Friday, July 29, 2016

AMORIS LAETITIA: RINGKASAN UNGKAPAN HATI PARA PEMIMPIN KELUARGA

AMORIS LAETITIA: RINGKASAN UNGKAPAN HATI PARA PEMIMPIN KELUARGA KEPADA PF



Sementara hati para pemohon ini sudah berada pada posisi yang benar, namun permohonan itu nampaknya akan masuk ke telinga-telinga yang tuli

July 14, 2016 (LifeSiteNews) – Berikut ini adalah ringkasan dari berbagai permohonan kepada PF dari para pemimpin organsasi-organisasi pro-life and pro-family (pembela kehidupan dan pembela keluarga), termasuk juga dari Uskup Athanasius Schneider.

Uskup Athanasius Schneider, Auxiliary of Maria Santissima, Kazakhstan
Saat ini kita sedang hidup di sebuah masa yang ditandai dengan sebuah krisis iman yang dalam. Ini bukanlah rahasia lagi. Karena krisis ini sangat nyata. Banyak orang, umat awam yang sederhana, menderita karena situasi membingungkan yang terjadi saat ini.

Adalah sangat mendesak, saat ini, agar Paus menyatakan secara lebih jelas, dengan cara yang pasti dan tidak ambigu - dengan cara yang tidak bisa memberi ruang bagi kesalahan penafsiran – pada isu-isu mengenai keluarga dan kesucian pernikahan, dan terutama pada topik yang sekarang menimbulkan banyak sekali kebingungan di dalam Gereja setelah dirilisnya anjuran Apostolik Amoris Laetitia, khususnya pada topik diijinkannya orang yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus. Setelah diijinkannya orang yang bercerai dan menikah lagi untuk menerima Komuni Kudus tanpa lebih dahulu menuntut mereka untuk tidak berhubungan sex, dan tidak melanggar ikatan pernikahan sakramental mereka - tidak menuntut mereka untuk bertobat dan membuat niat yang sangat serius untuk tidak berbuat dosa di masa mendatang, maka dengan begitu, pada saat yang sama kita telah menghancurkan dan mencemarkan tiga buah Sakramen yang diberikan Kristus kepada kita: sakramen Tobat, sakramen Ekaristi, dan sakramen Perkawinan.

Adalah sangat mendesak agar Bapa Suci Paus Francis mengeluarkan atau memerintahkan supaya Takhta Suci mengeluarkan klarifikasi yang tepat, tidak ambigu – bahwa tidak mungkinlah manusia untuk menentang doktrin dan praktek Gereja yang selama ini tak pernah berubah dan tidak dapat dirubah, dimana perubahan itu akan bertentangan dengan firman Allah, dimana perubahan itu akan merupakan sebuah serangan yang menghancurkan tiga buah Sakramen sekaligus – jika sampai PF mengijinkan orang yang bercerai untuk menerima Komuni Kudus tanpa menuntut mereka untuk berhenti melakukan hubungan sex dan melakukan pertobatan yang tulus.

Karena itu marilah kita berdoa bagi Bapa Suci yang kita kasihi, agar dia memiliki keberanian untuk berbicara dengan jelas dan tegas, seperti keberanian Kristus dan Petrus ketika mereka berbicara.

John-Henry Westen, Editor-in-chief, LifeSiteNews.com; Co-founder, Voice of the Family
Sudah sejak awal pemerintahan PF kami telah merasakan dan menemukan hal-hal yang sulit untuk dihadapi, khususnya bagi gerakan pro-life (gerakan yang mendukung kehidupan).

Nampak ada banyak sekali sikap ambiguitas, ambiguitas yang disengaja, dengan membiarkan berbagai masalah dalam keadaan terbuka sehingga memungkinkan terjadinya kebingungan. Dan saya berpikir bahwa hal itu akan menimbulkan banyak masalah yang berbahaya. Anda bisa memperkirakan munculnya keadaan di mana orang mulai bertanya-tanya apa sebenarnya maksud dari ajaran (PF) ini. Ini adalah sesuatu yang mengerikan - bahwa umat Katolik, yang percaya dan mengasihi imannya, sekarang menjadi bingung mengenai dasar-dasar imannya, dimana ajaran itu bisa berarti hidup atau mati (Surga atau neraka), dan saya katakan disini, hal itu bukan hanya kehidupan fisik atau kematian jasmani saja; tetapi itu berarti kehidupan kekal atau kematian kekal.

Di dalam anjuran Amoris Laetitia, PF menulis bahwa Gereja Katolik didalam persiapan pernikahan, memusatkan perhatiannya kepada prokreasi (menghasilkan keturunan) dengan mengesampingkan persatuan dan kasih dalam pernikahan. Saya tidak tahu tentang diri anda, tapi saya tahu banyak orang yang telah melalui proses persiapan pernikahan. (Mereka memberitahu saya:) “Kapankah mereka pernah menyebut tindakan prokreasi?" Dan ini adalah bertentangan dengan realitas, realitas dari apa yang sebenarnya terjadi di dalam Gereja, dan ini adalah salah satu hal yang paling memprihatinkan saya.

Terus terang saja, saya mengasihi Bapa Suci. Saya selalu berdoa baginya setiap hari. Dan saya menyampaikan keprihatinan ini adalah karena kasih saya yang besar kepada Gereja. Kita perlu bekerja keras bagi Kristus dan kebenaranNya. Dan saya juga ingin membela keluarga saya, dan pernyataan PF itu merupakan ancaman besar bagi iman anak-anak saya.

John Smeaton, Presiden dari Masyarakat Perlindungan Janin; Pendiri dari Voice of the Family
Saya mengatakan ini dengan rasa hormat yang besar bagi Bapa Suci dan dengan memperhatikan kepentingan umum. Apa yang dia (PF) tulis itu adalah membenarkan tindakan ketidak-setiaan, membenarkan tindakan perzinahan. Kita telah mendengar cerita dari beberapa pasangan yang, dengan mendasarkan kepada apa yang anda (PF) tulis, Bapa Suci, dimana mereka telah memutuskan untuk melepaskan kebajikan heroik mereka (tidak menerima Komuni Kudus) dan jatuh ke dalam dosa berat yang nyata karena mereka kemudian maju ke depan untuk menerima Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Saya tahu ada banyak umat Katolik, karena saya yakin bahwa banyak umat Katolik yang tahu, yang ditinggalkan oleh pasangan mereka, yang kemudian hidup berzinah dengan pasangan berikutnya, dan mereka memiliki anak-anak, atau tidak memiliki anak. Namun anak-anak itu sekarang, berdasarkan kepada apa yang anda (PF) tulis didalam Amoris Laetitia, mereka melihat didalam diri bapa dan ibunya yang telah meninggalkan perkawinan sebelumnya, kini orang tua mereka menerima Komuni Kudus. Pesan apakah yang anda (PF) berikan kepada anak-anak itu mengenai tak terceraikannya perkawinan? Seolah anda memberi pesan kepada anak-anak itu bahwa perkawinan itu bisa diceraikan. Bagaimana bisa menggabungkan tulisan anda (PF) dengan ajaran Gereja? dengan Tradisi Gereja?

Dengan penuh rasa hormat yang besar – saya katakan bahwa ini adalah sebuah kesesatan besar! Saya mohon anda (PF) untuk segera membatalkannya. Saya akan menulis surat kepada uskup saya mengenai masalah ini. Dan saya meminta kepada seluruh umat awam agar melakukan hal yang sama. Saya berpikir bahwa ini adalah peristiwa terburuk yang pernah terjadi didalam sejarah Gereja. Namun anda, Bapa Suci, bisa merubahnya. Saya berdoa bagi anda setiap hari.

Colleen Bayer, President, Family Life International New Zealand; Papal Dame in the Order of St. Gregory the Great
Bapa Suci, ada banyak sekali masalah, selama kepemimpinan anda, yang sangat mengganggu jiwa kami. Dan saya menulis kepada anda. Saya ingin bertemu dengan anda. Saya ingin mempertemukan keluarga saya dengan anda, agar anda tahu, dari tangan pertama, bagaimana keluarga kami hidup, agar anda tahu keprihatinan kami, keprihatinan yang sangat besar atas nasib dari jiwa-jiwa kami – serta keprihatinan dari begitu banyak keluarga Katolik yang hidup secara heroik dan secara utuh didalam ajaran Gereja.

Mereka ingin disemangati oleh anda, Bapa Suci. Mereka ingin tahu bahwa anda memang peduli bahwa orang yang memiliki lebih dari dua atau tiga anak bukannya tidak bertanggung-jawab, tetapi adalah sebuah kehormatan untuk membesarkan dan mendidik kaum muda didalam keluarga-keluarga Katolik. Mereka itu adalah masa depan Gereja kita dan masyarakat kita. Namun kami sangat prihatin, sangat sedih didalam hati dan jiwa kami. Secara pribadi saya ingin berbicara dengan anda. Saya ingin anda bertemu dengan anak-anak kami yang terkena Down’s syndrome. Kami ingin anda bertemu dengan gadis kecil kami yang tuli dan menderita kelainan jantung yang parah. Kami ingin anda bertemu dengan anak laki-laki kami yang cacad mental, bertemu dengan puteri kami dan cucu kami.

Anda tahu, Bapa Suci, ketika saya menuis kepada anda ini, saya telah siap, suami saya yang tercinta juga siap, untuk menjual harta milik kami. Itulah yang kami inginkan. Kami akan menjual semua itu agar kami bisa pergi ke Santa Martha, untuk berjumpa dengan anda secara pribadi, dan menghadirkan seluruh keluarga kami kepada anda sebagai contoh dari banyak keluarga-keluarga yang menderita di seluruh dunia, yang menjalani kehidupan dengan berani dan yang mengasihi iman mereka.

Pernyataan-pernyataan anda yang ambigu yang telah kami baca, kebingungan yang kami saksikan setiap hari, hal itu sangat menyakitkan hati kami. Kami ingin mendengar dari anda secara pribadi, bukan dari media massa, atau adakah orang-orang di sekitar anda yang memelintir perkataan anda; karena kami masih tidak percaya bahwa Bapa Suci yang kami kasihi selama ini berkata ini atau itu. Saya ingin anda berbicara secara pribadi kepada saya. Bisakah anda melakukan hal ini, Bapa Suci? Tolong! 

Pastor Linus Clovis, Ahli Hukum Canon dan penasihat rohani Family Life International
34 tahun yang lalu saya ditahbiskan sebagai seorang diakon di Katedral the Immaculate Conception. Saya ingat sekali ketika itu Uskup Agung memberi saya sebuah Kitab Suci dan berkata ‘Percayalah apa yang kau baca, wartakanlah apa yang kau percaya, dan laksanakan apa yang kau wartakan itu.’

Ingatan ini tetap melekat dalam hati saya. Satu hal yang saya hargai sebagai umat Katolik adalah kejelasan didalam apa yang dikatakan oleh Bunda Kudus Gereja, dan terutama, para penerus Petrus, Bapa Suci, Paus. Sebagai seorang Katolik, saya mengasihi paus. Karena seperti dikatakan oleh St.Catharina dari Siena: Dia (Paus) adalah Yesus yang manis di dunia bagi kita.

Dalam waktu dua tahun terakhir ini, segala sesuatu ternyata menjadi sulit bagi kita sebagai umat Katolik, karena Bapa Suci, anda tidak berbicara secara jelas dan membiarkan banyak kebingungan terjadi, banyak keprihatinan di antara umat beriman, yang sebenarnya hanya memiliki satu keinginan : mengasihi Allah diatas segalanya, dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri – dan hal ini adalah demi keselamatan kita sendiri.

Kami sangat mengasihi anda, Bapa Suci. Apa yang kami minta, terutama dalam hubungannya dengan anjuran Amoris Laetitia ini, kami meminta kejelasan, kepastian atas apa yang kami percayai. Kami meminta konfirmasi dari ajaran Gereja yang abadi, bukan sekedar ajaran Gereja, tetapi apa yang dikatakan oleh Kristus sendiri kepada kita, mengenai kesucian perkawinan, mengenai martabat dari pribadi manusia. Keluarga adalah fondasi dari masyarakat. Kita tahu hal ini. Namun jika fondasi itu, batu penjuru itu, disingkirkan, maka seluruh seluruh struktur masyarakat akan runtuh.  
Maka saya mohon kepada anda, Bapa Suci, demi keselamatan kami, dan keselamatan setiap anak-anak kecil, untuk memberikan lagi kepada kami kejelasan dan kepastian dari apa yang diberikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus kepada para rasul dan kepada kita demi keselamatan jiwa kami. Dan kami, kami semua di seluruh dunia, akan terus berdoa bagi anda dan meminta anda menjadi bapa bagi kami semua.

Dr. Lisa Nolland, Anglican Mainstream, Marriage, Sex, and Culture Committee Chair
Saya adalah seorang Anglikan Evangelis. Paus dan Uskup Agung Canterbury sedang menghadapi tantangan-tantangan besar dari revolusi sexual yang menyeluruh. Saya kira mereka berusaha melakukan yang paling besar, tetapi saya sangat khawatir tentang apa yang tidak mereka ucapkan, terutama tentang bagaimana kita kehilangan kebebasan suara hati nurani kita, ini yang nomor satu.

Nomor dua, kita tidak berbicara mengenai agenda dari LGBT, dengan cara yang terbaik.

Dan nomor tiga, kita nampaknya tidak tahu bagaimana revolusi sexual ini menguasai seluruh peradaban dan negara Barat. Karena itu saya berdoa bagi mereka, dan mendorong anda semua untuk melakukan hal yang sama.

Profesor Thomas Stark, Akademi Filsafat dan Teologi Benedict XVI, Universitas St. Polten, Austria
Kita sedang menghadapi sebuah situasi yang sangat komplex didalam Gereja saat ini, karena Bapa Suci selalu berkata dan berbuat sesuatu yang menciptakan banyak sekali kebingungan di antara umat beriman. Dan kini kita memiliki sebuah dokumen Gereja yang penting, Amoris Laetitia, yang nampak sekali ia bersifat terbuka terhadap berbagai penafsiran, yang bisa dibaca melalui berbagai hermeneutika (metode atau cara penafsiran) yang sangat berbeda.

Saya kira ini adalah sebuah masalah karena kita memiliki dokumen-dokumen Gereja pada masa lalu, misalnya Familiaris Consortio, yang sangat jelas sekali pengertiannya; juga misalnya dokumen-dokumen dari Konsili Trent, yang juga sangat jelas. Umat beriman sungguh tidak tahu siapa yang harus mereka ikuti atau penafsiran dari siapa yang harus mereka ikuti.

Saya ingin meminta kepada Bapa Suci agar menjelaskan apa yang diajarkan oleh Gereja, agar Bapa Suci menjelaskan bahwa ajaran Gereja tak bisa dirubah. Dan Bapa Suci harus berkata bahwa ajaran Gereja adalah tetap sama sejak Tuhan kita Yesus Kristus  mendirikannya.

Kita harus berdoa bagi Bapa Suci agar memiliki kebijaksanaan, dan berdoa pada Roh Kudus untuk menolong dia menjelaskan ajaran Gereja itu apa, dan segera mengakhiri kebingungan ini yang sedang terjadi di antara umat Katolik di dunia.

Christine Vollmer, Founder, Latin American Alliance for Life; Founding member of the Vatican’s Pontifical Academy for Life
Kita sangat membutuhkan sebuah kepemimpinan dari atas. Kita membutuhkan kepemimpinan yang bisa mengajar, menunjukkan, kepada kaum muda yang menyadari bagaimana keluarga-keluarga menemukan mereka, bagaimana membuat fondasi yang kokoh bagi mereka, dan terutama sesuatu yang telah hilang saat ini – sukacita dari sebuah keluarga besar. Saya kira didalam Sukacita Kasih (Amoris Laetitia) yang dilukiskan dengan begitu indahnya oleh Bapa Suci, disitu tidak cukup dibicarakan bagaimana sukacita dari sebuah keluarga besar.

Saya kira, kita membutuhkan hirarki, terutama uskup-uskup, dan setelah itu imam-imam, untuk berbicara kepada pasangan-pasangan, dan memperingatkan mereka akan bahaya dari mentalitas kontrasepsi, bahayanya menentukan jumlah anak yang harus mereka miliki, dengan berkata ‘Kami hanya akan memiliki dua anak saja.”

Kontrasepsi telah menghancurkan sejumlah Gereja. Saat ini gereja Anglikan menjadi kosong. Mereka hanya memiliki sedikit sekali panggilan imamat. Hal ini karena hubungan antara kasih suami-istri, dan kasih kepada Gereja (kasih kepada Allah dan kepada kuasaNya) telah hancur didalam Gereja Anglikan. Kini nampaknya kasih itu juga telah hancur didalam Gereja Katolik, hingga kemudian Paus Paulus VI mengeluarkan ensiklis Humanae Vitae.

Saya mengutip ucapan Uskup Gore, seorang uskup Anglikan, yang mempelopori pertahanan terhadap existensi Gereja Anglikan, dan ternyata kehilangan gerejanya dalam kurun 30 tahun. Dia berkata ‘Jika Gereja mau menerima kontrasepsi, maka gereja akan dihancurkan.’ Inilah keluhan utamanya. Dan hal itu telah menjadi kenyataan. 

Jika Gereja Katolik juga menyetujui kontrasepsi, maka gereja Katolik juga akan dihancurkan. Hal ini telah terjadi dengan begitu cepatnya. Saya meminta kepada Bapa Suci, untuk berbicara mengenai pentingnya keluarga besar dan bahayanya mentalitas kontrasepsi. Perintahkanlah kepada uskup-uskup kami agar mereka tetap kuat menolak kontrasepsi dan menjelaskan bahwa mentalitas kontrasepsi bisa menghancurkan keluarga-keluarga, menghancurkan negara-negara, dan akhirnya menghancurkan peradaban Kristiani.

Matthew McCusker, Deputy International Director, SPUC; Researcher, Voice of the Family
Menjadi seorang Katolik di Inggris, kepausan adalah sangat penting karena banyak dari martir kita mati untuk membela kepausan, dan kita sangat menghormati kepausan. Apa yang kita ketahui selama berabad-abad ini adalah bahwa kepausan adalah menjadi batu karang kebenaran, kejelasan, yang menuntun kita menuju Kristus.

Di saat-saat yang sulit sekarang ini ketika kita melihat ke Roma, dan kita melihat terjadinya kebingungan, dan kita tidak melihat adanya pengakuan yang jelas atas iman kita, hal ini sangatlah menggelisahkan banyak umat beriman.

Saat ini ketika keluarga mengalami serangan yang dahsyat dari pemerintah-pemerintah dan organisasi-organisasi internasional, maka lebih daripada sebelumnya, kita membutuhkan kejelasan dari Tahta Suci tentang apa yang telah kita miliki selama berabad-abad ini. Inilah sebabnya mengapa ada banyak sekali umat beriman yang sangat prihatin ketika kita menyaksikan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan, bahkan pernyataan-pernyataan yang keliru sama sekali didalam Amoris Laetitia serta dokumen-dokumen lainnya.

Kita selalu berdoa bagi Bapa Suci, dan kita meminta agar Bapa Suci memberikan klarifikasi pada ajaran-ajaran yang disampaikannya, agar kita dituntun menuju sukacita dari kebenaran dan sukacita hidup yang selaras dengan kebenaran.

Preston Noell, Director, American Society for Tradition, Family, and Property 
Terlebih dahulu saya katakan bahwa sejak Bapa Suci dipilih menjadi Paus, saya selalu berdoa baginya. Dia selalu menjadi pokok dalam intensi saya setiap hari.

Kita tahu bahwa keluarga sedang diserang saat ini. Keluarga berada dalam keadaan krisis. Kita tahu bahwa keluarga adalah sel inti dari masyarakat. Jika sel inti dari masyarakat ini membusuk, maka ia akan menyeret seluruh masyarakat untuk hancur bersamanya.

Keadaan ini semakin memburuk ketika ditambah dengan kenyataan bahwa banyak keluarga sedang runtuh; beberapa orang, termasuk umat Katolik, mungkin sebagian besar umat Katolik, bahkan mengira bahwa perkawinan bisa diceraikan, yang tentu saja tidaklah begitu. Kita tahu pengaruhnya di masyarakat ketika keadaan ini, sebagian besar masyarakat Barat mengalaminya, ditambah lagi dengan munculnya dokumen Amoris Laetitia ke atas panggung. Bukannya kita menerima apa yang kita harapkan, untuk menguatkan institusi perkawinan dan keluarga yang kudus, tetapi kita justru menyaksikan minyak yang dituang kedalam api. 

Hal ini sangat menyedihkan kita. Apa yang ingin kita saksikan, ternyata sebaliknya yang terjadi. Kita musti berdoa kepada Roh Kudus agar mengilhami Gereja, mengilhami para pemimpin kita, mengilhami Bapa Suci, seperti yang saya katakan di atas, yang selalu saya doakan setiap hari, agar mereka semua membalikkan keadaan ini, yaitu menguatkan keluarga. Karena jika tidak, saya takut kita akan musnah.

Pastor Elias Leyds, Congregation of St. John; Program Director, Radio Maria – Netherlands
Inilah yang dilakukan orang pada hari pernikahan mereka: mereka memilih kebenaran absolut. Sekarang dogma itu berada dalam bahaya. Maka adalah sangat bak jika kita membela dogma itu. 

Hal ini mengingatkan saya pada konsili pertama dari Gereja, ketika St.Paulus meminta St.Petrus untuk membantu Gereja memberi kejelasan mengenai komuni lintas agama dan tentang perkawinan.

Kesimpulan dari konsili pertama itu (di Yerusalem) adalah agar kita tidak usah menerima komuni dari agama lain, dan janganlah kita melakukan perzinahan. Maka jika saat ini kita merasakan kebingungan karena kurangnya kejelasan di dalam beberapa catatan kaki dari Amoris Laetitia, maka sebaiknya kita kembali kepada konsili pertama ini.

Hal ini mengingatkan saya tentang pentingnya tugas perutusan St.Petrus. Saya berharap agar sekarang kita mendapatkan kejelasan itu lagi, agar kita bisa menjalani kehidupan sesuai dengan kebenaran Gereja.

Patrick McCrystal, Director, Human Life International Ireland 
Bapa Suci, karena Amoris Laetitia, ada ribuan, bahkan jutaan, jiwa-jiwa yang imannya babak belur, seperti kobaran api yang mau padam. Saya mohon kepada anda – karena saya mengasihi anda, saya mengasihi jabatan kepausan anda, saya mengasihi tugas anda -- agar anda memberikan kejelasan atas ambiguitas yang ada didalam Amoris Laetitia demi keselamatan jiwa-jiwa. Tuhan memberkati anda.

Molly Smith, President, Cleveland Right to Life; President, National Personhood Alliance (USA)
Saya pikir salah satu hal yang paling saya prihatinkan ketika saya melihat kepausan ini dan Paus Francis (pertama-tama saya katakan bahwa saya selalu berdoa baginya setiap hari, benar-benar setiap hari, karena saya menyadari posisinya saat ini, serta masalah iklim global yang dia urusi karena hal itu belum pernah terjadi sebelumnya). Tapi, saya merasa bahwa dia perlu lebih eksplisit lagi dalam masalah iklim global ini. Saya berpikir bahwa beberapa pernyataan yang dikeluarkannya telah membuat kebingungan luar biasa, bahkan hampir menjadi skandal di kalangan umat awam.

Dan saya melihat kepada keluarga-keluarga dimana saya berurusan dengan mereka dalam tugas yang saya lakukan – dalam masalah perkawinan dan keluarga. Saya mendengar sendiri berbagai cerita dan komentar dari anak-anak, remaja, yang menjadi bingung karena komentar-komentar yang keluar dari Vatikan, yang keluar dari PF sendiri.

Homoseksualitas telah menjadi gaya hidup, masalah perceraian dan pasangan bercerai yang menerima Komuni Kudus. Hal ini sangat membingungkan bagi orang-orang muda itu yang telah dibesarkan dan dididik di dalam iman, dimana orang tuanya telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk menanamkan iman kepada anak-anak mereka, dan kemudian mereka menerima kebingungan seperti ini yang berasal dari atas (hirarki tertinggi Gereja), dan bahkan berkali-kali hal itu sudah disampaikan melalui mimbar.

Kita harus melakukan sesuatu untuk menolong kaum muda itu – tentu saja kita juga berdoa bagi paus – tetapi kita juga harus menyampaikan kepada lembaga kepausan dan Vatikan, bahwa kebingungan ini bersifat merusak. Sangat merusak!

Profesor Roberto de Mattei, Professor, European University of Rome; Founder, Lepanto Foundation 
Menurut saya, kita semua sedang berada pada saat yang sulit, mungkin ini adalah saat yang paling dramatis dalam sejarah Gereja. Masalahnya adalah sangat serius karena krisis saat ini terjadi di dalam Gereja itu sendiri. Saya yakin bahwa solusinya hanya melalui Bapa Suci saja.

Buktinya adalah berupa sebuah dokumen, anjuran Amoris Laetitia, sebuah dokumen yang memiliki akibat-akibat yang sangat menghancurkan!

Sebagai seorang ahli sejarah dan seorang yang telah dibaptis, saya melihat akibat-akibat nyata didalam kehidupan Gereja. Akibat mengerikan dari dokumen ini adalah bahwa banyak sekali jiwa-jiwa saat ini berada dalam krisis hati nurani yang sangat dalam. Dan ada kemungkinan bahwa sejumlah besar jiwa-jiwa bisa kehilangan kehidupan kekal mereka. Menurut pendapat saya, kehidupan sejati itu adalah kehidupan di bidang spirituil. Lebih daripada kehidupan jasmani, kehidupan spirituil jiwa-jiwa saat ini berada dalam bahaya besar. Kita harus mengatasi hal ini.

Patrick Buckley, Konsultan PBB bagi SPUC; anggota dari NGO Forum, Tahta Suci
Dari perkataan Bapa Suci ‘Saya adalah seorang putera Gereja’, maka saya selalu berdoa baginya. Namun saya harus menyampaikan keprihatinan saya yang mendalam pada anjuran apostolik Amoris Laetitia, yang menimbukan badai kebingungan di antara umat beriman, dimana dokumen itu menuntun kepada penafsiran yang berbeda-beda serta praktek yang berbeda-beda pula mengenai Komuni Kudus bagi pasangan yang berceria dan menikah lagi.

Dan semakin sulit lagi untuk dimengerti mengapa sinode (2014 & 2015) itu diadakan  ketika saya tahu bahwa sebenarnya sudah ada anjuran apostolik yang sempurna Familiaris Consortio, yang ditanda-tangani oleh Paus Yohanes Paulus II. Apa yang saya saksikan sekarang adalah terjadinya kebingungan yang besar : mana yang benar dari kedua anjuran apostolik itu. Apa yang saya saksikan saat ini adalah kebingungan. Bukan yang lain.

Apa yang saya inginkan saat ini adalah agar anjuran apostolik yang sekarang (Amoris Laetitia) dibatalkan dan ditarik saja, dan tetap memakai Familiaris Consortio, yang telah bisa memenuhi harapan kita sebagai umat beriman.

Dr. Thomas Ward, Founder & President, National Association of Catholic Families;  Corresponding Member, Pontifical Academy for Life
Saya telah memberikan kuliah di berbagai negara mengenai ‘orang tua sebagai pendidik utama’, dan tentu saja ‘sebagai pelindung bagi anak-anak mereka’. Hal ini adalah sangat penting karena kita telah kehilangan hak-hak sipil dalam segala sendi, dan kita harus selalu melindungi anak-anak kita.

Saya ingin berbicara mengenai ‘pendidik utama’ pada bagian 84 dari Amoris Laetitia, dan saya (sebagai pengajar) menganggap bahwa bagian itu adalah bagian yang baik dari Amoris Laetitia untuk diperhatikan.

Saya mengutip beberapa point : Bahwa hak orang tua untuk mendidik anak adalah sebuah tugas yang sangat penting. Itu adalah hak yang utama. Dan hal itu adalah esensiil dan tak bisa ditiadakan.

Masalah itu ditampilkan pada bagian awal dari Amoris Laetitia, yaitu pada nomor 84 & 85. Kemudian pada nomor 280, pendidikan sex itu ternyata diserahkan kepada para pendidik dan para guru, dan tidak menyebut peranan orang tua sama sekali. Dan hal ini dimunculkan pada sebuah bagian terpisah yang berjudul ‘Perlunya pendidikan sex’.

Dokumen (Amoris Laetitia) ini mengatakan bahwa institusi-institusi telah gagal. Tetapi ia tetap tidak menyebut peranan orang tua dalam pendidikan sex bagi anak-anak mereka. Dan ia berbicara dengan bahasa yang baru dan lebih dangkal tentang pendidikan mengenai sexualitas. Saya tahu siapa yang mengarang kalimat itu. Itu adalah hasil usaha dari mereka yang berusaha mengesahkan pembatasan kelahiran. Ia hanya berbicara tentang sebuah rasa kesopanan di bidang sex. Coba bayangkan, berbicara tentang rasa kesopanan di bidang sex di depan kelas? Hanya orang tua didalam keluarga saja yang berhak berbicara masalah ini kepada anak-anak mereka!

Tanya: Siapa yang berbicara masalah ini (sex) sekarang?
Saya jawab: Orang tua
Tanya: Siapa yang mampu berhubungan dengan kaum muda secara serius?
Saya jawab: Orang tua.
Tanya: Siapa yang menolong mereka mempersiapkan dengan serius agar bisa mengasihi secara tulus dan lebih besar?
Saya jawab: Orang tua.

Pertanyaan saya, mengapa peranan orang tua dihilangkan didalam bagian penting dari dokumen (Amoris Laetitia) ini?

Memang benar bahwa sikap maskulin atau feminin bukanlah menjadi kategori yang kaku. Tetapi bagaimana seseorang bisa berkata hal ini ketika kita menyaksikan pembantaian atas kegilaan gender? Ideologi gender?

Jika saya menyimak dokumen Amoris Laetitia ini, saya sangat, sangat sedih!

Read the full article at Life Site News


No comments:

Post a Comment