Thursday, November 29, 2018

IMAM-IMAM YANG HEBAT, BAGAIMANA MENEMUKAN MEREKA?




IMAM-IMAM YANG HEBAT, BAGAIMANA MENEMUKAN MEREKA?




Paus St. Pius X telah meramalkannya. Uskup Agung Fulton J. Sheen telah melihat tanda-tanda kedatangannya yang akan segera tiba. Michael Davies mengalaminya dan mendokumentasikan serangan awalnya pada liturgi. Ross Douthat telah mencatat kemajuannya yang berkelanjutan. Elizabeth Yore telah memasukkannya ke dalam konteks global.

Masukan label apa pun yang Anda inginkan, tetapi faktanya tidak dapat disangkal. "Perbuatan itu" adalah penghancuran Gereja Katolik Roma institusional dari dalam, yang sekarang sedang diproklamasikan oleh masa kepausan saat ini. Jika Anda ragu bahwa ini adalah kasusnya, Anda hanya perlu melihat video yang diproyeksikan ke wajah dari Basilika Santa Maria sopra Minerva di Roma, yang dilakukan pada akhir dari Sinode tentang Pemuda, yang menggambarkan runtuhnya gereja itu dan, dengan artian yang lebih luas, runtuhnya seluruh Gereja institusional.

Bagaimana ini bisa terjadi? Para penerus Santo Petrus dianugerahi otoritas yang tak bisa salah oleh Kristus untuk memimpin dan memerintah Gereja-Nya. Sebagian besar jawaban akan kembali kepada sesuatu seperti “infiltrasi jahat.” Benarkah? Jadi, gerbang neraka telah menang sekarang, terlepas dari janji yang dibuat oleh Yesus Kristus sendiri? Apakah penerus terbaru dari Petrus (paus Francis) telah diayak dan ditakdirkan untuk menerima api? Apakah semua umat Katolik yang setia sekarang berkewajiban untuk mengikutinya menuju akhir dari kehancuran mereka?

Para sedevacantists memiliki jawaban yang menarik: Setan tidaklah menang. Francis adalah bukan paus. Belum ada paus yang sah sejak 1958 dengan terjadinya kematian Paus Pius XII. Dengan demikian, Francis dapat dengan aman diabaikan. Dengan argumen ini, mereka menggertak orang-orang yang menganggap bahwa Paus Francis adalah paus yang sah, tetapi kesalahan dalam berbagai perbuatannya dapat dan harus dilawan.

Secara pribadi, saya tidak menemukan gagasan bahwa Bahtera Petrus telah berjalan selama 60 tahun tanpa kapten. Sulit bahkan bagi kru yang setia untuk tetap berada di jalurnya tanpa kapten ketika angin bergeser atau kapal bajak laut mendekat. Dan, seperti yang ditanyakan oleh Dr. Peter Kwasniewski baru-baru ini, bagaimana kita akan mengetahui otoritas kapten baru (paus Francis) jika dan ketika dia mengambil alih komando?

Sama tidak menariknya adalah gagasan bahwa penumpang dan awak Bahtera Petrus saat ini harus taat tanpa bertanya apapun ketika si kapten memberi perintah untuk mengarahkankan bahtera menuju batu karang. Saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai seorang pemberontak, dengan semua konsekuensinya. Namun haruskah saya berpartisipasi dalam pemberontakan yang terjadi agar saya dapat diselamatkan?

Sebenarnya bencana ini telah terjadi puluhan tahun, bahkan selama berabad-abad, dalam proses pembentukannya. Generasi saya tidak punya waktu untuk mengetahui bagaimana hal itu terjadi, terlepas dari perlindungan Ilahi yang dimiliki oleh Gereja, atau bagaimana keadaan yang sebenarnya dari kepausan selama 60 tahun terakhir. Kita tidak akan hidup untuk melihat pemulihan Gereja seperti yang kita kenal sebelumnya. Yang bisa kita lakukan adalah menjalankan iman yang tertanam dalam diri kita. Serahkan teka-teki ini kepada para ahli dan teolog untuk dipecahkan. Bagi kami, satu-satunya hal yang penting adalah mempersiapkan jiwa bagi penghakiman kami sendiri, sebaik mungkin.

Strategi saya dimulai dengan mengikuti Misa dan menerima Sakramen-sakramen. Dengan Misa dan Sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi Kudus, Pengakuan Dosa, dan Perminyakan, maka kita memiliki kesempatan terbaik untuk mencapai Surga dan menghindari neraka. Tetapi hal itu menjadi rumit karena untuk memanfaatkan sarana-sarana rahmat ini, kita membutuhkan imam. Imam yang ditahbiskan secara sah. Imam yang mengerti dan percaya apa artinya menjadi seorang pastor Katolik yang otentik.

Apakah imam-imam diosesan Novus Ordo ditahbiskan secara sah? Apakah imam-imam SSPX ditahbiskan secara sah? Apakah imam-imam FSSP ditahbiskan secara sah? Apakah bersekutu dengan Tahta Suci bisa mengesahkan atau membatalkan validitas seorang imam? Anda dapat menemukan argumen yang tulus, beralasan, dan didukung dengan baik pada kedua sisi pertanyaan ini. Tetapi itulah masalahnya: semua itu adalah argumen. Saya telah membaca argumen-argumen itu, dan dengan kecerdasan saya yang pas-pas-an, saya telah mengiyakan yang satu dan menolak yang lain.

Seorang imam keuskupan dari Novus Ordo, seorang imam dari Serikat St. Pius X, seorang imam dari Persaudaraan Imam Santo Petrus - semuanya, saya percaya, secara sah ditahbiskan. Saya tidak memiliki sarana (atau waktu) untuk memeriksa ordo dari masing-masing imam. Jadi jika mereka memakai seragam kerah imam, itu adalah awal untuk menentukan apakah mereka adalah yang saya anggap sebagai imam Katolik yang otentik.

Langkah selanjutnya tidak begitu mudah. Saya harus mencari tahu apakah seorang imam tertentu benar-benar percaya pada Kehadiran Nyata dari Tuhan Yesus (di dalam Ekaristi) dan memahami bahwa Misa Kudus sebuah kurban. Pada suatu waktu (dulu), hal ini akan diterima begitu saja. Namun sekarang kita tahu bahwa ada dua generasi imam yang mengalami malformasi (kesalahan pendidikan) di seminari mereka. Pentahbisan bukanlah jaminan yang cukup bahwa  ini adalah seorang imam Katolik yang otentik. Inilah mengapa saya memiliki keberanian untuk menilai sendiri.

Saya kenal dengan salah satu dari imam yang cacat dan salah didik itu. Kami pergi ke sekolah bersama. Dia menjadi imam diosesan. Saya telah menghadiri beberapa Misa yang diadakan olehnya. Dia percaya bahwa buku misa itu - dan saya berbicara tentang buku misa yang baru - hanya berisi kata-kata dan tindakan yang disarankan. Karena menurut versinya dia: Katakanlah bahwa itu hitam dan lakukanlah  yang merah! Saya menjerit keras dalam hati!!! Segera saya meninggalkan Misa-nya bertanya-tanya apakah saya telah benar-benar memenuhi kewajiban hari Minggu saya sebagai umat Katolik?

Kemudian ada seorang yang layak dipercaya mengatakan kepada saya bahwa imam ini bahkan berusaha untuk mengkonsekrasikan kopi dan donat. Apakah dia absen di seminari dulu pada hari ketika mereka mendapat pelajaran soal materi dan bentuk? Saya dapat menyimpulkan bahwa Pastor Freelance dan imam seperti dia tidak memenuhi kriteria saya.

Kalau Michael Voris menyebut gereja pasca-Vatikan II sebagai “Gereja Nicean,” saya menyebutnya sebagai  “Gereja Yang Tak Memiliki Sesuatu Yang Khusus.” Gereja itu memahami bahwa hambatan terbesar bagi keanggotaan universal (yang melibatkan semua pemeluk kristiani) adalah keyakinan akan keilahian Pribadi Kedua (Yesus) dari Tritunggal Mahakudus dan Kehadiran-Nya yang Nyata di atas altar. Maka, menurut mereka,  Ekaristi adalah “simbol” dan Misa adalah “makanan.” Para imam yang memandang Ekaristi dan Misa Kudus dengan cara seperti ini sama sekali tidak memenuhi kriteria saya.

Para imam yang seperti ini tidak ada gunanya bagi saya karena saya yakin bahwa inovasi liturgis dan kesalahpahaman doktrinal mereka mencerminkan pandangan moral mereka yang terdistorsi. Saya tidak perlu atau tidak ingin penyertaan mereka di akhir perjalanan saya ini. Jangan bergabung dengan saya di jalan saya; sebagai gantinya, tunjukkan saya jalan yang lebih baik.

Jadi saya harus memperhatikan dan menggunakan gaya liturgi dari imam, keahliannya selama Misa, dan isi homili-nya, sebagai tanda luar dari keyakinan batiniahnya. (Hal ini terutama berlaku bagi imam-imam diosesan Novus Ordo) Apakah dia dengan khidmat mengucapkan kata-kata konsekrasi tanpa penambahan, pengurangan, atau perubahan? Apakah dia membungkuk? Apakah dia meninggikan Hosti dan piala? Apakah dia berlutut? Apakah dia dengan khidmat memakan Tubuh dan Darah Kristus? Apakah dia mengingatkan umat bahwa hanya mereka yang berada dalam keadaan rahmat yang boleh menerima Komuni? Apakah dia berkhotbah tentang hal-hal teologis? Apakah dia berkhotbah tentang kehidupan, kematian, Surga, dan neraka? Seperti inilah pastor yang saya inginkan agar keluarga saya memanggilnya ketika tiba waktunya bagi saya untuk menerima Sakramen Perminyakan.

Jika jawabannya "ya," maka saya mungkin telah menemukan seorang imam yang fantastis.

Untungnya, ada beberapa jalan pintas untuk mengidentifikasi seorang imam yang fantastis. Seorang imam yang dapat dan memang mempersembahkan Misa menurut Misale Romawi 1962 hampir dijamin bahwa dia percaya akan Kehadiran Nyata dari Yesus Kristus dan Misa sebagai kurban. Jadi saya mencari seorang imam yang memakai sebuah topi biretta. Itu adalah yang paling utama sebagai tanda kebajikan.

No comments:

Post a Comment