Thursday, August 20, 2015

Kita tak bisa mengadaptasikan doktrin Gereja


Kita tak bisa mengadaptasikan doktrin Gereja agar sesuai dengan keinginan kaum sekuler atau Kristianitas yang dangkal



Dalam sebuah wawancara dengan jurnal Katolik dwi-mingguan dari Perancis, La Vie, yang diterbitkan pada tanggal 29 April, Kardinal Gerhard Ludwig Müller, Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, sekali lagi membela ajaran Gereja Katolik tentang Perkawinan. Ketika ditanya tentang kemungkinan untuk mengijinkan orang yang bercerai dan menikah lagi, untuk menerima Sakramen-sakramen, seperti yang diusulkan oleh Kardinal Walter Kasper, Kardinal Müller menyatakan:

Adalah tidak mungkin untuk memiliki dua istri. Jika perkawinan pertama adalah sah, maka tidaklah mungkin untuk menjalani pernikahan kedua pada waktu yang sama. Sebuah jalan penyesalan adalah mungkin, tetapi tidak bagi perkawinan kedua. Satu-satunya kemungkinan adalah kembali kepada perkawinan pertama, perkawinan yang sah, atau tinggal bersama pasangan kedua sebagai saudara, sebagai kakak dan adik: itulah posisi Gereja, yang sesuai dengan kehendak Yesus. Saya menambahkan bahwa adalah selalu dimungkinkan untuk mencoba dan mendapatkan pembatalan dari pengadilan gerejawi.
Dia mengatakan bahwa Gereja tidak dapat mengubah aturan pernikahan tak terceraikan:
Doktrin Gereja bukanlah teori, itu berdasarkan kepada kesetiaan pada Firman Tuhan. Pernikahan antara dua orang yang telah dibaptis adalah sebuah sakramen yang efektif, sebuah realita obyektif. Tidaklah mungkin untuk membubarkan sebuah pernikahan sakramental dengan segala alasan kebebasan konstitutif, yang bisa diceraikan, dengan kesetiaan dan menghasilkan. Sebagai Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman saya harus menyajikan doktrin Gereja. Gereja tidak dapat merubah sakramentalitas perkawinan; seseorang berjanji untuk setia sampai mati.
Kardinal Müller juga memperingatkan terlalu banyaknya pertanyaan atas orang yang bercerai dan kemudian "menikah lagi" didalam Sinode para Uskup mendatang tentang Keluarga, pada bulan Oktober 2015:
Tujuan dari Sinode bukan untuk membahas masalah orang yang bercerai dan menikah lagi, tetapi untuk menegaskan kembali bahwa perkawinan sebagai fondasi dari masyarakat sipil dan komunitas Gereja, dan untuk menghidupkan kembali dimensinya yang mendasar ... Tidaklah mungkin untuk mengadaptasikan doktrin Gereja kepada negara-negara sekuler kita, dan bahkan untuk menerima Kristianitas yang dangkal.
Ketika diminta untuk menjelaskan apa maksudnya dengan ungkapan "Kristianitas dangkal," Kardinal Müller menunjukkan bahwa banyak orang Kristen di negara-negara Eropa "yang dibaptis, tetapi tidak percaya dan tidak menjalankan Iman." Dan dia melanjutkan:

Mereka tidak menerima substansi Kristianitas yang menghasilkan perubahan dalam berpikir dan bertindak: sebuah pertobatan. Saya tidak menilai orang yang mengatakan itu, tapi di negara kita, sudah cukuplah untuk melihat persentase orang Kristiani yang dibaptis tetapi tidak menerima Sakramen Krisma atau dari banyaknya kasus aborsi, untuk mengakui bahwa keberadaan dari Kristianitas dangkal itu adalah kenyataan.

No comments:

Post a Comment