Thursday, July 7, 2016

Vol 1 - Bab 35 : Penebusan dosa



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 35

Penebusan dosa
Ingin dihormati didalam berdoa
Bunda Agnes dari Yesus dan Sr.Angelique – St.Severin dari Cologne Frances dari Pampeluna Venerabilis dan para imam – Pastor Streit SJ

Hendaknya kita memperlakukan hal atau benda yang suci dengan cara yang suci pula. Segala sikap tidak hormat didalam perbuatan rohani kita sangat tidak menyukakan Allah. Ketika Agnes dari Langeac Venerabilis yang telah pernah kita ceritakan diatas, menjadi Kepala biara, dia sangat menganjurkan kepada seluruh anggota biara itu untuk menghormati dan bersemangat didalam berhubungan dengan Allah, dan mengingatkan mereka akan Sabda Kitab Suci ini :”Terkutuklah dia yang memandang karya-karya Allah dengan sikap acuh”. Ada seorang Suster dari komunitas itu yang bernama Angelique meninggal. Suster Kepala yang suci itu berdoa didekat kuburnya, dan tiba-tiba dia melihat Suster yang meninggal itu ada dihadapannya, dengan berpakaian seragam biara. Dia berlutut dan pada saat yang sama seolah ada suatu nyala api menyentuh wajahnya. Sr.Angelique berterima-kasih kepadanya karena telah mendorongnya untuk bersemangat dan terutama membuatnya sering mengulangi kalimat ini :”Terkutuklah dia yang memandang karya-karya Allah dengan sikap acuh”. “Teruskanlah ibu”, kata jiwa itu, “untuk mendorong para Suster lainnya agar bersemangat. Semoga mereka melayani Allah dengan sikap yang sangat berhati-hati, mengasihi Tuhan dengan segenap hati mereka dan dengan segenap kemampuan jiwa mereka. Jika saja mereka tahu betapa kerasnya siksaan-siksaan yang ada didalam Api Penyucian ini, maka mereka tak akan berbuat jelek dengan bersikap acuh, sekecil apapun juga”.
Peringatan yang terus berlangsung ini dicontohkan atas diri para imam, dimana relasi mereka dengan Allah bersifat berkelanjutan dan amat luhur sifatnya. Semoga mereka selalu mengingat hal itu, tak pernah melupakannya, apakah mereka mempersembahkan kemenyan, doa, ataupun membagikan Harta Ilahi dari Sakramen-sakramen, atau apakah mereka diatas altar untuk merayakan misteri-misteri Tubuh dan Darah Yesus Kristus Lihatlah apa yang diceritakan oleh St.Peter Damianus didalam suratnya yang ke 14 kepada Desiderius.
St.Severin, Uskup Agung Cologne, karena memuliakan Gerejanya dengan sebuah contoh keutamaan kehidupan apostoliknya, kerja kerasnya demi penyebar-luasan Kerajaan Allah didalam jiwa-jiwa, telah mendatangkan kehormatan kanonisasi baginya. Begitulah, setelah kematiannya, dia menampakkan diri kepada salah satu imam didalam katedral dan meminta doa-doanya. Imam ini tidak bisa mengerti bahwa ada seorang pejabat Gereja seperti Severin itu yang masih membutuhkan doa-doanya. Lalu jiwa dari Uskup Severin menjawab :”Memang benar Tuhan telah memberiku rahmat untuk bisa melayani Dia dengan segenap hatiku dan untuk bekerja di kebun anggurNya. Namun aku sering menentangNya dengan sikap tergesa-gesa ketika aku berdoa. Tugas pekerjaanku sehari-hari amat menyita perhatianku sehingga ketika saat berdoa itu tiba, aku sering melalaikan tugas yang besar itu, yaitu berdoa, dan kemudian mengalihkan doa itu pada saat yang lain, tidak seperti yang dianjurkan oleh Gereja. Saat ini aku sedang menebus dosa-dosaku atas ketidak-setiaan itu, dan Tuhan mengijinkan aku untuk datang kepadamu dan meminta bantuan doa-doamu”. Didalam biografi itu diceritakan pula bahwa Severin berada 6 bulan didalam Api Penyucian karena satu kesalahan itu saja.
Sr.Frances dari Pampeluna Venerabilis, yang telah kita sebutkan diatas, suatu hari melihat didalam Api Penyucian ada seorang imam yang malang yang jari-jarinya digerogoti oleh borok yang mengerikan. Dia dihukum seperti itu didalam Api Penyucian karena diatas altar imam itu telah membuat tanda salib dengan tidak menaruh perhatian sama sekali pada gerakan tangannya. Sr.Frances mengatakan bahwa pada umumnya para imam berada didalam Api Penyucian lebih lama dari pada umat awam, dan bahwa siksaan mereka adalah sesuai dengan kemuliaan dari profesi mereka. Tuhan juga menyatakan kepadanya akan keadaan dari beberapa jiwa imam yang telah meninggal. Salah satu dari mereka harus menjalani 40 tahun penderitaan didalam Api Penyucian karena dengan kelalaiannya dia telah membiarkan seseorang meninggal tanpa menerima Sakramen-sakramen. Ada lagi imam yang menjalani hukuman 45 tahun karena telah melakukan tugas-tugas perutusannya yang mulia itu dengan kemalasan. Ada seorang Uskup dimana kedermawanannya telah membuatnya dijuluki ‘almoner’ telah ditahan didalam Api Penyucian selama 5 tahun karena dia ingin mencari popularitas dirinya. Yang lain lagi, ada seorang imam yang kurang bersikap murah hati dan dia dihukum selama 40 tahun karena alasan itu.
Tuhan berkehendak agar kita melayani Dia dengan segenap hati kita, dan agar kita menghindari, sejauh kelemahan manusiawi mengijinkan, segala bentuk ketidak-sempurnaan, sekecil apapun. Hendaknya kita selalu berusaha menyukakan Allah dan takut mengecewakan Dia diserta dengan kepercayaan akan kerahimanNya.
Yesus Kristus telah menganjurkan kita untuk mendengarkan para imam yang telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menempati posisiNya, untuk menjadi penuntun rohani kita, dan untuk mematuhi petunjuk dari atasan kita atau bapa pengakuan kita dengan kepercayaan yang penuh. Maka rasa takut yang berlebihan adalah justru melawan kerahimanNya.
Pada tanggal 12 Nopember 1643, Pastor Philip Streit dari the Society of Jesus, seorang religius yang bijaksana, meninggal di the Novitiate of Brunn di Bohemia. Setiap hari dia selalu merenungkan suara hatinya dengan sangat berhati-hati, dan melalui cara ini dia mendapatkan kemurnian jiwa. Beberapa jam setelah kematiannya, dia menampakkan diri dengan bercahaya berkilauan kepada salah satu Pastor dari ordonya, Pastor Martin Strzeda Venerabilis. “Satu kesalahan”, katanya, “telah mencegah diriku untuk masuk ke Surga, dan menahan aku selama 8 jam didalam Api Penyucian. Hal itu karena aku kurang cukup percaya akan perkataan Kepala biara, yang pada saat-saat terakhir kehidupanku berusaha untuk menenangkan sedikit masalah dalam hal suara hatiku. Seharusnya aku memperhatikan perkataannya itu sebagai suara Tuhan sendiri”.

No comments:

Post a Comment