Friday, April 15, 2016

Vol 1 - Bab 10 Sakitnya Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 10

Sakitnya Api Penyucian 
Sakitnya kehilangan  
St.Catherine dari Genoa
 St.Teresa 
Pastor Nieremberg.
Setelah menyimak pendapat para teolog dan para doktor Gereja, marilah kita melihat pendapat para doktor yang lain. Mereka adalah para kudus yang berbicara tentang penderitaan di dunia sana, dan yang memperhatikan apa yang dinyatakan Tuhan kepada mereka dengan melalui komunikasi adikodrati. St.Catherine dari Genoa, didalam tulisannya tentang Api Penyucian, berkata :”Jiwa-jiwa itu menanggung siksaan yang begitu bengis sehingga tak ada lidah yang mampu menjelaskannya, atau pengertian yang mampu memahami bagian yang terkecil sekalipun darinya, jika saja Tuhan tidak menyatakan hal itu dengan melalui rahmat yang istimewa”. Dia juga menambahkan :”Tak ada lidah yang bisa mengatakan, tak ada pikiran yang bisa membentuk sebuah ide tentang apa itu Api Penyucian. Dan mengenai penderitaan itu, ia sama dengan yang ada di neraka”.
St.Teresa didalam buku Castle of the Soul, berbicara tentang rasa sakitnya kehilangan. Dia mengatakan :”Rasa sakitnya kehilangan, atau tak bisa memandang Allah, melebihi segala jenis penderitaan yang paling besar yang bisa kita bayangkan, karena sifat dari jiwa adalah selalu terdorong menuju Allah, sebagai pusat dari seluruh aspirasinya. Dan jiwa-jiwa itu selalu ditolak oleh PengadilanNya. Bayangkanlah diri anda berada disebuah kapal yang sedang tenggelam di tengah laut. Dan setelah anda berusaha keras hingga lama dan diombang-ambingkan oleh gelombang yang besar, akhirnya anda bisa mencapai tepian pantai, tetapi hanya untuk mendapati diri anda terus menerus diterjang dan didorong kembali oleh gelombang menuju ke tengah laut, oleh sebuah tangan yang tak kelihatan. Betapa hal itu merupakan penderitaan yang amat menyiksa ! Dan yang dialami oleh jiwa-jiwa didalam Api Penyucian adalah 1000 kali lebih besar !”.
Pastor Nieremberg dari ‘the Company of Jesus’, yang meninggal dalam keadaan suci di Madrid pada tahun 1658, menceritakan sebuah fakta yang terjadi di Treves dan yang diketahui oleh VikJen diosis setempat, demikian kata Pastor Rossignoli, dan hal itu dianggap memiliki nilai kebenaran yang tinggi.
Pada hari pesta Semua Orang Kudus, seorang gadis muda melihat dihadapannya ada seorang wanita kenalannya, dimana wanita itu telah meninggal beberapa saat sebelumnya. Penampakan itu berpakaian putih dengan kerudung putih pada kepalanya dan di tangannya dia memegang rosario yang panjang, sebuah tanda devosi kepada Ratu Surga. Wanita itu meminta tolong kepada sahabatnya, dengan mengatakan bahwa dia telah berjanji untuk mempersembahkan 3 kali Misa Kudus di altar Perawan Terberkati. Tetapi karena dia tak bisa menepati janji itu maka hutang ini ditambahkan kepada penderitaannya saat itu. Lalu wanita itu meminta tolong kepada sahabatnya untuk mempersembahkan Misa Kudus atas namanya. Gadis muda itu dengan sukarela melaksanakan Misa Kudus seperti yang diminta oleh sahabatnya, dan ketika 3 kali Misa Kudus itu telah dilaksanakan, wanita yang mati itu muncul kembali dan menunjukkan rasa terima kasih dan sukacita yang besar. Dia masih terus menampakkan diri setiap bulan Nopember dan hampir selalu terjadi di Gereja. Sahabatnya yang melihat wanita itu di Gereja, sambil melakukan adorasi dihadapan Sakramen Terberkati, diselimuti oleh rasa takjub. Masih belum bisa melihat wajah Allah, dia berharap untuk memberikan tebusan dengan cara merenungkan Tuhan, paling tidak dihadapan Sakramen Terberkati. Selama kurban Misa Kudus diadakan, pada saat imam melakukan konsekrasi, wajahnya menjadi amat bercahaya, seolah dia dikuasai oleh serafim yang turun dari Surga. Gadis muda itu dipenuhi dengan rasa hormat dan menyatakan bahwa dia belum pernah melihat sesuatu yang begitu indah seperti itu.
Sementara waktu berlalu, walaupun Misa Kudus dan doa-doa sudah dilakukan bagi dia, jiwa yang kudus itu tetap berada didalam Api Penyucian, yang jauh dari Tabernakel. Pada tanggal 3 Desember, pesta St.Franciscus Xaverius, pelindungnya, dia menerima Komuni Kudus di Gereja dari biara Jesuit itu, dan wanita yang meninggal itu menyertai dia hingga di Meja Suci dan kemudian tetap berada disampingnya selama dia berdoa berterima kasih, seolah dia ikut serta didalam kebahagiaan dari Komuni Kudus itu dan menikmati kehadiran Yesus Kristus.
Pada tanggal 8 Desember, Pesta Yang Dikandung Tanpa Noda, wanita itu kembali lagi. Tetapi dirinya nampak sengat berkilauan hingga sahabatnya tak bisa mengenali dirinya. Nampak dia mendekati saat akhir dari penebusan dosanya. Akhirnya pada 10 Desember selama Misa Kudus, dia menampakkan diri dengan wujud yang lebih mengagumkan lagi. Setelah dia bersujud dihadapan altar, orang yang meninggal itu berterima kasih kepada gadis itu yang telah bermurah hati dengan melalui semua doa-doanya. Dan wanita itu lalu naik ke Surga dengan disertai oleh malaikat pelindungnya.
Beberapa saat sebelumnya jiwa yang suci itu telah memberitahu bahwa dia hanya menderita sakit karena rasa keehilangan, tidak bisa memandang wajah Allah, dan dia menambahkan bahwa rasa kehilangan itu telah membuat siksaan yang amat besar baginya. Peristiwa ini membenarkan perkataan St.Chrysostomus pada saat homilinya yang ke 47 :”Bayangkanlah seluruh siksaan yang ada di dunia ini, dan anda tak akan bisa menemukan satupun yang menyamai kehilangan penglihatan kebahagiaan akan Allah”.
Kenyataannya, siksaan karena kehilangan ini, yang kini sedang kita bicarakan ini, menurut para kudus dan para doktor Gereja, adalah lebih sakit dan lebih menghentak dari pada sakit inderawi. Memang benar, bahwa didalam kehidupan ini kita tak bisa memahami hal ini, karena terlalu sedikit pengetahuan kita akan Kebaikan Yang Berkuasa itu, bagi Siapa kita semua diciptakan. Didalam kehidupan sebelah sana, Kebaikan yang tak terkirakan besarnya itu bagi jiwa-jiwa adalah seperti roti bagi manusia yang sedang kelaparan, atau air segar bagi orang yang sekarat karena kehausan, seperti kesehatan bagi orang yang sakit yang didera oleh penderitaan yang lama. Ia menyulut kerinduan yang paling berkobar, yang menyiksa tanpa bisa memuaskannya.



No comments:

Post a Comment