Monday, June 17, 2019

DOKUMEN KERJA DARI SINODE AMAZON...




DOKUMEN KERJA DARI SINODE AMAZON (Oktober 2019) DIRILIS HARI INI.
Ia semakin menegaskan adanya masalah buruk yang sudah mengintip di cakrawala.



"Instrumentum Laboris" (dokumen kerja) untuk Sinode Amazon mendatang telah dirilis hari ini. Saat ini hanya tersedia di Italia dan Spanyol, dokumen yang berisi 45.000 kata - seperti yang telah diduga - berisi indikasi bahwa seperti dua sinode tentang keluarga sebelumnya (2014 & 2015), sinode Oktober nanti akan berbicara tentang masalah yang dihadapi oleh Gereja di lembah sungai Amazon, dimana fokusnya tidak hanya bersifat lokal, tetapi sebaliknya, ia akan membawa perkembangan dan perubahan yang amat meresahkan ke seluruh Gereja Katolik.


Dokumen setebal 64 halaman itu, yang akan menjadi dasar bagi diskusi di dalam Sinode yang akan datang, menyarankan bahwa konferensi para uskup lokal “bisa menyesuaikan ritus Ekaristi dengan budaya lokal mereka,” dimana Gereja telah mempertimbangkan untuk menahbiskan “penatua” yang sudah menikah untuk menerima jabatan imamat, dan dalam Sinode itu para imam peserta Sinode juga mempertimbangkan adanya  "pelayanan resmi yang dapat dilaksanakan oleh para wanita," dengan mengingat peran utama wanita dalam budaya Amazon.

Dokumen kerja tersebut juga menyarankan bahwa sudah waktunya untuk mempertimbangkan kembali "gagasan bahwa pelaksanaan yurisdiksi (kekuasaan pemerintahan) harus dikaitkan di semua bidang (sakramental, yudisial, administratif) dan secara permanen dengan Sakramen Tahbisan Suci."

Dokumen ini sangat berfokus pada masalah ekologis, “inkulturasi” liturgi, pengorganisasian komunitas, dan dialog ekumenisme / antar-agama.

Dalam satu bagian (hlm. 39), kita disuguhi apa yang tampaknya merupakan kelanjutan dari ketidakpedulian agama yang menyebabkan begitu banyak kekhawatiran umat Katolik di dunia dalam pernyataan paus Francis di Abu Dhabi. Bunyinya, di bagian *:

Sikap keterbukaan yang tidak tulus terhadap yang lain, serta sikap korporatis, yang mengaku memiliki keselamatan secara eksklusif pada kepercayaan seseorang, bisa merusak kepercayaan yang sama. Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, Yesus menjelaskan hal ini kepada ahli taurat yang bertanya kepada-Nya. Kasih yang hidup di dalam agama apa pun akan menyenangkan Tuhan. “Melalui pertukaran karunia, Roh akan dapat menuntun kita semakin penuh ke dalam kebenaran dan kebaikan.” EG 246

Tidaklah sulit untuk membayangkan kembali kalimat dalam paragraf sebelumnya sebagai “Kasih yang hidup di dalam hubungan apa pun akan menyenangkan Tuhan,” khususnya ketika orang-orang Kristiani di seluruh dunia menghadapi rentetan pesan gencar kaum LGBT dalam apa yang disebut sebagai “Bulan Pride” - di mana umat ​​Katolik di Genoa, Italia, telah dilarang oleh Uskup Agung, Kardinal Angelo Bagnasco, untuk menggunakan paroki di keuskupan itu untuk menyampaikan doa silih secara terbuka bagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan atas nama "pawai kaum gay."

Kembali kepada dokumen kerja sinode itu sendiri, bagian tentang inkulturasi telah mendorong liturgi perkawinan dan "liturgi inisiasi Kristiani" menjadi suasana pesta yang "meriah, penuh dengan musik dan tarian mereka sendiri, menggunakan bahasa dan pakaian adat, dalam persekutuan dengan alam dan dengan masyarakat." Ia juga meminta kepada konferensi para uskup untuk "menyesuaikan ritual Ekaristi dengan budaya mereka," dan lebih lanjut:

Masyarakat sangat sulit untuk bisa merayakan Ekaristi karena kurangnya imam. “Gereja menerima kehidupannya dari Ekaristi” dan Ekaristi membangun Gereja. Karena itu, bukannya membiarkan komunitas-komunitas tanpa memiliki Ekaristi, tetapi perubahan-perubahan telah diminta dalam kriteria untuk memilih dan mempersiapkan para utusan yang berwenang untuk merayakan Ekaristi.

Paragraf 129 dari dokumen kerja itu mengatakan:

Dengan menyatakan bahwa selibat adalah sebuah karunia bagi Gereja, maka kami meminta agar, untuk daerah-daerah yang terpencil di suatu wilayah, untuk mempelajari kemungkinan penahbisan imamat terhadap para penatua, terutama penduduk asli ... karena mereka sudah memiliki keluarga yang mapan dan stabil, untuk memastikan bahwa mereka dapat memberikan sakramen-sakramen demi mendampingi dan mendukung kehidupan Kristen [.]

Telah lama diantisipasi bahwa untuk mengatasi kekurangan imam di wilayah-wilayah tertentu, akan mengarah pada pengenduran persyaratan selibat bagi klerus di seluruh dunia. Seperti yang dikatakan Uskup Schneider tahun lalu, dengan memberikan izin seperti itu di wilayah Amazon akan berarti bahwa "selibat secara de facto akan dihapuskan" di seluruh Gereja global.

Kardinal Jerman, Walter Kasper, seorang teman dekat dan penasihat Paus Francis, mengatakan dalam sebuah wawancara awal bulan ini bahwa “jika para uskup sepakat melalui kesepakatan bersama untuk menahbiskan pria yang sudah menikah – hal ini disebut viri probati – menurut pendapat saya maka paus akan menerimanya.” "Selibat bukanlah dogma," lanjut Kasper. "Ini (selibat) bukanlah praktik yang tidak dapat dirubah."

Tahun lalu, wakil presiden konferensi uskup Jerman, Franz-Josef Bode, mengumumkan bahwa para uskup Jerman akan meminta izin khusus kepada paus untuk menahbiskan "viri probati" jika paus memberikan izin kepada Gereja di wilayah Amazon.

Paragraf 129 juga mengatakan bahwa disarankan agar para uskup juga “mengidentifikasi jenis pelayanan resmi yang dapat diberikan kepada perempuan, mengingat peran sentral yang mereka mainkan saat ini di Gereja Amazon.”

Tidak jelas peran apa, tepatnya, yang diantisipasi dalam bagian ini, mengingat bahwa paus tampaknya melemahkan harapan para diakon perempuan untuk ditahbiskan (menjadi imam) setelah komisi yang ditunjuknya beberapa tahun lalu tidak dapat menyimpulkan bahwa jabatan semacam itu pernah ada di Gereja.

“Secara fundamental,” kata paus dalam konferensi pers dalam penerbangan pada bulan Mei 2019, “tidak ada kepastian bahwa [penahbisan wanita] adalah penahbisan dengan bentuk yang sama, dengan tujuan yang sama, dengan penahbisan kaum pria. Ada yang mengatakan masih ada keraguan, mari kita lanjutkan dan terus mempelajarinya. Saya tidak takut untuk belajar, tetapi sampai saat ini, hal itu (penahbisan wanita) masih belum dilanjutkan."

* Translation of this section by Jesús Flórez.

Steve Skojec is the Founding Publisher and Executive Director of OnePeterFive.com. He received his BA in Communications and Theology from Franciscan University of Steubenville in 2001. His commentary has appeared in The New York Times, USA Today, The Washington Post, The Washington Times, Crisis Magazine, EWTN, Huffington Post Live, The Fox News Channel, Foreign Policy, and the BBC. Steve and his wife Jamie have seven children.

No comments:

Post a Comment