Thursday, June 20, 2019

USKUP AGUNG VIGANÒ MENYAMPAIKAN KEPADA WASHINGTON POST...


 

 

USKUP AGUNG VIGANÒ MENYAMPAIKAN KEPADA WASHINGTON POST:

“PAUS FRANCIS SENGAJA MENYEMBUNYIKAN BUKTI KASUS MCCARRICK




Uskup Agung Carlo Maria Viganò kembali menjadi berita hari ini setelah merilis wawancara baru sebanyak 8,000 kata dengan Washington Post. Menurut postingan tersebut, wawancara itu dilakukan melalui email selama dua bulan, dengan mantan nuncio kepausan untuk Amerika Serikat dengan memberikan jawaban atas sekitar 40 pertanyaan.

Mereka yang telah membaca kesaksian Viganò sebelumnya, akan menemukan banyak berita yang akrab dalam wawancara ini, tetapi yang ini dilakukan secara lebih mendalam. Uskup Agung Viganò menolak untuk menjawab pertanyaan tentang status pribadinya sendiri, yang, katanya, ia anggap "tidak relevan dengan masalah serius yang dihadapi Gereja." 

Dia mulai dengan penilaian atas KTT tentang pelecehan seks di Roma pada Februari 2019, yang menyuarakan keprihatinannya yang dia bagikan dengan National Catholic Register sebelum KTT dibuka.

"Sayangnya," kata Viganò kepada Washington Post tentang KTT itu, "inisiatif itu ternyata berupa kesombongan murni, karena kami tidak melihat tanda-tanda kesediaan yang tulus untuk mengatasi penyebab sebenarnya dari krisis saat ini." Dia menyoroti kurangnya kredibilitas Kardinal Cupich, yang terpilih menjadi pemimpin pada KTT itu, setelah merujuk pada tuduhan Viganò tentang penyalahgunaan yang ditutup-tutupi sebagai "lubang kelinci." Ia juga menyesalkan kurangnya transparansi dengan wartawan yang mencari informasi tentang kasus-kasus tertentu:

Untuk mengutip satu contoh saja, Uskup Agung [Charles] Scicluna, nampak terkejut dengan pertanyaan tentang Paus yang menutupi kasus skandal Uskup Argentina Gustavo Zanchetta - “Bagaimana kita bisa percaya bahwa ini adalah fakta terakhir kalinya kita mendengar 'tidak ada lagi tindakan menutup-nutupi' ketika pada suatu hari, ternyata paus Francis masih juga menutup-nutupi seseorang di Argentina yang melakukan perbuatan sex-gay yang melibatkan anak-anak di bawah umur?" – dimana Uskup Agung Charles Scicluna mengucapkan kata-kata yang amat memalukan ini: "Tentang kasus ini, saya tidak… saya tidak… Anda tahu sendiri… saya tidak berwenang ... " Tanggapan yang tidak kompeten dari Scicluna ini memberi kesan bahwa dia perlu diotorisasi (memperoleh mandat khusus) - Anda mungkin bertanya-tanya oleh siapa - untuk bisa mengatakan fakta yang sebenarnya! Direktur pers Vatikan, Alessandro Gisotti dengan cepat turun tangan untuk meyakinkan para wartawan bahwa penyelidikan telah dilakukan, dan bahwa setelah selesai, mereka akan diberi tahu tentang hasilnya. Orang mungkin bisa dimaklumi jika dia bertanya-tanya apakah hasil penyelidikan yang jujur ​​dan menyeluruh benar-benar akan dirilis, dan tepat waktu.

Viganò mengamati bahwa salah satu masalah utama dari KTT adalah cara di mana KTT itu "fokus secara eksklusif pada penyalahgunaan anak di bawah umur."

“Kejahatan-kejahatan ini memang yang paling mengerikan,” tambahnya, “tetapi krisis baru-baru ini di Amerika Serikat, di Chili, di Argentina, di Honduras, dan di tempat-tempat lain sebagian besar berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan terhadap orang-orang dewasa muda, termasuk para seminaris, tidak hanya , atau sebagian besar, terhadap anak di bawah umur. Memang, jika masalah homoseksualitas dalam lingkup imamat secara jujur ​​diakui dan ditangani dengan benar, maka masalah pelecehan seksual akan jauh lebih ringan.”

Viganò menyerang paus Francis, yang kata dia, tidak hanya “hampir tidak berbuat apa pun untuk menghukum mereka yang telah melakukan pelecehan,” tetapi paus Francis juga “sama sekali tidak melakukan apa pun untuk mengekspos dan mengadili mereka yang telah, selama puluhan tahun, memfasilitasi dan menutupi pelakunya." Dia mengutip contoh Kardinal Wuerl, yang, meskipun telah berbohong dan menutup-nutupi kasus pelecehan sexual dari "McCarrick dan yang lain-lainnya selama beberapa dekade" dimana tentang kasus itu Kardinal Wuerl telah menyampaikan "kebohongan yang berulang dan terang-terangan" dan yang kemudian dia terpaksa mengundurkan diri secara memalukan, namun dia masih juga dipuji-puji oleh oleh paus Francis atas "kemuliaannya."

“Kredibilitas macam apa yang tersisa dari paus semacam itu setelah berbagai pernyataannya yang seperti ini?” Viganò bertanya.

Mengenai sanksi pencopotan imamat terhadap McCarrick, Viganò mempertanyakan mengapa hal itu baru terjadi lima tahun setelah dia memberikan informasi kepada paus Francis tentang McCarrick dan mengapa hal itu dilakukan, "setelah lebih dari tujuh bulan sikap diam total paus Francis," dan dilakukan melalui prosedur administratif, bukannya melalui prosedur peradilan.
Viganò mencatat bahwa karena sifat dari prosedur administratif, McCarrick "kehilangan kesempatan untuk mengajukan banding atas hukumannya" dan kehilangan kesempatan untuk menjalani proses yang seharusnya. “Setelah membuat hukuman itu definitif,” Viganò menambahkan, “paus telah membuat mustahil untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut atas McCarrick, yang sebenarnya dapat mengungkapkan siapa orang-orang di dalam  Curia dan di tempat-tempat lain yang mengetahui pelanggaran McCarrick, kapan mereka mengetahuinya, dan siapa saja yang mendukungnya untuk menjadi uskup agung Washington dan akhirnya menjadi seorang kardinal. Perhatikan bahwa dokumen-dokumen dari kasus ini, yang telah dijanjikan publikasinya oleh Vatikan, ternyata tidak pernah dilaksanakan hingga saat ini."

"Intinya," kata Viganò, "adalah ini: Paus Francis sengaja menyembunyikan bukti-bukti McCarrick."

Atas pertanyaan tentang intervensi yang tidak biasa oleh Tahta Suci pada pertemuan Konferensi Waligereja AS November 2018 lalu, di mana Paus memerintahkan kepada para uskup yang berkumpul disana, untuk tidak mengambil keputusan apapun atas dua langkah rencana tindakan terhadap kasus pelecehan sex yang telah mereka persiapkan, Viganò mengatakan bahwa Takhta Suci (paus Francis) telah berusaha untuk mencegah pemeriksaan atas "kasus pelecehan sexual para uskup, menutup-nutupi dan berbohong atas kesalahan seksual episkopal, baik dengan anak-anak di bawah umur dan orang-orang dewasa - yang semuanya akan berimplikasi dan memalukan Takhta Suci."

Ditanya tentang "tidak adanya penolakan" terhadap kesaksiannya semula – yaitu pertanyaan yang diajukannya ke hadapan paus Francis yang akhirnya keluar ke media massa dimana paus Francis menyangkal bahwa dirinya tahu segala sesuatunya, yang dikatakan oleh Viganò sebelumnya bahwa itu adalah "bohong" - uskup agung Viganò berpendapat bahwa tuduhannya itu tidak dapat disangkal karena itu adalah benar. "Para kardinal dan uskup agung yang saya sebutkan tidak mau ketahuan bahwa diri mereka berbohong, dan mereka tampaknya berpikir bahwa diri mereka begitu kuat sehingga tidak akan tersentuh jika mereka tetap bersikap diam dan berpura-pura tidak tahu," katanya.

Dalam sebuah tambahan pada wawancaranya, setelah penolakan yang telah lama tertunda yang dibuat oleh paus bulan lalu dirilis, Viganò mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan paus tidak sinkron satu sama lain. “Pertama, dia mengatakan bahwa dia sudah menjawab berkali-kali; kedua, dia berkata bahwa dirinya tidak tahu apa-apa, sama sekali tidak tahu-menahu tentang kasus McCarrick, dan ketiga, dia lupa tentang pembicaraan saya dengan dirinya. Bagaimana klaim-klaim ini ditegaskan dan dipertahankan bersama pada saat yang bersamaan? Ketiga pernyataannya adalah kebohongan terang-terangan,” kata Viganò.

Dari klaim yang paling jelas salah yang dibuat oleh paus - bahwa dia telah menjawab kesaksian saya hingga “berkali-kali” - Viganò bertanya, “Selama sembilan bulan yang panjang dia tidak mengatakan sepatah kata pun tentang kesaksian saya, dan bahkan menyombongkan diri dan terus menjelaskan tentang sikap diamnya, membandingkan dirinya dengan Yesus. Jadi, apakah dia berbicara atau dia tetap diam. Yang mana yang benar?”

“Kita sedang berada di saat yang benar-benar gelap bagi Gereja universal,” kata Viganò sedih. “Paus saat ini secara terang-terangan tengah berbohong kepada seluruh dunia untuk menutupi perbuatan jahatnya! Tetapi kebenaran pada akhirnya akan muncul, tentang McCarrick dan semua kasus yang ditutup-tutupi, seperti yang telah terjadi dalam kasus kardinal Wuerl, yang juga 'tidak tahu apa-apa' dan memiliki 'ingatan yang hilang.' ”Di sini, uskup agung Viganò merujuk pada kenyataan yang telah diketahui oleh Wuerl tentang aktivitas sexual terlarang yang dilakukan oleh pendahulunya, McCarrick, bahkan setelah banyak penyangkalan disampaikan.

Selain kesedihannya atas ketidakjujuran paus, Viganò tampaknya sangat peduli dengan kegagalan jurnalis untuk menggali kisah yang telah dia sampaikan di hadapan mereka. “Saya tidak dapat membayangkan bahwa mereka [media massa] akan sangat malu jika Paus yang terlibat adalah Yohanes Paulus II atau Benediktus XVI,” katanya, sambil menambahkan, “Sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa media ini enggan melakukannya karena mereka sangat menghargai pendekatan paus Francis yang sangat liberal dalam hal doktrin dan disiplin Gereja, dan media massa itu tidak ingin membahayakan agenda paus Francis."

Mengenai masalah homosexualitas di kalangan imamat, Viganò menyampaikan ketidak-percayaannya bahwa hubungan mereka itu boleh diabaikan. "Laki-laki heterosexual jelas tidak secara terang-terangan memilih anak laki-laki atau laki-laki muda sebagai pasangan seksual yang disukai, namun dari kenyataan, sekitar 80 persen korban adalah laki-laki, yang sebagian besar adalah laki-laki pasca-puber."

"Ini bukanlah pedofil, tetapi imam-imam gay yang memangsa anak-anak pasca-pubertas yang telah membangkrutkan keuangan keuskupan-keuskupan dari AS," katanya menambahkan.

“Mengingat bukti-bukti yang luar biasa, sangat mengejutkan bahwa kata 'homosexualitas' tidak muncul sama sekali dalam dokumen-dokumen resmi Takhta Suci, termasuk dalam dua Sinode tentang Keluarga, satu sinode tentang Kaum Muda, dan yang baru dalam KTT Februari lalu."
Viganò selanjutnya mengklaim bahwa apa yang disebut "mafia gay" di dalam Gereja "saling terikat bersama bukan oleh karena keintiman seksual bersama, tetapi oleh minat bersama dalam melindungi dan memajukan satu sama lain secara profesional dan menyabot semua upaya pembongkaran kasus busuk ini." Dia mengatakan bahwa meskipun Paus Benediktus XVI memulai penyelidikan di seminari-seminari, tidak ada hal baru yang ditemukan, "tampaknya karena berbagai kekuatan telah bergabung bersama untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya."

“Apakah ada satu uskup aktif di AS yang mengakui bahwa dirinya adalah seorang homosexual aktiv? Tentu saja tidak. Perbuatan sexual mereka terjadi secara klandestin.”

Tentang pertanyaan apakah dia bisa berdamai dengan paus Francis, Viganò menjawab:
Premis dari pertanyaan Anda salah. Saya tidak berperang melawan paus Francis, dan saya juga tidak berniat menentang dia. Saya hanya berbicara tentang kebenaran. Paus Francis perlu mendamaikan dirinya dengan Tuhan, dan dengan seluruh Gereja, karena dia telah menutup-nutupi McCarrick, menolak untuk mengakuinya, dan sekarang menutupi beberapa orang busuk lainnya. Saya berterima kasih kepada Tuhan karena Dia telah melindungi saya dari perasaan marah atau dendam terhadap paus Francis, atau keinginan untuk membalas dendam. Saya berdoa setiap hari demi pertobatan paus Francis. Tidak ada yang membuat saya lebih bahagia daripada paus Francis mau mengakui dan mengakhiri tindakannya yang menutup-nutupi kebusukan, dan untuk meneguhkan saudara-saudaranya di dalam iman.

Ada lebih banyak hal dalam wawancara dengan Uskup Agung Viganò yang belum saya sentuh di sini. Silakan membaca disini: The Washington Post.


No comments:

Post a Comment