteri Kerahiman Allah

Bab 4

Penghiburaan terhadap jiwa-jiwa
St.Catherine dari Ricci dan jiwa seorang pangeran

Marilah kita menceritakan contoh lain dari penghiburan batin serta kepuasan yang misterius yang dialami oleh jiwa-jiwa ditengah-tengah rasa sakit yang amat keras didalam Api Penyucian. Kita dapatkan kisah ini didalam biografi St.Catherine dari Ricci, seorang religius dari ordo St.Dominikus, yang meninggal di biara Proto, 2 Februari 1590. Hamba Allah ini sangat berdevosi kepada jiwa-jiwa didalam Api Penyucian sehingga dia mau menderita untuk menggantikan mereka, di dunia ini, penderitaan yang harus mereka tanggung didalam Api Penyucian. Salah satunya adalah dia telah membebaskan dari nyala api penebusan dosa itu jiwa dari seorang pangeran, dan dia menderita siksaan yang amat mengerikan selama 40 hari untuk menggantikan penderitaan pangeran itu.

Pangeran ini yang namanya tidak disebutkan didalam buku itu, tidak ragu lagi telah menjalani kehidupan duniawi ini, dan orang kudus itu, St.Catherine, telah mempersembahkan banyak doa-doa, puasa serta silih agar Tuhan berkenan meringankan penderitaaan sang pangeran, agar dia tidak dihukum secara kekal. Tuhan mendengarkan doa St.Catherine, dan sang pangeran yang malang itu sebelum kematiannya telah mendapat karunia hingga bisa bertobat dengan sungguh-sungguh dan dia meninggal dalam keadaan siap. Dia masuk kedalam Api Penyucian. Catherine mengetahui hal ini melalui pencerahan Ilahi yang didapatkan melalui doa, dan dia menawarkan dirinya untuk memuaskan pengadilan Ilahi bagi jiwa itu. Tuhan kita berkenan menerima pertukaran jasa yang penuh dengan kemurahan hati ini dan Dia menerima jiwa pangeran itu kedalam kemuliaan dan memberikan kepada Catherine rasa sakit yang aneh selama 40 hari lamanya. Catherine terserang oleh suatu penyakit, yang menurut penilaian dokter saat itu, tidak alamiah sifatnya, dan hal itu tidak bisa disembuhkan ataupun diringankan. Menurut kesaksian orang-orang yang melihatnya, tubuh orang kudus itu tertutup oleh lepuh-lepuh yang berisi air serta membengkak seperti air yang mendidih diatas api. Hal ini menimbulkan rasa sakit dan panas yang luar biasa seperti oven pada tubuhnya dan terasa seperti api. Tidaklah mungkin seseorang untuk melihat keadaannya itu tanpa pergi keluar untuk bernapas dalam-dalam.

Nyata sekali bahwa daging dari Catherine seperti mendidih dan lidahnya seperti besi panas yang merah membara. Pada waktu-waktu tertentu pembengkakannya agak berkurang, dan dagingnya nampak seperti masak karena dipanggang. Tetapi beberapa saat kemudian lepuh-lepuh itu muncul lagi hingga menimbulkan panas pada tubuhnya.

Namun ditengah-tengah siksaan itu orang kudus itu tidaklah kehilangan ketenangannya pada wajahnya maupun kedamaian pada jiwanya. Nampaknya dia berbahagia didalam siksaan-siksaan itu. Penderitaannya kadang-kadang meningkat sedemikian tingginya hingga dia tak bisa berbicara selama 10 atau 12 menit. Ketika para suster sahabatnya disitu mengatakan bahwa dirinya seperti terbakar, Catherine menjawab pelan :”Ya”, tanpa berkata apa-apa lagi. Ketika mereka mengatakan kepadanya bahwa semangat kurban silihnya itu terlalu besar baginya, tetapi Catherine menjawab :”Maafkanlah aku, saudaraku yang terkasih, jika aku menjawab pertanyaanmu. Yesus itu sangat mengasihi jiwa-jiwa, maka segala hal yang kita lakukan bagi jiwa-jiwa itu adalah sangat berkenan kepadaNya. Itulah sebabnya dengan senang hati aku mau menanggung setiap rasa sakit, apapun bentuknya, bagi pertobatan para pendosa maupun demi pembebasan jiwa-jiwa yang ditahan didalam Api Penyucian”.

40 hari telah berlalu. Catherine pulih kembali kepada kesehatannya semula. Para saudara dari pangeran itu bertanya kepadanya dimanakah jiwa pangeran itu berada. “Janganlah takut”, jawab Caatherine, “jiwanya berada dalam kebahagiaan kemuliaan kekal”. Maka menjadi terkenallah saat itu bahwa Catherine telah menderita begitu besarnya bagi sang pangeran itu.

Contoh ini mengajari kita banyak hal, namun kita telah menunjukkan bahwa penderitaan-penderitaan yang terbesar tidaklah sejalan dengan kedamaian didalam hati seseorang. Orang kudus kita ini, sementara dia menanggung rasa sakitnya Api Penyucian, dia juga menikmati rasa damai dan kepuasan yang amat terpuji.

No comments:

Post a Comment