Monday, May 30, 2016

Vol 1 - Bab 24 : Lamanya waktu di Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 24

Lamanya waktu di Api Penyucian
 the Duellist
Pastor Schoofs dan penampakan di Antwerp.

Contoh berikut ini menunjukkan bukan saja lamanya hukuman yang diberikan kepada suatu kesalahan tertentu, tetapi juga menunjukkan sulitnya menenangkan Pengadilan Ilahi bagi mereka yang melakukan kesalahan jenis ini. 
Sejarah dari ordo Visitation menyebutkan diantara kaum religius pertama dari institusi itu adalah Sr.Marie Denise, yang disebut juga sebagai Mdlle. Marie Martignat. Dia terkenal amat berdevosi kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian, dan dia merasa terdorong untuk memohonkan kepada Allah dengan cara yang khusus bagi mereka yang memiliki kedudukan tinggi di dunia, karena dari pengalamannya, Sr.Marie Denise tahu bahaya yang dibawa oleh kedudukan itu kepada mereka.
Ada seorang pangeran yang tidak disebutkan namanya, namun kemungkinan dia adalah anggota keluarga kerajaan Perancis. Dia terbunuh dalam sebuah perkelahian. Tuhan mengijinkan jiwa pangeran ini untuk menampakkan diri kepada Sr.Denise untuk meminta pertolongan yang sangat dibutuhkannya. Pangeran itu berkata kepada Sr.Denise bahwa dia tidak dihukum secara kekal, meskipun kesalahan-kesalahannya membuatnya layak menerima hukuman seperti itu. Terima kasih atas jasa-jasa dari penyesalan hati yang sempurna yang dia lakukan pada saat kematiannya. Dia telah diselamatkan dari api neraka. Namun sebagai hukuman atas kesalahannya, dia dihukum menjalani penderitaan yang keras didalam Api Penyucian hingga saat Penghakiman Akhir nanti. 

Suster yang amat murah hati itu, Sr.Denise, sangat tersentuh oleh keadaan yang dialami oleh jiwa itu, dan dengan murah hati sekali dia menyerahkan dirinya sebagai jiwa kurban bagi sang pangeran. Tidak mungkinlah disini untuk mengatakan apa yang harus dia derita selama bertahun-tahun sebagai akibat dari tindakan yang berani itu. Pangeran yang malang itu tidak memberinya saat istirahat, karena segera saja Sr.Denise menerima siksaan-siksaan milik sang pangeran. Sr.Denise menyelesaikan kurbannya dengan kematiannya. Namun sebelum dia menghembuskan napasnya yang terakhir, dia mengatakan kepada Suster Kepala, bahwa sebagai balasan dari tindakan penebusan dosa yang besar itu, dia memperoleh remisi hanya beberapa jam saja bagi penderitaan pangeran itu. Ketika Suster Kepala menunjukkan keheranannya akan hal ini, yang menurut dia tidaklah sebanding dengan apa yang telah diderita oleh Sr.Denise, Sr.Denise menjawab :”Ah ! ibuku yang terkasih, jam-jam didalam Api Penyucian tidaklah dihitung seperti di dunia ini. Bertahun-tahun mengalami penderitaan, kelelahan, kemiskinan, atau rasa sakit di dunia ini, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan satu jam menderita didalam Api Penyucian. Hal itu sudah cukup banyak, karena Kerahiman Ilahi telah mengijinkan kita untuk mempengaruhi PengadilanNya. Aku tidak begitu tergerak oleh keadaan yang merana yang kulihat pada jiwa ini, tetapi aku tergerak oleh balasan rahmat yang luar biasa besarnya yang telah menyelamatkan pangeran itu dari kematian kekal. 

Perbuatan yang dilakukan oleh pangeran itu layak mendapatkan hadiah neraka. Jutaan orang lain menerima kemusnahan yang kekal di neraka oleh karena kesalahan yang sama, tetapi pangeran ini telah mendapatkan keselamatannya. Dia telah menemukan kesadarannya kembali pada saat yang tepat untuk bisa bekerja sama dengan curahan rahmat yang amat berharga itu yang diarahkan kepadanya hingga dia bisa melakukan tindakan penyesalan hati yang sempurna. Saat yang penuh berkat itu nampak bagiku merupakan kelimpahan kebaikan, kemurahan hati dan kasih yang tak terhingga dari Tuhan”.
Begitulah perkataan Sr.Denise. Dia sangat mengagumi kerasnya Pengadilan Allah dan KerahimanNya yang tak terbatas itu. Keduanya muncul bersinar didalam contoh ini dengan cara yang amat mengesankan. 
Melanjutkan pembicaraaan tentang lamanya waktu didalam Api Penyucian, disini kita akan bercerita tentang kejadian lainnya.
Pastor Philip Schoofs dari ‘the Company of Jesus’ yang meninggal di Louvain pada 1878, menyampaikan fakta berikut ini, yang terjadi di Antwerp selama tahun-tahun pertama perutusannya di kota itu. Dia telah menyelesaikan sebuah misi dan kembali ke College of Notre Dame yang terletak di Rue l’Empereur, ketika dia diberitahu ada seseorang yang memintanya untuk pergi ke ruang tamu. Dia segera turun dari lantai atas dan disitu dia mendapati dua pria muda yang sedang mencapai puncak usia belianya, dengan seorang anak kecil sakit-sakitan dan pucat sekitar 10 tahun usianya. Mereka berkata :”Pastor, ini adalah anak yang malang yang kami adopsi dan yang membutuhkan perlindungan kami karena sifatnya baik dan saleh. Kami telah mendidiknya dan memberinya makan dan selama lebih dari setahun dia telah menjadi bagian dari keluarga kami. Dia bahagia dan sehat. Hanya dalam waktu beberapa minggu belakangan ini, dia mulai menjadi kurus dan merana sekali, seperti yang anda lihat saat ini”. “Apakah penyebab dari perubahan ini ?“, tanya Pastor itu. Mereka menjawab :”Itu adalah sesuatu yang menakutkan. Anak ini terbangun setiap malam oleh karena penampakan-penampakan. Dia mengatakan, ada seorang pria yang datang kepadanya yang bisa dilihatnya dengan jelas seperti siang hari. Inilah penyebab dari rasa takutnya dan kegelisahannya itu. Karena itu, Pastor, kami datang untuk meminta pertolongan anda. Pastor Philip Schoofs menjawab :”Sahabat-sahabatku, bersama Allah terdapatlah obat penyembuh bagi segala hal. Hendaknya anda berdoa, mulailah dengan mengaku dosa secara baik dan menerima Komuni Kudus, dan mintalah kepada Allah agar meluputkan anda dari segala setan, dan janganlah takut apapun juga. Dan bagi kamu, anakku, berdoalah dengan sungguh-sungguh, dan tidurlah dengan nyenyak agar tak ada setan yang membangunkan kamu”. Lalu imam itu melepas mereka dan menganjurkan agar mereka kembali jika ada sesuatu yang terjadi. Dua minggu berlalu. Mereka menemui kembali Pastor Philip. “Pastor”, kata mereka, “kami telah melaksanakan nasihat anda, namun penampakan-penampakan itu masih terus terjadi. Anak itu masih melihat pria yang sama muncul lagi”. “Dari sejak malam ini”, kata Pastor Philip, “amat-amatilah pintu kamar anak itu, dan berilah kertas dan pena untuk menulis jawabannya. Jika anak kecil itu memberitahukan kedatangan pria itu, bertanyalah kepadanya demi Nama Tuhan Yesus, siapakah dia, kapan saat kematiannya, dimana dia tinggal dan mengapa dia kembali lagi”.
Hari berikutnya, mereka kembali menemui Pastor Philip Schoofs, sambil membawa kertas dimana disitu tertulis jawaban yang mereka terima. Mereka berkata :”Kami melihat pria itu menampakkan diri kepada anak itu”. Mereka menjelaskan bahwa pria itu cukup tua, dimana mereka hanya bisa melihat bagian dada keatas, dan dia mengenakan seragam zaman dahulu. Dia menyebutkan namanya, dan rumah tempat dia tinggal dulu di Antwerp. Dia meninggal pada tahun 1636, menjadi seorang bankir di rumah itu, dimana dulu tempat itu terdiri atas dua buah rumah, dan saat ini terletak bersebelahan. Kami menyimak bahwa dokumen-dokumen tertentu yang membuktikan kebenaran dari hal ini telah diketemukan didalam arsip kota Antwerp. Dia menambahkan bahwa dirinya kini berada didalam Api Penyucian dan baru ada sedikit saja doa-doa telah dipanjatkan baginya. Dia lalu meminta agar orang-orang yang tinggal di rumah itu mempersembahkan Komuni Kudus baginya dan akhirnya dia meminta agar sebuah ziarah dilakukan demi dia, ke Notre Dame des Fievres dan yang lain ke Notre Dame de la Chapelle di Brussels. “Kamu akan menjadi tenang jika telah melakukan semuanya ini”, kata Pastor Philip, “dan jika jiwa itu kembali lagi, sebelum kamu berbicara kepadanya, mintalah dia terlebih dahulu untuk mengucapkan doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Credo”.
Mereka melaksanakan berbagai tindakan yang baik dan suci dan banyak pertobatan dihasilkan. Ketika semuanya selesai, orang yang meninggal itu kembali. “Pastor, dia berdoa”, kata mereka kepada Pastor Schoofs, “namun dengan cara dan nada iman dan kesucian yang tak dapat kami jelaskan. Kami tak pernah mendengar doa yang seperti itu. Betapa hormatnya dia kepada doa Bapa Kami. Betapa kasihnya dia kepada doa Salam Maria. Betapa semangatnya dia berdoa Aku Percaya ! Kini kami sadar bagaimana caranya berdoa. Lalu pria itu berterima kasih kepada kami atas doa-doa kami. Dia merasa sangat diringankan dan akan segera dibebaskan sepenuhnya. Tetapi ada seorang pegawai toko kami yang telah melakukan Komuni sakrilegi. Kami telah melaporkan”, kata mereka melanjutkan, “hal itu kepada orang itu. Dia menjadi pucat dan mengakui kesalahannya dan dia berlari kepada bapa pengakuannya dan segera dia memperbaiki kesalahannya”.
“Sejak saat itu”, demikian cerita Pastor Philip, “rumah itu tak pernah diganggu lagi. Keluarga yang menghuninya juga merasa bahagia lagi dan saat ini mereka menjadi kaya. Kedua bersaudara itu lalu bertingkah laku amat baik, dan adik perempuan mereka menjadi biarawati dimana dia sekarang menjadi Kepala di biara itu”.
“Begitulah, segala sesuatunya telah menuntun kita untuk percaya bahwa kesejahteraan keluarga itu adalah juga akibat dari dukungan yang diberikan kepada jiwa orang yang meninggal. Setelah dua abad menjalani hukuman, maka masih tersisalah sedikit penebusan dosa serta beberapa perbuatan baik seperti yang diminta. Ketika hal ini telah dilaksanakan, pria itu dibebaskan dari Api Penyucian, dan dia menunjukkan rasa terima kasihnya dengan mendapatkan berkat dari Tuhan bagi orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya”.


No comments:

Post a Comment