Saturday, July 9, 2016

Vol 1 - Bab 36 : Penebusan dosa dan pemurnian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 36

Penebusan dosa dan pemurnian
Pemanjaan terhadap selera inderawi
Pastor Francis of Aix
Pemanjaan lidah
Durand

Umat Kristiani yang ingin meluputkan dirinya dari kerasnya Api Penyucian haruslah mencintai tindakan penyangkalan diri dari Guru Ilahi mereka, dan bersikap hati-hati dan ikut serta merasakan contoh dari Kepala yang bermahkotakan duri. Pada 10 Februari 1656, di propinsi Lyons, Pastor Francis of Aix, dari the Society of Jesus, meninggal dunia menuju kehidupan yang lebih baik. Dia membawa serta segala keutamaan religius hingga kesempurnaan yang besar. Dia sangat menghormati Tritunggal Yang Maha Kudus dan dia mengarahkan segala intensinya dan kegiatan penyangkalan diri demi penghormatan kepada Misteri Yang Utama ini. Dia suka sekali melakukan pekerjaan yang dijauhi orang lain. Dia sering mengunjungi Sakramen Terberkati terutama pada malam hari, dan tak pernah meninggalkan pintu kamarnya tanpa berdoa lebih dahulu di kaki altar. Perbuatan silihnya, yang dilakukan secara berlebihan, membuatnya dijuluki ‘manusia penderitaan’. Dia menjawab kepada orang yang menasihati dirinya untuk mengurangi tindakan silih itu :”Hari dimana aku diijinkan untuk melewatinya tanpa meneteskan darahku untuk kupersembahkan kepada Allahku akan menjadi hari yang paling menyakitkan bagiku dan hal itu sendiri merupakan matiraga yang paling keras bagiku. Karena aku selalu berharap untuk menderita kemartiran demi kasih kepada Yesus Kristus . Paling tidak, aku akan ikut merasakan penderitaanNya”.
Religius yang lain, juru bicara dari ordo yang sama, tidaklah meniru contoh Pastor ini. Bruder ini kurang menyukai tindakan matiraga dan sebaliknya, dia selalu mencari kemudahan dan kesenangan saja, serta segala hal yang bisa memuaskan indera. Bruder ini, beberapa hari setelah kematiannya, menampakkan diri kepada Pastor d’Aix dengan berpakaian kain kabung yang menakutkan dan dia menderita siksaan yang besar karena dosa-dosa sensualitas yang dilakukannya. Bruder ini memohon bantuan doa-doa dari Pastor d’Aix dan kemudian dia menghilang.
Kesalahan lain yang harus kita awasi dan kita hindari karena kita terlalu mudah jatuh kedalamnya, adalah berupa pemanjaan lidah. Oh ! betapa mudahnya kita tersesat melalui perkataan kita. Betapa sulitnya kita menahan diri untuk tidak berbicara yang bertentangan dengan kepatuhan, kerendahan hati, ketulusan, atau kemurahan hati ! Bahkan orang-orang yang sucipun sering terjatuh kepada kesalahan lidah ini. Ketika mereka berhasil lolos dari segala jerat setan, tetapi mereka justru memikirkan dirinya untuk dikuasai, demikian kata St.Jerome, didalam perangkap yang terakhir ini, yaitu mengumpat. Marilah kita menyimak apa yang diceritakan oleh Vincent de Beauvais.
Ketika Durand yang terkenal itu, yang pada abad ke 11 melontarkan kecaman kepada ordo St.Dominikus, dia adalah seorang religius yang sederhana, dan dia menunjukkan dirinya sebagai contoh semangat dari kehidupan yang baik. Namun dia memiliki satu kelemahan. Keceriaannya telah menuntunnya untuk berbicara terlalu banyak. Dia senang sekali bercanda. Hugh, Kepala biara, memperhatikan hal itu, bahkan dia memperkirakan jika Durand tidak mau memperbaiki kesalahannya itu, maka dia akan harus menebusnya didalam Api Penyucian. Durand tidak begitu memperhatikan nasihat Hugh itu, dan dia terus saja dengan kebiasaannya, tanpa mau berusaha menahan diri dari kekacauan lidahnya. Setelah dia meninggal, dugaan dari Hugh menjadi kenyataan. Durand menampakkan diri kepada seorang religius sahabatnya, dan memintanya untuk menolongnya melalui doa-doanya, karena dia telah dihukum dengan amat kejam karena pemanjaan lidahnya. Akibat dari penampakan itu, para anggota komunitas itu segera melakukan puasa silensium selama 8 hari, dan melaksanakan tindakan keutamaan lainnya demi pembebasan jiwa Durand. Tindakan-tindakan yang penuh kemurahan hati ini menghasilkan buah. Beberapa waktu kemudian, Durand muncul kembali untuk memberitahukan pembebasannya.


No comments:

Post a Comment