Monday, April 25, 2016

Vol 1 - Bab 13 : Rasa sakitnya Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 13

Rasa sakitnya Api Penyucian 
Bruder Antony Pereyra 
Angela Tholomei Venerabilis.

Atas dua kenyataan diatas, kita akan menambahkan yang ketiga, yang diambil dari ‘the Annals of the Company of Jesus’. Disini kita berbicara tentang sebuah keajaiban yang terjadi atas diri Antony Pereyra, Bruder Coadjutor dari Persaudaraan itu, yang mati dalam keadaan suci di ‘the College of Euora’, Portugal, pada 1 Agustus 1645. 46 tahun sebelumnya, pada 1599, 5 tahun setelah dia masuk novisiat, bruder ini mengalami sebuah kecelakaan fatal di kepulauan St.Michael di wilayah Azores. Beberapa saat setelah dia menerima Sakramen Perminyakan dihadapan seluruh anggota komunitas itu, yang telah banyak menolong dia didalam deritanya itu, akhirnya Bruder itu bernapas untuk yang terakhir kalinya dan segera tubuhnya menjadi dingin seperti mayat. Namun denyut jantungnya nampak kecil dan samar sekali, hingga hal ini membuat orang-orang menunda untuk segera menguburkannya. Tubuh Antony Pereyra dibiarkan disitu selama 3 hari untuk meyakinkan kematiannya, dan selama itu tubuhnya mulai menunjukkan tanda pembusukan. Tetapi tiba-tiba, pada hari yang ke empat, dia membuka matanya, dia bernapas dan mulai berbicara. 
Lalu dia diminta untuk memberikan kesaksian kepada atasannya, Pastor Louis Pinheyro, agar dia menceritakan segala pengalamannya sejak saat peristiwa kecelakaan itu. Lalu dia menuliskan pengalamannya.
Dia berkata :”Mula-mula, dari tempat tidur kematianku, aku melihat bapa kepala, St.Ignatius, disertai dengan beberapa Bapa dari Surga, yang datang mengunjungi anak-anaknya yang sakit, sambil mencari orang-orang yang dia anggap layak dipersembahkan olehnya dan oleh persekutuannya kepada Tuhan. Ketika dia mendekati aku, untuk sesaat aku percaya bahwa dia akan mengajak diriku, dan hatiku berdegup karena bahagia. Namun dia menunjuk kepadaku dan meminta aku memperbaiki diriku terlebih dahulu sebelum bisa menerima kebahagiaan yang amat besar itu”.
Lalu oleh sebuah dorongan yang misterius dari Kuasa Ilahi, jiwa dari Bruder Pereyra berpisah dari tubuhnya untuk sementara dan segera dia disusul oleh sepasukan setan yang memburunya hingga membuatnya merasa amat ketakutan. Pada saat yang sama, malaikat pelindungnya dan St.Antonius dari Padua, pelindung negerinya, turun dari Surga dan mengusir pergi semua musuh itu, dan mereka mengundang bruder Pereyra untuk bersama-sama orang-orang kudus itu melihat dan merasakan sejenak kebahagiaan dan penderitaan yang kekal. “Mereka menuntun aku menuju tempat-tempat yang menyenangkan, dimana mereka menunjukkan kepadaku sebuah mahkota yang amat indah sekali, namun yang tidak layak untuk kumiliki. Lalu di tepi sebuah jurang, aku melihat jiwa-jiwa yang durhaka jatuh kedalam api yang kekal disitu, dan mereka dihancurkan seperti butir-butir gandum yang ditumbuk oleh batu penggilingan yang berputar terus tanpa henti. Lembah neraka itu adalah seperti tempat pembakaran batu kapur, dimana pada saat-saat tertentu nampak nyala dan semburan api yang berhamburan oleh karena jatuhnya bahan material kedalamnya, namun bahan itu justru menyebabkan api semakin berkobar dengan kerasnya”. Dari situ dia dituntun menuju tempat pengadilan dari Hakim Utama dan Antony Pereyra mendengar dirinya dihukum menuju Api Penyucian. Dia meyakinkan kita, bahwa tak ada yang bisa menggambarkan penderitaan disana, ataupun keadaan dari penderitaan itu, dimana jiwa-jiwa dibebani oleh rasa rindu dan penundaan didalam menikmati Allah serta kehadiranNya yang suci.
Atas perintah dari Tuhan, ketika jiwanya telah dipersatukan kembali dengan tubuhnya, dia menerima siksaan yang baru dengan menderita sakit selama 6 bulan penuh, dengan tambahan siksaan api dan besi panas, hingga menyebabkan dagingnya (yang telah cacad karena pembusukan dari kematiannya yang pertama dulu) hancur terkoyak-koyak. Namun bukanlah hal ini ataupun penebusan dosa yang menakutkan itu, dimana dia selalu mengalaminya, sejauh kepatuhannya mengijinkan, selama 46 tahun dari kehidupannya yang baru, yang bisa meringankan kehausannya akan penderitaan dan silih. Dia berkata :”Semua ini tak ada artinya apa-apa jika dibandingkan dengan keadilan dan kerahiman yang tak terbatas dari Allah yang telah membuatku bukan saja menyaksikan, tetapi juga merasakannya”.
Secara jelas, sebagai sebuah meterai yang otentik dari begitu banyak keajaiban, Bruder Pereyra telah membuka kepada atasannya secara detil, semua rencana-rencana rahasia dari Kuasa Ilahi mengenai masa depan kerajaan Portugal, lebih dari setengah abad sebelum hal itu terjadi. Namun kita bisa menambahkan tanpa rasa takut bahwa jaminan yang terbesar dari semua keajaiban-keajaiban ini adalah derajat kesucian yang amat menakjubkan, dimana Bruder Pereyra tidak berusaha meninggikan dirinya sama sekali dari hari ke hari.
Marilah kita melihat kepada peristiwa yang serupa yang sejalan dengan apa yang telah kita bicarakan ini :
Kita bisa menemukan didalam buku biografi dari hamba Allah yang terpuji, Angela Tholomei, seorang biarawati Dominikan. Dia dihidupkan lagi dari kematiannya oleh saudaranya sendiri dan memberikan kesaksian akan kerasnya penghakiman Allah, yang sesuai benar dengan penyebabnya.
John Baptist Tholomei Terberkati, keutamaan-keutamaannya jarang sekali ditemukan di tempat lain dan karunia-karunia keajaiban yang dimilikinya telah layak ditempatkan di atas altar kita. Dia memiliki seorang saudara perempuan, Angela Tholomei, seorang pemberani yang keutamaan-keutamaannya juga cukup dikenal di lingkungan Gereja. Suatu hari Angela jatuh sakit parah dan saudaranya, John Baptist berdoa dng sungguh-sungguh memohon kesembuhannya. Tuhan menjawabnya, seperti yang telah Dia lakukan terhadap saudara perempuan Lazarus, namun Dia tidak menyembuhkan Angela saja, tetapi Dia akan melakukan lebih banyak lagi. Dia akan meneghidupkan Angela dari kematiannya demi kemuliaan Allah dan demi kebaikan dari jiwa-jiwa. Angela meninggal dan menyerahkan dirinya kepada doa-doa dari John Baptist.
Sementara Angela dibawa ke kuburnya, John Baptist Terberkati dengan penuh percaya dan tanpa ragu, atas inspirasi dari Roh Kudus, dia mendekati peti jenasah Angela dan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dia memerintahkan Angela untuk keluar dari situ. Segera saja Angela terbangun, seolah tersadar dari tidur nyenyak, dan dia hidup kembali.
Jiwa suci itu, Angela, nampak ketakutan karena dia teringat kerasnya pengadilan Allah yang bisa membuat kita gemetaran. Pada saat yang sama dia bertahan untuk menjalani kehidupan yang membuktikan kebenaran dari perkataannya. Maka tindakan penebusannya itu amatlah mengerikan. Tidak puas dengan tindakan yang biasa dilakukan para kudus lainnya, seperti misalnya berpuasa, selalu berjaga, memotong pendek rambutnya, serta melakukan berbagai tindakan yang berdarah-darah, tetapi dia juga menjatuhkan dirinya kedalam api, dan bergulung-gulung didalamnya hingga seluruh tubuhnya terbakar. Tubuhnya yang terkoyak-koyak menjadi sasaran dari belas kasihan dan rasa takut orang lain. Dia dimarahi dan dihukum karena telah berbuat mencelakakan dirinya sendiri dengan tindakan yang berlebihan itu, melalui idenya mengenai penebusan dosa secara Kristiani. Namun Angela terus melaksanakan hal itu dan menjawab :”Jika saja kamu tahu kerasnya pengadilan Allah, maka kamu tak akan berbicara seperti itu kepadaku. Tindakan penebusanku ini hanyalah kecil saja dibandingkan dengan siksaan yang dipersiapkan di dunia sana bagi orang-orang yang tidak setia yang begitu mudahnya kita lakukan di dunia ini. Apakah artinya itu semua ? Jika bisa aku akan melakukan hingga 100 kali lebih besar !”.
Tak ada pertanyaan disini, seperti kita tahu akan siksaan-siksaan dimana para pendosa besar dipertobatkan sebelum kematian mereka, kecuali adanya pemurnian-pemurnian yang diberikan Tuhan kepada kaum religius yang sangat tekun atas kesalahan-kesalahan mereka yang terkecil sekalipun.


No comments:

Post a Comment