Wednesday, July 13, 2016

AMORIS LAETITIA MENDORONG PELANGGARAN SERIUS....

AMORIS LAETITIA MENDORONG "PELANGGARAN SERIUS TERHADAP PRINSIP-PRINSIP DASAR DARI AJARAN MORAL GEREJA"

Seorang imam (Pastor Gerstle) berbicara soal permasalahan yang ada didalam Amoris Laetitia.

July 13, 2016 (LifeSiteNews) – ‘Anjuran PF didalam Amoris Laetitia memiliki potensi untuk membawa ajaran Gereja menuju kesesatan dari penafsiran liberal jika hal itu diterapkan.’ Demikian kata kepala dari the Priestly Fraternity of St. Peter (FSSP) distrik Jerman didalam website-nya.

Paus Yohanes Paulus II mendirikan FSSP pada tahun 1988 untuk menawarkan liturgi tradisional, liturgi Gereja pra-Vatikan II. Dari sejak didirikannya, FSSP telah menaruh penekanan besar pada loyalitas kepada paus. Dalam artikelnya, yang pertama kali diterbitkan pada tanggal 19 Mei, Pastor Bernhard Gerstle menulis bahwa Amoris Laetitia berisi "banyak pikiran yang indah dan berharga tentang kasih manusia, perkawinan dan keluarga," namun pada saat yang sama dokumen itu juga memberikan "berkah yang keliru" kepada meluasnya praktik ketidak-taatan dalam pemberian Komuni kepada orang yang bercerai dan menikah lagi, atas dasar penilaian kasus per kasus.

Dr. Maike Hickson menerjemahkan komentar Pastor Gerstle dalam sebuah artikel di The Wanderer. “Paus Francis telah menghentikan aturan yang telah dilaksanakan selama ini yang melarang pasangan yang hidup dalam situasi yang tidak wajar (termasuk pasangan kumpul kebo) untuk menerima Sakramen," demikian tulis Gerstle. "Ini memang sebuah pembaharuan dan hal ini disambut gembira oleh mereka yang berpikiran liberal, dengan menganggapnya sebagai hal yang revolusioner dan merupakan sebuah keputusan penting," lanjut Gerstle. Namun mereka yang "merasa terikat pada ajaran yang valid dari Gereja, dan yang takut akan melemahnya hukum ‘tak terceraikannya perkawinan’, melihat tindakan PF ini sebagai ‘alasan yang benar bagi keprihatinan mendalam atas terjadinya pelanggaran sepenuhnya pada ajaran Gereja.’

"Ajaran Gereja - yang mengatakan bahwa keabsahan Sakramen Pengakuan tergantung pada penyesalan yang tulus serta tobat dan niatan yang teguh untuk menghindari kesempatan berbuat dosa jika mungkin - akan terabaikan oleh tindakan PF ini, melalui sebuah pendekatan sakramental yang bertentangan dengan ajaran Gereja,” demikian Pastor Gerstle menulis. Pendekatan seperti itu akan menjadi "pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip dasar dari ajaran moral Gereja, seperti yang ditegaskan oleh St Yohanes Paulus II sendiri mengenai ajaran Gereja yang tak bisa dirubah, didalam ensiklik Veritatis Splendor, serta didalam anjuran apostoliknya Familiaris Consortio."

Pastor Gerstle mengatakan bahwa pendekatan semacam itu juga akan berpengaruh meminggirkan umat Katolik yang bercerai namun yang masih setia mengikuti ajaran tradisional Gereja dengan tetap setia kepada sumpah pernikahan mereka.

Amoris Laetitia "mendorong perpecahan di dalam Gereja" dan dengan demikian mengancam persatuan Gereja,” Pastor Gerstle memperingatkan. "Dilema ini menjadi semakin jelas - dan dengan cara yang sangat menyolok – jika kita merenungkan ucapan Kardinal Gerhard Müller - Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman - yang mencoba untuk membatasi kerusakan yang terjadi dengan mengatakan bahwa, jika Paus Francis memiliki niat untuk mengubah ajaran Gereja, maka dia seharusnya mengatakannya secara jelas. Jangan bersifat ambigu seperti saat ini"

“Kita hanya bisa berharap dan berdoa agar PF segera menanggapinya dengan memberikan klarifikasi yang jelas, untuk mengatasi kebingungan yang semakin meluas saat ini,” demikian kata Pastor Gerstle.

Pastor Gerstle bukanlah satu-satunya pemimpin Gereja Katolik Jerman yang menaruh keprihatinan pada ambiguitas didalam Amoris Laetitia.

Professor Robert Spaemann, seorang teman dekat dari Paus Emeritus Benedict XVI dan ahli filsafat Katolik yang terkenal, mengatakan bahwa anjuran PF itu (Amoris Laetitia) telah ‘melanggar’ Tradisi Katolik.

Namun, pejabat gereja Jerman, Kardinal Reinhard Marx (seorang pendukung gerakan dan tindakan homosex), Uskup Agung Dr. Heiner Koch, dan Uskup Franz-Josef Bode yang mengutip catatan kaki 351 yang kontroversial itu, yang nampaknya membuka pintu untuk penerimaan Komuni bagi orang yang bercerai dan menikah lagi, mereka memuji-muji anjuran AL itu, karena menurut mereka AL itu akan memberi perubahan pada praktek sakramental. Kardinal Walter Kasper dari Jerman merupakan promotor yang paling terkenal dari perubahan dalam pendekatan Gereja ini. Dia memperjuangkan perubahan itu pada sinode mengenai Keluarga tahun 2014 dan 2015. Nampak jelas bahwa anjuran AL itu yang memungkinkan pemberian Komuni Kudus bagi orang yang bercerai dan menikah lagi dalam beberapa kasus.

Selengkapnya ada disini Life Site News


No comments:

Post a Comment