Monday, June 3, 2019

VORTEX - MEREKA TAK BISA DIPERCAYA


  

VORTEX - mereka tak bisa dipercaya
Karena mereka mengaktifkan kejahatan - dan masih terus melakukannya.


31 Mei 2019  

Jika dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak, dibutuhkan sebuah desa pula untuk melecehkan seorang anak. Kalimat itu berasal film Spotlight, pemenang Oscar, yang berkisah soal skandal pelecehan seksual pada saat disajikan di halaman-halaman The Boston Globe pada tahun 2002.

Ya, agar dosa institusional yang mengerikan terjadi, maka institusi harus menjadi peserta.

Tapi apa itu "institusi"? Ini, sebagai entitasnya sendiri, tidaklah benar-benar ada. Misalnya, tidak ada entitas nyata: Gereja Katolik di Amerika Serikat, yang secara resmi ikut menjadi peserta.

Itu adalah istilah umum untuk pengumpulan semua hal, yang pada akhirnya diwujudkan kepada orang-orang, yang membentuk institusi agama Katolik di Amerika Serikat.

Jadi, apakah institusi itu? Ini tidak lebih dari keseluruhan praktik, kebijakan, protokol, dan prosedur yang dilembagakan oleh orang-orang yang menjalankannya. Singkatnya, lembaga atau institusi ini benar-benar terdiri dari manusia-manusia dan kemudian bagaimana mereka memutuskan sesuatu akan terjadi dan berjalan. Tidak lebih dari itu.

Jadi apa yang perlu dicermati dalam semua kebusukan ini adalah siapa-siapa yang menjalankan pertunjukan - tetapi bukan hanya para uskup, karena sebenarnya, para uskup tidak akan memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun, termasuk hal-hal yang ditutup-tutupi, jika bukan demi kepentingan orang-orang di sekitar mereka.

Orang-orang yang ada di sekitar mereka, selama puluhan tahun, telah membantu dalam semua kejahatan ini, masing-masing orang dalam wilayah spesifiknya masing-masing.

Apakah itu pengacara yang melakukan kepengacaraannya atau pejabat kanselir yang resmi, masing-masing pria dan wanita itu membuat pilihan untuk berpartisipasi dalam kejahatan ini. Dan sejujurnya, mereka masih, sampai sekarang, saat kita duduk di sini, masih membuat pilihan yang sama.

Mereka tidak mengatakan apa yang mereka ketahui. Mereka tidak menyerahkan bukti yang memberatkan. Mereka tidak mengungkapkan kebenaran segala sesuatu yang harus diketahui.

Tetapi ada satu kelompok khususnya yang harus dipelototi atas segala cemoohan dan penghinaan publik yang terbuka. Dan orang-orang itu menjadi anggota media Katolik yang diduga keras ikut berperanan. Orang-orang Katolik "profesional" ini telah memungkinkan semua kebusukan ini terjadi, dan mereka harus memiliki perhitungan yang serius untuk dicermati.

Mereka telah menggunakan senjata ganda untuk mengabaikan kebenaran sementara pada saat yang sama, mereka memberikan bantuan dan kenyamanan kepada musuh.

Mereka secara pribadi mendapat untung dari menggunakan pena mereka untuk melukiskan sebuah gambaran khayal mengenai perdamaian. Dan sebagai orang yang mencari nafkah sebagai jurnalis profesional, tindakan mereka sungguh menjijikkan. Mereka tidak melaporkan "kebenaran" - melainkan mereka mendistorsi kebenaran.

Ambil contoh, Ed Condon dari Catholic News Agency yang beberapa hari lalu menulis esai yang bersifat menjilat, tentang kepergian kepergian Donald Wuerl dari tempat kejadian ketika Wilton Gregory mengambil alih kendali Washington, D.C. sebagai uskup agung.

Sebagai seorang jurnalis, sulit untuk menahan muntah. Hal ini membuat Anda bertanya-tanya seberapa dekat seorang teman dia dengan Wuerl karena "artikelnya" benar-benar terdengar seperti teman terbaik.

Dia memuji-muji ‘prestasi’ Wuerl selama hari-harinya di Pittsburgh dalam menangani krisis pelecehan oleh para homopredator. Namun dia melakukannya dengan tidak pernah menyebutkan serangkaian kasus di mana Wuerl hanya memindahkan imam-imam yang jahat, tanpa sanksi apapun, dan setidaknya ada satu siswa meninggal sebagai hasilnya.

Dia tidak pernah membuka ulah Wuerl yang membayar uang pemerasan kepada pastor lain yang mengancam akan keluar dari seluruh jaringan gay di Pittsburgh. Setelah mendapatkan uangnya dari Wuerl, pastor itu dipindahkan ke Karibia untuk dibunuh oleh seorang pelacur gay disana.

Ketika tubuhnya akhirnya dikembalikan dari negara Komunis itu, Wuerl memimpin pemakaman di mana dia mengatakan bahwa pastor itu adalah seorang pastor yang setia dan saleh dan sekarang telah berada di Surga.

Daftar seperti ini terus bertambah, dan skandal Wuerl bukanlah fokus dari pembicaraan Vortex kali ini. Tapi tindakan menutup-nutupi, atau mungkin lebih baik dengan mengatakan: memungkinkan skandalnya untuk terjadi - dan lain-lain - adalah fokus dari laporan kami.

Pemberdayaan, bukan sekedar upaya di balik pintu yang dimungkinkan oleh tikus-tikus kanselir, tetapi publik yang memungkinkan para bajingan menyeramkan ini, dengan upaya pemberdayaan mereka adalah menjadi fokus.

Ketika uskup agung Viganò menjatuhkan bomnya pada bulan Agustus lalu, pendiri dan kepala tim editor media Crux, John Allen, memperingatkan pembaca untuk menerima semua yang Viganò tuduhkan dengan bumbu ‘sebutir garam yang besar’ agar semakin terasa.

Ternyata, setahun kemudian, hingga huruf terakhir yang dikatakan Viganò adalah benar. Tapi Allen tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memberitahu Anda bahwa dia dan usahanya yang gagal, Crux, sekarang dibayar oleh Knight of Columbus.

Jadi seberapa independen dan karena itu dapat dipercaya Crux dan John Allen? Mereka, seperti halnya CNA, memiliki banyak alasan untuk melindungi status quo, institusi.

Kami berani bertaruh bahwa sejak ada kabar tentang surat-surat rahasia yang sekarang dipublikasikan, membuktikan bahwa Wuerl tahu semua tentang kejahatan McCarrick selama beberapa dekade, dan bahwa Ed Condon tidak benar-benar bergegas untuk menarik puji-pujiannya kepada Wuerl.

Inilah aturan yang harus diingat dengan kerumunan media Katolik profesional yang dibeli dan dibayar oleh pihak Gereja: Mereka akan melakukan dan mengatakan serta melaporkan dan mengomentari apa pun yang diinginkan para uskup - titik. Mereka harus melakukan hal itu. Para uskup adalah laksana roti dan mentega mereka. Para uskup memberi mereka wawancara, akses, kartu pers, mendukung buku-buku mereka, mengiklankannya dalam buletin, serta mengundang mereka untuk berbicara – inilah yang terjadi.

Para uskup melakukan semua itu dengan imbalan korps pers ‘jangan bertanya macam-macam’, yang jumlahnya sedikit lebih banyak dari ‘mesin’ humas raksasa.

Mereka itu sama sekali bukanlah media massa. Mereka bukan reporter. Mereka bukan jurnalis. Ya, kebanyakan dari mereka bahkan tidak bisa berurusan secara jujur ​​dengan konsep kebenaran, apalagi benar-benar menyampaikan kebenaran dalam kata-kata tertulis.

Mereka telah terbiasa dengan peran mereka sebagai ‘pihak yang memungkinkan’ atau ‘pemberdaya’, untuk mengatakan bahwa segalanya adalah baik, tidak pernah mengajukan pertanyaan yang menyelidik dan membelokkan dan membela.

Bahkan jika perlu, mereka akan melakukan beberapa pekerjaan kotor bagi para uskup dengan mengolesi dan menyerang umat Katolik yang setia, seperti Church Militant ini, dan yang lain-lainnya, yang menginginkan kebenaran untuk diceritakan dan mengatakannya terus terang.

Catholic News Agency, dipimpin oleh JD Flynn - seorang pengacara hukum kanon, bukan seorang wartawan - dan berbagai ‘berita pura-pura’ tidak akan benar-benar tahu sesuatu yang layak diberitakan jika itu menuding bopeng pada wajah mereka.

Tetapi mereka tahu bagaimana melindungi, mempertahankan dan memberdayakan. Ambil contoh, pembawa acara radio Katolik Al Kresta dari Ave Maria Radio, yang berusaha keras untuk melindungi dan membela Uskup Lansing Earl Boyea dari tuduhan oleh seorang korban pencabulan, dimana pencabulan itu dilakukan oleh seorang imam yang dulu bertugas di acara radionya, pastor Pat Egan.

Salah satu target pastor Egan – adalah seorang pemuda yang bertemu dan berbicara kepada Church Militant - melaporkan ulah pastor itu bertahun-tahun sebelumnya, dan Boyea tidak berbuat apa-apa.

Kemudian, pemuda itu mendekati sekelompok orang Katolik profesional, yang berada dibawa kendali Kresta, dan meminta bantuan mereka. Reaksi spontan Kresta adalah melindungi uskup, marilah kita bekerja sama dengan uskup, marilah kita percaya kepada uskup.

Kresta menuduh pemuda itu dan mengucilkannya dari kelompok itu setelah korban menghadapi Boyea di sebuah pertemuan umum dan diam-diam mencatat tanggapan Boyea yang benar-benar menghina dan meremehkannya. Mengapa? Karena memang seperti itulah cara lembaga itu beroperasi: melindungi institusi, terutama ketika Anda memiliki kepentingan pribadi pada institusi yang sama.

Boyea adalah uskup dari keuskupan di mana studio Ave Maria berada dan Kresta bekerja mencari makan disitu, dekat Ann Arbor, Michigan, dan ya… hal itu tidak akan membawa kebaikan bagi Ave Maria jika tiba-tiba uskup setempat menarik dukungannya dan mulai membuat hidup menjadi sulit bagi mereka sekarang, begitu kan?

Jadi, ketika Kresta, atau John Allen atau Ed Condon atau JD Flynn atau tokoh terkemuka lainnya yang memungkinkan semua kebusukan ini, dengan seratus cara berbeda, baik dengan diam atau licik, atau pelaporan palsu - ketika mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan – ingatlah: perhatikanlah, siapa yang benar-benar berbicara di balik mereka.

Itu adalah institusi Gereja yang telah membeli dan membayar tentara bayaran gerejawi ini. Apakah mereka mengatakan beberapa hal yang benar? Tentu. Apakah mereka melaporkan beberapa hal dengan benar? Ya. Sesuai pesanan tentunya.

Tetapi seperti yang tampaknya menjadi pokok esai Condon tentang Wuerl, bahkan Hitler rela memperbaiki jalan, dan Mussolini bersedia membuat kereta berjalan sesuai jadwal.

Intinya, jika sikap dasar sudah tidak bersifat bebas, yang berarti ia memiliki ikatan dan berkat resmi dari Gereja institusional, maka Anda tidak dapat dan tidak boleh mempercayai mereka.

Tanyakan apa saja yang mereka nyatakan. Mereka tidak akan mau berterus terang tentang semua kejahatan ini bahkan ketika mereka tahu bahwa kejahatan itu sedang terjadi. Mengapa Anda harus mempercayai mereka sekarang?

No comments:

Post a Comment