Thursday, April 21, 2016

Vol 1 - Bab 12 : Rasa sakitnya Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 12

Rasa sakitnya Api Penyucian 
Bellarmine dan St. Christine the Admirable

Cardinal yang suci dan pandai itu kemudian menceritakan sejarah St.Christine the Admirable, yang hidup di Belgia sekitar akhir abad 12, yang tubuhnya tetap utuh hingga kini di St.Trond, di Gereja ‘the Redemptorist Fathers’. Kisah kehidupan perawan yang terkenal ini, demikian dikatakan, ditulis oleh Thomas de Cantimpre, seorang religius dari ordo St.Dominikus, seorang penulis terkenal dan berteman dengan orang kudus itu. Cardinal James de Vitry, didalam bagian pendahuluan dari buku Biografi Maria d’Ognies, berbicara banyak tentang wanita-wanita suci dan para perawan yang terkenal. Namun satu yang dia kagumi lebih dari pada yang lain, adalah St.Christine, dimana dia telah melihatnya banyak melakukan hal-hal yang menakjubkan.
Hamba Allah ini setelah melewati tahun-tahun pertama kehidupannya didalam kesederhanaan dan kesabaran, dia meninggal pada usia 32 tahun. Ketika dia akan dikuburkan, dimana tubuhnya sudah diletakkan didalam Gereja disebuah peti mayat yang terbuka, sesuai dengan adat istiadat saat itu, tiba-tiba dia terbangun hingga peristiwa itu mengejutkan seluruh kota St.Trond yang menyaksikan keajaiban ini. Kekaguman itu semakin meningkat ketika mereka mengetahui dari mulut St.Christine sendiri, apa yang terjadi atas dirinya setelah kematian itu. Kini marilah kita menyimak ceritanya :
“Segera setelah jiwaku terpisah dari tubuhku, jiwa itu diterima oleh para malaikat yang kemudian menuntunnya menuju sebuah tempat yang sangat gelap, yang sudah dipenuhi dengan banyak sekali jiwa-jiwa disitu. Siksaan-siksaan yang mereka tanggung di tempat itu nampak kepadaku begitu berat sekali, sehingga tidak mungkin bisa aku menceritakan kerasnya penderitaan itu dengan kata-kata. Diantara mereka aku melihat banyak sahabatku, dan dengan tersentuh oleh kesedihan mereka yang sangat berat itu, aku lalu bertanya tempat apa itu, karena aku mengira bahwa tempat itu adalah neraka. Penuntunku menjawab bahwa itu adalah Api Penyucian, dimana para pendosa dihukum, karena sebelum kematian, mereka telah betobat dan menyesali dosa-dosa mereka, tetapi mereka masih belum cukup memuaskan Allah. Dari situ aku dituntun menuju neraka, dan disana aku mengenali, diantara orang-orang yang durhaka itu, ada beberapa orang yang sudah kukenal sebelumnya”.
“Para malaikat itu kemudian membawa aku menuju Surga, hingga kepada Tahta Kemuliaan Ilahi. Tuhan memandang aku dengan mata yang amat menyenangkan, dan aku merasakan kebahagiaan yang sangat besar sekali, karena aku mengira akan menerima rahmat dengan tinggal bersama Dia selamanya. Namun Bapa Surgawi, demi melihat apa yang terjadi didalam hatiku, berkata kepadaku :”Yakinlah, puteriKu yang terkasih, suatu hari nanti kamu akan tinggal bersamaKu. Namun sekarang Aku mengijinkan kamu untuk memilih, tetap tinggal bersamaKu untuk selamanya mulai sekarang, atau kamu kembali lagi ke dunia untuk melaksanakan sebuah tugas kemurahan hati dan penderitaan. Untuk bisa lepas dari nyala api Api Penyucian maka jiwa-jiwa itu yang telah menimbulkan rasa belas kasihan dalam dirimu, kamu akan menderita bagi mereka di dunia. Kamu akan menanggung siksaan yang berat tanpa kamu meninggal karenanya. Bukan saja Aku akan bisa membebaskan orang-orang yang telah meninggal itu, tetapi juga contoh kehidupanmu bagi orang-orang di dunia, penderitaanmu yang berkelanjutan itu, akan menuntun banyak pendosa untuk bertobat dan menebus segala dosa kejahatan mereka. Setelah mengakhiri kehidupan yang baru ini, kamu akan kembali kesini dengan membawa banyak jasa-jasa”.
“Atas perkataan ini, dengan melihat besarnya manfaat yang ditawarkan kepadaku bagi kepentingan jiwa-jiwa itu, maka aku menjawab tanpa ragu bahwa aku akan kembali ke dunia dan aku bangkit didalam tubuhku saat itu juga. Bagi tujuan yang utama inilah, yaitu pertolongan kepada orang-orang yang meninggal dan demi pertobatan para pendosa, maka aku kembali ke dunia ini. Karena itu janganlah terkejut, atas segala tindakan penebusan dosa yang kulakukan nanti, atau pada kehidupan yang kulakukan sejak saat ini. Hal ini akan berlangsung secara luar biasa sehingga tak ada yang seperti itu lagi”.
Semua ini diceritakan oleh orang kudus itu sendiri. Dan kini marilah kita menyimak apa yang ingin dikatakan oleh penulis biografi itu dibagian yang lain dari buku itu :
“Segera saja Christine melaksanakan tindakan seperti yang diutus oleh Allah kepadanya. Dia menolak segala bentuk kesenangan kehidupan ini dan dia menyendiri, tanpa rumah, tanpa api, lebih sengsara dari pada burung-burung di udara, yang masih memiliki sarang untuk berlindung. Tidak puas dengan tindakan ini, Christine mencari segala hal yang bisa membuatnya menderita. Dia melemparkan dirinya kedalam tungku api yang menyala, hingga dia mengalami rasa sakit yang luar biasa besarnya, hingga dia tak mampu menanggungnya, sampai-sampai dia berteriak kesakitan. Dia tetap berada didalam api itu hingga lama, namun setelah keluar dari situ, tubuhnya sama sekali tidak terbakar. Pada musim dingin, Christine menceburkan diri kedalam sungai Meuse yang beku airnya itu, dan tetap tinggal di sungai itu bukan saja dalam hitungan jam, tetapi hingga berminggu-minggu lamanya. Semuanya ini dilakukan sambil berdoa dan memohon kemurahan hati Allah. Kadang-kadang ketika dia sedang berdoa didalam air sungai yang dingin seperti es, dia membiarkan dirinya terbawa oleh arus air hingga mencapai sebuah tempat penggilingan dimana roda-roda penggilingan itu berputar oleh arus air itu, dan roda itupun ikut memutar tubuh Christine hingga menimbulkan rasa ngeri bagi orang-orang yang melihatnya, karena orang-orang takut kalau-kalau hal itu akan menghancurkan tubuh dan tulang Christine. Pada kesempatan yang lain, dengan dikejar oleh anjing-anjing, yang sampai menggigit dan merobekkan daging tubuhnya, dia berlari dan masuk kedalam semak berduri tajam, hingga tubuhnya penuh dengan darah. Namun setelah dia keluar dari situ, tak ada darah atau bekas luka sama sekali pada tubuhnya”.
Begitulah tindakan-tindakan yang amat terpuji dari penebusan dosa yang dilakukan oleh Christine seperti yang diceritakan oleh penulis biografi St.Christine. Penulis ini adalah seorang Uskup, pembantu dari Uskup Agung Cambray. Bellarmine berkata :’Kita memiliki alasan untuk percaya akan kesaksiannya, karena dia menjadi jaminan bagi penulis lain yang terkenal, James de Vitry, Uskup dan Kardinal, dan karena dia bercerita apa yang terjadi pada zamannya, terutama dengan wilayah tempat dia tinggal. Disamping itu, penderitaan yang dialami oleh perawan yang terpuji ini, tidaklah terjadi secara tersembunyi. Semua orang bisa melihatnya, bahwa dia berada ditengah kobaran api tanpa terbakar, dan tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka, dan beberapa saat kemudian semua itu hilang lenyap dari tubuhnya, tanpa bekas. Lebih dari itu, kehidupannya menjadi amat menakjubkan, yang dia jalani selama 42 tahun setelah dia hidup kembali dari kematiannya. Dengan jelas Tuhan menunjukkan bahwa keajaiban-keajaiban yang dilakukannya adalah berasal dari keutamaan dari yang diatas. Pertobatan-pertobatan yang dihasilkannya serta keajaiban-keajaiban yang terjadi setelah kematiannya, telah membuktikan adanya campur tangan Allah, serta kebenaran, setelah kebangkitannya, yang dia nyatakan mengenai kehidupan disebelah sana”.
Begitulah, kata Bellarmine, Tuhan berkehendak membungkam orang-orang yang berpikiran bebas, yang mengaku secara terus terang tidak percaya kepada apapun juga, dan yang telah berani bertanya “Siapakah yang bisa kembali dari dunia kematian ? Siapakah yang telah melihat siksaan-siksaan di neraka atau Api Penyucian ?”. Lihatlah kepada dua saksi itu, karena keduanya meyakinkan kita bahwa kedua orang itu telah melihat neraka dan Api Penyucian dan bahwa kedua tempat itu amatlah mengerikan. Adakah tindakan yang lain kecuali bahwa kecaman-kecaman itu tidak lagi bisa dimaafkan, dan bahwa mereka yang percaya tetapi lalu lupa untuk melakukan tindakan penebusan dosa, maka mereka pastilah akan dihukum dengan kerasnya !

No comments:

Post a Comment