Monday, July 11, 2016

Vol 1 - Bab 37: Penebusan dosa



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 37

Penebusan dosa
Terlalu banyak bicara
Pastor Dominikan
Sr.Gertrude dan Sr. Margaret
St.Hugh dari Cluny dan si pelanggar aturan silensium

Kita telah tahu betapa tindakan yang melebihi batas dalam hal perkataan seseorang akan harus ditebus didalam Api Penyucian. Pastor P.Rossignoli bercerita tentang seorang religius Dominikan, yang menerima pemurnian dari Pengadilan Ilahi karena kesalahan yang sama. Religius ini adalah seorang pengkhotbah yang bersemangat, menjadi kebanggaan bagi ordonya. Setelah kematiannya dia menampakkan diri kepada salah satu sahabatnya di Cologne. Dia berpakaian jubah yang mewah, mengenakan mahkota emas, namun lidahnya disiksa secara mengerikan sekali. Semua perhiasan yang dipakai jiwa itu melambangkan ganjaran bagi semangatnya untuk merebut jiwa-jiwa dan sikapnya yang sempurna didalam menjalankan tata tertib biara, namun lidahnya disiksa karena dia tidak cukup bisa menjaga perkataannya dan ucapan-ucapannya tidak selalu bisa mencerminkan bibir yang suci seorang imam dan religius.
Peristiwa berikut ini diambil dari Cesarius. Disebuah biara dari ordo Citeaux, kata penulisnya, tinggallah dua orang religius muda yang bernama Gertrude dan adiknya, Margaret. Gertrude, meskipun dia cukup bijaksana, tetapi tidak cukup baik didalam menjaga lidahnya. Dia sering sekali melawan aturan silensium seperti yang diwajibkan, terutama didalam doa dan koor bersama, sebelum maupun sesudah melakukan doa. Bukannya dia merenungkan dan menghormati tempat suci itu, tetapi dia mengeluarkan kata-kata yang tak ada manfaatnya dengan Suster disebelahnya, sehingga dia melanggar aturan silensium dan tak memiliki kesalehan dan diam-diam dia menjadi sasaran pembicaraan dari para sahabatnya. Dia meninggal ketika masih muda, dan segera setelah kematiannya Sr.Margaret, saudaranya itu, ketika sedang berdoa, melihat Gertrude datang dan menempati kamar tempat tinggalnya dulu.
Demi melihat hal ini, Sr.Margaret hampir pingsan. Ketika dia sudah pulih kesadarannya, dia pergi dan menceritakan hal itu kepada Suster Kepala. Sr.Kepala mengatakan kepadanya agar tidak usah takut, tetapi jika jiwa itu muncul kembali, agar dia bertanya demi Nama Allah, mengapa dia datang kembali.
Hari berikutnya Sr.Gertrude muncul kembali dengan cara yang sama, dan menuruti Sr.Kepala ordo itu, Sr.Margaret bertanya kepada jiwa dari Sr.Gertrude :”Saudaraku Sr.Gertrude yang terkasih, dari manakah kamu datang, dan apa yang kau inginkan ?”. “Aku datang”, katanya, “untuk memuaskan Pengadilan Allah di tempat ini, dimana aku telah berdosa. Disinilah, di tempat suci inilah, aku telah melawan Allah dengan melalui perkataanku, yang tidak bermanfaat maupun yang bertentangan dengan kehormatan religius, dengan jalan menjelekkan semua orang dengan penyesatan yang kulakukan kepadamu. Oh ! jika saja kamu tahu”, katanya menambahkan, “betapa sakitnya aku menderita ! Diriku dihancurkan oleh nyala api, terutama lidahku disiksa dengan kejamnya”. Lalu dia menghilang sstelah meminta bantuan doa dari Margaret.
Ketika St.Hugh yang mendahului St.Odilo memimpin biara Cluny pada tahun 1049, salah satu religius dari biara itu yang tidak mau menaati aturan silensium, meninggal dunia. Jiwanya menampakkan diri kepada Kepala biara yang suci itu dan memohon bantuan doa-doanya. Mulut religius itu penuh dengan borok yang sangat menyakitkan, sebagai hukuman karena dosa perkataannya. Hugh kemudian memerintahkan dilakukannya silensium didalam komunitas itu selama 7 hari bagi religius yang meninggal itu. Mereka menjalankan masa ini dengan rekoleksi dan doa. Lalu jiwa yang meninggal itu muncul lagi, dalam keadan sudah bersih dari borok pada mulutnya, dan wajahnya nampak bercahaya dan dia berterima-kasih atas bantuan yang murah hati yang dia terima dari para sahabatnya disitu. Jika demikian ini yang menjadi hukuman bagi perkataan yang kotor, maka betapa lebih besar lagi hukuman bagi perkataan yang jahat.

No comments:

Post a Comment