Tuesday, November 20, 2018

MERENUNGKAN DOA BAPA KAMI


merenungkan doa bapa kami




“Seorang Kristiani yang mendaraskan doa Bapa Kami hari demi hari, dengan semangat yang semakin besar secara bertahap, yang mendaraskannya dari dalam lubuk hatinya, bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri, tidaklah diragukan lagi bahwa dia sangat banyak bekerja sama dalam Pemerintahan Ilahi” (Pastor Garrigou-Lagrange)

Inilah cara mudah untuk merenungkan doa Bapa Kami, cukup dengan mengucapkannya dengan sangat perlahan, sangat meditatif. Kita mungkin mengatakan bahwa doa Bapa Kami itu mengandung kebijaksanaan yang tak terbatas untuk menjalani kehidupan rohani – dengan mengingat bahwa doa itu berasal dari bibir Yesus Kristus sendiri, Sang Sabda yang telah menjadi manusia. Sebagaimana Katekismus mengatakan, “Doa Bapa Kami benar-benar merupakan ringkasan dari seluruh Injil” (CCC 2761).

Tidak ada persyaratan di sini yang harus menjadi seorang guru meditasi! Meditasi dalam pengertian Kristiani adalah penerapan yang lebih dalam dari pemahaman kita - dengan bantuan rahmat Tuhan - kepada perenungan dan permohonan yang ada dalam doa Bapa Kami. Dengan kata lain, ini adalah refleksi yang lebih dalam tentang makna mendalam dari doa.

Metode meditasi yang direkomendasikan di sini berasal dari Santa Teresa dari Avila yang hanya mendorong kita untuk mengucapkan doa Bapa Kami itu dengan sangat perlahan. Ketika kita mengucapkan doa perlahan-lahan, kita memiliki waktu untuk merenungkan makna dan penerapannya yang mendalam terhadap kehidupan kita. Saya ingat, pernah membaca tentang seorang kudus yang tidak pernah bisa melewatkan baris pertama dari Bapa Kami: segera setelah dia berkata, “Bapa kami,” dia segera terperangkap dalam kesadaran kasih bahwa Allah adalah sungguh Bapa kita!

Pastor Garrigou Lagrange mengatakan:

“Marilah kita setiap hari mengucapkan Bapa Kami secara perlahan dan dengan perhatian penuh; marilah kita merenungkannya, dengan kasih yang menyertai iman kita. Meditasi yang penuh kasih ini akan menjadi kontemplasi, yang akan memastikan kita menguduskan dan memuliakan nama Allah, baik dalam diri kita maupun pada orang-orang di sekitar kita, tentang datangnya Kerajaan-Nya dan pemenuhan dari Kehendak-Nya di bumi ini seperti di surga. Hal itu akan mendatangkan bagi kita juga pengampunan atas dosa-dosa kita dan pembebasan dari kejahatan, serta pengudusan dan keselamatan kita” (Providence, Bab 18).

Suster Janet Schaeffler, O.P., menceritakan hal berikut ini:

"St. Ignatius menyarankan kepada mereka yang sedang berusaha untuk bertumbuh di dalam doa, untuk berdoa Bapa Kami dengan sangat perlahan dan hening, selaras dengan pola pernapasan yang dalam dan santai. Berdoalah hanya dengan satu kata dalam setiap helaan nafas lambat, biarkan pikiran, hati dan imajinasi berdiam pada satu kata itu.” Santo Ignatius juga menyarankan metode kedua: menjadi rileks dan berhenti pada kata pertama dari Bapa Kami, selama hal itu bermakna bagi kita. Kemudian, lanjutkan kepada kata kedua. (Seorang murid muda pernah bertanya kepada Teresa dari Avila, “Ibu, apa yang harus saya lakukan untuk menjadi kontemplatif?” Tanpa ragu, Teresa menjawab, 'Daraskanlah doa Bapa Kami - tetapi luangkan waktu satu jam untuk mendaraskannya.').”

Saint Therese dari Lisieux mengatakan: “Kadang-kadang ketika saya berada dalam kondisi kekeringan rohani seperti itu, tidak ada satu pun pikiran yang baik yang muncul pada diri saya; lalu saya daraskan dengan sangat lambat doa 'Bapa Kami,' atau 'Salam Maria,' dan doa-doa ini sudah cukup untuk membawa saya keluar dari kekeringan dan kebekuan rohani saya dan menyegarkan saya.”

Kesimpulan:
Mendaraskan doa Bapa Kami dengan sangat perlahan, sangat meditatif, terikat erat dengan melakukan “pekerjaan baik dalam jiwa Anda.” Sumber yang baik untuk refleksi lebih lanjut tentang doa penting ini adalah dalam Katekismus Gereja Katolik (lihat CCC 2761-2865) . Hanya dengan berdoa Bapa Kami dengan sangat perlahan, sangat reflektif, dengan kasih di dalam hati Anda kepada Tuhan, Anda akan bermeditasi dengan cara yang sangat efektif!

Tom Mulcahy, M.A.

+++++++++++++++++

References: The quote from Sister Schaeffler is from her article, “Praying and Living the Our Father,” (available online)See also my post:




No comments:

Post a Comment