Monday, May 9, 2016

Vol 1 - Bab 17 : Rasa sakitnya Api Penyucian



Volume 1 : Misteri Keadilan Allah

Bab 17

Rasa sakitnya Api Penyucian 
Quinziani Terberkati
Kaisar Maurice

Didalam buku biografi Stephana Quinziani Terberkati, seorang biarawati Dominikan, disebutkan ada seorang wanita yang bernama Paula yang meninggal di biara Mantua, setelah menjalani kehidupan yang panjang didalam keutamaan dan kebijaksanaan yang amat menonjol. Tubuh Paaula kemudian dibawa ke Gereja dan ditempatkan dalam keadaan terbuka disana, diantara para anggota religius disitu. selama doa-doa dodaraskan, Quinziani berlutut didekat usungan mayat Paula, serta dia mendoakan Paula yang sangat dia kasihi itu. Tiba-tiba orang yang meninggal itu menjatuhkan salib yang ditempatkan pada tangannya, dia meluruskan tangannya hingga menekan tangan kanan dari Quinziani Terberkati, seperti seorang yang menderita sakit dan meminta tolong kepada sahabatnya. Paula terus berbuat seperti itu hingga beberapa lama dan kemudian menarik kembali tangannya dan menaruh kembali didalam peti mayat. Para religius yang ada disitu merasa terkejut atas keajaiban ini dan mereka meminta penjelasan dari Suster yang terberkati itu. Dia menjawab bahwa ketika orang yang mati itu menekan tangannya, ada suara yang berseru didalam hatinya :”Tolonglah aku, Suster yang terkasih, tolonglah aku dari siksaan yang amat menakutkan ini. Oh, jika saja kamu tahu betapa kerasnya Hakim itu, yang meminta kasih kita, betapa besarnya penebusan dosa yang Dia minta bagi keslahan yang kecil saja, sebelum Dia mengijinkan kita untuk menerima ganjaran ! Jika saja aku tahu betapa kita harus benar-benar bersih dan murni untuk bisa melihat wajah Allah ! Berdoalah ! berdoalah !, lakukanlah silih bagiku, yang tak bisa lagi menolong diriku sendiri”.
Quinziani Terberkati merasa tersentuh oleh permintaan sahabatnya ini. Maka dia menyerahkan bagi sahabatnya itu segala tindakan silih, karya-karya kebaikan, hingga dia merasa pasti, dengan datangnya pencerahan yang baru kepadanya, yang memberitakan bahwa Paula telah dibebaskan dari penderitaannya, dan telah masuk kedalam kemuliaan kekal.  
Kesimpulan yang bisa diambil dari pernyataan Pengadilan Ilahi yang dahsyat ini adalah bahwa kita harus segera menebus dosa-dosa kita. Tentu saja seorang yang jahat yang akan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup, tak akan menolak datangnya pengurangan rasa sakitnya itu, jika dia boleh memilih dan pilihan itu diserahkan kepadanya. Katakanlah kemudian jika dia diberitahu : kamu bisa membebaskan dirimu dari hukuman yang amat berat itu dengan syarat bahwa selama 3 hari kamu harus berpuasa atas roti dan air. Apakah dia akan menolaknya ? Kalau ada orang yang lebih menyenangi siksaan api dari pada hukuman yang lebih ringan, apakah dia tidak dianggap sebagai orang yang kurang waras ? Maka jika ada orang yang lebih menyukai rasanya api dari Api Penyucian lebih dari pada tindakan penebusan dosa secara Kristiani, adalah sebuah kebodohan yang tak terhingga besarnya. Kaisar Maurice sungguh memahami hal ini, dan dia bertindak cukup bijaksana. Sejarah mencatat bahwa raja ini tak diragukan lagi kwalitas dirinya yang membuatnya dikasihi oleh St.Gregorius Agung. Menjelang akhir dari pemerintahannya dia telah melakukan sebuah dosa berat dan dia melakukan penebusan dosa dengan melalui pertobatan yang patut dicontoh.
Setelah kalah berperang melawan raja Avari, dia menolak membayar upeti bagi para tawanan, meskipun dia telah diminta 1/6 dari coin emas, harga ini lebih kecil dari 1 dollar sekarang. Penolakan ini telah membuat raja pemenang itu menjadi marah besar sehingga dia lalu memerintahkan pembunuhan terhadap semua serdadu Roma, yang jumlahnya mencapai 12000 orang. Lalu kaisar itu mengakui kesalahannya. Dia lalu mengirimkan uang itu beserta lilin-lilin kepada Gereja-gereja dan biara-biara yang besar, untuk memohon kepada Tuhan agar berkenan menghukumnya di dunia ini dari pada di dunia sana. Doa-doanya didengarkan. Pada tahun 602, dengan berharap agar pasukannya sudah bisa menyeberangi sungai Danube didalam musim dingin nanti, sebuah pemberontakan muncul diantara pasukannya. Lalu mereka mendorong pemimpin pasukan untuk menjadi kaisar. Penduduk kota itu lalu mengikuti jejak para pasukan itu. Maka Maurice terpaksa harus melarikan diri malam itu, setelah dia melepaskan semua atribut kerajaannya, dimana semua itu kini hanya menjadi sumber rasa takut saja baginya. Meskipun begitu dia tetap dikenali orang. Akhirnya dia ditangkap bersama istrinya, 5 anak laki-lakinya, 3 anak perempuannya, bahkan bisa dikatakan seluruh keluarganya, kecuali anak laki-laki tertua, yang telah dia mahkotai sebagai pengganti kaisar dan ternyata bisa lolos dari penangkapan itu. Maurice dan 5 anak laki-lakinya dibunuh didekat Chalcedon. Pertumpahan darah itu dimulai dari anaknya yang terkecil, yang dibunuh dihadapan mata ayah yang malang itu, tanpa bisa mengucapkan keluhannya sama sekali. Dengan mengingat rasa sakitnya di dunia sebelah sana, maka dia sudah merasa bahagia menderita saat itu, dan didalam proses pembantaian itu dia tidak berkata apa-apa kecuali seperti yang tertulis didalam Mzm. :”Engkaulah adil, Tuhan, dan pengadilanMu adalah benar” (Mzm. 118).

No comments:

Post a Comment