Friday, May 6, 2016

Vol 1 - Bab 16 : Rasa sakitnya Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 16

Rasa sakitnya Api Penyucian 
St.Antonius dan Rohaniwan yang sakit 
Pastor Rossignoli ¼ jam berada didalam Api Penyucian
Bruder Angelicus

Apa yang masih bisa dikatakan tentang Api Penyucian adalah bahwa waktu yang paling singkat di dunia ini, terasa sangat lama sekali disana. Setiap orang tahu bahwa saat-saat yang bahagia itu cepat sekali berlalu dan nampaknya singkat sekali. Sementara itu saat-saat penderitaan akan terasa sangat lama. Oh, betapa pelannya perjalanan waktu pada malam hari bagi orang yang sakit, yang menghabiskan waktu itu ditengah rasa nyeri dan tak dapat tidur. Kita bisa mengtakan bahwa semakin besar sakitnya semakin lama waktu berlalu, meskipun kenyataannya hanya sebentar saja. Aturan ini menerangi kita dengan cara-cara baru didalam memperkirakan besarnya rasa sakit dari Api Penyucian.
Didalam buku the Annals of the Friar Minors, tahun 1285, ada sebuah fakta yang juga dibicarakan oleh St.Antonius didalam bukunya yang berjudul Summa. Ada seorang religius yang menderita hingga lama karena penyakit yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuhnya. Dia membiarkan dirinya dikuasai oleh keputus-asaan dan dia memohon kepada Tuhan agar dia mati saja, agar dia bisa segera terbebas dari rasa sakitnya. Orang ini tidak berpikir bahwa lama sakitnya itu adalah merupakan bentuk kerahiman Tuhan, yang berkehendak untuk meluputkan dia dari rasa sakit yang lebih besar lagi didalam Api Penyucian. Sebagai jawaban dari permohonan religius ini, Tuhan mengutus malaikat pelindungnya untuk memberinya pilihan, segera meninggal dunia dan menerima rasa sakitnya Api Penyucian selama 3 hari, atai dia tetap menanggung rasa sakit di dunia ini hingga tahun berikutnya, dan kemudian langsung masuk ke Surga. Religius yang sakit itu setelah disuruh memilih antara 3 hari tinggal didalam Api Penyucian atau satu tahun menderita di dunia, tidak ragu lagi dia langsung memilih 3 hari hidup dan menderita didalam Api Penyucian. Dan kemudian dia meninggal dunia. Satu jam kemudian malaikat pelindungnya mendatangi dia ditengah sakitnya itu didalam Api Penyucian. Setelah melihat malaikat itu, pasien yang malang itu mengeluh karena dia merasa ditinggalkan hingga begitu lama didalam siksaan Api Penyucian itu. Lalu orang yang sakit itu bertanya :”Engkau berjanji bahwa aku akan tinggal didalam Api Penyucian hanya untuk 3 hari saja”. Malaikat itu bertanya kepadanya :”Berapa lamakah menurutmu dirimu sudah menderita disini ?”. “Paling tidak, sudah beberapa tahun”, katanya, “padahal katanya aku harus menderita selama 3 hari”. Malaikat itu berkata lagi :”Ketahuilah, bahwa kamu baru berada disini selama 1 jam saja. Kerasnya rasa sakit itu telah membuatmu tertipu dalam mengukur waktu, dan ia menjadikan waktu yang sesaat menjadi sehari atau satu jam menjadi bertahun-tahun”. “Celaka !”, kata orang itu dengan mengaduh keras, “aku menjadi bagitu buta dan tidak hati-hati didalam memilih. Berdoalah kepada Tuhan, malaikatku yang baik, agar Tuhan mengampuni aku, dan mengijinkan aku kembali ke dunia. Aku siap untuk menderita penyakit yang paling berat sekalipun, bukan saja untuk dua tahun, tetapi sepanjanag hal itu masih menyenangkan Dia. Lebih baik aku mengalami penderitaan yang hebat selama 6 tahun dari pada satu jam berada didalam lembah derita yang tak terkatakan sakitnya ini”.
Berikut ini adalah kisah yang diambil dari seorang penulis yang suci, yang diambil oleh Pastor Rossignoli. Ada dua orang religius yang terkenal kebijaksanaannya, dimana mereka berjanji satu sama lain untuk menjalani kehidupan yang suci. Salah stau dari mereka jatuh sakit, dan didalam sebuah penglihatan, dia merasa akan segera meninggal, dan dia akan diselamatkan, dan bahwa dia akan tinggal didalam Api Penyucian hanya sampai pada saat Misa Kudus pertama dipersembahkan baginya. Dengan penuh kegembiraan atas berita ini, dia segera memberitahukan hal itu kepada sahabatnya dan dia meminta kepadanya agar jangan sampai menunda-nunda pelaksanan Misa Kudus itu, karena hal itu amat berguna untuk membuka pintu Surga baginya.
Begitulah orang ini meninggal pada keesokan harinya, dan kemudian sahabatnya yang suci itu juga tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera menyelenggarakan Misa Kudus bagi sahabatnya itu. Setelah Misa Kudus selesai, sementara dia masih berdoa syukur dan mendoakan sahabatnya yang meninggal itu, maka orang yang meninggal itu menampakkan diri kepadanya didalam kemuliaan yang penuh cahaya. Namun dengan nada yang haru dan menimbulkan rasa belas kasihan, orang yang meninggal itu bertanya mengapa Misa Kudus yang dia minta itu begitu lamanya baru dilaksanakan. “Saudaraku yang terberkati”, kata religius yang masih hidup itu, “engkau mengatakan bahwa aku menunda-nunda pelaksanaan Misa Kudus itu hingga sangat lama ? Aku tidak mengerti !”. “Mengapa engkau meninggalkan aku hingga begitu lama, lebih dari setahun, sebelum mempersembahkan Misa Kudus demi pembebasan jiwaku ?”. “Saudaraku yang terkasih, sesungguhnya aku mempersembahkan Misa Kudus itu segera setelah kematianmu. Tidak lebih lama dari satu jam sesudahnya”. Lalu dengan penuh emosi, jiwa yang terberkati itu berteriak :”Betapa sangat mengerikan rasa sakitnya penebusan dosa itu, karena hal itu telah membuatku hilang ingatan, dengan mengira waktu beberapa menit sebagai setahun. Layanilah Allah, saudaraku yang terkasih, dengan kesetiaan yang penuh, agar kamu bisa menghindari pemurnian-pemurnian yang amat menyakitkan itu. Selamat tinggal ! Aku terbang ke Surga dimana aku akan bersatu denganmu nanti”.
Kerasnya Pengadilan Ilahi ini yang dialami oleh jiwa-jiwa sekaligus menjelaskan Kesucian Allah yang tak terbatas, yang tidak mau melihat adanya dosa-dosa sedikitpun juga pada orang-orang yang nampaknya paling suci menurut kita. Didalam the Annals of the Order of St.Francis, menceritakan seorang religius yang terkenal kesuciannya sehingga dia dijuluki dengan nama Angelicus. Dia meninggal dalam keadaan suci didalam biaranya the Friar Minor di Paris, dan salah satu sahabatnya, seorang doktor teologi, meyakinkan bahwa setelah menjalani kehidupan yang begitu sempurna, maka dia akan langsung masuk ke Surga. Dan bahwa orang itu tidaklah membutuhkan bantuan doa-doa ataupun 3 kali Misa Kudus baginya, seperti kebiasaan yang selalu dilakukan didalam biara itu bagi anggotanya yang meninggal.
Setelah beberapa hari kemudian, ketika dia sedang berjalan-jalan dan merenung, orang yang meninggal itu menampakkan diri kepadanya dengan diselimuti oleh nyala api, dan berkata kepadanya dengan nada suara yang bersedih :”Guruku yang terbaik, aku memohon kepadamu untuk berbelas kasihan kepadaku”. “Ada apa Bruder Angelicus ? Apakah anda membutuhkan pertolonganku ?”. “Ya, aku ditahan didalam Api Penyucian, sambil menunggu buah-buah dari Kurban Kudus (Misa Kudus) yang anda persembahkan bagiku sebanyak tiga kali”. “Saudaraku yang terkasih, saya kira anda sudah menikmati kemuliaan kekal. Setelah anda menjalani kehidupan yang begitu tekun dan sederhana selama ini, aku tak bisa membayangkan bahwa ternyata masih ada rasa sakit yang harus kau tanggung”. “Celaka ! Celaka !”, jawab orang yang meninggal itu, “tak seorangpun yang percaya akan kerasnya penghakiman dan hukuman Allah terhadap makhlukNya. KesucianNya yang tak terbatas itu telah mampu mengenali adanya noda-noda dosa didalam perbuatan yang paling baik yang kita lakukan, ketidak-sempurnaan yang tidak menyukakan Dia. Dia meminta kita untuk bertanggung jawab terhadap hutang satu sen-pun. Usque ad novissimium guadrantem”.


No comments:

Post a Comment