Thursday, October 31, 2019

PROFESOR JOSEF SEIFERT...



PROFESOR JOSEF SEIFERT:
PACHAMAMA YANG DITEMPATKAN DI GEREJA ST. PETER, MERUPAKAN PELAKSANAAN DARI KESEPAKATAN ABU DHABI



PROFESSOR JOSEF SEIFERT, teolog




Upacara penghormatan berhala Pachamama oleh Francis di Vatikan


Basilika utama St. Peter bukanlah sebuah museum untuk menaruh patung-patung berhala, dan akan sangat salah jika Francis menggunakannya untuk tujuan ini.

Selain itu, menempatkan patung-patung tersebut di dalam Gereja Katolik selama Misa Agung Kepausan (7 Oktober 2019), sementara anggota-anggota suku yang percaya kepada dewi palsu ini hadir di Roma, mereka tidak menganggap patung-patung ini sebagai benda museum, tetapi sebagai dewi sembahan mereka.

Tindakan seperti itu secara obyektif mengekspresikan, jika tidak
disebut sebagai ‘menyembah, setidaknya hal itu merupakan solidaritas dengan dewa-dewi palsu, menempatkan agama palsu yang merupakan horor di mata Allah, seperti yang kita tahu dari banyak bagian Perjanjian Lama, berdampingan dengan agama Katolik.

Bahkan
meski tidak ada niat penyembahan berhala yang subyektif di balik ini, seperti yang ditegaskan oleh paus Francis, tetapi fakta obyektif menempatkan berhala di dalam Gereja, apalagi di Gereja Santo Petrus, adalah suatu pelanggaran terhadap Allah dan suatu tindakan yang secara obyektif bersifat sakrilegis.

Kardinal Müller mengungkapkan hal ini dengan baik: bukannya pengambilan patung-patung pagan itu dari dalam gereja (dan dibuang ke sungai Tiber) adalah tindakan yang tidak adil, dimana karena tindakan itu Francis sampai meminta maaf. Tindakan pengambilan patung ini hanyalah melanggar hukum manusia, tetapi tindakan menempatkan patung-patung itu di dalam gereja adalah pelanggaran terhadap Hukum Ilahi, yang merupakan dosa terhadap Perintah Pertama.

Tindakan
meletakkan patung berhala di dalam gereja, meski dengan alasan bahwa itu tidak dimaksudkan sebagai penghujatan dan kemurtadan dari Tuhan Yang Esa, tetapi secara objektif perbuatan itu adalah sebuah penghujatan.

Bagaimanapun,
tindakan Francis itu memanifestasikan paham yang dianutnya: relativisme religius, dimana Francis menunjukkan bahwa Allah memang menghendaki semua agama, terlepas dari kontradiksi batin mereka dan kontradiksi dengan kebenaran.

Permintaan maaf Francis karena patung-patung berhala itu dikeluarkan dari gereja oleh dua orang yang dipenuhi dengan semangat yang suci, seperti yang dikatakan oleh Alkitab tentang Kristus ketika Dia membersihkan Bait Allah, permintaan maaf Francis itu juga merupakan bentuk konfirmasi dari deklarasi Abu Dhabi yang sangat disayangkan oleh umat Katolik yang setia, dimana Francis mengatakan bahwa Tuhan menghendaki keberagaman agama. Pernyataan Francis ini bukan hanya sesat tetapi juga merupakan kemurtadan.

Tidak ada orang Kristiani, apa pun pengakuan imannya, yang akan mau menerima pernyataan Francis bahwa Allah menghendaki bahwa ada beberapa agama yang memuja Yesus Kristus sebagai Allah yang benar dan Manusia Sejati dan percaya bahwa keselamatan kekal mereka bergantung kepada iman ini, dan sekaligus Allah juga menghendaki agama-agama lain yang menolak Kristus atau bahkan percaya kepada banyak dewa.

Bagaimana mungkin Tuhan menginginkan agar agama-agama lain
yang tidak percaya kepada Kristus untuk dihormati seakan mereka adalah penghuni surga?

Kemudian upaya
Francis untuk menyajikan kehendak Allah ini (bahwa keberadaan berbagai agama adalah merupakan kehendak Allah) adalah sebagai kehendak yang memungkinkan kejahatan untuk terjadi, dan hal ini tidak dapat diterima oleh akal sehat, dan bertentangan dengan seluruh isi deklarasi itu.

Deklarasi ini secara eksplisit menyebut pluralisme agama sebagai sesuatu yang baik. Namun, kehendak ilahi yang mengizinkan kejahatan, seperti Auschwitz, tidak berasal dari ciptaan, juga bukan kehendak positif
dari Tuhan, tetapi hal itu merupakan tanggapan dari Tuhan terhadap dosa para malaikat dan manusia. Hal itu juga tidak bisa menjadi fondasi deklarasi yang baik.

Siapa
kah yang akan menyatakan dengan sungguh bahwa jutaan pembunuhan di Auschwitz adalah "kehendak Tuhan"?

Untuk mengkonfirmasi kembali deklarasi Abu Dhabi dengan menempatkan berhala Pachamama ke dalam St. Peter, adalah aspek yang sangat menyedihkan dari tindakan ini. Ini juga bertentangan dengan kewajiban moral yang paling mendasar untuk mematuhi kebenaran.

Menempatkan
berhala Pachamama di dekat altar di St. Peter tidak sesuai dengan semua kebenaran ini. Akan tetapi, ini sesuai dengan penolakan Francis bahwa Kristus adalah Allah yang sejati dan manusia sejati sejak saat pembuahan, yang merupakan pernyataan murtad yang oleh jurnalis atheis terkenal Scalfari, diakui bahwa Francis memang mengatakan hal itu kepadanya.

Jika Kristus bukan
sungguh Allah dan sungguh manusia, dan jika tidak ada agama yang benar yang bisa dipegang teguh oleh semua manusia, jika Kristus atau Pachamama hanyalah simbol untuk Tuhan yang sama dan yang tidak diketahui dengan jelas Siapa itu (paham relativisme religius ala Francis) maka tidak ada alasan untuk tidak menempatkan dewi berhala berikutnya di samping Kristus, di dalam Gereja Katolik.

Namun, jika Kristus
sungguh Allah dan sungguh manusia sejak saat pembuahan, maka tindakan-tindakan ini sudah layak untuk dianggap sebagai penistaan, penghujatan dan kemurtadan.

Semoga Tuhan mempertobatkan dan mengampuni mereka yang melakukan tindakan seperti itu, dan yang menabur kebingungan yang besar di antara umat beriman, merusak panggilan Kristus untuk ‘pergi dan mewartakan Injil’ kepada semua orang dan membaptis mereka, sebuah mandat yang benar-benar bertentangan dengan Pachamama yang ‘memberkati’ sebuah Sinode dan menempatkannya di samping hadirat Allah-manusia sejati, Yesus Kristus.



No comments:

Post a Comment